
Aku Update yah
Bonus untuk kalian semua
Jangan lupa vote dan komennya
Happy reading
Typo bertebaran
Warning!
Cerita ini cerita kolaborasi ku bersama adetiwi6690
By: Aku
Aaron menatap Zeline sedang memasukan bajunya ke dalam tas kecil. Meski tidak banyak baju yang dibawa Zeline, tapi Aaron masih tetap ikhlas. Bayangkan saja baru kemaren bertemu dan langsung memboyong Zeline ke rumahnya. Sekarang apa yang terjadi, Zeline malah dibawa Mama dan Papanya pulang dengan alasan dipingit.
"Zel, apa kamu tidak tinggal di sini saja? Kitakan baru kemaren bertemu," Aaron mencoba membujuk Zeline.
"Aaron, kamu kan sudah dengar apa kata Papa dan Mama tadi," Zeline mencoba mengingatkan.
"Tapi, Zel, aku baru ketemu kamu baru kemaren setelah sekian lama. Masa kamu mau saja tinggalin aku."
"Kalau begitu kamu pilih, aku di sini, tapi pernikahan kita tidak jadi?" Zeline kembali mengingatkan, Aaron benar-benar ngeyel bangat.
"Itu bukan pilihan menurut aku, tapi ancaman. Aku takut nanti kamu tidak bertemu lagi dengan aku," Aaron merengek seperti anak kecil.
"Astaga! Aaron," Zeline mulai kesal juga. "Kamukan bisa cari aku, kamukan tahu di manapun aku berada. Kenapa sekarang kamu jadi bodoh sih! Biasa kamu selalu membanggakan kepintaranmu," kali ini Aaron hanya diam saja. "Lagian aku juga kangen sama Mama dan Papa aku," Zeline keluar dari kamarnya dan meninggalkan Aaron. Aaron mau tidak mau akhirnya mengikuti Zeline.
Di ruangan tamu Razack sudah siap bersama Bi Nani, Aaron yang melihat itu hanya bisa tersenyum miris.
"Apa kalian bersiap mau pergi?" tanya Aaron lesu.
"Iya, kami berangkat Sekang," Papa Zeline yang menjawab.
"Ya, sudah hati-hati yah. Zel, apa kamu akan pergi. Enggak usah pergi," Aaron masih mencoba membujuk Zeline.
"Tidak bisa!" jawab Pap Zeline, "ya sudah kita pergi dulu."
Zeline dan keluarganya masuk ke dalam mobil. Aaron hanya bisa menatap kepergian mereka. (Astaga! Kenapa jadi mellow begini. Padahal Aaronkan bisa datang ke rumah orang tua Zeline. Dasar! Aaron Bucin.)
*****
Satu jam yang lalu Zeline sudah sampai di rumah orang tuanya. Sekarang mereka setelah selesai makan malam, Zeline dan keluarganya berkumpul di ruang keluarga sambil menonton televisi.
"Zel, kalian bertemu di mana? Maksud Nama kalian bertemu di mana?" tanya Rani, sambil menatap Zeline sekilas.
"Aku bertemu dia di Mesir Ma," jawaban Zeline, "mungkin saja," Zeline melanjutkannya dalam hati.
"Kamu sebagai dengan pernikahanmu?" kali ini Papanya yang bertanya kepada Zeline. Sebenarnya Zeline bingung mau jawab sepeti apa. Karena dia tidak tahu dengan perasaannya saat ini. Entah senang dengan pernikahanmu ini atau tidak.
__ADS_1
"Ten... tentu saja Pa," Zeline mencoba melihatkan senyumnya.
"Papa berharap kamu bahagia dengan pernikahanmu."
"Iya Pa. Aku ke kamar dulu yah, aku mengantuk besok aku harus ke rumah sakit."
"Kamu sakit?" tanya Papa Zeline cemas.
"Bukan. Bukan aku yang sakit, tapi aku kerja di rumah sakit, Pa, bagian Labor," jelas Zeline.
"Papa kira kamu yang sakit, syukurlah kalau tidak. Ya saya dah istirahatlah lagi."
"Tidak Pa, aku istirahat dulu Pa,Ma," Zeline langsung melangkah ke kamarnya.
Setelah sampai di kamarnya Zeline langsung membersihkan diri dan mengganti bajunya. Zeline merebahkan badan ke tempat tidur yang sudah lama tidak dia tempati. Zeline mencoba memejamkan matanya, tapi begitu banyak yang mereka bicarakan tadi. Ada satu pertanyaan yang membuat hatinya sesak.
"Apa aku bahagia dengan pernikahanku? Apa aku sudah mencintai Aaron? Aku tidak tahu, semua terasa tiba-tiba untukku," fikir Zeline dalam hati.
Ketika Zeline sibuk dengan perasaannya, tiba-tiba rasa ada yang memeluknya dari belakang dan membisikan sesuatu ke telinga Zeline.
"Usah difikirkan semua terlalu cepat, kita akan memulainya dengan perlahan dan akan aku pastikan kamu akan mencintaiku dan bahagia dengan pernikahan kita," bisik orang itu di telinga Zeline. Zeline hendak membalikan badannya untuk menatap orang memeluk dari belakang secara tiba-tiba.
"Jangan berbalik, biarkan seperti ini. Biar aku yang melakukannya untukmu. Kamu hanya perlu menutup matamu dan tidur. Selamat malam sayangku," busuknya lagi. Zeline hanya bisa menjalankan perintah dan tertidur.
*****
Di pagi harinya Zeline tidak menemukan orang yang memeluknya semalam. Zeline juga memandangi sekitar, Zeline juga tidak menemukan orang yang dicari.
"Apa aku hanya bermimpi saja? Itu tidak mungkin, tapi dia kemana?" Zeline terus berfikir keras.
Zeline turun setelah menyiapkan ASI untuk Razack. " Ma, Pa, Zeline berangkat dulu ya," Zeline mencium tangan Mama dan Papanya.
"Apa kamu tidak sarapan?" tanya Mamanya.
"Aku sarapan di kantin rumah sakit saja nanti, Ma."
Zeline meninggalkan rumah orang tuanya dan pergi ke rumah sakit pakai ojek online yang di pesannya tadi. Sampai di rumah sakit, Zeline mendapat tatapan curiga dari teman-temannya.
"Kalian kenapa? Kenapa memandangi aku seperti itu?" Zeline mencoba bertanya kepada teman-temannya.
"Ada yang mencarimu tadi. Ganteng banget, apa dia pacarmu?" tanya teman Zeline, Putri.
"Siapa?"
"Apa kamu lewat gerbang belakang?" Putri bertanya lagi.
"Iya begitulah," jawab Zeline.
"Kamu lihat lagi ke depan. Mungkin dia belum jauh," Zeline langsung berlari ke luar. Melihat siapa yang mencarinya pagi ini.
Saat Zeline sampai di pakiran, Zeline melihat Aaron yang akan masuk mobilnya. Zeline memanggil Aaron.
__ADS_1
"Aaron," panggil Zeline. Aaron sangat mengenali suara itu dan Aaron langsung membalikan badannya. Aaron tersenyum ke arah Zeline dan menarik tangan Zeline dan membawanya ke dalam pelukannya.
"Aku merindukanmu," bisik Aaron ditelinga Zeline. Zeline kaget saat Aaron tiba-tiba saja memeluknya. Aaron membawa Zeline masuk ke dalam mobilnya.
"Aaron, hari ini aku kerja. Jadi, aku segera masuk Aaron."
"Aku ingin kamu mencium aku dulu baru aku memperbolehkan kamu masuk," Aaron memberi Zeline pilihan.
Zeline mencium pipi kiri Aaron cepat. "Sekarang bakubsudah boleh keluarkan?" tangan Zeline hendak membuka pintu mobil.
"Eits, belum bisa," Aaron menahan tangan Zeline.
"Kenapa?" Zeline sedikit kesal.
"Aku belum merasakan ciumanku," jawab Aaron blak-blakan.
"Aaron...!"
"Kalau protes, aku yang menentukan di mana aku mau dicium," Zeline langsung mencium pipi kiri Aaron lagi. Tapi, Aaron langsung menyambut bibir Zeline dengan bibirnya. Zeline sangat kaget dan mendorong tubuh Aaron, tapi Aaron langsung menahan tengkuk Zeline dan memperdalam ciuman mereka. Aaron melepaskan ciumannya setelah Zeline kehabisan pasokan oksigen.
"Bernafaslah!" perintah Aaron. Zeline langsung memalingkan wajahnya, karen dia tidak mau Aaron tahu kalau dia merona.
"Apa kamu enggak bisa kembali ke rumah?" tanya Aaron pelan.
"Aaron, kamu kan sudah tahu alasannya. Jadi, kenapa kamu masih...."
Zeline belum menyelesaikan kalimatnya, Aaron langsung menjawab. "Sebenarnya itu tidak penting bagiku. Karena sebenarnya aku adalah istriku sudah dari lama, tapi sudah sekian lama tidak jumpa. Sekarang kamu pergi lagi meninggalkan aku, dengan alasan pingit. Aku sudah tidak bisa menahan semua ini," kalimat terakhir diucapkan Aaron dengan lirih.
"Aaron, maaf, aku tidak bermaksud seperti itu," Zeline merasa bersalah. "Aku masuk ke dalam dulu ya, Aku enggak enak sama yang lain," Aaron hanya mengangguk saja, untuk mengijinkan Zeline keluar dari mobilnya.
"Nanti sore aku jemput ya," Zeline hanya mengangguk saja tanda menyetujui, permintaan Aaron. Zeline keluar dari mobil Aaron dan masuk lagi ke dalam rumah sakit.
*****
"Sehari terasa setahun,
Aku sungguh tidak bisa jauh lagi dari dirimu,
Cukup waktu itu saja ,
Aku melewati hari tanpamu,
Sekarang dan Nanti tiada hari tanpa dirimu.
-Aaron-
See you next time
Kunjungi juga yah author Kece kita dengan tema cerita yang sama
#SahabatDilla
__ADS_1
ajaitiara dilla909 Musafir_Cinta1209 EchaFajri Bipbip86 adetiwi6690 niqiaaa
Itsitafianda Evelyne_Alleta26