
Sekilas Masa Kecil Qiara
---
Aku membenci semua yang ada di dunia ini, tidak ada hal yang indah padanya, mereka manusia hanya memperdulikan tentang dirinya tanpa peduli dengan yang lainnya.
Jika sekiranya mereka mau menolong, mau memberikan sedikit makanannya kepada kami, semuanya tidak akan berakhir seperti ini, penderitaan yang teramat sakit.
Aku membenci semuanya, dengan memberikan kami sedikit makanan, hal itu tidak akan membuat mereka jatuh miskin, tapi hal itu tidak mereka lakukan.
Kami hanya ingin bisa tidur tanpa adanya rasa sakit karena menahan lapar, setidaknya dengan memberikan kami secuil makanan, kami bisa hidup hingga esok.
Manusia semuanya terkutuk, mereka semua memandang kami dengan hina, mereka memandang kami menjijikkan, dan kami tidak lebih seperti sampah di pandangan mereka.
Kami tidak menginginkan kehidupan seperti ini, siapa juga yang mau hidup seperti ini, hidup hanya berdua tanpa adanya orang tua.
Hari yang tidak terlupakan, tepat di ulang tahunku yang ke 6, semuanya telah hilang, orang tua, kekayaan, kebahagiaan, semuanya hilang dalam kobaran api yang begitu besar, menyisakan aku dan Elquirra adikku yang masih berumur 4 tahun, hanya kami berdua tanpa adanya siapapun.
Mereka yang memiliki kekuasaan tidak mengetahui apapun yang terjadi. Semua orang menganggap kami hanya sebagai tempat kesalahan, terusir dan selalu dipandang dengan rendah.
Kami tidak menginginkan kehidupan seperti ini, tidak pernah terbayangkan walau hanya sesaat, tapi semuanya datang begitu saja, seperti berada dalam mimpi buruk yang abadi.
Aku ingin terbangun dari mimpi ini, mimpi ini sangat menyakitkan, siapapun tolong bangunkan kami, jika tidak bisa, tolong cukup bangunkan dia, aku sangat menyayanginya, Elquirra.
---
"Kak, aku lapar, " ucapnya padaku, mendengar apa yang dikatakannya membuat hatiku terasa sakit, dan dadaku terasa sesak.
Tidak ada makanan apa pun yang bisa kami makan, aku tidak tau harus berkata apa kepadanya, hanya bisa memeluknya sehingga kami bisa saling menghangatkan, melawan dinginnya malam dan disertai hujan yang lebat.
"... "
"Maaf ya kak, aku tau pasti kakak juga lapar? " lanjut ucapnya melihatku yang hanya terdiam.
Mendengar yang dikatakannya membuat dadaku terasa semakin sakit, rasa sakit melebihi rasa lapar yang aku rasakan.
Aku hanya menginginkan malam ini dia bisa tidur dengan nyenyak tanpa adanya rasa sakit karena menahan rasa lapar.
"Kak, kenapa ya mereka tidak ingin memberikan kita makanan, padahal mereka mereka memiliki makanan yang banyak? "
"Kak, jika suatu saat nanti aku besar. Aku ingin membuat obat yang bisa menghilangkan rasa lapar, sehingga di dunia ini tidak akan ada orang yang kelaparan seperti yang kita alami saat ini."
"Tentu, itu pasti terjadi suatu saat nanti. Karena Elquirra adalah adik kakak yang jenius," Aku tersenyum dan percaya akan mimpinya tersebut.
Walau begitu, aku sangat membenci manusia, jika sekiranya aku memiliki kekuatan, mereka semua akan aku bunuh. Mereka yang telah membuat kami menderita, semuanya ingin aku hancurkan.
__ADS_1
"Kak, apakah kakak membenci manusia? " ucapnya bertanya.
"Tidak," Aku tidak bisa mengatakan sebuah kebenaran tentang apa yang aku pikirkan.
"Kak dingin, rasanya sangat dingin," ucapnya dengan suaranya yang begitu lemah.
Ketika aku memeriksa kondisi badannya, aku dapati suhunya sangat tinggi, seluruh badannya menggigil dan bibirnya terlihat pucat.
"Peluk kakak yang erat ya, dengan ini Elquirra bisa merasa lebih hangat," Aku hanya bisa mengatakan seperti itu, aku hanya bisa memeluknya, tanpa sadar, air mataku sudah tidak bisa tertahankan lagi.
Tidak ada selimut atau pakaian yang bisa menghangatkan kami, semuanya usang dan penuh dengan robekan. Dinginnya malam adalah musuh terbesar bagi kami, tapi sekarang, semua bertambah dengan derasnya hujan.
Dingin, terasa sangat dingin.
"Kak, apakah aku akan pergi ke tempat ayah dan ibu berada? " suaranya begitu lemah dan membuat dadaku sulit untuk bernafas.
Aku ingin berteriak sekencang-kencangnya, kenapa dunia begitu kejam kepada kami.
"Enggak, enggak, jangan pergi. Kakak tidak bisa hidup jika sendirian, Elquirra pasti bisa sembuh, ada kakak disini, " aku hanya bisa memeluknya.
Jika sekiranya ada yang menolong kami, siapapun dia, aku tidak akan melupakannya dan akan melayaninya seumur hidupku. Aku tidak ingin kehilangan satu-satunya adikku, aku mohon siapapun.
Mustahil, pastinya akan begitu. Sudah tidak terhitung banyaknya pengusiran yang kami alami, berharap adanya yang menolong hanya akan terjadi di alam mimpi.
—
PoV Author
Dalam keputusasaan, tiba-tiba sebuah mobil hitam berhenti di depan mereka, kemudian seorang laki-laki paruh baya keluar dengan payungnya dari dalam.
Tanpa berpikir lagi, Qiara langsung mendekati dan meninggalkan adiknya untuk sementara. "Tuan Adik ku, tolong, aku mohon tolong adikku, " ucapnya gadis kecil itu memohon.
"Dia sedang sakit, tubuhnya semua terasa panas, aku mohon tolong adikku. "
"Aku, Aku akan melakukan apapun, tapi aku mohon selamatkan adikku. "
Dia, Qiara hanya bisa menangis sambil memohon, sudah tidak terhitung banyaknya pintu-pintu yang mereka ketuk, tapi semuanya berakhir dengan pengusiran. Walau kemungkinannya hanya kecil, Qiara hanya bisa memohon dan terus memohon.
Qiara bersimpuh di bawah kaki kakek tua di depannya dan menangis tiada henti, "Tuan, Aku mohon, tolong adikku, aku tidak ingin kehilangannya."
Layaknya kegelapan yang hilang setelah terbitnya matahari, sang kakek kemudian mengelus Qiara dengan tangan lembutnya, "Tentu, aku akan menolongnya," ucapnya tersenyum.
Rasanya semua beban yang ada hilang seutuhnya, dengan ini Qiara bisa menyelamatkan adiknya, ketika semuanya memandang mereka dengan rendah, seseorang tiba-tiba hadir memberikan pertolongan.
Dengan sedikit harapan, akhirnya mereka berdua diajak pergi ke rumah sang kakek untuk bernaung dan bersegera mengobati Elquirra yang sedang sakit.
__ADS_1
Tapi.
Tapi.
Tapi.
Bukan pergi ke kediaman yang menyelamatkan, tapi mereka justru masuk ke dalam neraka yang sesungguhnya, harapan dan kebahagian telah sirna seutuhnya.
Malam itu, adalah malam terakhir Qiara melihat Elquirra, mereka dipisahkan dan kemudian dijadikan sebagai bahan eksperimen. Karena semuanya, Elquirra telah telah kehilangan ingatannya.
Rasa sakit yang sesungguhnya adalah ketika Qiara tidak lagi bisa melihat dunia ini, “Aku membenci dunia ini, semuanya terkutuk, aku akan membunuh mereka semua, aku ingin mereka semua merasakan seperti apa rasa sakit kami.”
“Dia Elquirra, menjadi eksperimen Nomor 9.”
Sekilas tentang masa lalu Qiara selesai.
---
Pagi ini, beberapa anggota dari Guild Genesis berkumpul melihat kondisi Qiara.
"Tidak ada yang terjadi, kalian tidak perlu ikut campur, " ucap Qiara pada Exasos dan yang lainnya.
"Aku tidak akan segan meninggalkan guild jika kalian mencampuri hal ini," lanjut Qiara dengan nada penuh intimidasi.
Di dalam pikiran Qiara, hanya inilah satu-satunya cara agar dia bisa melindungi adiknya, melindungi dari mereka yang menjadi musuh Revitalize.
"Tapi? " ucap Naeya yang terlihat heran, sedangkan Exasos dan lainnya hanya terdiam.
"Bagaimana Exasos? " Qiara bertanya tentang sebuah keputusan.
"Lakukan apa yang kamu inginkan, tapi jangan pernah terluka lagi, " Exasos menyetujui permintaan Qiara.
"Padahal kamu sudah berada diambang kematian, dengan melihat kondisimu saat ini, sepertinya kamu sudah baik-baik saja, " lanjutnya.
"Baiklah kita pergi, " ajak Exasos kepada anggota lainnya.
"Kamu baik-baik saja kan?" ucap Naeya setelah hanya kepergian semua anggota Genesis.
"Iya, aku baik-baik saja, " Qiara menjawab.
"Kenapa kamu tidak mau memberitahukan alasan kenapa kamu bisa terluka? Padahal semuanya sangat khawatir, " Naeya sangat ingin rasa herannya bisa terjawab.
"Aku telah bertemu dengan adikku, dia yang senantiasa aku ceritakan kepadamu."
---
__ADS_1