
Teriakan kebencian para pelajar.
"Weei weeii, apa-apaan ini, bagaimana mungkin ini bisa di selesaikan"
"Apakah permainan ini di program agar mustahil bisa di selesaikan"
"Jangan bercanda, apa-apaan game ini."
"Mustahil seseorang bisa menyelesaikan level ini, ini bukan game yang bisa diselesaikan"
"Aku tidak akan heran jika ia gagal, sampai di level ini saja ia sudah hebat"
"Game Sampah, jika tau begini, kami tidak akan mau memainkannya"
---
Qiara yang melihat perubahan tersebut tetap tenang dan tidak mempermasalahkannya.
Pandangan matanya terlihat sangat tajam, layaknya tatapan elang yang sudah menandai mangsanya.
Tangan kirinya mulai membidik, “Dor, Dor, Dor, Dor, Dor, Dor, Dor,” suara tembakan.
Waktu benar-benar terasa sangat lambat, para pelajar yang awalnya bersorak memberi dukungan menjadi terdiam, menunggu hasil dari ke tujuh tembakan tersebut, terlihat jelas dari raut wajah mereka rasa penasaran akan seperti apa hasilnya.
Sasaran yang tadinya bergerak dengan cepat mulai melambat, bayangan yang terbentuk mulai menghilang, dan pada akhirnya semuanya bisa terlihat, ketujuh bola yang menjadi target telah berhenti.
Game Berhasil Diselesaikan.
*\~ Game \~*
Selamat Anda telah menyelesaikan permainan
Anda mendapatkan 81.700 Gold.
*\~.\~*
Teriakan kekaguman para pelajar.
"woowwww gila, Hebat."
"Kamu memang yang terbaik."
"Yang terbaik dari yang terbaik."
"Good Game."
"Permainan yang sangat baik."
"Skill tingkat dewa."
"Terbaik dari yang terbaik."
Sosok yang awalnya dihina telah berubah mendapatkan pujian tiada henti. Seharusnya dia bahagia, tapi di wajahnya tidak ada ekspresi itu, dia pergi begitu saja di tengah kerumunan para pelajar yang memberikan tepuk tangan, tanpa adanya senyuman yang biasa diperlihatkan, Qiara kemudian menghilang. Sedangkan Nine yang menyaksikan hanya terdiam, entah apa yang dipikirkan olehnya.
Setelah semua yang terjadi, hadiah pada Abyssal Fire berubah menjadi 0.
---
Tiga hari waktu berlalu dan selama itu Nine menghabiskan waktu di Perpustakaan Altera, membaca buku, menambah pengetahuan serta wawasan tentang dunia. Perpustakaan Altera terasa menjadi rumah kedua baginya.
"Hai," terdengar suara menyapa, dia adalah Qiara.
__ADS_1
Saat pertama kali berada di Abyss, hanya Qiara satunya-satunya yang senantiasa menghampiri Nine, walau sikapnya terlihat tidak peduli, namun tidak ada yang tau arti sesungguhnya.
"Apakah kamu selalu berada di sini," Qiara bertanya seraya mengambil tempat duduk.
"Aku sudah sembuh, tanganku sekarang sudah tidak diperban lagi, memar di wajahku sudah menghilang," Qiara tersenyum seperti biasanya, seolah-olah tidak ada yang pernah terjadi. Qiara di Game Center terasa berbeda dengan Qiara yang menghampiri Nine.
"Kamu sebenarnya siapa?" Nine bertanya dengan ekspresi yang tampak serius, “Jangan katakan hanya untuk berteman. Aku harap kamu mengerti,” lanjutnya.
Tidak langsung menjawab, Qiara justru terdiam dan tertunduk, ada ekspresi kesedihan di wajahnya. "Jika aku mengatakannya, apakah kamu akan percaya?" Qiara menjawab seraya melepaskan liontin yang dikenakannya.
Qiara memperlihatkan foto pada liontinnya, foto mereka berdua sewaktu masih kecil, Qiara dan Nine di masing – masing sisi liontin, “Aku akan menceritakan sebuah kebenaran kepadamu,” Qiara mulai bercerita.
“Aku memiliki adik yang sangat aku sayangi, bahkan nyawa pun rela aku korbankan untuk melindunginya.”
“Dia sangat pintar, di usianya yang masih 5 tahun, soal logika untuk orang dewasa dengan mudah diselesaikan olehnya.”
“Dulu kami sangat bahagia, namun semua kebahagiaan itu sirna setelah kematian orang tua kami.”
“Kami hidup di jalanan, siang kepanasan dan malam kedinginan, sedangkan kami setiap harinya berteman dengan kelaparan.”
“Penderitaan kami semakin bertambah setelah kami diculik dan dijadikan bahan eksperimen, bahkan hanya untuk bertemu kami tidak diperbolehkan.”
“Adikku mengalami eksperimen yang sangat menyakitkan hingga menghapus ingatan, melupakan aku sebagai kakaknya.”
“Namun bukan itu yang paling menyakitkan, sesuatu yang paling menyakitkan adalah kita kami dipisahkan.”
“Setelah eksperimen di hari itu, aku tidak pernah melihat adikku, aku tidak tau bagaimana kehidupan yang dilaluinya, aku tidak tau apakah dia bahagia atau tidak, aku tidak tau apakah dia masih hidup atau telah mati.”
“Setelah tumbuh besar dan memiliki kekuatan, aku membebaskan diri dan mencarinya, tapi aku tidak menemukan apa pun. Hingga akhirnya aku melihatmu di Pulau Azy tatkala mengikuti ujian masuk di negeri ini, Abyss.”
“Aku pelajar yang diterima di melalui jalur undangan, dan aku menggunakan hak istimewa milikku untuk mencarimu. Itulah alasan kenapa kita bisa bertemu di Gerbang Pertama negeri ini.”
“Jadi aku merasa kamu adalah adikku. Maaf, kamu boleh tidak mempercayainya” Qiara mengakhiri ceritanya
“Aku turut sedih atas apa yang menimpamu, tapi aku bukanlah adikmu. Aku mengingat semua kenanganku ketika masih kecil, dan orang tuaku juga masih hidup sampai saat ini,” Seraya memperkuat perkataannya, Nine menunjukkan Abyss Sistem miliknya dan memperlihat foto – foto kenangan sewaktu masih kecil hingga sekarang bersama sang ibu, di dalam foto tersebut Nine terlihat murung tanpa sebuah ekspresi.
“Begitu ya,” ucap Qiara dengan senyum palsunya.
Sejenak mereka berdua terdiam, hingga akhirnya Qiara kembali memulai pembicaraan, “Tapi apakah aku boleh berteman denganmu, hingga aku bisa menerima semuanya. Maaf jika sekiranya aku egois dan membuatmu merasa tidak nyaman.”
Tiba – tiba sebuah notifikasi muncul pada Abyss Sistem milik Qiara, notifikasi permintaan pertemanan.
*\~ Abyss Sistem \~*
Nine mengirim permintaan pertemanan kepada Anda. Apakah Anda ingin menerimanya?
Iya /Tidak
*\~.\~*
Tidak berpikir lama, seraya tersenyum Qiara mengkonfirmasinya. Terlihat pada Abyss Sistem milik Nine, hanya ada nama Qiara seorang yang berada di daftar list pertamanannya.
“Terima kasih, kalau begitu aku tidur dulu ya, kamu bisa fokus membaca.” Qiara mengakhiri dan kemudian menyandarkan kepalanya pada meja.
“Entahlah, aku tidak bisa mengingat apa pun dari kenangan masa kecilku, memori itu benar – benar hilang,” Pikir Nine yang melihat Qiara yang telah tertidur di hadapannya.
“Semua gambar – gambar yang telah aku tunjukkan kepadamu adalah manipulasi belaka, aku persiapkan sebagai pembatas sehingga identitasku yang sebenarnya tidak diketahui.”
“Jika apa yang kamu katakan adalah sebuah kebenaran, itu pertanda kamu telah terlibat dalam skenario besar berubahnya tatanan dunia.”
---
__ADS_1
Beberapa jam telah berlalu dan Qiara pun terbangun dari tidur lelapnya, “Kamu masih membaca buku ya,” Qiara bertanya dengan suara setengah sadar. "Apakah kamu tidak bosan?" lanjutnya.
“Sebaiknya kamu mencuci muka terlebih dahulu,” Nine menghiraukan pertanyaan Qiara.
"Enggak mau, aku masih mengantuk," Qiara menjawab seraya kepalanya tetap bersandar pada meja.
“Sayang sekali, padahal aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu,” Nine kembali fokus pada bukunya.
“Baiklah, aku akan cuci muka,” Qiara seketika terbangun dan langsung pergi ke toilet.
---
"Bagaimana menurutmu jika ada orang yang ingin menciptakan kedamaian di atas dunia dengan mengorbankan milyaran manusia?" Nine bertanya setelah Qiara kembali.
"Itu bukanlah sesuatu yang mudah, apakah ada orang gila yang akan melakukannya? " bukannya menjawab, Qiara justru kembali bertanya seraya berpikir dengan menaruh tangannya di bawah dagu.
"Mungkin saja, " ucap Nine datar.
"Kalau ada orang yang mau melakukannya, pastinya dia orang yang gila. Membunuh milyaran umat manusia bukanlah sesuatu yang mudah, tapi kembali lagi, manusia pada akhirnya akan mati.” Jawaban Qiara.
“Jadi, jika seandainya ada yang ingin membunuh milyaran umat manusia demi menciptakan kedamaian, aku rasa itu tidaklah masalah, karena yang membuat kerusakan di muka bumi adalah manusia itu sendiri. Jadi tidak salah mengorbankan mereka demi kedamaian,” Qiara mengakhiri jawabannya.
"Begitu ya," Nine kemudian terdiam.
“Akan tetapi jika itu kamu, aku siap membantumu,” Qiara tersenyum.
“…”
“Aku serius, aku akan membantumu jika kamu menginginkannya,” Qiara menegaskan tekadnya.
“Lupakanlah,” Nine kembali fokus pada bukunya.
---
Setelah merasa cukup berada di perpustakaan, akhirnya mereka berdua sepakat pergi jalan – jalan. Sepanjang perjalanan, sebagaimana biasanya, para pelajar sibuk dengan aktivitas-aktivitas mereka, berlari-lari kecil, membaca buku, tidak sedikit juga yang bermain-main dan menikmati pemandangan di kala senja.
Altera, walau berulang-ulang kali dilihat, tetap saja pemandangannya memanjakan mata.
Sesaat Nine memandangi Abyssal Tower, bangunan tertinggi dan menjadi misteri terbesar. Abyssal Tower layaknya sebuah gunung yang sangat tinggi, karena ketinggian itulah, Abyssal Tower bisa dilihat dari seluruh dataran di negeri ini, kecuali di beberapa tempat yang terhalang oleh gunung.
Qiara yang melihat demikian bertanya, "Apakah kamu tertarik mendakinya? "
"Entahlah, aku masih memikirkannya, " Nine menjawab seraya mengingat tentang Titel Eryl yang telah didapatkannya.
Jarak antara perpustakaan dengan taman tidak terlalu jauh, hanya beberapa menit saja, tibalah mereka berdua di dataran hijau yang luasnya sejauh mata memandang, pepohonan rimbun dan beraneka-ragam bentuk bunga semakin menambah nilai keindahannya.
Terlihat begitu para pelajar berkumpul menikmati suasana, beberapa di antara mereka berdiskusi, menyendiri duduk seraya membaca buku di bawah naungan pohon, berjalan-jalan ataupun olah raga, dan bahkan ada di antara mereka yang menjalin asrama.
Melihat kumpulan bunga – bunga yang indah, Qiara kemudian berpaling, "Nine, lihatlah, bunga - bunganya terlihat sangat cantik," serunya dari kejauhan, sedangkan bunga-bunga berwarna-warni mengelilinginya.
"Bagaimana apakah aku terlihat cantik dengan bunga ini?" Qiara melanjutkan, senyumannya terlihat manis disertai dengan bunga berwarna ungu di samping telinganya. Kecantikan Qiara mengalahkan keindahan setiap bunga yang ada.
"... " tapi tetap saja, Nine terlihat tampak biasa.
"Hei, apakah aku terlihat cantik?" Qiara mendekat.
"Enggak," Nine berbohong. Qiara benar-benar cantik, layaknya matahari yang memberi kehangatan. Bahkan tidurnya di perpustakaan menghipnotis mata laki-laki yang melihatnya.
Mendengar jawaban Nine membuatnya tampak kesal, hal itu terlihat jelas dengan ekspresi cemberut di wajahnya.
Beberapa saat setelahnya, tibalah mereka berdua di sebuah pohon yang tampak besar, ranting dan daunnya terlihat lebat, angin yang berhembus menghasilkan suara gemercik dari dedaunan yang bergoyang.
__ADS_1
"Mau ngapain?" tanya Qiara heran
"Tidur," Nine menjawab seraya menyandarkan tubuhnya pada batang pohon tersebut. Tidak lama kemudian, Nine memejamkan mata.