
Keesokan harinya, ujian terakhir sebentar lagi dimulai, 11 peserta sudah berkumpul di ruang ujian. Tidak ada saling menyapa satu sama lain, semua hanya menunggu seperti apa sistem ujian yang akan diberikan. Sedangkan para pelayan mengawasi kejauhan di setiap sudut ruangan.
Suasana kali ini terlihat berbeda, para pelajar melihat ada sesuatu yang aneh, di depan mereka telah disiapkan beberapa benda tajam yang ditempatkan di atas meja, 3 buah pisau, gergaji, gunting, palu, paku beton, alat suntik, tali, dan jarum, semuanya tersusun rapi pada rak kayu yang sudah disiapkan. Tidak hanya itu, mereka juga menyiapkan sebatang pohon yang menancap pada lantai, semua itu terlihat jelas di hadapan mereka.
Tepat ketika waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi, 3 sosok Arhfa yang mengenakan cape hitam serta memakai topeng memasuki ruangan, topeng dengan motif salju, Enma. Topeng bermotif angka 0 & 1, Xeon dan topeng dengan motif huruf romawi IV, Monk.
Sesaat setelah mereka bertiga masuk, beberapa pelayan masuk membawa seseorang dalam keadaan kepalanya ditutupi kain hitam, sedangkan tangan dan kakinya ter borgol.
Rasa heran dan beberapa pertanyaan masih rancau dalam pikiran. Seperti apa sistem dari ujian terakhir ini? Dan apa yang akan mereka lakukan dengan semua ini?
Tanpa melepaskan borgol yang membelenggu, sekujur tubuh orang itu pun diikat pada sebatang pohon yang sudah ditancapkan, para pelajar yang melihat itu semua terdiam tanpa bisa berkata apa-apa.
Setelah memastikan ikatannya kuat, kain yang menutupi kepala dilepas, dan ternyata dia adalah salah seorang Arhfa (pelajar senior), noda darah dan memar berwarna kebiru-biruan tampak jelas pada wajahnya, kuku pada tangan dan kakinya sudah tidak ada, matanya sudah tidak berbentuk seperti biasanya lagi, bahkan hanya untuk mengenalinya akan terasa sulit, dan mulutnya ditutupi selotip hitam sehingga dia tidak bisa untuk bersuara.
"Dia sebelumnya adalah salah satu pelajar di negeri ini, namun karena kekalahannya atas Prysal, dia tidak lebih berharga dari seorang budak, " Enma memberikan informasi.
Tertulis dalam Ensiklopedia Abyss, Prysal adalah pertarungan resmi pelajar dalam menyelesaikan konflik di antara mereka dengan mempertaruhkan segalanya. Mereka yang kalah akan menjadi budak bagi mereka yang menang, sekaligus mendapatkan seluruh status, kekayaan dan hak istimewa yang dimiliki oleh mereka yang kalah.
Pada dasarnya, mereka yang kalah tidak lebih berharga dari binatang. Tidak ada tempat untuk mereka di Abyss, kematian adalah hadiah terbaik, karena kematian akan memutuskan seluruh penderitaan mereka di atas dunia ini.
"Ujian kali ini hanyalah sebatas gambaran yang akan kalian lakukan besok, karena ujian terakhir adalah belajar membunuh manusia," Enma melanjutkan ucapannya.
Mendengar hal tersebut, beberapa pelajar mulai mengarahkan pandangannya ke bawah, terlihat tangan mereka juga gemetar. Abyss adalah sebuah negara sekaligus sekolah yang memiliki hukum tersendiri, membunuh ataupun dibunuh bukanlah hal yang dilarang, asalkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
"Kalian akan melihat kenyataan di negeri ini, neraka yang sesungguhnya." Enma mengakhiri ucapannya. "Monk ambilkan pisau," lanjut Enma kepada sosok orang bertubuh besar di belakangnya.
"Ini bercandakan?" ucap salah seorang pelajar dengan suara lirih, terlihat beberapa di antara mereka tidak menyukai ini.
Disebabkan banyak para pelayan menjadi penjaga, tidak ada seorang pun berani menyuarakan pendapatnya, mereka takut apa yang terjadi di seleksi pertama terulang kembali.
Setelah Monk memberikan sebuah pisau kepada Enma, seketika laki-laki itu mencoba memberontak dari ikatan yang membelenggunya, suaranya tidak bisa keluar kecuali erangan-erangan permohonan, akan tetapi Enma benar-benar tidak memedulikannya, tanpa mengatakan apa pun, dia langsung menghujamkan pisau yang dipegangnya ke salah satu bola mata laki-laki tersebut.
"Arrhhhhggggggggg," erangan laki-laki tersebut.
__ADS_1
Walau mulutnya tertutup selotip, hal itu tidak menghalangi kerasnya suara teriakan yang dia keluarkan, tubuhnya menggeliat menahan rasa sakit layaknya cacing tanah yang kepanasan. Sedangkan beberapa pelajar kami mengalihkan pandangannya lantaran tidak kuat melihatnya.
"Jika kalian berani memalingkan pandangan, saat itu juga kalian akan didiskualifikasi," Enma memberikan ancaman. Antara suka dan tidak, tidak ada pilihan. Mereka harus melihat pertunjukan kematian yang sedang dipentaskan.
Air mata darah keluar dari mata laki-laki itu hingga membasahi pakaian putih yang dikenakan, sedangkan beberapa pelajar sudah mulai mencoba menguatkan diri melihat penyiksaan ini.
"Monk, Aku butuh gergaji," Enma meminta.
"Monk, harukah aku memotong kaki atau tangannya terlebih dahulu?” tanya Enma dengan suara tanpa nada, membuat korbannya semakin merintih ketakutan.
“Cek, Aku keluar sebentar, ada sesuatu yang harus aku ambil," selang dari sosok bertopeng motif angka 0 & 1, Xeon.
"Bukankah keseruan ini baru saja akan dimulai, bukankah begitu Monk?” Enma bertanya.
"Aku akan datang secepatnya, oke." Xeon menjawab dan kemudian pergi begitu saja
"..."
Setelah proses penyiksaan dan pembunuhan yang sangat sadis, tidak sedikit para pelajar yang muntah karena saking menjijikkan, memalingkan pandangan bahkan menyerah sebelum selesainya eksekusi tersebut. Dari 11 orang, hanya 4 pelajar yang bertahan sedangkan sisanya di diskualifikasi.
Enma yang menjadi algojo atas hal ini, semua pakaiannya dipenuhi darah merah nan segar, bahkan beberapa daging-daging kecil menempel pada pakaiannya. Dia berdiri memandang langit dengan kedua pisau di kedua tangannya, seolah-olah dia mengatakan, aku menikmatinya.
Kini Enma mengarahkan pandangannya ke arah pelajar layaknya ular yang haus akan darah, "Setelah ini berakhir. Besok, tinggal kalian yang melakukannya." Enma mengakhiri.
---
Terlihat Xeon yang tengah sendiri di ujung koridor, salah satu bangunan di Ever Lens.
"Apakah dia sudah selesai? Seharusnya sih sudah selesai," Xeon sambil melepaskan topengnya.
Xeon memiliki wajah yang cukup manis, terlihat seperti anak kecil, "Aku tidak sanggup untuk melihat semuanya, bagaimana mungkin dia bisa melakukan seperti itu, Enma kenapa kau selalu melakukannya, apakah dia sangat menikmatinya?"
"Aku benar-benar kasihan sama mereka, sepertinya mereka tidak akan bisa makan daging selama berbulan-bulan."
__ADS_1
"Tapi seharusnya aku lebih cepat lagi untuk keluar, pisau yang menancap dimatanya masih bisa terlihat jelas di pikiranku."
"Ahh, sial. Aku tidak ingin lagi bersama dia. Aku harap ujian ini akan cepat berakhir agar bisa lepas darinya."
"Bola matanya. Ahhh, tetap saja tidak bisa dilupakan."
"Pantas saja dia disebut sebagai Iblis.”
---
Ketika berakhirnya pembunuhan sadis tersebut, Nine kembali menghabiskan waktunya di perpustakaan, dan sebagaimana kemarin, hanya ada Enma dan Nine di tempat itu.
Tidak ada hal yang mereka bicarakan, apa yang terjadi sebelumnya, seolah-olah tidak pernah terjadi, mereka berdua hanya sibuk dengan buku bacaan masing-masing, dan sebagaimana sebelumnya, ketika berada di perpustakaan, hanya Nine yang menggunakan topeng.
Sebuah notifikasi pesan tiba-tiba masuk dalam Abyss Sistem milik Nine.
*\~ Pesan \~*
Qiara
"Bagaimana kabarmu, apakah kamu baik-baik saja?"
"Bagaimana dengan ujian guild yang kamu ikuti?"
Anda
"Iya, semua berjalan baik."
Qiara
"Syukurlah.”
__ADS_1