
Di kediamannya, Nine membuka jendela status pada Abyss Sistem, sebuah title baru telah didapatkan ketika berada di Auditorium saat Alkemis Lenhart menjadikannya sebagai murid, title tersembunyi dengan Grade Legendary, title yang konon katanya hanya ada dalam legenda.
*\~ Title Legendary \~*
AEGLE
Bukti menjadi murid dari Alkemis yang telah hidup dalam Legenda.
*\~.\~*
Sebagaimana title tersembunyi lainnya yang tidak tertulis dalam Ensiklopedia Abyss, Nine tidak mengetahui apapun tentang title tersebut.
Tidak seperti Title Eryl yang mengharuskan pergi ke lantai 3 Abyssal Tower. Title Aegle, tidak ada satupun petunjuk mengetahuinya, kecuali Alkemis Lenhart yang telah memberikannya.
---
Di tempat lain, di dalam sebuah ruangan yang gelap dengan interior beberapa lukisan terlihat sangat menyeramkan layaknya berada di gerbang pintu kematian, manusia tanpa kepala, eksperimen manusia, lukisan sepasang ruh manusia, dan beberapa lukisan-lukisan lainnya.
Dalam ruangan tersebut terlihat sosok perempuan yang berdiri menatap salah satu dari sekian banyak lukisan, lukisan yang memperlihatkan wajah seorang legenda. Tertulis pada lukisan tersebut sebuah nama, "Nicholas Flamel," nama seorang Alkemis legenda yang berdiri di puncak ilmu pengetahuan alkimia dan mendapatkan kehidupan yang abadi.
Seraya memandang lukisan di depannya. Perempuan tersebut mengatakan, "Master, akhirnya aku menemukan sosok yang pantas mewarisi luasnya khazanah ilmu pengetahuan yang telah engkau tinggalkan."
"Nine, satu-satunya siswa tahun angkatan pertama yang berhasil mendapatkan Quest Grade S. "
__ADS_1
Perempuan itu adalah Alkemis Lenhart Treaya, salah satu dari 13 Pilar yang menjadi inti diakuinya Abyss oleh dunia.
---
Di rumah sakit tempat Qiara dirawat, saat ini terlihat dia sudah terbangun dan duduk bersandar pada tempat tidurnya. Qiara kemudian membuka Abyss Sistem miliknya dan melihat daftar pesan yang telah masuk, akan tetapi harapan itu telah pupus, tidak ada pesan yang Nine tinggalkan untuknya.
Terlihat di wajahnya ekspresi yang menunjukkan kesedihan, ekspresi atas keputusasaan. Semua ingatan itu terlihat jelas, mengingat semua penderitaan yang telah dialaminya sewaktu masih kecil, penderitaan yang telah merubah karakter adik yang sangat dicinta, merubah karakter Nine menjadi manusia tanpa jiwa.
Tidak lama kemudian, tiba-tiba pintu tempat Qiara dirawat terbuka, dan terlihatlah sosok perempuan yang sangat mencintai Qiara, perempuan itu adalah Naeya.
"Hai, " ucap Qiara menyapa dengan senyuman kecil di bibirnya.
Naeya yang mendengar hal tersebut tidak bisa berkata apa-apa, matanya mulai berkaca-kaca, dan tak lama kemudian tetesan air mata kebahagian tidak bisa tertahankan.
Setelah merasa lebih baik, Naeya mulai berbicara, "Kamu baik-baik saja kan? "
"Aku takut kamu tidak akan terbangun lagi, aku takut jika kamu pergi untuk selamanya, aku takut akan semua itu."
"Satu minggu lebih kamu terbaring dan tidak sadarkan diri, semuanya tidak bisa berbuat apa-apa, hanya berharap kamu bisa melewati masa-masa kritis."
"Aku, aku sangat bahagia melihat kamu bisa terbangun lagi." Naeya mengatakan semuanya, ucapan penuh kasih yang disertai tetesan air mata.
"Maaf ya, " ucap Qiara dengan pelan, dikarenakan luka di lehernya masih belum pulih sepenuhnya.
__ADS_1
"Enggak apa-apa kok, " Naeya menjawab dengan senyuman kebahagiaan.
Setelah emosional membaik, Naeya kemudian duduk di samping Qiara, “Apakah ada yang ingin kamu makan,” ucapnya
"Aku haus, " jawab Qiara.
"Tunggu sebentar aku akan ambilkan," Naeya kemudian bangkit mengambil air.
"Guild yang mengetahui aku terluka? Apakah mereka melakukan sesuatu?" Tanya Qiara.
"Maaf, tidak ada yang bisa dilakukan. CCTV di Aula Center Point tidak bisa diakses, ada kekuatan besar yang menghalanginya. " Naeya menjawab.
“Qiara, sebenarnya apa yang terjadi?” Lanjut Naeya bertanya, ingin rasanya membalaskan dendam.
Qiara hanya terdiam, setelah menerima air minum yang diberikan Naeya, Qiara kemudian mengatakan, "Naeya, aku ngantuk, aku akan tidur terlebih dahulu."
"Kamu baik-baik saja kan? " Naeya bertanya, ada rasa kekhawatiran dalam benaknya, namun Qiara hanya membalas pertanyaannya dengan sebuah senyuman.
Tidak ingin bertanya lebih lanjut, Naeya kemudian membantu Qiara agar tidurnya menjadi lebih nyenyak, membaringkannya dan memberikan kehangatan dengan menyelimuti, setelahnya lampu dimatikan.
"Bolehkan aku tetap disini? " tanya Naeya.
Sebagai balasan, Qiara hanya mengangguk, jawaban tersebut sudah cukup untuk membuat Naeya tersenyum bahagia.
__ADS_1
---