Abyss

Abyss
#22


__ADS_3

Setelah selesai memeriksa semua jawaban para pelajar, Alkemis Lenhart kemudian memanggil salah satu nama, "Seya," ucapnya. Mendengar hal tersebut Seya langsung mengangkat tangannya.


"Kamu memiliki jawaban yang cukup bagus, akan tetapi ini masih belum cukup, teori mu masih banyak memiliki kelemahan dan akan berujung kegagalan jika kamu mencobanya."


"Tapi sepertinya kamu berbakat dalam melakukan eksperimen gila dengan menjadikan manusia hidup sebagai bahannya."


"Apakah kamu pernah melakukannya?" tanya Alkemis Lenhart.


"Maaf Alkemis, saya tidak pernah melakukannya. " Seya menjawab.


Alkemis Lenhart tersenyum, senyum yang mengandung misteri. "Jika kamu terus mempelajarinya, di masa depan, kamu akan menjadi orang yang hebat," Alkemis Lenhart sedikit memberikan pujian.


"Terima kasih," jawab Seya, terlihat ada senyuman bahagia di wajahnya.


"Thu kan sudah kubilang kamu itu hebat, sampai Pilar sendiri yang memujimu," ucap Qeela.


Mereka, para pelajar mulai berbisik sebagai bentuk kekaguman, dia yang berhasil mendapatkan pujian dari seorang Pilar tentunya adalah orang yang hebat. Tapi di sisi lain, ada juga beberapa pelajar merasa iri.


“Seharusnya aku yang mendapatkan itu, ini hanya tentang sesuatu yang berkaitan tentang anatomi manusia. Jika pembahasan yang lain, aku pasti lebih hebat, apalagi Alkemis Lenhart mengatakan teorinya gagal.”


“Dia hanya beruntung saja.”


---


Di tempat yang lain, di rumah sakit tempat Qiara dirawat, terlihat Qiara masih belum terbangun dari tidurnya, layaknya seperti putri yang terlelap dalam mimpi panjangnya.


"Sudah satu minggu waktu berlalu dan kamu masih belum terbangun, " ucap Naeya yang tengah duduk di sampingnya.


"Kamu seperti mentari dalam hidupku, datang dan menghilangkan kegelapan yang selalu mengikuti."


"Ketika aku hampir mati dan tidak memiliki sebuah harapan, kehadiranmu telah mengubah semuanya dan membuatku berani untuk bermimpi."


"Kau memberikan aku sebuah cahaya yang dengannya membuatku berjalan di atas kegelapan."


"Aku benar-benar takut jika kamu tidak terbangun lagi, jika sekiranya bisa, aku ingin menggantikan tempatmu saat ini."


"Qiara, aku mohon bangunlah." Naeya hanya berbicara sendiri, tertunduk dan penuh kesedihan.


---

__ADS_1


Di tempat yang berikutnya, di sudut kota yang bernama Altera, terlihat sosok 2 laki-laki yang tengah berdiri, wajah mereka tidak bisa dilihat dengan jelas dikarenakan tertutup hoodie yang mereka pakai.


"Oxsord, setiap tahun kita telah mencarinya,, tapi sampai saat ini kita masih belum menemukannya, " ucap Areen.


"Setelah membaca pergerakan alam, semua tanda-tanda sudah mengarah kepada kemunculannya. Tapi kenapa sampai sekarang kita masih belum menemukannya?” Lanjutnya.


"Bersabarlah, kita pasti akan bertemu dengannya, dia yang akan membawa kita ke puncak tatanan manusia." Oxsord memberikan jawaban.


“Para Tetua mengatakan, dia memiliki mata berwarna merah dan berkeinginan memusnahkan umat manusia.”


“Kita hanya perlu menemukannya. Altera, ini adalah kota awal bagi mereka yang pertama kali menginjakkan kaki di Abyss.”


“Jika tahun ini dia datang, kita hanya perlu menemukannya.” Oxsord mengakhiri.



Auditorium Alkimia Altera


2 jam waktu telah berlalu dalam proses pembelajaran dan selama itu juga Nine masih tertidur. Hal ini menarik perhatian Alkemis Lenhart, sehingga dia mulai berjalan mendekat.


Seya tampak khawatir melihat Alkemis Lenhart datang ke arahnya, dia mulai berpikir tentang segala kemungkinan yang terjadi, kenapa Alkemis mendekat, apakah ada yang salah, ataukah Nine yang saat ini masih belum bangun, Seya memikirkan hal tersebut seraya melihat ke arah Nine yang tertidur di sampingnya.


"Bangunkan dia, " Perintah Alkemis Lenhart pada Seya.


Seya langsung melakukannya, ekspresi ketakutan tidak bisa disembunyikan. Membuat seorang Pilar marah bukan sesuatu yang bisa dianggap remeh, sedikit banyak, Seya mengetahui tentang Alkemis Lenhart.


Setelah tidur yang panjang akhirnya Nine terbangun, tidak tampak di wajahnya ekspresi mengantuk, walau sudah tertidur selama 2 jam, dia terlihat segar dan wajahnya tidak lagi melukiskan rasa lelah. Namun, disisi lain air mata terlihat jelas mengalir pada mata kirinya.


"Apakah tidurmu nyenyak dan kenapa kamu menangis? " tanya Alkemis Lenhart yang saat ini ada di hadapannya.


"Apakah begitu menyakitkan? " Lanjutnya.


"Bahkan jika Pilar sekalipun, bukankah tidak boleh menanyakan privasi seseorang?" Nine menjawab, semuanya tertulis di Ensiklopedia Abyss.


Alkemis Lenhart tersenyum, "Baiklah, kalau begitu apakah kamu mengetahui kesalahanmu? "


"Pastinya bukan karena aku tertidur. Aku tidak mengetahui kesalahanku, kecuali Alkemis memberitahukannya." Nine memberikan jawabannya dengan tenang tanpa terpengaruh intimidasi.


"Hanya karena ada aturan yang melindungimu, kau berani sekali tidur kelasku, tapi kau benar itu bukanlah kesalahanmu, melainkan karena tidak ada kontribusi yang kamu berikan dalam kelompok."

__ADS_1


"Apakah ada pembelaanmu?" Alkemis Lenhart bertanya.


"Tidak ada," jawab Nine.


"Bagaimana jika sebagai hukumannya kamu dikeluarkan dari Abyss? " Alkemis Lenhart memberikan ancaman.


Mendengar hal tersebut, tidak ada perubahan raut wajah yang berarti pada Nine, kecuali Seya dan Qeela yang terlihat terkejut. "Maaf Alkemis, apakah bisa dipertimbangkan lagi, saya yang memintanya untuk datang walau mengetahui kondisinya tidak baik-baik saja," ucap Seya ditengah percakapan antara Alkemis Lenhart dan Nine.


"Baiklah aku akan keluar, " ucap Nine tanpa menghiraukan apa yang dikatakan oleh Seya. Nine memiliki harga diri yang kuat, memohon adalah hal yang memalukan.


"Apakah kamu serius?" ucap Qeela yang mendengar hal tersebut, "Abyss adalah impian setiap orang, kenapa kamu cepat sekali menyerah," lanjutnya.


"Alkemis, apakah tidak ada hukuman yang lain kecuali dikeluarkan, " ucap Seya meminta keringanan.


“...” Nine hanya terdiam.


"Bagaimana menurutmu dibela oleh dua orang perempuan, bukankah rasanya menyenangkan? " ucap Alkemis Lenhart kepada Nine.


"Tidak sama sekali, dan sebaiknya kita akhiri saja percakapan ini, bukankah kamu ingin bersegera mengeluarkanku," Nine mempertegas semuanya.


Seya dan Qeela yang mendengar hal tersebut seolah-olah tidak percaya, mereka juga menyadari tidak akan bisa melakukan apapun untuk membela Nine.


"Tidak, sepertinya itu tidak seru. Hukuman akan diganti dengan membuat levelmu menjadi minus 100."


"Alkemis hukuman itu? " ucap Seya, tampak di wajahnya ekspresi kaget melebihi ketika mendengar Nine akan dikeluarkan, tidak terkecuali dengan Qeela.


"Diamlah, kamu terlalu berisik. Jika tidak, aku akan menimpakan hukumannya kepadamu." ancam Alkemis Lenhart dengan aura intimidasi yang begitu kuat, seketika membuat Seya langsung terdiam.


"Baiklah, tidak masalah, " ucap Nine menerima hukuman penurunan level minus 100.


---


Tertulis dalam Ensiklopedia Abyss, level minus sama artinya dengan kematian, seseorang yang mendapatkan hukuman level minus, maka orang tersebut tidak akan bisa menolak Prysal.


Prysal sendiri adalah pertarungan dengan mempertaruhkan segalanya, kematian adalah suatu keniscayaan bagi mereka yang kalah. Mereka yang level minus layaknya hewan buruan di tengah para pemburu.


Ketika seseorang mendapatkan hukuman minus 100, saat itu juga semua notifikasi akan terkirim kepada seluruh pelajar yang ada di Abyss, tidak ada tempat bersembunyi bagi mereka yang level minus.


---

__ADS_1


__ADS_2