
Keesokan harinya.
Terlihat Nine tengah berdiri di halaman tempat tinggalnya, menikmati hangatnya mentari yang baru saja terbit. Tidak ada sesuatu yang penting kenapa 4L mengundangkan Nine datang ke kediamannya, kecuali hanya untuk menjadi teman bagi cucunya yang saat ini sedang berlibur di Abyss.
"Maaf, apakah kamu sudah lama menunggu?" ucap Seya yang baru saja datang bersama Qeela.
"Tidak, hanya sebentar saja. " Nine menjawab, namun sesuatu yang sebenarnya terjadi adalah, Nine baru saja kembali dari kediamannya 4L dan tidak sempat beristirahat.
"Kamu baik-baik saja kan?” Qeela bertanya tatkala melihat ekspresi yang berbeda, wajah yang terlihat kelelahan.
"Iya, sepertinya kamu sedang enggak baik-baik saja," lanjut Seya.
“Apakah semuanya terlihat jelas?” Pikir Nine dalam diamnya. Setidaknya dengan ini, 2 hari telah berlalu semenjak terakhir kali dia tertidur.
"Aku kurang tidur saja, tapi tidak mengapa. " Nine menjawab.
Tidak ada apa pun yang Seya dan Qeela bisa katakan. Mereka hanya terdiam.
---
Beberapa saat setelahnya, akhirnya mereka bertiga sampai di depan sebuah bangunan yang terlihat bundar dan terlihat megah, tertulis "Akademi Alkimia" pada sisi depan bangunan dan sebuah logo Sepotong Sayap pada Atom, logo itu terlihat jelas di atas pintu masuk dari bangunan ini.
Setibanya mereka di dalam, Seya langsung melangkahkan kakinya pergi menghadap resepsionis, "Aula auditorium tempat Alkemis Lenhart Treaya mengajar?" Tanya Seya.
Kemudian resepsionis tersebut memberikan Seya akses untuk membuka denah dari bangunan ini, setelah cukup mendapatkan beberapa informasi, Seya langsung kembali, "Aku sudah tau ruangannya, kita lewat sini," ajaknya.
Ketika mereka sudah sampai di depan pintu masuk ruang auditorium, Seya langsung melakukan scan kehadiran pada sistem yang sudah disediakan, sistem yang berfungsi untuk memastikan para pelajar yang telah memenuhi syarat.
Di dalam auditorium, terlihat banyak pelajar yang bersiap mengikuti pembelajaran. Hanya 31 team yang diizinkan, dan total semuanya berjumlah 93 pelajar. Di antara mereka semua, Team Seya memilih duduk di barisan belakang.
Seraya menunggu Pilar datang, para pelajar terlihat sibuk satu sama lain, membicarakan banyak hal, materi yang akan dipelajari atau pun bahasan-bahasan lainnya.
Setelah menyandarkan kepalanya pada meja, Nine mengatakan, "Aku akan tertidur terlebih dahulu, bahkan jika sekiranya Pilar datang, jangan bangunkan aku."
"Tapi Alkemis Lenhart adalah seorang Pilar," ucap Seya dengan nada yang khawatir.
"Ensiklopedia Abyss mengatakan hal itu tidaklah mengapa, asal tidak mengganggu pembelajaran, pelajar diperbolehkan untuk tidur, " Nine menjawab semuanya.
"Tapi," ucap Seya.
Tanpa menghiraukan apa yang dikatakan kepadanya, Nine memejamkan mata dan mulai bertualang ke alam mimpi.
"Biarkan saja, bukankah dia terlihat begitu lelah, " ucap Qeela, dan Seya yang mendengar hanya terdiam.
---
__ADS_1
Waktu yang dinanti pun telah tiba, perempuan yang memakai jubah berwarna putih memasuki ruangan seraya membawa buku tebal di dekapan tangan kanannya, "Perkenalkan aku Lenhart Treaya, Aku harap kalian berbeda dengan mereka yang sebelumnya telah aku temui," ucapnya memperkenalkan diri.
Hanya karena kedatangannya, terlihat semua pelajar langsung terdiam dengan ekspresi kekaguman. Berada di kelas pemimpin Para Alkemis sekaligus seorang Pilar adalah sebuah keajaiban.
Tiba-tiba pandangan Alkemis Lenhart tertuju kepada Nine yang tengah tertidur, sedangkan Seya yang melihat hal itu tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya. Namun saat itu juga, Alkemis Lenhart tidak memedulikannya, dengan sedikit rasa lega, Seya menarik nafasnya dalam-dalam.
Walau Alkemis Lenhart tidak memedulikannya, akan tetapi lain halnya dengan pelajar-pelajar yang lain, ketidaksukaan akan hal itu terlihat jelas pada ekspresi di wajah mereka.
Alkemis Lenhart mulai menyampaikan materi, "Mereka yang ahli dalam kimia akan menjadi orang terdepan yang mengubah peradaban dunia ini, kejayaan adalah hal yang pasti mereka dapatkan."
"Jika kalian adalah seorang genius, kalian akan mudah melampaui batas umur yang singkat ini. Hidup ribuan tahun bukanlah masalah."
Hanya sedikit mendengarkan penjelasan dari Alkemis Lenhart, mereka semua sudah tidak peduli lagi dengan sosok Nine yang tertidur, mereka hanya fokus untuk belajar.
Alkemis Lenhart melanjutkan penjelasannya, "Jika seorang programmer yang hebat mampu menciptakan teknologi robot untuk bekerja demi kepentingannya sendiri.”
“Lain halnya dengan Programmer, seorang Alkemis yang hebat akan mampu menciptakan manusia buatan yang bekerja sesuai dengan perintahnya, atau sederhananya, Alkemis yang hebat akan mampu menghidupkan manusia yang telah mati."
“Apakah kalian percaya akan hal itu?”
Mendengar apa yang telah dijelaskan oleh Alkemis Lenhart membuat seluruh pelajar terdiam, tanpa adanya teori yang ilmiah, tidak ada satu pun yang mampu menjawab.
"Baiklah. Berbekal pengetahuan ilmu kimia yang kalian miliki saat ini, buatlah sebuah teori, seperti apa cara menghidupkan manusia yang telah mati?"
"Diskusikan bersama teman kelompok kalian," perintahnya.
Beberapa suara dengan lirih mulai terdengar di antara mereka.
"Bagaimana caranya, unsur apa yang harus dibutuhkan?"
"Bahkan seperti apa eksistensi dari ruh itu sendiri aku tidak tau."
"Ini tidak masuk akal, bagaimana mungkin kita bisa mengetahuinya."
"Kita bisa saja membuatnya dengan menyusun setiap bagian terkecil dari beberapa organ yang dibutuhkan, akan tetapi yang menjadi permasalahan adalah, bagaimana cara membuatnya bergerak."
“Ketika manusia mati maka otaknya akan berhenti bekerja, jika ingin menghidupkan manusia yang telah, maka hal pertama yang harus dipikirkan adalah bagaimana merekonstruksi setiap saraf otak agar kembali bekerja. Setelah itu baru organ-organ lainnya.
"Aku sering mendengar Alkemis Lenhart melakukan eksperimen menciptakan manusia buatan, apakah kita sedang diuji olehnya?"
"Bagaimana mungkin kita bisa melakukannya, bahkan jauh lebih mudah untuk memprogram sebuah robot."
"Aku tidak bisa berpikir lebih jauh lagi tentang ini, manusia buatan? Jika mungkin aku akan membuat zombi."
"Apa yang harus kita tulis, aku belum bisa memecahkan teorinya. Bagaimana caranya menghidupkan kembali sel-sel manusia yang sudah mati?"
__ADS_1
"Haruskah kita menyerah?"
Mereka berdiskusi dalam waktu yang cukup lama, tapi mereka tidak bisa menemukan titik akhir dari semuanya, tidak ada satu pun yang bisa membuat teorinya.
Mereka berpikir, apakah begitu sulitnya soal dari seorang Pilar, salah satu dari 13 Entitas yang memiliki pengaruh besar atas diakuinya Abyss oleh dunia.
---
Di barisan belakang, tempat Seya, Qeela dan Nine berada.
"Bagaimana, apakah kamu bisa membuat teorinya," tanya Qeela pada Seya, sedangkan Nine yang di samping mereka masih tertidur.
"Aku tidak yakin dengan apa yang aku pikirkan, bagaimana bisa kita menghidupkan orang yang telah mati.”
"Jika kembali ke dasar dari anatomi bagian tubuh manusia, maka yang membuat manusia bisa bergerak adalah otaknya yang tersingkronisasikan dengan seluruh sel-sel yang ada."
"Bagian yang paling rumit adalah bagaimana caranya agar otak manusia tetap bekerja."
"Bukan hanya itu saja, sel-sel yang mati pada tubuh, kita harus bisa memfungsikannya kembali, seperti jantung yang harus tetap bergerak."
"Mungkin kita bisa memasangkannya baterai untuk memfungsikan kembali setiap saraf yang ada dengan aliran listrik."
"Tapi tetap saja ini adalah sesuatu yang sulit, setidaknya kita harus mengetahui akan ilmu anatomi dari setiap bagian tubuh manusia itu sendiri, ditambah dengan beberapa racikan ilmu kimia untuk membuatnya bekerja."
"Aku tidak yakin dengan apa yang aku pikirkan, aku tidak pernah mencobanya, tapi kalau hanya sebatas teori mungkin ini masih bisa di coba." Seya mengakhiri teorinya.
"Begitu ya. Aku tidak bisa terlalu banyak membantu kalau pembahasan yang berkaitan tentang anatomi manusia," ucap Qeela.
"Tetapi jika berkenaan tentang beberapa kandungan unsur serta transfusi beberapa batuan mungkin aku bisa memberikan jawaban," lanjutnya.
"Atau bagaimana jika kita membuat sebuah teori dengan pencampuran energi alam yang berada dalam inti batu untuk menghidupkan manusia yang telah mati, batu itu sendiri namanya Stone Astral, sebagaimana di film-film, hee," ucap Qeela sedikit bercanda agar Seya tidak terlalu tegang.
"Bagaimana? Daripada kita tidak bisa menjawab," lanjut Qeela dengan senyum manisnya.
"Tidak Ilmiah," balas Seya cemberut, sedangkan Qeela tetap tersenyum.
Setelah cukup puas melihat kebingungan mereka, Alkemis Lenhart kembali menyapa, "Apakah kalian sudah mampu untuk memikirkannya?
"Maaf Alkemis, bagaimana jika kami salah? " tanya salah satu dari mereka.
"Memangnya ada manusia yang tidak pernah salah? " jawab Alkemis Lenhart.
"Tidak ada hukuman jika kalian salah, tetapi kalian akan mendapatkan hal yang istimewa jika kalian memiliki sebuah teori yang benar atau yang mendekatinya," lanjutnya.
Seketika mereka semua bertambah semangat atas hal istimewa yang dijanjikan, namun tetap saja, itu tidak merubah apa pun.
__ADS_1
Setelah mereka mengumpulkan jawaban, tidak ada satu pun jawaban mereka yang membuat Alkemis Lenhart tertarik. Jawaban mereka semua hanyalah tumpukan sampah yang tidak berguna.
---