Abyss

Abyss
#26


__ADS_3

Di kediaman 4L, di taman sambil menikmati keindahan pagi, terlihat Nine, Sosok Penguasa dan seorang anak kecil 9 tahun bernama Aurelia Adhisti.


Rerumputan hijau dan sejuknya udara di bawah rindangnya pepohonan menjadikan suasana begitu nyaman. Nine menepati janji, menjadi teman bagi cucu sang Penguasa yang saat ini sedang berlibur.


"Apakah kakak benar-benar hebat sebagaimana yang kakek ceritakan? " Alya membuka pembicaraan dengan tampak percaya diri.


Aurelia, gadis kecil yang senantiasa memegang buku fisika kuantum di tangannya, materi tertinggi dalam bidang fisika dan masih menjadi misteri tidak terpecahkan hingga saat ini.


"Tidak, bahkan aku tidak bisa disandingkan dengan kakekmu," Nine menjawab.


"Nggak, kakak itu benar-benar hebat. Kakek tidak pernah berbohong pada Alya," Gadis kecil itu seolah-olah mengetahui semuanya.


"Seharusnya jika kakak berbohong maka Alya bisa melihat itu dari sikap kakak yang berubah, perubahan dari pergerakan mata, ekspresi, pergerakan tangan, bahkan dari getaran suara."


"Alya bisa melihat semuanya, sebuah kebohongan ataupun kejujuran. Akan tetapi hal itu tidak bisa Alya lihat pada diri kakak."


"Alya mempercayai kakek, dan kakek hanya mengundang mereka yang hebat." Alya mengakhiri.


Aurelia Adhisti, anak kecil berumur 9 tahun, memiliki warna mata merah darah dan hasil eksperimen kecerdasan buatan sejak awal masa Golden Age. Alya, gadis yang tingkat kecerdasannya masih menjadi misteri.


"Hanya duduk sebentar saja, Alya bisa mengetahui kakak telah tumbuh bersama dengan kematian. Apakah aku benar? " Alya mengeluarkan analisanya.


“Alya juga memperhatikan dari cara kakak melihat dedaunan yang jatuh di sekitar kita, kakak tidak menikmatinya, lebih tepatnya kakak menghitung semuanya."


"Merasakan hembusan angin untuk membantu kakak dalam membuat rumus yang tepat dalam menentukan percepatan dan jumlah dedaunan yang berguguran."


“Massa 0,4 g, percepatan gravitasi = 10 m/s² dan gaya gesekan udara yang menahan daun tersebut 4 · 10-³ N”


“Simpel saja, percepatan daun yang jatuh adalah 10 m/s² dan jika melihat rata - rata jumlah daun yang jatuh, rata-rata setiap 9 detik ada 15 daun yang telah berguguran.”


"Bukankah Alya benar?" Ada senyuman yang terlukis di wajahnya.


"Aku tidak mengetahui apa yang sudah diajarkan kepadamu, kamu tidak terlihat menguasai fisika kuantum, lebih tepatnya kamu membawa buku hanya untuk pamer agar bisa terlihat hebat di hadapanku. " Nine menghiraukan sama sekali perhitungan Alya tentang daun yang berguguran.


"Kamu juga tidak bisa bermain musik, tapi lebih ke analisis yang mendalam dan menyelesaikan perhitungan-perhitungan yang rumit. "


"Senyummu juga tidak bisa menyembunyikan penderitaan yang kamu alami. Siapa pun bisa mengetahui, di balik pakaian yang kamu kenakan, tubuhmu penuh dengan luka."


"Bahkan aku juga bisa mengetahui, sudah tidak terhitung jumlahnya kamu ingin mengakhiri hidup."


"Tidak perlu menjawabnya, apa yang aku katakan adalah kebenaran," hanya sedikit melihat bekas luka yang ada di tangan Alya, Nine menyimpulkan semuanya tanpa ragu.


"Ha ha ha ha, " 4L hanya tertawa puas, sedangkan Aurelia hanya terdiam, tampak jelas di wajahnya rasa kekesalan.


Tidak lama kemudian, Axton sang pengawal pribadi 4L datang membisikkan sesuatu. setelahnya 4L undur diri, "Aku akan meninggalkan kalian berdua di sini, aku harap kalian akan lebih akrab."


"Apakah kakek akan pergi? " Alya bertanya, tampak ekspresi yang tidak ingin ditinggalkan.


"Baik-baik ya, " ucap 4L dengan mengelus kepala Alya, dan setelahnya pergi begitu saja.


---


"Apakah kakak marah sama Alya?” Tiba - tiba Alya bertanya.

__ADS_1


“Alya tidak bisa merasakan emosi apapun sama kakak. " lanjut ucapnya.


"Tidak," Nine menjawab, hembusan angin menjadikannya terdengar mendamaikan.


"Benarkah? "


"... " Sebagai jawaban, Nine hanya mengangguk.


"Jika begitu, maukah kakak mengajak Alya pergi jalan-jalan, Alya ingin pergi ke Almaeda, kota tempat Abyssal Tower berada. Apakah boleh?" Alya, terlihat tatapan matanya melambangkan kesedihan, seolah-olah ingin berteriak dan menunjukkan betapa kesepian dirinya.



Almaeda adalah satu-satunya kota umum yang berada di Abyss, siapapun boleh pergi ke sana, asalkan dia memiliki dokumen resmi yang dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang dalam suatu negara untuk menuju melakukan perjalan menuju Negeri Para Genius, Abyss.


Para alumni juga bebas pergi ke Almaeda, tujuan utama mereka adalah mencari artefak dan mencapai puncak dari Abyssal Tower, namun sampai saat ini, semuanya masih menjadi misteri.


Lantai ke 3 adalah lantai tertinggi yang bisa dicapai umat manusia hingga saat ini, sedangkan lantai ke 4 dan seterusnya, semuanya menjadi misteri yang belum terpecahkan.


Banyak yang berteori, lantai ke 4 adalah pintu gerbang untuk menuju dunia lain, karena sampai saat ini, tidak ada satupun orang kembali setelah melewatinya. Apakah mereka masih hidup atau sudah meninggal, tidak ada yang mengetahuinya.


Setelah perjalanan hampir 1 jam dari kediaman sang Penguasa, akhirnya sampailah Nine dan Aurelia di Almaeda, kota dengan arsitektur layaknya peradaban kuno.


"Wah indah banget, kakak Alya suka," ucapnya kegirangan.


"Setelah terakhir kalinya, sudah sejak lama Alya pengen ke sini, " lanjutnya.


Setelah merasa cukup melihat keindahan kota Almaeda, Aurelia kemudian memberikan perintah ke beberapa pengawal yang menjaganya. "Kalian menunggu saja di pintu gerbang, sampai malam tiba, kalian jangan mengganggu."


"Siap My Ladies." Walau terasa berat, ini adalah pilihan terbaik bagi mereka. Para Pengawal tidak berani membantah, mereka hanya bisa percaya kepada Nine yang telah direkomendasi oleh 4L.


"Kak, kita berangkat yuk," Aurelia, dia tampak semangat seraya menggandeng tangan Nine yang ada di sampingnya.


"Temenin Alya ke museum ya?" lanjutnya dengan manja.


"Semuanya karena Alya harus memberikan laporan tentang beberapa benda di era masa lalu sehabis pulang dari Abyss. "


"Ini sebagai ganti karena Alya telah diizinkan liburan ke Abyss."


“...” Nine hanya terdiam, namun walau demikian, Nine sangat memahami betapa mengerikannya tempat gadis kecil itu tumbuh.



Kota Almaeda dipenuhi dengan tulisan-tulisan kuno pada setiap bangunan-bangunannya, tidak ada satupun terlihat teknologi modern di tempat ini, namun walau demikian, kota ini memiliki keindahannya tersendiri.


Hal yang paling menakjubkan di tempat ini adalah Abyssal Tower, tower layaknya bangunan raksasa, jika melihat dari ukurannya, setidaknya akan membutuhkan waktu 3 hari berjalan kaki untuk bisa mengitarinya hingga kembali ke titik awal.


Puncak Abyssal Tower tidak bisa dilihat oleh siapapun, bahkan dengan teknologi tercanggih sekalipun, seolah-olah ada dark energi yang menghalangi pandangan.


Dari seluruh daratan Abyss, semua orang bisa melihat Abyssal Tower, tapi tidak ada satupun yang mengetahui, siapa yang membangun tower ini.


Sepanjang perjalanan, Nine dan Aurelia membicarakan banyak hal, lebih tepatnya pembicaraan satu arah, Aurelia banyak membicarakan tentang sesuatu yang menyenangkan bagi dirinya.


Mereka berjalan di antara keramaian para pelajar ataupun Arhfa, Alumni dan beberapa orang luar, mereka semua terlihat sibuk dengan urusannya masing-masing.

__ADS_1


"Apakah kakak ingin naik ke Abyssal Tower?" Alya bertanya


"Tidak, tidak ada alasan untuk pergi ke sana?" jawab Nine singkat..


"Apakah tidak ada rasa penasaran? " Ada rasa heran dalam benaknya.


"Tidak ada."


"Sepertinya tidak ada yang menarik bagi kakak? "Alya kembali bertanya.


"...”


Setelah cukup berjalan kaki, akhirnya tibalah kami di Museum Almaeda, satu-satunya museum yang ada di Abyss. Tertulis di depan bangunannya, sebuah tulisan menggunakan salah satu dari bahasa kuno.


| " Έπαινος των Θεών " = "Peradaban Para Dewa" |


"Apakah kakak bisa membacanya?" Alya bertanya.


"Dalam penemuan benda-benda bersejarah, bahasa itu sering ditemukan, dan akhirnya para Arkeolog berhasil menerjemahkannya, " Nine menjawab.


Bahasa Kuno Alanta, salah satu bahasa yang digunakan di masa lalu, ribuan tahun sebelum masehi, bahkan di perpustakaan terbesar di Altera, tidak ada satupun buku yang membahas tentang peradaban kuno ataupun bahasa yang yang mereka pakai.


"Apakah kakak tau tentang peradaban Alanta? " Alya terlihat penasaran.


"Belajar sejarah dari buku, semuanya tidak terlepas dari kebohongan." Apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu adalah misteri yang tak seorang pun mengetahuinya,  kecuali beberapa orang yang bisa dipercaya, karena sejarah adalah sesuatu yang mudah dimanipulasi.


"Peradaban yang telah hancur, " ucap Alya yang diikuti pudarnya rasa penasaran di dalam benaknya.


---


Di dalam Museum banyak hal yang terlihat, benda-benda dari peradaban di masa lalu, lebih tepatnya semua benda-benda yang tersimpan disini memiliki umur ribuan tahun sebelum tahun masehi.


Salah satunya adalah temuan batu yang konon katanya pernah dijadikan sebagai tenaga pembangkit listrik, tapi tidak ada satupun yang bisa memecahkan misteri cara kerjanya. Itulah yang tertulis dalam lemari kaca tempatnya disimpan, tertulis menggunakan Bahasa Kuno Alanta.


"Menurut kakak, kenapa batu tersebut bisa menyimpan listrik?" Alya bertanya. Ada ekspresi penasaran di wajahnya karena melihat batu tersebut.


"Entahlah, " jawaban yang sangat singkat.


"Bilang aja nggak mau jawab, " Alya terlihat cemberut, "Padahal Alya harus membuat laporan, " lanjutnya.


Tanpa menghiraukan yang dikatakannya, perhatian Nine tiba-tiba tertuju ke sebuah mading raksasa, sebuah mading yang terbuat dengan batu hitam yang sangat keras.


Dikarenakan rasa keingintahuan, Nine berjalan mendekatinya.


Tertulis sebuah tulisan,


"12 Kunci Dewa, "


Seketika pikiran terlintas, apakah ini ada kaitannya dengan salah satu Kunci Naga yang berhasil aku dapatkan sebelumnya, hadiah ketika berhasil menyelesaikan quest tersembunyi, “Sejarah yang hilang.”


Belum sempat Nine membaca semuanya, seseorang tiba-tiba mendekat, mereka bertiga anggota dari Guild Lexa. Pertemuan terakhir antara mereka dengan Nine ketika berada di gerbang pintu masuk menuju Altera. (Chapter 16)


---

__ADS_1


__ADS_2