2 World Fantasy

2 World Fantasy
Bab.27 Dunia yang Berubah #Syarif dan Kelompoknya


__ADS_3

~{Sudut Pandang Syarif}~


'Sial !! Mereka lebih banyak dari yang kukira'


Aku, Syarif Affandi bekerja sebagai Polisi selama lebih dari 15 tahun.


Saat ini aku dan bawahanku sedang melarikan diri dari kematian yang mendekat yang berwujud humanoid berwarna hijau, lebih tepatnya kami sedang melarikan diri dari kejaran para Goblin.


Hari ini, Dunia berubah.


Di awali dengan terjadinya gempa bumi di pagi hari, kemudian suara misterius yang terdengar di dalam kepala semua orang. Lalu Layar transparan dengan tulisan yang katanya seperti Game muncul di depan mata setiap orang.


Bumi bergetar lagi dan muncullah bangunan aneh atau mungkin sebuah Tower yang sangat tinggi yang bahkan terlihat dari kota yang berbeda. Tapi tidak hanya Tower aneh yang muncul, tiba-tiba makhluk-makhluk aneh bermunculan entah dari mana dan menyerang setiap orang yang mereka temui.


Aku dan bawahan ku mendapatkan misi untuk membantu warga melakukan pengungsian dan mengurus mereka di tempat pengungsian yang di sediakan oleh pemerintah.


Tapi kemudian aku dan bawahan ku diberikan misi pergi kesebuah Desa di Kecamatan Pagedangan untuk menghabisi dan menghilangkan sumber dari salah satu jenis monster yang muncul, yaitu Goblin.


Goblin, itulah sebutan bagi Monster berwarna hijau yang sedang mengejar kami. Tapi mereka tidak hanya terdiri dari yang memiliki ukuran seperti anak kecil. Faktanya ada yang berukuran seperti orang dewasa Asia dan kemudian ada juga yang berukuran seperti orang dewasa Eropa yang kekar.


Tapi tidak hanya itu saja, kami bahkan menghadapi satu Goblin yang memiliki tinggi lebih dari 2 meter dengan tubuh berotot yang sangat kuat. Aku berpikir bahwa mungkin hanya ada satu yang sepertinya karena dia memimpin pasukan Goblin yang cukup besar untuk menyerang kami.


Kami berhasil membunuhnya dan menghabisi pasukannya. Beristirahat untuk memulihkan Stamina dan Mana, kami membahas tentang langkah selanjutnya. Dan di putuskan bahwa kami akan menyelesaikan misi dengan menghilangkan sumber dari kemunculan para monster yang mereka sebut Dungeon.


Dungeon tersebut berada di pusat Zona Berbahaya, kami harus memasukinya dan menghancurkan bola berwarna biru yang bersinar yang mereka sebut Dungeon Core untuk menghilangkan Dungeon dan Zona Berbahaya.


Jam 21:30 kami selesai beristirahat dan memulai rencana kami untuk menghilangkan Dungeon.


Kelompok kami sekarang berjumlah 12 orang yang awalnya berjumlah 18 orang. Karena 3 orang terluka cukup parah dan tidak mungkin untuk melakukan pertempuran seperti sebelumnya, aku menugaskan 3 orang untuk menemani mereka kembali ke markas kami.


Jadi 12 orang termasuk aku yang akan melanjutkan misi.


Keluar dari rumah yang kami tempati, kelompok kami berpisah dengan 6 orang yang akan kembali.


Desa ini menjadi gelap karena tidak ada lagi manusia yang tinggal di sini. Para warga yang tempat tinggalnya berada di Zona Berbahaya mengungsi ke tempat pengungsian yang disediakan oleh pemerintah atau ketempat aman lainnya.


Setiap orang memiliki Status Window, dan disana juga ada peta yang menunjukkan posisi kita sendiri dengan radius maksimum 10 km². Peta tersebut juga menunjukkan posisi Dungeon dan radius Zona Berbahaya di dalam cakupan 10 km² tersebut.


Meskipun demikian, banyak orang yang tidak menyadari atau mengetahui kegunaan Peta tersebut, sehingga banyak korban di saat monster-monster mulai bermunculan.


Tapi kemudian pemerintah menginformasikan apa saja yang telah mereka ketahui tentang situasi ini dan Status Window, salah satunya adalah tentang Peta tersebut yang membuat korban berkurang, karena warga dapat menghindari Zona Berbahaya untuk pergi ke tempat yang aman.


Jumlah Zona Berbahaya dan Dungeon yang kami ketahui dari informasi terbaru saat sore hari adalah 127 di Kabupaten Tangerang, meskipun mungkin ada beberapa Dungeon yang belum diketahui.


Beberapa Dungeon dan Zona Berbahaya telah dihilangkan, dan saat ini adalah aku dan bawahan ku yang ditugaskan untuk menghilangkan Dungeon di sebuah desa di kecamatan Pagedangan.


Karena situasi darurat ini kepolisian dan TNI dikerahkan untuk menghadapi monster-monster yang bermunculan dan menghilangkan sumbernya. Meskipun tugas kepolisian kebanyakan hanya mengurus para pengungsi, tapi kurangnya personil yang mengurus Dungeon dan Zona Berbahaya di daerah-daerah yang jauh dari Markas-markas Kodim (Komando Distrik Militer) membuat kepolisian ikut serta dalam pemusnahan Dungeon dan Zona Berbahaya beserta monster-monsternya.


Kami mendapatkan persenjataan dari Kodim Tigaraksa untuk misi ini. Termasuk Infrared Night Vision Monocular untuk melihat di malam hari / kegelapan.


(note: yang di pasang di helm militer buat ngeliat pas gelap)


Aku dan bawahan ku, berjalan menuju pusat Zona Berbahaya di mana Dungeon terletak. Kami menghabisi Goblin-goblin yang kami temui di perjalanan, tapi sebisa mungkin untuk bergerak cepat untuk sampai ke Dungeon.


Sesampainya di pusat Zona Berbahaya kami dapat melihat cahaya dari obor api dan sebuah bukit kecil dengan pintu gua yang terlihat sangat gelap walaupun kami memakai Infrared Night Vision Monocular.


Sepertinya mereka memiliki beberapa tingkat peradabannya sendiri, karena mereka dapat membuat obor. Tapi anehnya pedang yang digunakan Goblin-goblin kecil kebanyakan berkarat.


Dan juga, itu adalah sebuah misteri bagaimana beberapa dari mereka memiliki pedang dan bahkan Armor. Yah, meskipun keberadaan mereka sendiri sudah aneh. Jadi, aku berhenti memikirkan hal tersebut.


Dungeon tersebut sepertinya terletak di lapangan bulutangkis terbuka milik warga. Sekitar 20 Goblin berkeliaran disekitarnya, yang kemungkinan besar mereka ditugaskan untuk menjaga pintu masuk Dungeon.


Aku mengintruksikan bawahan ku untuk menyingkirkan mereka tanpa membuat keributan.

__ADS_1


Meskipun kami bukan dari Militer atau Unit khusus yang berspesialisasi dalam serangan diam-diam, tapi kami pernah melakukan penyergapan kelompok-kelompok kriminal seperti kelompok maling dan kelompok penyelundup barang berbahaya atau ilegal.


Tak lama kemudian kami selesai menghabisi para Goblin yang berada di sekitar Dungeon, dan berkumpul di depan mulut goa yang kemungkinan besar adalah pintu masuk Dungeon.


"Apakah ini benar-benar aman untuk dimasuki, kapten?" (Fera)


Fera, seorang Polwan dan juga salah satu bawahan ku, bertanya sambil menunjuk mulut goa yang terlihat sangat gelap.


"Tentu saja tidak mungkin aman, karena di sana adalah sarang Monster" (Syarif)


"Bukan itu yang saya maksud! Tapi yang saya tanyakan adalah pintu masuknya yang terlihat sangat gelap ini" (Fera)


Meskipun aku hanya sedikit bercanda tapi sepertinya Fera menganggapnya terlalu serius. Yah, apa yang kukatakan barusan juga memang sebuah fakta.


"Biar saya saja yang masuk terlebih dahulu kapten!" (Deni)


Deni, seorang Polisi yang juga merupakan bawahan ku mengajukan dirinya untuk masuk pintu goa yang terlihat sangat gelap tersebut.


Semua bawahan ku memanggil aku Kapten, meskipun kami adalah Polisi. Menurut mereka lebih enak untuk memanggilku Kapten dari pada Ajun Komisaris Polisi (AKP). Jadi mereka memanggilku Kapten selain di saat situasi yang mengharuskan formalitas.


"Hmm...


Tidak, aku yang akan masuk pertama" (Syarif)


"Apa! Tidak, tidak.... Tentu anda bercanda kan? kapten!" (Deni)


"Ya, tidak mungkin kita membiarkan seorang pemimpin masuk terlebih dulu untuk tes keamanan" (Fera)


Mereka menentang pengajuan diriku, lebih tepatnya semua bawahan ku tidak hanya Deni dan Fera yang menentang pengajuan diriku untuk masuk pertama.


Tapi aku tetap bersikeras, dan meyakinkan mereka dengan alasan akan menggunakan tali yang diikatkan pada tubuhku untuk mereka tarik jika memang berbahaya.


Meskipun aku mengatakan itu aku tidak tahu apakah sebuah tali akan berguna.


Setelah mengikatkan tali ditubuhku, aku mulai berjalan memasuki mulut goa. Setelah berada tepat di depannya, aku mengulurkan pedang yang ku pegang terlebih dulu dan menariknya kembali. Tidak ada apapun yang terjadi.


Jadi aku mulai berjalan masuk. Setelah aku masuk, aku melihat sekelilingku yang terlihat seperti seperti interior goa yang luas dan sepertinya ini cukup terang, jadi aku melepaskan perangkat Infrared Night Vision Monocular di helm ku.


Kemudian aku dapat melihat bahwa cahaya tersebut dihasilkan dari bebatuan yang mengeluarkan cahaya redup. Tidak hanya di langit-langit tapi juga di sekitar dinding dan bahkan bebatuan yang tertanam di bawah.


Aku mengambil Transiver/HT (Handy Talky) mencoba menggunakannya untuk memberitahu bawahan ku diluar, tapi yang terdengar hanyalah suara radio yang tidak memiliki sinyal.


Sepertinya alat komunikasi tidak bisa digunakan didalam Dungeon seperti yang kubaca di dalam laporan sebelumnya. Aku menggunakan Transiver/HT karena kebiasaan meskipun aku sudah membaca laporan tersebut.


Jadi aku menggunakan telepati dari efek Party, untuk memberitahu mereka yang berada di luar.


"Deni! Di sini baik-baik saja jadi beritahu yang lain dan masuklah" (Syarif)


(Roger! Kapten!!)


Sambil menunggu mereka aku melepaskan ikatan tali ditubuhku.


Informasi tentang Party juga ada di dalam laporan.


Karena maksimal dari sebuah Party adalah 6 orang, jadi terdapat dua Party di dalam kelompok kami yang berjumlah 12 orang.


Party pertama di ketua olehku sendiri, dan Party kedua di ketuai oleh Fera.


Setelah mereka semua masuk, aku menyuruh mereka mereka untuk melepaskan perangkat Night Vision mereka.


Kami melihat-lihat sekeliling dengan heran. Aku berjalan menuju salah satu bebatuan yang bercahaya dan mencabutnya atau lebih tepatnya mematahkannya dari dinding, dan tak lama kemudian batu tersebut kehilangan cahayanya.


Yah, ini pun sudah ada di laporan yang kubaca, tapi aku hanya ingin mencobanya saja.

__ADS_1


Setelah cukup melihat-lihat, kami mulai berjalan masuk lebih dalam.


Goa ini tidak seperti goa biasanya, karena luasnya dan juga lorong-lorong yang teratur dan kami bahkan menemukan beberapa ruangan di perjalanan.


Jadi seperti inilah sebuah Dungeon...


Kami menghabisi Goblin-goblin yang kami temui dan yang berada di ruangan yang kami lewati dalam perjalanan menuju ruangan dimana Goblin King berada.


Kami berjalan melewati jalan terbesar yang kemungkinan besar menuju ke ruangan Goblin King.


Tidak lama kemudian kami dapat melihat sebuah pintu besi besar atau mungkin bisa disebut juga sebagai gerbang.


"Woahh!! Ini gak bakal bisa dibuka sama manusia biasa... Tapi karena sekarang kita memiliki yang namanya Status, kayaknya aku bisa membukanya" (Deni)


Mengatakan itu, Deni berjalan mendekati pintu untuk membukanya.


"Deni! Kamu tidak bisa melakukan sesuatu sembarang begitu saja" (Fera)


Teriakan Fera hanya diabaikan olehnya, yang membuat nadi berkedut di dahi Fera.


Sementara itu Deni mendorong pintu yang terdiri dari dua daun pintu besi, yang ternyata tidak bergerak sedikitpun meskipun wajahnya memerah.


Tak lama kemudian Deni berhenti mendorong pintu dan bernafas berat. Dan Fera mengejek dan menertawakannya.


"Baiklah, biarkan aku mencoba" (Syarif)


Karena aku memiliki Level tertinggi dan aku juga memfokuskan untuk meningkatkan Stat STR ku, jadi aku akan mencoba untuk membuka pintu tersebut.


Hm... Ini seperti tidak akan terbuka jika aku hanya mendorongnya seperti biasa meski dengan STR ku yang tinggi.


Jadi kukira, aku harus menggunakan skill ku, meskipun skill ini akan mengosongkan Mana ku dengan cepat jika digunakan dengan kekuatan penuh.


[Strongest], itu adalah nama skill yang kumiliki berkat efek dari Gift ku, [Captain]. Efek skill [Stongest] meningkatkan kekuatanku sesuai dengan jumlah Mana yang kugunakan, tapi ini juga memiliki batasan seberapa kuat peningkatan tersebut karena jika aku menggunakan Mana terlalu berlebihan maka Tubuhku akan merasakan sakit.


Menurut salah satu bawahan ku yang termuda, aku harus meningkatkan Stat VIT untuk meningkatkan batas peningkatan kekuatan yang bisa kuterima dari Skill [Stongest].


Kemudian nama Gift ku adalah Kapten, jadi aku tidak memberi tahu bawahan ku.


Tapi aku memberi tahu mereka skill yang kumiliki dari Gift tersebut termasuk [Stongest], aku mendapatkan skill lain yaitu [Leadership] dan memberitahu mereka juga.


...


Aku mengambil jarak cukup jauh dari pintu, mengambil ancang-ancang untuk berlari dan mengaktifkan Skill [Stongest], sesaat setelah mengaktifkan skill aku mulai berlari ke arah pintu. Beberapa langkah sebelum menabrak pintu, aku melakukan tendangan lompatan pada pintu.


Salah satu daun pintu terpental jauh kedalam sementara yang lainnya bengkok karena tendangan ku.


Kemudian pemandangan didalamnya terlihat oleh kami semua. Melihat pemandangan tersebut aku terkejut sesaat dan meringis segera setelah memperhatikan pemandangan yang mengerikan.


To be continued.......»


****


Hai,


No Face disini.


Sejak bab sebelumnya aku mencari-cari informasi tentang militer dan kepolisian, meskipun aku membaca banyak hal, aku tidak yakin apakah hal-hal mengenai Militer dan Kepolisian sudah tepat di bab sebelumnya, bab ini dan bab-bab di masa depan.


Meskipun mungkin kebanyakan tidak terlalu peduli, tapi mungkin ada beberapa orang yang [Otakku Militer]. Jadi kalian bisa menuliskan kesalahan yang ada di kolom komentar.


Itu saja untuk bab kali ini.


Terimakasih telah membaca bab ini juga. Like dan komen, juga tambahkan ke favorit kalian atau mungkin kalian bisa memberikan Vote Mingguan kalian, bahkan kalian bisa share jika memiliki waktu luang.

__ADS_1


Salam saya.


No Face


__ADS_2