
By: Aku
Cerita ini adalah cerita colaborasi jadi jika ada yang menemukan cerita yang sama dengan ini di lapak adetiwi6690 karena dia rekan aku yang bisa di ajak tawuran
UPS maaf cuman bercanda
Jangan lupa vote dan komen
Happy Reading
Typo bertebaran
*****
Sudah hampir satu bulan Zeline berada di Mesir dan sudah hampir satu bulan itu juga, Zeline diganggu dengan suara-suara aneh dengan sosok wajah yang berkabut. Sampai saat ini pun, Zeline masih tidak bisa membedakan kehadiran sosok itu. Entah itu halusinasi atau kenyataan, tapi Zeline mencoba menikmati saja kehidupannya saat ini. Zeline tidak mau ambil pusing lagi dengan suara-suara dan mimpi-mimpi yang selalu dihiasi wajah berkabut. Zeline sudah menganggap itu hanya sebagai hiburan semata. Tapi, semua itu dipatahkan dengan kenyataan yang terjadi saat ini. Kejadian yang tidak pernah dibayangkan Zeline, tapi hari ini terjadi.
Hari ini Zeline kembali ke kamar hotelnya, memang terbilang agak larut dari yang biasanya. Karena teman-temannya mengadakan kejutan ulang tahun untuk Riku. Saat memasuki kamar hotel, yang menyambut Zeline adalah kegelapan. Karena lampu kamar yang belum dihidupkan.
Zeline menghidupkan lampu tengah dan melangkah menuju dapur untuk mengambil air mineral di dalam lemari pendingin. Udara negara Mesir sangat berbeda dengan Indonesia. Sehingga Zeline harus extra dengan air mineral.
Zeline memindahkan air mineral ke dalam gelas. Tiba-tiba suara itu muncul dari sudut ruangan dan itu sontak mengagetkan Zeline.
"Dari mana saja, sepatutnya ini baru pulang?" Suara itu terdengar seperti orang yang sedang cburi. Zeline yang mendengar langsung mencari asal suara tersebut, tapi Zeline tidak mampu untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan orang itu.
"Apa kamu bisu sehingga tidak bisa menjawab pertanyaanku?"
Sedangkan Zeline masih tidak bisa melepas pandangannya dari sosok yang ada di sudut ruangan itu. Orang yang biasa hanya hadir dengan wajah yang berkabut. Meski Zeline belum pernah melihat wajah orang yang selalu mengusiknya itu, tapi Zeline sangat mengenali suara itu. Suara yang selalu hadir di manapun Zeline berada. Suara yang kadang menggelegar dan kandang dengan bisikan halus.
Tapi, kini dia hadir dengan wajah yang terukir sempurna. Hidung yang mancung, bibir yang merah, mata yang dihiasi dengan eyeshadow hijau, serta eyeliner Kohl yang berwarna hitam, dan potongan rambut yang pendek.
Tubuh yang hanya dibaluti tunik putih yang panjangnya hanya sebatas lutut dan kaki menggunakan yang terbuat dari jerami. Tidak tertinggal dengan perhiasan mewah yang digunakannya dan memberi kesan mewah.
Zeline masih belum bisa berkata-kata, matanya masih terpaku dengan sosok yang ada di sudut ruangan itu. Tapi, tanpa Zeline sadari sekarang sosok yang terus dia pandangi itu, sudah berada di depannya saat ini.
"Apa kamu terpesona?" tanya sosok itu lagi. Karena pertanyaan yang tiba-tiba, membuat Zeline merinding dan terkejut. Sehingga gelas yang dia pegang erat dari tadi lepas dari tangannya. Membuat gelas satu menjadi seribu.
"Ka... kamu siapa?" tanya Zeline tergagap.
"Aku suamimu," bisik sosok itu lembut ditelinga Zeline.
"Ka... kamu Mumy Aaron?"
"Iya."
"Kok bisa, aku kan tidak ada menyentuhmu."
"Aku tiap malam menyentuhmu. Aku tiap malam tidurĀ di sampingmu," busuknya terdengar menggoda.
"Aku tidak...!" ucap Zeline terputus Karena Aaron telah mencium bibir Zeline singkat. Mata Zeline tidak bisa berkedip karena keterkejutannya.
"Ciuman pertamaku, ciuman pertamaku diambil oleh Mumu," Rintih Zeline dalam hati.
"Bukan Mumu sayang, tapi suamimu."
Zeline tidak mampu lagi menahan gejolak yang ada difikrannya dan dalam hatinya. Zeline langsung kehilangan kesadarannya dan pingsan.
*****
Pagi harinya Zeline terbangun, Zeline merasakan kepalanya sangat sakit. Zeline baru teringat bahwa dia pingsan di dapur. Sekarang Zeline berada di atas tempat tidur.
"Kok bisa? Oh-ya ciuman pertamaku?"
"Ya, jelas bisalah sayang, kan aku yang angkat kamu pas pingsan. Kamu berat sekali besok-besok kamu harus diet, biar aku gampang mengangkatnya dan soal ciuman itu aku sangat beruntung, karena aku jadi yang pertama.
Deg!
Zeline mencoba mencari asal suara itu, tapi dia tidak menemukan sosok orang yang bicara itu.
"Kenapa? Kamu mencariku?"
Zeline masih tidak menjawab. Dia masih mencari di mana asal suara tersebut.
"Tidak mau menjawab pertanyaanku?" kali ini suara itu berasal dari sudut kamar Zeline dan Zeline dapat melihat secara nyata orang yang bicara.
"Pagi sayang," sapanya sambil tersenyum memamerkan giginya yang putih.
__ADS_1
"Apa kamu sudah sehat? Semalam kamu rewel sekali," ungkap orang itu sambil berjalan mendekatkan diri kearah Zeline dan mengulurkan tangannya kearah Zeline.
"Ka... kamu siapa?" Akhirnya hanya itu yang keluar dari mulut Zeline.
"Apa kamu masih belum mengerti sayang, Aku sudah sering bilang, aku ini suamimu. Apa kamu masih bertanya lagi? Maka, jawabanku tetap sama. Aku adalah suamimu."
"Kenapa kamu bisa jadi suamiku. Padahal aku belum pernah menikah, aku masih belum bisa mengerti dan terima semua ini."
Itu karena kamu yang memilih aku dan takdirpun mengijinkan kita. Aku juga sudah lama menunggu saat-saat ini dan kerena kamu aku bisa ada di sini walau aku masih sempurna, tapi aku sangat senang.
"Aku?" sambil menunjuk dirinya. " Aku tidak pernah memilih siapapun."
"Kamu tidak menyadari telah memilih aku," jawab orang itu sambil menatap Zeline dalam.
"Aku masih tidak mengerti, ini sangat tidak masuk akal. Kita ini berbeda alam, kamu itu Mumu sedangkan aku manusia," jawab Zeline Frustasi.
"Berbeda alam? Kamu kira aku ini setan. Kamu salah besar telah beranggapan seperti itu. Aku adalah aku, aku sama sepertimu, aku juga manusia."
"Masa!" Zeline masih tidak percaya. Zeline hanya bisa menganggukkan kepalanya.
"Kamu harus bantu aku melepaskan kutukan ini."
"Bagaimana caranya?"
"Kamu harus mencintaiku dengan tulus."
"Aku tidak mau. Apa tidak ada cara lain selain itu? Mencintaimu terlalu extrime untukku."
"Kenapa? Kamu harus mencintaiku apapun terjadi."
"Terserahlah! Aku tidak akan bisa mencintaimu," Zeline menurunkan kakinya dari tempat tidur.
"Kamu mau kemana?" tanya Aaron, "kamu belum sehat."
"Aku mau ke kamar mandi dan juga memesan makan. Aku lapar," Zeline langsung melangkahkan kakinya dan meninggalkan Aaron yang masih duduk di tepi tempat tidur Zeline.
"Mau aku bantu?" Aaron mencoba menawarkan diri.
"Aku tidak butuh! Aku bisa sendiri!"
*****
"Menyebalkan," keluh Zeline dalam hati.
"Kamu tidak suka bersama suamimu di sini?"
"Kamu bukan suamiku!"
"Tidak bisa dihindari lagi,"
Perdebatan antara mereka berhenti ketika mendengar bunyi bel. Zeline langsung berdiri meninggalkan Aaron dan membukakan pintu untuk tamu.
"Hai Zeline? Apa kamu sudah sehat?" tanya Riku, ketika Zeline membukanya pintu.
"Sudah lumayan kok Rik?"
"Boleh aku masuk?"
"Khmmm... boleh. Silkan masuk."
"Apa Mumu bawel masih ada di dalam? Nanti dia akan berbuat yang tidak-tidak," keluh Zeline.
"Kamu mau menghina suamimu demi dia yang tidak sebanding denganku," bisik Aaron di telinga Zeline.
"Sialan dia membaca pikiranku," umpat Zeline.
"Kamu menyumpahi ku?"
"Memang kenapa?"
"Zeline, kenapa bengong di sana?" Riku memanggil Zeline, karena melihat Zeline hanya bengong saja.
"He-eh Riku maaf," Zeline menjadi bingung mau beri alasan apa sama Riku.
"Zeline, kamu benar-benar sudah sembuh?"
__ADS_1
"Aku sudah luyan, hanya kurang istirahat saja."
"Kamu tahu aku sakit dari mana?" tanya Zeline, karena setahunya dia tidak kasih kabar pada siapapun.
"Petugas tadi mengantarkan surat ke laboratorium."
"Masa!"
"Pada hal aku gak kirim apapun ke laboratorium," jawab Zeline bingung.
"Gak penting siapa yang kirim. Sekarang aku sangat senang sudah melihatmu sekarang."
"Makasih telah mengunjungiku, Riku." ungkap sambil tersenyum.
"Dia yang hanya mengunjungimu kamu ucapkan terima kasih. Sedangkan padaku kamu hanya mengumpat," ungkap Aaron dengan suara yang kesal.
"Aku membawakan makanan untukmu, dimakan ya, nanti."
"Iya."
"Zeline, sebenarnya aku ada yang mau aku bicarakan sama kamu."
"Bicarakan saja. Kenapa harus singkat gitu," Zeline masih memperlihatkan senyumannya.
"Sebenarnya aku, ada rasa sama kamu," ungkap Riku pelan.
"Riku, aku...."
Belum sempat Zeline menjawab, tiba-tiba saja terdengar suara orang yang melempar gelas ke dinding. Riku dan Zeline sangat kaget dan langsung berlari ke dalam kamar Zeline.
Zeline melihat gelas yang tadi ada di atas balas dekat tempat tidurnya sudah berubah menjadi seribu.
"Cepat kau suruh dia keluar atau kau mau aku melemparnya keluar seperti gelas itu," suara itu terdengar menggelegar ditelinga Zeline. Zeline yang mendengar ancaman dari Aaron langsung memberikan alasan untuk Riku.
"Rik, kamu balik saja ke kamarmu. Biarkan aku yang membersihkan kekacauan ini dana aku juga mau istirahat."
Mau tidak mau, Riku harus menuruti keinginan Zeline, karena Riku juga tidak mau membuat Zeline ifiil sama dia.
"Oke! Aku balik dulu ya," Zeline hanya mengangguk saja. Sesudah kepergian Riku Zeline langsung membersihkan pecahan gelas. Tanpa sengaja mengenai telapak kakinya Zeline.
"Sekarang kamu sudah puas!" teriak Zeline dan menangis sejadi-jadi.
"Maaf," Aaron langsung mencukupi di depan Zeline dan memeriksa kaki Zeline yang berdarah.
"Tidak perlu! Jangan sentuh aku!" Air mata Zeline masih membanjiri pipinya.
"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud melukaimu," nada suara Aaron penuh penyesalan.
"Kamu telah menyakitiku!" Zeline berdiri tidak memperdulikan lagi kaki sakitnya dan langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Aaron yang melihat kaki Zeline yang masih belum dibersihkan. Aaron langsung memberikan kaki Zeline dan mengeluarkan pecahan kaca.
*****
"Aku tidak tahu lagi dengan diriku,
Aku sudah memiliki suami tapi tidak pernah menikah.
Apa-apaan ini?
-Zeline-
See You Nex time
#SahabatDilla
Author yang juga bertemakan Mumy
Silakan mampir Kuy!
ajaitiara dilla909 Musafir_Cinta1209 EchaFajri Bipbip86 adetiwi6690 niqiaaa
I
tsitafianda Evelyne_Alleta26
__ADS_1