
{POV Fitri}
Aku bermimpi tentang kenangan lama. Itu adalah kenangan yang indah tentang masa kecil tanpa beban. Bermain bersama teman, bertengkar, menangis dan berbaikan lagi.
Aku ingat bahwa aku dulu adalah anak yang cengeng dan pemalu, dan ada seorang anak laki-laki yang selalu melindungiku ketika aku diganggu oleh anak-anak lain dan menghiburku ketika aku menangis.
Kita selalu satu kelas sejak kelas 1 SD tapi kami mulai akrab ketika kelas 2. Mungkin pemicunya adalah ketika aku diganggu oleh anak laki-laki lain. Waktu itu ketika pelajaran seni dan guru memberikan tugas kepada kami untuk menggambar bebas lalu dia pergi keluar kelas. Mungkin dia memiliki urusan atau memang ingin membolos.
Kerena guru tidak ada di kelas anak-anak pun bebas berkeliaran di kelas. Kemudian tiga anak laki-laki mendatangiku, mereka meminjam pensil warnaku. Yah, karena aku tidak terlalu mempermasalahkannya aku membiarkan mereka meminjamnya.
Lalu saat aku ingin menggunakan warna yang di pinjaman salah satu anak tadi aku melihat kearah mereka yang sepertinya sudah selesai menggunakannya karena mereka terlihat sedang bermain.
Aku berjalan menghampiri mereka dan meminta kembali pensil warnaku, tapi mereka menolak untuk mengembalikannya aku mencoba mengambilnya secara paksa tapi aku di dorong oleh salah satu anak. Dan aku pun menangis tapi ketiganya tidak mengembalikan pensil warnaku dan hanya tertawa dan mengejekku.
Aku menangis semakin keras. Salah satu anak terlihat kesal dan akan menendangku dengan kakinya. Aku langsung memejamkan mataku dan bersiap untuk menerima dampaknya.
Aku menunggu beberapa saat tapi rasa sakit yang kubayangkan akan kuterima tidak juga datang, sebagai gantinya aku mendengar suara kesakitan bocah yang akan menendangku. Membuka mataku aku melihat seorang bocah laki-laki lain yang berdiri di depanku sementara bocah yang akan menendangku sedang memegangi kakinya sambil terlihat kesakitan.
Dia kemudian berdiri dengan marah dan akan berlari kearah bocah yang ada di depanku yang sepertinya sedang melindungiku. Dan kemudian bocah yang menolongku juga berlari ke arah bocah penindas, dan akhirnya mereka bertarung. Meskipun itu disebut bertarung, itu hanya pertarungan antara bocah.
Sepertinya bocah yang menolongku akan menang, tapi kemudian dua teman dari bocah penindas juga akan ikut bertarung. Ini akan menjadi 3 lawan 1 jadi dia pasti akan dipukuli sepihak, aku berpikir untuk membantunya tapi aku segera mengurungkannya. Sebagai gantinya aku segera berlari ke luar kelas untuk memanggil seorang guru, dan syukurlah ada seorang guru di kelas sebelah.
Pertarungan pun dihentikan oleh guru tersebut meskipun guru tersebut terkena beberapa pukulan dari mereka, tapi dia dapat menghentikan mereka tanpa menggunakan kekerasan. Setelah itu mereka berempat di marahi olehnya dan guru seni yang sepertinya membolos juga diceramahi olehnya.
Guru tersebut bertanya tentang penyebab mereka bertengkar. Jadi aku menjelaskan padanya mengenai pensil warnaku yang di pinjaman oleh ketiganya yang mereka tidak ingin mengembalikannya dan seterusnya.
Pensil warnaku di kembalikan dan kami kembali duduk di bangku kami sendiri. Karena 4 bocah yang bertengkar tidak mengalami luka yang serius maka kelas di lanjutkan seperti biasa.
Kemudian bel pulang sekolah berbunyi, para murid membereskan barang-barangnya dan setelah semuanya selesai merapikan, seorang anak laki-laki yang ditunjuk sebagai ketua kelas memimpin salam kepada guru. Guru menjawab salam dan memberikan beberapa peringatan dan nasihat kepada para murid. Lalu kami diperbolehkan untuk pulang.
Sementara anak-anak lain bergegas untuk pulang, aku melihat kearah bocah yang membantuku. Dia sepertinya baru membereskan barang-barangnya kedalam tasnya. Aku berjalan menghampirinya. Sepertinya dia tidak memperhatikanku. Jadi aku mencoba memanggilnya.
"Um, hei!..." Meskipun aku memanggilnya dengan suara kecil, tapi sepertinya dia mendengarku. Dia mengangkat kepalanya kearah ku dan bertanya.
"Apa?" Bukankah itu respon yang sedikit dingin.
"U,um...Te-terimakasih telah membantuku" aku sedikit tergagap tapi aku dapat berterimakasih dengan benar.
"Ya, sama-sama" dia memberikan jawaban yang singkat dan melanjutkan memasukkan barang-barangnya kedalam tasnya.
"Uuh, um... Namaku Fitri" aku memberitahu namaku padanya.
"Ya, aku sudah tau" dan jawaban dingin lainnya. Dan sepertinya dia tau namaku tapi aku tidak mengetahui namanya. Aku memang tidak memiliki teman laki-laki dan aku belum terlalu akrab dengan anak perempuan lainnya dikelas. Jadi aku berpikir untuk berteman dengannya.
Dia selesai merapikan tasnya lalu dia berdiri dan berjalan melewatiku. Meskipun dia belum memberi tau namanya. Aku merasa sedikit kesal dengan sikapnya.
"Um, hei! Tunggu!" aku berteriak padanya dan memegang tangannya untuk menghentikannya. Dia menoleh kearah ku dengan wajahnya yang agak kesal yang menunjukkan ekspresi bertanya ada apa. Aku sedikit takut padanya tapi aku tidak menyerah.
"Um, Nama....?" Tapi suara yang keluar menjadi sangat kecil.
"Hah?" Sepertinya dia tidak mendengarnya.
"Nama kamu?" Kali ini aku bisa menanyakannya dengan benar.
"Oh! Namaku Ochid" setelah mengatakannya dia segera berbalik kembali untuk pergi.
Ugh! Ini benar-benar membuatku kesal, meskipun kita belum selesai berbicara.
"Fitriii....!" Aku mendengar suara ibuku yang datang menjemputku. Aku segera berjalan menuju ibuku di luar kelas sambil menarik tangan Ochid.
"Hei! Lepaskan" meskipun dia berteriak, tapi dia tidak berusaha melawan dengan seluruh tenaganya. Jika dia melakukannya dia pasti bisa dengan mudah melepaskannya.
Aku membawa Ochid ke ibuku, ibuku bertanya tentangnya jadi aku menceritakan tentang insiden saat pelajaran seni sebelumnya. Ibuku berterimakasih padanya dan bertanya beberapa hal padanya.
__ADS_1
Dan sebagai kesimpulannya, kami pulang bersama karena dia sudah tidak dijemput oleh orang tuanya sesuai keinginannya sendiri dan rumahnya searah dengan rumahku meskipun jaraknya agak jauh dari rumahku. Sesampainya di rumahku ibuku mengajaknya masuk kerumah dan memberinya camilan. Kami makan camilan bersama, dia ingin pulang setelah memakan beberapa tapi aku menahannya dan mengajaknya bermain denganku.
Setelah kejadian hari itu dia mulai datang ke rumahku saat pergi ke sekolah dan pulang sekolah, yah itu mungkin karena kerena permintaan ibuku padanya, tapi kita mulai semakin akrab dan aku tidak diantar jemput oleh ibuku lagi karena aku bersama dengannya.
Aku merasa senang dengan keseharianku dengannya, meskipun kami terkadang bertengkar tapi kami akan berbaikan keesokan harinya.
Kemudian kelas 6 SD anak-anak dikelas mulai membicarakan tentang kita dan aku pun mulai sadar dengan perasaanku, tapi aku tidak bisa bilang padanya atau pada anak perempuan dikelas yang sudah menjadi teman-temanku sejak kelas 3.
Mungkin aku terlalu malu untuk mengakuinya atau mungkin aku hanya terlalu takut untuk mengetahui perasaannya padaku ternyata berbeda.
Semester 2, olok-olok tentang hubunganku dengan Ochid masih bertahan aku hanya menyangkal ejekan mereka dengan ringan. Tapi aku tidak tahu bagaimana Ochid menghadapinya, mungkin dia juga menyangkalnya. Meskipun aku tidak pernah bertanya padanya.
Beberapa hari kemudian aku merasa bahwa sikap Ochid sedikit berubah, dia mulai jarang bermain di rumahku. Dan aku merasa bahwa jarak kami mulai menjauh.
Apakah aku melakukan kesalahan padanya, atau apakah dia sudah bosan selalu bersamaku. Aku tidak tahu apa masalahnya dan aku tidak memiliki keberanian untuk bertanya padanya, jadi aku hanya mengikuti arusnya saja.
Saat itu aku tidak memiliki keberanian seperti saat pertama kali aku mengenalnya, mungkin aku sudah berubah menjadi seorang pengecut.
Dan karena itu hubungan kami tidak membaik juga, dan setelah lulus SD kami melanjutkan ke sekolah yang berbeda. Meskipun kami terkadang bertemu di jalan hubungan kami terasa seperti hanya seorang kenalan saja. Setelah lulus SMA kami sepertinya tidak pernah bertemu lagi.
***
Mimpi tersebut berlanjut menjadi sesuatu yang aneh, di mana aku bisa menggunakan Sihir dan melawan monster dengan teman-teman kuliahku, kemudian...
Ugh! Kepalaku sakit dan aku tidak bisa mengingatnya, lebih tepatnya aku tidak ingin mengingat nya.
Tapi mimpi tersebut berusaha menunjukkannya padaku. Gambar Rani yang ingin memberiku Buff tapi melakukan kesalahan dan malah mengucapkan mantra Debuff. Kemudian Sisca yang mungkin akurasi sihirnya buruk karena sedang berlari dengan panik sehingga mengenaiku.
Aku berusaha meyakinkan diriku dengan alasan-alasan tersebut. Tapi jauh didalam hatiku, aku tahu bahwa aku ditinggalkan mungkin bisa juga disebut dikhianati.
Mimpi terus berlanjut dan menunjukkan ketika aku berusaha mati-matian untuk melarikan diri dari para Goblin, tak lama kemudian aku terjatuh dan aku sudah pasrah dengan hidupku.... Tunggu! hidup? apakah itu semua hanya mimpi dan saat ini aku sedang mengalami yang namanya Lucid Dream (Mimpi Sadar). Hmm... Aku mencium bau yang enak, apa ini....
***
Ugh!
Aku mencoba bergerak tapi aku merasakan sakit di seluruh tubuhku terutama di bagian bawah punggung kiriku. Jadi aku memutuskan untuk berbaring diam dan mencoba memahami situasiku.
Tapi sebagian besar aku mengingat semua yang terjadi sebelum aku kehilangan kesadaranku.
Di mana ini? Hm? Aku tidak mengingat mengenakan baju seperti ini
"Kamu udah bangun?" Aku mendengar suara seorang pria dengan nada lembut. Aku mencari sumber suara dan aku terkejut saat melihatnya.
"Ah!... Ya" Aku mengeluarkan suara terkejut sebagai balasan. Uuh.. ini benar-benar memalukan setelah sekian lama aku bertemu dengannya. Dia memiliki tubuh yang terlihat lumayan tinggi dan wajahnya yang terlihat tidak terlalu tampan tapi masih di atas rata-rata. Meskipun terdapat beberapa perubahan padanya tapi itu adalah wajah yang terasa akrab.
Dia membawa dua piring makanan dan menaruhnya di meja pendek di depan sofa di mana aku berbaring.
"Bagaimana kondisimu? Apa kamu bisa duduk?" Dia bertanya kepadaku sambil mengambil posisi duduk di sisi lain meja.
"U,um... Aku baik-baik saja" Aku berusaha untuk bangkit dan duduk, Ugh! Aku mengeluh karena rasa sakit yang menggangu, tapi aku tetap duduk.
"Kamu gak perlu memaksakan diri buat duduk" Dia menyarankan dengan wajah terlihat khawatir, tapi aku hanya menggelengkan kepalaku.
"Bisa makan? Meskipun aku gak tau apakah kamu akan menyukainya, tapi hanya inilah yang bisa aku buat" Makanan yang ada di atas meja terlihat seperti nasi goreng dicampur mie instan seperti aku pernah melihatnya di sebuah video di YouSube.
Apakah dia memasaknya sendiri, meskipun harusnya yang memasak untuknya.
Hah? Apa yang kupikirkan?
"Kalo kamu gak suka aku bisa memasakan mie instan saja untuk mu" Dia menawarkan pilihan lain tapi aku menggelengkan kepalaku. Bagaimana mungkin aku bisa menolak makanan yang sudah dia masak sendiri. Aku mengambilnya dan mulai memakannya dalam diam bersama dengannya sambil menonton tv.
***
__ADS_1
Setelah dia menghabiskan makanannya, dia pergi mengambil air minum.
Memberikan gelas berisi air kepadaku yang kuterima dengan senang hati sambil berterimakasih dengan suara pelan. Dia mengangguk sebagai balasan.
Kami minum air sedikit demi sedikit yang menciptakan suasana yang canggung
"Jadi bagaimana kondisi luka mu?"
Dia bertanya untuk mengusir suasana yang canggung, tapi dengan nada yang terdengar khawatir. Tapi mungkin itu hanya khayalanku saja.
Menyentuh lukaku, aku merasakan sakitnya, tapi sepertinya sudah agak berkurang.
"Masih terasa sakit, tapi kukira aku akan baik-baik saja" Aku memberikan jawaban yang menurutku tepat.
...
Percakapan kami berhenti, dan suasana yang canggung kembali
Uuh... aku harus berbicara sesuatu, apakah aku harus menanyakan alasan kenapa dia menjauhiku saat SD? tidak, itu tidak bagus...
Umm.... Mungkin aku harus mulai dari awal lagi.
"Kamu Ochid kan?" Aku bertanya pertanyaan yang sudah pasti.
"Ya, aku Ochid. Dan kamu? Apakah kita saling mengenal?" Dia membenarkan dan bertanya balik dengan wajah bingung.
Eh? Dia tidak mengenaliku? Atau mungkin dia tidak mengingatku?
Ugh! Apa ini rasa sakit yang kurasakan tiba-tiba. Aku merasa ingin menangis saja. Tapi dia segera berbicara lagi.
"Oh ayolah aku hanya bercanda, Fitri kan?" Itu membuatku terkejut untuk sesaat. Aku merasa sedikit kesal tapi lebih dari itu aku merasa senang bahwa dia mengingatku, dan bahkan melemparkan leluconnya yang biasa untuk menggodaku seperti dulu ketika hubungan kami sangat dekat.
"Jadi kenapa kamu ada di Zona Berbahaya ini?" Dia bertanya dengan sedikit khawatir.
Jadi aku menceritakan semuanya dari awal sampai akhir padanya.
Saat ceritaku sampai pada bagian aku ditinggalkan dan dikhianati.
Dia sepertinya sangat marah sampai menghancurkan gelas di tangannya dan membuat tangannya berdarah.
Aku terkejut melihatnya dan bertanya khawatir padanya tapi dia bilang dia baik-baik saja
Setelah dia mengurus lukanya, dia berjalan menghampiriku menepuk dan mengelus kepalaku dengan lembut.
"Kamu sudah bekerja keras, sekarang sudah baik-baik saja. Serahkan semuanya padaku aku akan melindungi mu" Uuh.. dia mengatakan sesuatu yang klise dari sebuah novel. Apakah dia tidak malu mengatakannya? Tapi lebih dari itu aku merasa sangat senang dan lega mendengarnya.
Air mata akan segera keluar dari mataku jadi aku menunduk kepalaku dan menangis dengan suara kecil karena aku berusaha menahannya. Tapi kemudian dia memeluk kepalaku sambil terus mengelusnya dengan lembut, aku membenamkan wajahku ke dadanya dan terus menangis.
To be continued.....»
***
No Face disini.
Ini adalah bab terpanjang yang kubuat saat ini. Mungkin ada beberapa kesalahan di dalamnya tapi aku akan berusaha memperbaikinya dari waktu ke waktu.
Itu saja untuk bab kali ini.
Terimakasih telah membaca bab ini juga. Like dan komen, juga tambahkan ke favorit kalian atau mungkin kalian bisa memberikan Vote Mingguan kalian, bahkan kalian bisa share jika memiliki waktu luang.
Salam saya.
No Face
__ADS_1