Abyss

Abyss
#17


__ADS_3

Meninggalkan Altera selama 1 bulan, tidak ada yang berubah, bangunan-bangunannya tetap berdiri kokoh dengan indah, jalan-jalan terlihat bersih, pemandangan-pemandangan memanjakan mata dan para pelajar yang terlihat menikmatinya.


Sesampainya di Altera, Nine memutuskan pergi ke Aula Center Point, mengambil beberapa Quest untuk menaikkan level. Terlihat, Aula Center Point memiliki pintu masuk yang begitu besar dan bangunannya terlihat seperti persegi dengan sebuah gembok. Bagaimanapun cara melihatnya, Aula Center Point  adalah bangunan yang sangat megah.


Di dalam Aula Center Point, ribuan pelajar sedang sibuk-sibuknya menyelesaikan Quest, terlihat jelas di wajah-wajah mereka ekspresi frustrasi, kelelahan, semangat, bahagia dan bahkan putus asa karena Quest yang terlalu sulit.


Ketika Nine ingin memilih salah satu Quest yang tertulis pada layar videotron, suasana menjadi berubah, dan seketika membuat ribuan pelajar teralihkan, ada rasa penasaran dan tanda tanya di wajah mereka. Apa yang sebenarnya terjadi?


2 bulan waktu berlalu semenjak pertama kali menginjakkan kaki di negeri ini, informasi yang menggemparkan diperlihatkan, informasi tentang 100 pelajar tahun angkatan pertama yang berhasil mencapai level 100, atau mereka yang berhasil menyelesaikan setidaknya 10.000 Quest dengan Grade A.


Nama dan Guild tempat mereka berada tertulis dengan jelas, dan yang paling mendominasi adalah Guild Genesis, lebih dari 10 anggotanya berhasil mencapai level 100 dan mendapatkan Titel Onpion.


*\~ 100 Titel Onpion \~*


1. Erder Lovre - Guild Alfazer


.


.


35. Qiara - Guild Genesis


36. Saint Verda Xero - Guild Genesis


37. Enerta Argaret - Guild Verta


.


.


100. Neon Dae - Guild Elizer


*\~.\~*


“...” Nine mengetahui, di antara 100 pelajar yang mendapatkan Titel Onpion, ada nama Qiara yang tertulis.

__ADS_1


Tertulis dalam buku Ensiklopedia Abyss, 100 pelajar tahun angkatan pertama yang berhasil mencapai level 100, mereka akan mendapatkan Titel Onpion, yaitu Titel yang menjadi salah satu syarat menjadi Emperor dan mendapatkan beberapa hak istimewa yang tidak didapatkan pelajar yang lain.


Masih melihat daftar 100 nama yang mendapatkan Titel Onpion, tiba-tiba salah seorang datang menyapa, "Hai, sudah lama ya kita tidak bertemu?" Dia adalah Qiara, dia datang seraya tersenyum bagaikan matahari yang hangat.


"Bagaimana? Aku hebat kan? " Qiara memiringkan sedikit kepala dan menaruh kedua tangannya di belakang. Dia terlihat tampak ceria.


"Iya, " Nine menjawab dengan singkat.


"Apakah tidak ada ucapan selamat untukku?” Qiara terlihat cemberut.


“...” Tanpa mengatakan apa pun, Nine kemudian pergi mencari tempat duduk agar  bisa menyelesaikan Quest, sedangkan Qiara mengikutiku dari belakang.


"Apakah kamu datang mengerjakan Quest?" tanya Qiara yang kini sedang duduk berhadapan bersama Nine.


"Oya, level berapa kamu sekarang?" lanjutnya.


"Level 9," Nine menjawab.


"Sudah aku duga,” Qiara seolah-olah mengetahui level Nine yang masih sangat rendah, "Enggak heran juga sih, sebelum mengikuti ujian guild, kamu selalu berada di perpustakaan, dan setelahnya data kehadiranmu di Altera tidak ada," lanjutnya.


"Ever Lens," jawabku.


"Berarti kamu sudah menjadi anggota Revitalize," Qiara dengan rasa khawatir.


"..." Nine hanya terdiam, namun walau demikian, Qiara mengetahui, Nine membenarkan.


"Dari sekian banyak guild, kenapa harus Revitalize?" Terlukis jelas ekspresi kaget di wajahnya.


"Revitalize adalah bagian dari Dark Guild yang bertentangan dengan Genesis, mereka adalah musuh abadi," lanjutnya.


"Aku tidak ingin bermusuhan denganmu, aku juga tidak ingin kamu bahaya jika bermusuhan dengan para monster yang ada di Genesis," Qiara tertunduk.


"... " Nine terdiam seolah-olah tidak peduli akan semuanya, jalan hidupnya benar – benar tidak diketahui.


"Jika demikian, aku akan keluar dari Genesis, aku akan mengikutimu." Qiara tidak ingin menjadikan Nine sebagai musuhnya.

__ADS_1


"Perkataanmu terdengar lucu, bagaimana bisa aku mempercayainya. Kamu mengatakan demikian, bisa saja untuk menjadi mata-mata,” Nine menjawab, sedangkan ekspresinya tidak sedikit pun berubah, ekspresi datar layaknya boneka tanpa hati.


“Lantas apa yang harus aku lakukan sehingga kamu bisa mempercayaiku,” Qiara terlihat putus asa. Kesalahan terbesar ketika mereka tanpa sengaja memilih jalan berbeda, jalan yang mustahil bisa bersatu, sebagaimana mustahilnya mempertemukan ujung barat dan timur.


"Pembuktian, bagaimana jika kamu menancapkan pisau di lehermu, jika kamu berhasil hidup, aku akan percaya kepadamu." Seolah – olah semua kenangan yang dilalui bersama Qiara tidak berarti sama sekali, Nine hanya mengedepankan logika dan meniadakan perasaan.


Dalam diamnya, Nine mengatakan, “Jika manusia berada di ujung kematian, maka saat itulah sifat asil mereka akan terlihat.” Logika berpikir yang menjadi alasan Nine menyuruh Qiara membuktikan kesetiaannya.


"Baiklah, aku akan melakukannya," Qiara mengatakan demikian tanpa adanya rasa keraguan atau pun ketakutan di wajahnya, seolah-olah Qiara sudah siap atas konsekuensi yang terjadi, bahkan jika harus kehilangan nyawa.


Setelahnya, melalui Abyss Sistem, Nine memesan pisau kepada salah satu pelayan yang bertugas di Aula Center Point, kemudian mengirim pemberitahuan kepada tim medis Altera untuk segara datang, dan ketiga, melalui Abyss Sistem, ada sesuatu yang tidak diketahui, fitur misterius.


"Jika mau, kamu tidak harus melakukannya, kematian bisa saja menghampirimu," Nine memastikan apakah dia benar-benar yakin atau tidak.


"Kamu sudah memberikan aku kesempatan untuk membuktikannya, aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini," Qiara menjawab.


"Baiklah jika itu pilihanmu.”


"..." Qiara terdiam.


Tidak lama kemudian, pisau sebelumnya yang sudah Nine pesan akhirnya sampai, dan sekarang telah dipegang oleh Qiara, sedangkan pelayan yang mengantar pisau tersebut kembali bertugas.


"Sebelum aku melakukannya, apakah boleh aku meminta sebuah permintaan, " ucap Qiara yang saat ini telah berdiri.


"Apa? " Nine bertanya.


"Maukah aku memakamkan jenazahku”


"Aku akan datang. ".


"Terima kasih.”


Qiara tersenyum seraya memejamkan mata dan kemudian menancapkan pisau di lehernya, seketika dia langsung batuk dan memuntahkan darah. Qiara, dia berusaha sekuat tenaga menahan rasa sakit, keringat dingin mulai keluar, tangan dan lehernya telah berlumuran darah hingga membasahi pakaian yang dikenakan, dan kini matanya mulai terpejam. Dalam kondisi seperti itu, dia berusaha tersenyum, dan pada akhirnya, kaki tidak mampu lagi menopang tubuhnya, Qiara terjatuh.


Beberapa pelajar di sekitar mulai menyadari tentang apa yang telah terjadi dan bersegera memberi pertolongan, suasana di kala itu benar-benar panik, satu sama lain tidak menghiraukan, dan tanpa ada yang menyadari, Nine telah menghilang.

__ADS_1


---


__ADS_2