A Man Mumy

A Man Mumy
29. Tersangka


__ADS_3

Happy reading


*****


"Zel, apa kamu melihat pasporku?" tanya Aaron ketika dia lagi sibuk mempersiapkan keberangkatannya ke Mesir.


"Aku menyimpannya di di dalam yang ada dalam lemari itu," Zeline memnunjuk lemari yang ada di kamar mereka. "Kamu itu meletakkannya di sembarangan, maka aku menyimpan di sana," Zeline sambil kelur dari kamarnya.


Aaron mencari paspornya di lemari yang tunjukan Zeline. Aaron langsung menemukan map yang di maksudkan Zeline tadi. Aaron membukanya, ternyata benar paspornya ada di sana. Setelah Aaron mengambil paspornya, melihat ada kertas kecil yang membuatnya penasaran.


Aaron mengambilnya dan membacanya. Aaron terkejut dengan apa yang dibaca di sana. Ternyata itu kartu peserta KB. Aaron sangat kaget, Aaron memeriksanya nama yang ada di sana, Aaron berharap itu bukan nama Zeline. Tapi harapan Aaron tidak sesuai dengan kenyataan apa yang dia lihat sekarang. Nama yang tertulis di sana nama Zeline. Jelas dan sangat jelas sekali, apa lagi tulisannya dengan huruf kapital semua.


Aaron langsung seperti disambar petir dengan kenyataan tersebut. Pertanyaan-pertanyan berkecamuk dibenaknya. Prasangka-prasangka bertebaran di dalam hatinya.


Aaron mengambil ponselnya dan langsung menelfon seseorangbuntuk membatalkan keberangkatannya besok. Tapi, kali ini keringanannya tidak bisa dikabulkannya, karena urasan ini memang harus Aaron yang menanganinya.


Aaron hanya bisa menghela nafas untuk semuanya. Aaron mengambil kartu tersebut berserta dengan paspornya tadi dan menyimpan kembali map itu ke tempatnya.


Aaron sungguh tidak menyangka bahwa, Zeline tidak memberi tahunya hal sebesar ini. Seharusnya, ini harus mendapat ijinnya dulu.


"Apa kamu belum sepenuhnya mencintaiku?" pertanyaan Aaron yang berterbangan dalam otaknya.


"Apa dia tidak mau lagi mempunyai anak dari aku?"


"Apa aku seburuk itu?"


"Apa aku tidak pantas?"


"Apa aku?"


"Apa aku?" itulah sederet pertanyaan yang berterbangan di dalam otak Aaron saat ini. Karena tidak mau terlalu memikirkannya, akhirnya Aaron melangkah ke tempat tidur dan mencoba memejamkan matanya, berharap semua itu mimpi belaka.


*****


Sudah seminggu Aaron di Mesir, saat ini dia sengaja balik ke Indonesia diundur. Padahal dia sudah menyelesaikan pekerjaannya dua hari yang lalu. Dia butuh waktu sendiri, karena dia tidak mau terbawa emosi, menghadapi kenyataan yang ada sekarang.


Kartu peserta KB itu, masih Aaron pegang saat ini. Dia masihbtidak percaya dengan huruf kapital yang ada di sana. Sehingga di membacanya berulang kali. Mana tahukan, dengan dibaca berulang kali tulisan berubah.


Di Indonesia, Zeline juga merasakan perubahan yang ditunjukan Aaron. Biasanya kalau Aaron ada urusan di Mesir, pasti dia akan sering menghubunginya. Tapi kali ini berbeda, Aaron masih menelfon, tapi hanya sekali dan itupun hanya menanyakan Razack. Setelah itu Aaron kembali menutup sambungan teleponnya. Tanpa memperdulikan dan menanyakan Zeline.


*****


Pagi-pagi sekali Tama sudah sampai di Bandara internasional Soekarno-Hatta. Aaron tidak langsung ke rumahnya dan Zeline. Aaron pergi ke rumah orang tua Zeline, karena menurut Aaron ini harus di bicarakan dengan orang yang berpengalaman dan Aaron juga sudah menganggap orang tua Zeline, lebih dari sekedar statusnya sebagai menantu.


Aaron sampai di rumah orang Zeline. Kedatangan Zeline disambut baik oleh orang tua Zeline. Aaron langsung di suguhi dengan sarapan, karena saat ini mereka juga sedang sarapan.


Menghabiskan sarapan, saat mereka sedang duduk di taman samping rumah Zeline.


"Pa, Ma, sebenarnya saya mau minta pendapat Mama dan Papa," ungkap Aaron.


"Ada apa, Nak? Kalau ada masalah silakan tanyakan saja kepada kami. Kami akan membantu sebisa kami," jawab Mama Zeline.


Aaron mengeluarkan kartu peserta KB itu kepada Mama Zeline. Mama Zeline bingung dengan itu, karena ada tidak ada yang salah dengan kartu peserta itu.

__ADS_1


"Inikan kartu peserta KB? Jadi, apa yang salah dengan ini?" tanya Mama Zeline bingung. Sedangkan Papa Zeline hanya menyimak saja.


"Ma, memang tidak ada yang salah dengan kartu itu. Tapi, Zeline mendapatkannya dengan cara yang tidak aku sukai. Dia mendapatkannya tidak berbicara denganku terlebih dahulu. Aku menemukannya di dalam lemari kami," sekarang baru paham Mama Zeline, apa yang salah dengan kartu peserta KB itu.


"Apa kamu sudah membicarakannya dengan Zeline?" tanya Mama Zeline.


"Belum Ma. Saya baru sampai di sini, karena seminggu ini saya menjalankan bisnis di Mesir."


Menurut Mama, kaku harus membicarakannya dengan baik-baik dulu kepada Zeline dan tanya apa alasannya. Semua masalah bisa diselesaikan dengan kepala dingin. Mama ingatkan jangan pernah menilai semua ini dari luarnya saja. Maka dari itu kamu harus mendengarkan penjelasan orang dulu," saran Mama Zeline.


"Baiklah, Ma, saya akan mencoba untuk memebicaran semua itu kepada Zeline. Saya pulang dulu ya, Ma, Pa," Aaron sudah mendapat pencerahan dan pamit untuk ijin pulang. Karena malah ini harus diselesaikan secepatnya. Aaron tidak ingin masalah lain akan muncul dan akan menimbulkan pertengkaran antara mereka.


*****


Aaron sudah sampai di kawasan di mana dia tunggal. Sepanjang jalan Aaron selalu menguatkan perasaannya dengan alasan apa yang didengarnya nanti. Aaron masuk ke dalam rumahnya dan langsung menuju kamarnya dan Zeline.


Aaron yakin saat ini Zeline tidak ada di rumah, karena dia yakin Zeline saat ini berada di rumah sakit. Aaron langsung masuk ke kamar mandi setelah meletakan kopernya di sudut kamar.


Tidak lama-lama mandi, Aaron langsung keluar di kamarnya  dan mencari keberadaan Razack. Razack langsung mencari Zeline ke ruang keluarga, tempat mereka menonton tv.


Ternyata benar Razack ada di sana. Aaron langsung mendekati Razack dan Bi Nani yang menemi Razack.


"Tuan," Bi Nani kaget dengan kedatangan Aaron yang tiba-tiba.


"Iya, biar saya saja lagi yang menjaga Razack," ungkap Aaron.


"Baik Tuan. Saya permisi dulu mau mengerjakan pekerjaan saya di belakang. Kalau Tuan butuh saya,  saya di belakang."


"Baiklah Bi," jawab Aaron dan langsung menggendong Razack.


Sorenya, Zeline baru pulang dari tempat kerjanya. Meski Aaron sudah melarang Zeline untuk berkerja, tapi Zeline tidak mau berhenti. Karena dia tidak mau hanya mengandalkan Aaron saja.


Ketika Zeline memasuki kamarnya, Zeline melihat Aaron sedang tertidur bersama Razack di sampingnya. Zeline tersenyum melihat pemandangan yang ada di depannya. Tidak mau mengganggu, Zeline masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Selesai mandi, Zeline masih melihat Aaron sedang tertidur. Zeline pergi ke luar untuk membuatkan Aaron makan malam. Zeline melangkahkan kakinya ke dapur dan ternyata Bi Nani sudah berada di dapur.


"Bi, mau masak apa?" tanya Zeline ketika Zeline melihat, Bi Nani sedang sibuk.


"Eh, Nona, masak ayam goreng, Non."


"Aku bantu ya," Zeline langsung menghidupkan kompor dan mengisi wajan dengan minyak.


"Oh-ya, Bi, jam berapa Aaron pulang tadi?" tanya Zeline kepada Bi Nani.


"Jam sepuluh pagi tadi, Nona," jawab Bi Nani. Zeline yang mendengar jawaban Bi Nani hanya mengangguk saja.


Hampir satu jam Zeline di dapur dan sekarang dia berniat mau membangunkan Aaron. Setiba di kamarnya, ternyata Aaron sudah rapi bersama Razack. Ternyata, Aaron dan Razack sudah mandi.


"Aaron, kita makan yuk," ajak Zeline. Aaron hanya menganggukkan kepalanya saja. Aaron membawa Razack dalam gendongannya, tanpa melihat ke arah Zeline.


Zeline hanya bisa menghela nafasnya melihat sifat Aaron saat ini. Zeline juga sudah merasakan perbedaan sifat Aaron sejak keberangkatannya ke Mesir. Mereka makan dengan suasana canggung.


Setelah makan Aaron duduk di ruang keluarga. Razack sudah di bawa, Bi Nani setelah makan tadi. Zeline yang melihat Aaron duduk di depan tv, Zeline duduk di samping Aaron.

__ADS_1


" Kamu kenapa?" Zeline mencoba membuka pembicaraan.


"Maksudnya?"


"Sepertinya kami marah sama aku," Zeline mencoba mengingatkan sifat Aaron yang tidak mempedulikannya.


"Apa kamu benar ingin tahu?" Aaron kali ininyang bertanya kepada Zeline.


"Iya."


Aaron naik ke kamarnya dan diikuti Zeline. Saat di dalam kamar Aaron mengambil kartu peserta KB itu dan memberikannya kepada Zeline. Zeline yang melihat itu sangat kaget.


"Kenapa? Kamu kaget? Aku ingin bertanya sama kamu. Apa kamu benar-benar mencintaiku?" Aaron menatap Zeline.


"Aku mencintaimu."


"Tapi, mengapa kamu melakukan ini kepadaku? Apa kamu tidak mau lagi mempunyai anak dari aku? Aku meragukan kata cintamu."


"Aaron."


"Zeline sudahlah, seharusnya kamu tetap memberi tahu aku. Meski, kamu tidak mencintaiku dan seharusnya kamu menghargai aku sebagai suamimu."


"Aaron," Zeline memanggil nama Aaron.


"Apa kamu masih mencintai, Riku?"


"Aaron!" Zeline kali ini berteriak, "kamu berfikir sejauh itu. Aku mencintaimu! Aku mencintaimu! Maaf! Aku akui aku memang salah, seharusnya aku membicarakan ini kepadamu. Maafkan aku!" Zeline menyesali perbuatannya.


"Sejak kapan kamu melakukannya?" tanya Aaron yang masih menatap wajah Zeline.


"Setelah kita melakukannya pertama kali setelah menikah," Zeline menundukkan kepalanya.


"Apa!" Aaron sangat terkejut mendengarnya.


"Maafkan aku.


"Segitu niatnya kamu," Aaron seperti menahan amarah.


"Aaron maafkan aku," Zeline semakin menyesalinya..


"Semua sudah terjadi," jawab Aaron dan keluar dari kamar mereka.


*****


"Ini juga terasa menyakitkan bagiku."


-Aaron-


See you next time


Kunjungi juga yah author Kece kita dengan tema cerita yang sama


#SahabatDilla

__ADS_1


ajaitiara dilla909 Musafir_Cinta1209 EchaFajri Bipbip86 adetiwi6690 niqiaaa


Itsitafianda Evelyne_Alleta26


__ADS_2