2 World Fantasy

2 World Fantasy
Bab.22 Dunia yang Berubah #Persiapan


__ADS_3

Setelah Fitri tenang dari tangisannya, aku ingin lebih banyak mengobrol dengannya tapi kami tidak memiliki waktu banyak sebelum gelombang ketiga dari kemunculan monster dimulai.


Jadi aku mengajarkan Fitri cara Bermeditasi untuk mempercepat pemulihannya. Dan saat ini dia sedang fokus bermeditasi.


Aku belum memberitahukannya tentang Mana Circle karena kami tidak memiliki cukup waktu untuk membentuk Mana Circle.


Aku saja butuh waktu yang cukup lama untuk membentuk Mana Circle Pertamaku.


{Master!}


Ada apa Megumin?


{Setiap individu memiliki bakat yang berbeda dalam Bermeditasi}


Ha..? Oh! Dan bagaimana dengan bakatku?


{Bakat yang dimiliki Master kemungkinan besar adalah Rata-rata}


Ugh! Ternyata hanya rata-rata.


Lalu bagaimana dengan Fitri?


{Bakat yang dimilikinya kemungkinan sedikit di atas rata-rata}


Hmm... Hanya sedikit di atas rata-rata saja kah, jadi sepertinya tidak terlalu berbeda denganku.


Sambil memikirkan hal tersebut, aku melihat status Fitri.


~


Nama : Fitriyana Putri


Ras : Manusia (perempuan)


Usia : 21 tahun


Lv.6


•STR. : 16


Atk : 64


•VIT. : 23


Hp : 190/230


Stp : 180/230


Def : 34,5


•INT. : 35


Mp : 255/350


Ma : 175


Mr : 52,5


•AGI. : 17


•LUK. : 17


*BSP : 0


*SP : 5


• GIFT : 4 Element Master


• Skill+ : Fire Magic Lv.4 Wind Magic Lv.1 Earth Magic Lv.3 Water Magic Lv.1 Magic/Mana Perception Lv.2 Magic/Mana Control Lv.2 Spearmarship Lv.1 Sprint Lv.1 Battle Sense Lv.1 Meditasi/Kultivasi Lv.1


Pain Resistance Lv.1 Poison Resistance Lv.1 Natural Regeneration Lv.1 Fast Recovery Lv.1

__ADS_1


•Title : {User of 4 Element magic} {Goblin Slayer} {Betrayed Person (orang yang dikhianati)}


•Achievement : *[Orang pertama di benua Asia yang memiliki ke 4 sihir elemen dasar]


Sepertinya dia sudah cukup pulih untuk saat ini, dan dia juga sudah mendapatkan skill pemulihan dan juga perlawanan.


"Fitri! Kamu bisa berhenti Fit" Aku memanggil Fitri untuk menghentikannya bermeditasi. Fitri membuka matanya dan membuat wajah tidak yakin.


"Hmm.... Tapi Manaku belum pulih sepenuhnya?" Sepertinya dia melihat Status Window nya sendiri dan bertanya padaku.


"Ya itu sudah cukup untuk saat ini, karena kita juga tidak memiliki banyak waktu lagi sebelum Gelombang Monster ketiga"


"Ha..? Apa yang kamu maksud?" Hah? Ah! Benar, informasi tersebut aku dapatkan dari Gift Google yang di jelaskan oleh Megumin. Jadi sepertinya tidak semua orang mengetahuinya. Aku tidak berpikir bahwa hanya aku yang memiliki informasi tentang dunia yang berubah ini, tapi pastinya akan sangat sedikit orang yang memiliki informasi sama sepertiku.


"Hmm... Bagaimana caraku menjelaskannya.... Singkatnya Gelombang Monster adalah waktu kemunculan para Monster di dalam Dungeon"


"Kemudian Boss Monster mengirimkan pasukannya untuk menyerang manusia yang berada di Zona Berbahaya"


"Gelombang Pertama terjadi di saat bersamaan dengan munculnya Dungeon saat fajar dan Gelombang Kedua muncul saat siang hari. Jadi aku berpikir mungkin akan ada Gelombang Ketiga saat matahari terbenam"


"Ohh! Jadi pasukan Goblin yang kuhadapi saat siang kerena Gelombang kedua. Hmm... Bukankah itu berarti kamu juga menghadapi pasukan Goblin yang sangat banyak?"


"Ya, begitulah. Kemungkinan besar Goblin King yang merupakan Dungeon Master dapat mengetahui lokasi manusia yang berada di dalam Zona Berbahaya ini"


" Itu masuk akal. Ah! Bukan itu yang kumaksud, yang ingin kutau adalah bagaimana kamu bisa menghadapi pasukan Goblin yang sangat banyak sendirian"


"Tentu saja karena aku sangat kuat" Aku berkata dengan wajah sombong.


"Benarkah?" Sepertinya dia tidak puas dengan jawabanku, atau mungkin dia tidak percaya bahwa aku sangat kuat.


Yah, dia memang benar. Dan aku juga tidak berpikir bahwa aku sangat kuat dan tidak terkalahkan. Meskipun aku merasa bahwa aku cukup kuat untuk melindungi diriku sendiri di dalam Zona Berbahaya ini.


"Baiklah, mari ku tunjukan bagaimana caraku menghadapi para Goblin" Mengatakan hal tersebut, aku mengajaknya ke halaman belakang rumah. Meskipun dia terlihat agak bingung tapi dia tetap bangun dan mengikutiku.


"Bagaimana lukamu?" Aku bertanya saat melihat dia mencoba berdiri.


"Aku rasa sakitnya sudah berkurang, jadi kurasa aku bisa bergerak cukup bebas"


"Baiklah kalau begitu"


Kami berjalan menuju halaman belakang dengan aku memimpin.


Ketika aku membuka pintu belakang rumahku kami dapat melihat dinding tembok yang terlihat seperti benteng yang mengelilingi rumahku dengan jarak sekitar 10 meter atau kurang dari rumahku.


Fitri terkejut dengan mulut dan matanya terbuka lebar. Ya itu juga ekspresi yang imut.


"K-kamu yang membuat ini?"


"Ya, aku cukup berusaha untuk membuatnya. Tapi apakah ini gak kelihatan dari rumahmu?"


"Tidak. Ini emang cukup tinggi tapi gak mungkin bisa kelihatan dari blok yang berbeda"


Yah, kupikir juga begitu. Karena aku juga tidak dapat melihatnya ketika aku pergi menyelamatkan Fitri.


Kemudian kami naik ke atas tembok.


"Waohh!.... Kau bahkan membuat parit"


"Yah, begitulah. Jadi kita hanya perlu menyerang para Goblin yang datang dengan serangan jarak jauh"


"Mmm... Kau benar, tapi apakah benar-benar aman"


"Tidak juga, mereka juga memiliki serangan jarak jauh, Goblin Archer. Aku juga terkena tembakan panah mereka meskipun hanya sekali tapi rasanya sangat sakit" Aku mengatakan padanya sambil menyentuh lukaku.


"Jadi kita harus berhati-hati meskipun kita berada di atas tembok dengan penghalang.


Dan aku juga khawatir dengan berapa banyak Goblin yang akan datang"


Aku masih khawatir meskipun aku sudah menambah ketebalan tembok dan kedalaman serta luas parit. Aku bahkan menambahkan jarum tanah di bawah parit. Tapi mereka pasti akan bisa menembus pertahanan ini seiring berjalannya pertempuran.


Yah aku berharap semoga saja kelompok yang akan datang tidak terlalu jauh melebihi jumlah kelompok sebelumnya.

__ADS_1


"Sepertinya tempat ini akan menjadi gelap, itu berarti kita akan bertempur saat gelap. Uhh... Bukankah ini gawat"


Apa yang dikatakan Fitri benar. Karena desa ini sudah tidak memiliki penghuni kecuali kami, dan sekelompok orang yang baru saja datang. Aku mungkin memiliki beberapa ide tentang kelompok tersebut tapi sekarang bukan waktunya untuk memikirkan itu.


Yang kita perlukan sekarang adalah cahaya untuk pertempuran yang akan segera terjadi. Kita mungkin bisa menggunakan Sihir Cahaya dan membuat sebuah Bola Cahaya untuk penerangan, tapi kelemahannya adalah sang Caster tidak akan bisa melakukan Sihir lainnya karena harus mempertahankan Bola Cahaya tersebut.


Meskipun dimungkinkan untuk menggunakan dua sihir atau lebih yang berbeda disaat bersamaan jika level Skill Mana Perception dan Mana Control sang Caster sangat tinggi. Bisa juga jika seseorang memiliki Skill atau Gift yang dapat melakukan hal tersebut, mungkin seperti Rapalan Ganda atau semacamnya.


Karena Fitri tidak bisa melakukan Rapalan Ganda aku tidak bisa menyuruhnya untuk mengamankan penerangan dengan Sihir Cahaya dan juga dia tidak memiliki Sihir Cahaya. Meskipun kita hanya perlu membelinya, tapi aku tidak mungkin menyia-nyiakan kekuatan ofensif dari Sihir Api Fitri.


"Sepertinya kita harus membuat beberapa persiapan"


"Ya kau benar"


"Kita akan memasang beberapa lampu disekitar, aku kira aku memiliki beberapa lampu yang belum digunakan yang masih baru. Jadi apakah kau akan membantuku"


"Tentu saja"


Kami kemudian turun dan kembali ke rumahku untuk mengambil lampu.


***


"Yossh... Sepertinya ini cukup" Aku selesai memasang lampu terakhir diatas tembok dengan tiang yang kubuat dari sihir tanah.


"Coba nyalakan Fit!" Aku berteriak pada Fitri yang berada di dekat pintu belakang rumahku, karena kami sengaja memasang saklarnya di dekat sana.


"Baiklah ini dia" Fitri menekan saklarnya dan semua lampu berhasil menyala. Satu lampu di halaman belakang di dalam benteng dan dua lampu diatas tembok.


Ya sepertinya ini sudah cukup untuk saat ini. Aku bahkan mengikat dua senter di tiang di atas tembok.


Dan sepertinya gelombang ketiga sudah dimulai dengan bertambahnya titik-titik berwarna merah di Google Map ku.


"Fitri! Naiklah ke atas tembok" Mendengar suaraku Fitri segera berlari kemari.


"Apakah sudah di mulai?"


"Kemungkinan besar begitu, karena sekarang sudah jam 5 lewat 50"


Aku belum memberi tau tentang Gift yang kumiliki kepadanya, jadi aku memberikan penjelasan yang terdengar masuk akal. Yah, bukannya aku tidak ingin memberitahunya, hanya saja mungkin belum waktunya.


"Jadi benar-benar akan dimulai ya..."


"Apa kamu takut. Yah, kamu bisa keluar dari Zona Berbahaya segera dengan berlari sebentar. Kamu hanya perlu melewati tembok di depan rumah dan berlari lurus melewati beberapa rumah untuk keluar dari Zona Berbahaya, setelah itu kamu hanya perlu pergi ke tempat yang lebih ramai atau ketempat pengungsian yang disediakan pemerintah"


"Tidak. Aku tidak ingin pergi sendirian. Jika aku pergi aku ingin pergi denganmu" Ugh, apakah kau ingin membuatku jatuh cinta padamu dengan mengatakan itu. Meskipun sebenarnya aku sudah.


"Yah, baiklah jika situasinya menjadi buruk kita akan langsung melarikan diri" Aku mengatakan hal tersebut sambil menepuk-nepuk kepalanya. Ini adalah kebiasaan yang kulakukan saat kita masih kecil. Huh, sepertinya aku masih memilikinya.


'Aku pasti akan menyampaikan perasaanku padanya dengan jelas dan benar setelah pertempuran selesai'


Ah! Bukankah aku baru saja memikirkan sesuatu yang mengibarkan bendera sebelum pertempuran. Apakah sesuatu yang buruk akan terjadi? Tidak. Karena aku hanya memikirkannya dan tidak mengatakannya jadi masih aman. Semuanya akan baik-baik saja.


Yah semuanya pasti akan baik-baik saja.... Semoga!


To be continued......»


****


Halo,


No Face disini.


Untuk bab ini sepertinya aku tidak memiliki sesuatu untuk dikatakan.


Tapi jika kalian memiliki sebuah saran kalian bisa menuliskannya di kolom komentar.


Terimakasih telah membaca bab ini juga. Like dan komen, juga tambahkan ke favorit kalian atau mungkin kalian bisa memberikan Vote Mingguan kalian, bahkan kalian bisa share jika memiliki waktu luang.


Salam saya.


No Face

__ADS_1


__ADS_2