Abyss

Abyss
#9


__ADS_3

Seorang laki – laki bernama Nuza mulai menghampiri permainan tersebut, seraya dibarengi dengan teriakan dukungan para pelajar dari lantai satu hingga lantai tiga.


Teriakan Para Pelajar.


"Kali ini kamu pasti bisa."


"Berikan yang terbaik kawan."


"Pecahkan kepalanya Boy."


"Kasih tau dia."


"Nuza, kaulah yang terbaik."


Dukungan sangat banyak didapatkan, Nuza mulai melakukan proses registrasi untuk dapat memainkan game tersebut.


Terlihat pada layar komputer dari permainan Abyssal Fire.


*\~ Game \~*


Game Abyssal Fire


Gold yang dibutuhkan 1 G


~ Play ~


*\~.\~*


Setelah melakukan proses registrasi dengan membayar 1 Gold. Nuza mulai mengambil senjata seperti pistol yang disediakan oleh sistem, senjata itu bernama Desert Eagle Mark XIX Pistol, sedangkan target berbentuk bola kecil tersebut sudah muncul dan siap untuk ditembak.


Level 1


“Dor,” suara tembakan.


Peluru melesat dengan sangat cepat dan berhasil mengenai sasaran.


Game belum berakhir, karena game ini terbagi menjadi beberapa level, mulai dari level satu dengan target yang diam, ketika berhasil menyelesaikan level, maka tingkat kesulitan akan ditingkatkan.


Next Level 2


Sasaran mulai bergerak – di sinilah kemampuan memprediksi arah dan keakuratan tembakan dibutuhkan.


“Dor,” Nuza kembali menembak dan berhasil mengenai sasaran.


Next Level 3


Kecepatan dari pergerakan sasaran semakin meningkat, konsentrasi adalah hal yang sangat penting saat ini. Namun itu tidak terlalu berarti di hadapan Nuza, tembakan kembali mengenai sasaran.


Teriakan dukungan para pelajar semakin memanas.


"Wow, mantap kawan"


"Kamu pasti bisa"


"Pecahkah dia punya otak bro." Disebabkan tingkat permainan semakin sulit, sorakan para pelajar benar-benar memanas.


Next Level 4


Di level ini target bukan hanya satu melainkan target ke dua mulai muncul dengan pergerakan yang lebih cepat dari sebelumnya, pergerakannya mirip seperti kucing yang sedang mengejar tikus. Tidak seperti level-level sebelumnya, level ini benar-benar sulit karena target bertambah menjadi dua.


Nuza menarik nafasnya dalam – dalam dan meningkatkan konsentrasinya hingga lebih mudah mengenai sasaran.


“Dor, dor.” Nuza mengeluarkan 2 tembakan sekaligus, dan tembakan berhasil mengenai sasaran.


Teriakan dukungan para pelajar semakin menggila.


"Kasih tau bro"


"Kau yang terbaik kawan"


"Mantap jiwa"


"GG mu tidak ada otak kawan. Terlalu gila"


“Jika begini terus, kita bisa kaya mendadak cuukkk”


Next level 5


Kecepatan dari kedua target semakin bertambah, kecepatan yang sangat sulit dilihat oleh mata, akan tetapi sama seperti di level 4, Nuza berhasil mengenai sasaran.


Next Level 6 – Mimpi Buruk


Setelah berhasil sampai ke level 6, Nuza kembali menarik nafas dan meningkatkan konsentrasinya. Para pelajar semakin meninggikan suara memberikan dukungan, layaknya sorakan dalam sebuah kompetisi yang megah.

__ADS_1


"Ini adalah level yang sesungguhnya, tidak ada yang pernah berhasil melewatinya," ucap salah seorang pelajar yang tidak asing, seorang yang menunggu Qiara dari balik bayang – bayang pohon.


“Level yang disebut sebagai akhir dari perjalanan, level yang menjadi mimpi buruk untuk semuanya,” lanjut laki – laki itu mengakhiri.


Teriakan dukungan para pelajar.


"Hai kawan, level ini pasti kamu bisa menyelesaikannya”


"Kamu pasti bisa, kasih tau dia punya bapak"


"I Love You"


"Bapak kau lah, I Love You"


“Pakai otak yang komen.”


“Lewati batasmu kawan, saatnya kamu menyelesaikan game ini.”


Sesaat Nuza beristirahat minum, mempersiapkan diri sematang mungkin agar bisa menyelesaikan level ini. Level 6, tidak seperti level-level sebelumnya. Target bertambah menjadi 3 target, dan semuanya bergerak dengan sangat cepat. Kecepatannya benar-benar tinggi hingga mampu membentuk sebuah bayangan.


Semua persiapan telah siap, sesaat Nuza menutup mata dan mengambil nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya, ketika matanya kini sudah terbuka, dengan tatapan yang sangat tajam, Nuza mulai menembak.


“Dor, dor, dor.” Semua pelajar seketika terdiam penasaran, menunggu hasil tembakan tersebut, detik demi detik.


Bola-bola kecil yang tadinya bergerak dengan cepat mulai melambat, bayangan yang terbentuk mulai menghilang, setiap detik pergerakannya semakin pelan dan sampailah pada titik dimana pergerakan dari sasaran tersebut berhenti sepenuhnya.


Level 6 – Gagal, tidak satu pun peluru mengenai sasaran.


"Ahhhh Brengsek, Aku sudah berlatih untuk hal ini. Dan hasilnya selalu gagal," Nuza berteriak dengan keras, dan membanting senjata yang ada ditangannya. Terlihat jelas dia benar-benar frustasi, sedangkan para pelajar telah berhenti untuk bersorak, mereka juga terlihat kesal dengan hasil seperti ini.


"Masih ada hari esok kawan," kata salah seorang pelajar memberikan dukungan.


"Kamu hebat bisa sampai level 6, lain kali kamu pasti bisa."


"Tidak pecah kepalanya bro."


"Jangan menangis nak, kerjakan Quest lagi."


"1 Gold menjadi terbuang sia-sia. ha ha ha."


"Coba lagi Nak. Semangatmu luar biasa."


“Belajar lagi dek.”


Setelah semua yang terjadi, Nuza pergi dengan kepala yang tertunduk. Abyssal Fire terlalu sulit diselesaikan, permainan ini bukan hanya mengandalkan skill, tapi kemampuan membaca situasi, mulai dari kecepatan peluru, pergerakan sasaran, dan memprediksi ke arah mana sasaran bergerak.


Bukan sambutan yang didapatkan, melainkan pelajar berhoodie tersebut menjadi lelucon yang ditertawakan lantaran tangan kanannya dalam kondisi diperban. Dia mendapat cacian dari seluruh pelajar yang menyaksikan, karena mau bagaimanapun, Abyssal Fire bukanlah game yang bisa diselesaikan oleh seorang yang terluka.


Teriakan bullyan para pelajar.


"Wai wai wai, Apakah kamu tersesat Dek?"


"Apakah kamu buta, bagaimana orang cacat sepertimu bisa sampai sana."


"Bhwaahhaha, Orang cacat mau main. Dunia ini memang aneh."


“Apakah kamu ingin membadut?”


"Tapi bukankah dia terlihat cantik, tapi bagaimana mungkin aku mau sama perempuan bodoh sepertinya."


"Jangan menangis ya kalau kalah."


"Bukankah ini akan menjadi tontonan menarik."


"Kalau dia berhasil menang, aku akan keliling Altera hanya dengan menggunakan celana pendek. Ha ha ha."


"Ahhh, sebaiknya kamu pulang saja."


“Ini lah yang membuatku semakin benci, orang bodoh seharusnya tau tempatnya berdiri.”


Banyak hinaan didapatkan, namun gadis itu terlihat tenang layaknya air, tidak menghiraukan apa pun yang terjadi di sekitarnya, seolah-olah mereka semua hanyalah batu.


Setelah melakukan registrasi dan sebelum mengambil senjata yang disiapkan oleh sistem. Menggunakan tangan kirinya, gadis itu membuka hoodie yang menutup kepalanya.


Gadis itu, dia adalah Qiara.


Terlihat pada layar komputer dari permainan Abyssal Fire.


*\~ Game \~*


Game Abyssal Fire


Gold yang dibutuhkan 1 G

__ADS_1


~ Play ~


*\~.\~*


Setelah melakukan proses registrasi, Qiara kemudian mengambil senjata menggunakan tangan kirinya dan langsung menembakkannya.


“Dor, Dor, Dor.” Semuanya terjadi begitu saja, berlalu begitu cepat. Level 1, 2 dan 3 terselesaikan dalam hitungan detik.


Next Level 4


“Dor, Dor.” Tetap sasaran.


Next Level 5


“Dor, Dor.” Tembakan mengenai sasaran.


Next Level 6 – Mimpi Buruk


Tidak ada yang berarti, semuanya berlalu begitu cepat. Kesulitan dari permainan ini, tidak berarti sama sekali, Abyssal Fire terlalu mudah bagi Qiara. Sedangkan mereka yang menyaksikan tidak bisa berkata-kata, mereka tidak percaya dengan apa yang mereka lihat saat ini.


"Seorang dengan tangan yang terluka, bagaimana mungkin bisa melakukan hal itu?"


Awalnya meremahkan dengan penuh hinaan, tapi semuanya berubah menjadi kekaguman dan dukungan.


Teriakan dukungan para pelajar.


"Kamu pasti bisa"


"Maafkan kami, kamulah yang terbaik"


"Kamu benar-benar Gila, I Love You"


"Good Game"


"Aku mendukungmu, kamu memang yang terbaik"


“Dor, Dor, Dor.” Suara tembakan kembali terdengar, level 6 yang menjadi mimpi buruk dengan mudah dilewati. Peluru berhasil mengenai ketiga target.


"Mustahil, pertama kalinya aku melihat level 6 bisa diselesaikan," ucap salah seorang pelajar memberikan komentarnya.


"Bahkan dia sama sekali tidak terlihat serius."


"Siapa gadis ini sebenarnya?"


“Apakah aku sedang menyaksikan monster yang sesungguhnya?”


“Bangunkan aku jika ini adalah mimpi.”


“Sebenarnya apa yang telah terjadi, pelurunya seolah mengejar ke mana target pergi.”


"Jika aku tidak melihatnya secara langsung, mungkin aku tidak mempercayainya."


"Dia terlalu hebat, padahal tangannya sedang terluka. Aku tidak bisa membayangkan apa yang terjadi jika kedua tangannya baik - baik saja."


Level Terakhir – Neraka


Sorakan dari semua pelajar semakin menggema, sejarah baru telah terukir, sejarah yang melampaui level 6.


Teriakan dukungan para pelajar.


"Level terakhir, Pasti bisa"


"Hancur-kan"


"Hancur-kan"


"Hancur-kan"


Di level terakhir, hal yang tidak terduga tiba - tiba terjadi. Target yang sebelumnya 3 bola, bertambah menjadi 7 dan semuanya mulai bergerak dengan kecepatan yang sangat tinggi, kecepatan yang tidak bisa diikuti oleh mata biasa.


Para pelajar yang melihat perubahan yang signifikan seketika terdiam pucat, ekspresi yang mereka perlihatkan seolah-olah tidak bisa menerima hal itu.


Teriakan kebencian para pelajar.


"Weei weeii, apa-apaan ini, bagaimana mungkin ini bisa diselesaikan"


"Apakah permainan ini diprogram agar mustahil bisa diselesaikan"


"Jangan bercanda, apa-apaan game ini."


"Mustahil seseorang bisa menyelesaikan level ini, ini bukan game yang bisa diselesaikan"


"Aku tidak akan heran jika dia gagal, sampai di level ini saja dia sudah hebat"

__ADS_1


"Game Sampah, jika tau begini, kami tidak akan mau memainkannya"



__ADS_2