Abyss

Abyss
#20


__ADS_3

7 hari telah berlalu semenjak Nine menerima Quest Gerbang Quantum, dan selama itu pula dia hanya menghabiskan waktu berada di kamar dan fokus menyelesaikan setiap soal.


Sebuah notifikasi terlihat pada Abyss Sistem.


*~ Notifikasi Quest ~*


Quest Grade S Gerbang Quantum Berhasil Diselesaikan.


Semua jawaban sedang diproses.


Hasil dari Quest akan diinformasikan setelah prosesnya selesai, dan selama itu pula level akan tetap terkunci.


*~.~*


Setelah notifikasi tersebut, notifikasi yang berbeda kembali muncul.


*~ Notifikasi ~*


Undangan dari 4L


4L akan mengantar utusannya untuk menjemput Anda 2 jam lagi.


Tidak ada penolakan.


*~.~*


Tidak lama kemudian, notifikasi akan sebuah pesan terlihat.


*~ Pesan ~*


Seya


Apakah kamu sibuk? Bolehkah aku datang ke tempatmu atau bisakah kita bertemu di luar.


Anda


Iya.


Seya


Baiklah, sampai berjumpa nanti. Aku akan sampai 10 menit lagi.


*~.~*


 ---


Beberapa waktu setelahnya, terlihat Seya menunggu di depan halaman tempat Nine berada.


"Maaf, telah datang secara tiba-tiba," ucap Seya kepada Nine yang baru saja keluar.


"Tidaklah mengapa," Nine menjawab. "Apakah ada yang ingin kamu sampaikan? " Lanjut Nine bertanya.


"Apakah kamu memiliki kesibukan besok pagi?" Sebagai jawaban, Seya memastikan agak canggung.

__ADS_1


"Tidak ada."


Setelah memastikan, Seya kemudian mulai menjelaskan maksud kedatangannya, "Jadi begini, sebagai syarat agar diperbolehkannya menghadiri pembelajaran dari seorang Pilar, aku sudah menyelesaikan banyak Quest dalam materi Alkimia."


Tertulis di Ensiklopedia Abyss, Pilar adalah sebuah gelar yang diberikan kepada 13 orang terhebat di Abyss, mereka dari kalangan para guru yang memiliki pengaruh atas diakuinya Abyss oleh dunia.


Seorang Pilar memiliki pengaruh yang sangat basar, bahkan pimpinan tertinggi suatu negara tidak akan pernah berani melawannya. Pernah terjadi di masa lalu, kemarahan seorang Pilar mampu melumpuhkan perekonomian suatu negara.


Seya kembali melanjutkan perkataannya, "Salah satu syarat tambahan untuk menghadiri kelas tersebut, yaitu diharuskan memiliki kelompok dengan keanggotaan tiga orang yang terdiri dari pelajar tahun pertama, namun kelompokku masih kurang satu."


"Selain Qeela yang sudah siap, aku sudah mengajak Ezair, hanya saja dia memiliki kesibukannya tersendiri, jadi aku ingin mengajakmu dan menghadiri kelas Pilar besoknya."


Nine sedikit terdiam, dan setelahnya menyetujui, "Baiklah, aku akan ikut," ucapnya.


"Terima kasih, " Seya terlihat tampak senang, ada senyuman manis yang terlukiskan di wajahnya.


"Sepertinya kamu menyukai Alkimia? " Nine bertanya.


"Iya, aku sangat menyukainya, orang tuaku juga menginginkan aku menjadi seorang Alkemis yang hebat." Ada semangat ketika Seya membicarakan tentang Alkimia.


"Oya, apakah kamu sudah makan? Bagaimana jika kita makan bersama, sebagai ucapan terima kasih, aku yang traktir," lanjutnya.


"Aku akan melakukan sesuatu, mungkin lain kali saja.” Sesuatu yang penting, menghadiri undangan dari sosok Penguasa, 4L.


"Sayang sekali, baiklah kalau begitu aku akan pergi." Seya izin pamit, “Sampai bertemu besok,” lanjutnya.


 ---


Abyss hanya menyiapkan materi pembelajaran, setelahnya pelajar memilih materi yang ingin dipelajari. Bukan hanya memilih materi, bahkan seorang pelajar diberikan akses memilih guru tertentu sebagai tempat mengambil ilmu pengetahuan.


2 jam telah berlalu dan sudah waktunya menerima undangan yang tidak bisa ditolak, seseorang yang keberadaannya tidak pernah diketahui oleh dunia, 4L - Empat Pendiri Abyss sekaligus yang menguasai dunia dari balik layar.


"4L sudah menunggu Anda di Vila tempat kediamannya," ucap Axton, utusan yang baru saja datang menjemput Nine di kediamannya.


"Baiklah," jawab Nine singkat.


Setelah perjalanan yang cukup lama, terlihatlah sebuah bangunan sederhana dari kejauhan, bangunan rumah yang tidak terlalu besar atau pun kecil.


"Apakah itu vila yang kamu maksud? " Nine bertanya.


"Iya benar," jawabnya singkat.


Ketika semakin dekat dengan rumah tersebut, terlihat sosok kakek tua berambut putih nan panjang layaknya sutra, dia berdiri menunggu seraya memegang tongkat dengan tangan kanannya.


Setibanya mereka di hadapan sang kakek, Axton membungkuk memberi penghormatan. "Tamu undangan Anda sudah datang," ucapnya.


“Apakah dia adalah 4L yang asli?” Pikir Nine dalam diamnya, sedangkan pertemuan pertama kali di antara mereka, 4L memiliki wujud yang berbeda.


"Apakah kamu yang bernama Nine," sapa kakek tua tersebut, identitas yang masih menjadi misteri.


"Iya," jawab Nine dengan singkat.


"Bagaimana menurutmu negeri ini, apakah kamu menyukainya?" Lanjut kakek tua itu bertanya.

__ADS_1


"Aku masih memikirkannya,” Nine menjawab


"Begitu ya, “ Kakek sedikit terdiam, “Masuklah, berbincang-bincang di dalam akan lebih baik," kemudian ajaknya.


 ---


Rumahnya tidak terlalu mewah, mulai dari interior dan semuanya terlihat biasa. Jika dia salah satu dari 4L, kata kemewahan adalah hal yang jauh dari sosok yang menguasai dunia.


Setelah duduk di atas kursi, Nine mencoba menanyakan sesuatu, "Apakah kau benar-benar seorang 4L?”


"Ohoo, bagaimana menurutmu? " jawab sang kakek.


"Walau sulit mempercayainya, kau adalah 4L yang asli." Terlihat Nine sangat yakin akan jawabannya.


"Lantas siapa yang terakhir kali kamu temui di Aldeya, apakah dia juga seorang 4L?" Sang kakek mulai bermain logika.


"Sebuah kecerdasan buatan yang dikendalikan dari jarak jauh." Nine menjawab.


"Kecerdasan buatan? Sangat lucu." Sang kakek seolah-olah tidak percaya tentang jawaban Nine, “Bagaimana jika skenarionya seperti ini, aku adalah pihak ketika yang mewakili sosok 4L yang asli. Bagaimana caramu membuktikannya?”


"Terlalu mudah, seolah-olah engkau sengaja menunjukkannya,” Nine mulai menjawab.


“Di tempat pertemuan kita sebelumnya, kamu tidak memiliki seorang pengawal yang bersamamu. Akan tetapi kamu memiliki 2 orang pengawal, Axton yang ada di sampingmu dan salah seorang yang berada di belakang tembok." Walau tidak melihat, Nine memiliki kemampuan merasakan keberadaan seseorang.


"Mereka ada pengawal yang senantiasa melindungi tuannya, bukankah begitu?” Nine sedikit terdiam, “Atau apakah aku perlu mengeluarkan analisa lainnya sehingga kamu tidak bisa mengelak seperti ...” Tiba-tiba Nine menghentikan ucapannya, namun di sisi lain, sudah mengarahkan pisau yang sebelumnya di atas meja ke leher sosok kakek misterius tersebut, kecepatan yang tidak terlihat, kecepatan layaknya sebuah ilusi. Namun walau demikian, dengan kecepatan yang sama, Axton sudah mengarahkan pedang yang senantiasa berada di pinggangnya ke arah Nine.


“Logika berpikirku mengatakan, engkau adalah 4L yang asli, karena tidak mungkin Axton akan memiliki respek yang begitu cepat untuk melindungimu, atau sederhananya, dia adalah pasukan elite yang bertugas mengawal seorang yang penting.” Nine mengakhiri teorinya.


"Ha ha ha." Dalam situasi penuh ancaman seperti itu, sang kakek tertawa terbahak-bahak.


"Axton, tarik pedangmu kembali," perintah sang kakek, “Dia tidak akan berani menyerangku,” lanjutnya. Saat itu juga, Nine menarik pisau yang ada ditangannya dan menaruhnya di tempat semula.


"Seharusnya kamu biarkan saja dia mengancamku, karena kamu berusaha melindungiku, pada akhirnya aku tidak bisa bermain-main dengannya," sang kakek sedikit bercanda.


"Maaf tuanku, " ucap Axton sambil membungkuk.


 ---


Tidak lama setelahnya, seorang perempuan yang berada di balik ruangan ini datang membawa beberapa makanan dan minuman, kemudian setelahnya berdiri di samping 4L bersama dengan Axton. Dia adalah pengawal yang sebelumnya berada di belakang tembok.


"Ada perlu apa, kamu mengundangku kesini? " Nine bertanya.


"Bukankah seharusnya kita perlu basa basi terlebih dahulu," jawab sang kakek, 4L yang asli.


"Kalau begitu, kamu pasti mengetahui tentang Titel Eryl?" Nine mencoba mencari beberapa informasi tentang Titel yang telah di dapatkan sebelumnya.


"Titel itu adalah sebuah kunci untuk membuka gerbang Ilmu Pengetahuan yang ada di Abyssal Tower, pengetahuan yang melanggar logika normal, sesuatu yang tidak pernah terpikirkan oleh umat manusia."


"Apa maksudnya?" Nine kembali bertanya.


"Bukankah tidak akan menarik jika aku menceritakan semuanya, " Sang Kakek tersenyum, senyum yang mengandung misteri.


 

__ADS_1


__ADS_2