
Carla berjalan mengikuti Alex dari belakang hingga masuk kedalam rumah.
"Alex, apa kau sudah makan ? kalau belum aku siapkan makan malam untukmu ya, aku tadi memasak untukmu," ucap Carla sambil terus berjalan mengikuti Alex hingga ke ruang tengah.
Tiba - tiba Alex pun menghentikan langkahnya dan menoleh kearah Carla dibelakangnya.
"Aku sudah makan," jawab Alex dengan tatapan dingin, lalu kemudian ia pun beranjak masuk kedalam kamarnya meninggalkan Carla yang terpaku menatap kepergiannya.
"Braakk...!!"
Carla terkejut mendengar suara pintu yang dibanting oleh Alex saat menutup kamarnya dari dalam.
"Hh..Alex kenapa sih ?...apa dia sedang marah padaku ?...tapi memangnya apa salahku ?...seharusnya kan aku yang marah padanya, karena dia memilih pulang terlambat hanya untuk bertemu dengan Jessica ?" berbagai pertanyaan kini berkecamuk dalam pikirannya.
*
*
Didalam kamarnya, Alex tampak terduduk dipinggir ranjangnya dengan wajah kesal.
"Sial...Jessica sudah melihat Carla keluar dari Lapas, bagaimana jika nanti ia tahu yang sebenarnya, bisa - bisa ia mengadukannya pada ayahku,...ahh ini semua gara - gara si tukang bohong itu Ck...," Alex mengusak rambut kepalanya dengan kasar.
"Tokk...tokk...tokk...," tiba - tiba terdengar suara ketukan dipintu kamarnya.
"Alex, ini aku Carla. Bolehkah aku masuk ?" ucap Carla dari luar pintu kamar.
"Ck..mau apa lagi sih dia ?...menyebalkan !" gerutu Alex dalam hati.
"Masuklah !" jawab Alex dingin.
Perlahan Carla pun membuka pintu kamar itu dan berjalan masuk mendekati Alex ditempat tidur.
"Alex, kau kenapa ? apa kau sedang sakit ? apa kau ingin ku buat kan teh hangat ?" tangan Carla bergerak hendak menyentuh kening Alex, namun sayangnya segera ditepis kasar oleh Alex.
Hal itu membuat Carla semakin terkejut dengan sikapnya. "Alex, kau ini kenapa sebenarnya ? kenapa kau tiba - tiba bersikap seperti ini padaku ?"
"Kau tanya saja pada dirimu sendiri," ucap Alex ketus.
"Maksudmu ?" Carla tak mengerti.
"Kau....sudah berapa kali kau membohongiku hah ??" bentak Alex.
"M-Membohongimu bagaimana maksudmu ?" tiba - tiba Carla merasa was - was dalam hati "Jangan - jangan dia tahu kalau aku kemarin pergi menjenguk ayahku."
"Kemarin kau menjenguk ayahmu lagi kan ? iya kan ?"
__ADS_1
"T-Tidak, kan aku sudah bilang kalau kemarin aku hanya berjalan jalan keluar mencari udara segar," Carla mulai gugup.
"BOHONG !!"
Wajah Carla mulai panik ketakutan, ia tidak tahu harus menjawab apa.
"Dasar kau pembohong !!...kau pikir aku tidak tahu apa yang sudah kau lakukan kemarin hah ?"
".........," Carla terdiam menunduk.
"Apa kau tahu, hari ini Jessica mengatakan padaku bahwa ia melihatmu berjalan keluar dari sebuah Lapas kemarin."
"Hah....a-apa ??...Jessica melihatku ?" Carla terkejut tak menyangka.
"Iya bodoh...dia melihatmu, dasar gadis bodoh. Susah payah aku menutupi status ayahmu dari semua orang, bahkan dari keluarga dan sahabat dekatku sendiri. Tapi kau malah menghancurkan semuanya."
"L-Lalu...a-apa yang kau katakan padanya ?"
"Tentu saja aku berusaha menutupinya bodoh. Saat ini mungkin masih bisa kuatasi, tapi bagaimana jika hal itu terulang lagi, bisa - bisa rahasia tentang ayahmu yang dipenjara terbongkar oleh Jessica dan keluargaku akan tahu nantinya, kalau itu terjadi maka semuanya bisa jadi kacau."
"M-Maaf aku tak bermaksud mengacaukan semuanya."
"Kau tahu betapa bahayanya bagiku, jika ada yang tahu bahwa aku berpacaran dengan gadis yang merupakan putri dari seorang narapidana, apalagi jika rekan bisnisku dan juga rekan bisnis ayahku tahu, maka akan kutaruh dimana muka ku nanti ? apa kau sengaja ingin membuatku malu hah ?"
"Tapi aku sungguh tak bermaksud seperti itu, lagi pula aku juga tidak tahu jika Jessica ada disana melihatku kemarin...aku hanya...,"
"Maaf...," Carla hanya bisa mengucapkan kata maaf, diiringi air matanya yang kini mulai membasahi pipinya.
"Maaf katamu ?..hah...sudah berulang kali kubilang agar kau jangan mengunjungi ayahmu lagi, tapi kau tetap saja tidak mau mendengarkan ku, dasar gadis tidak tahu di untung," tak cukup hanya menampar, kali ini Alex bahkan menarik tubuh Carla dan mendorongnya dengan kasar hingga tersungkur kelantai.
"Aahhkk..!!...Ampun Alex...hiks..," teriak Carla seiring dengan tubuhnya yang terhempas kebawah.
"Rasakan itu dasar gadis bodoh !!" Alex yang kini dikuasai emosi seolah tak perduli melihat Carla yang tampak kesakitan. Sementara Carla dengan sekuat tenaga berusaha untuk bangkit berdiri kembali.
"Tapi...hiks..bagaimanapun dia itu ayahku..hiks...tak bisakah kau mengerti perasaanku hiks...bagaimana jika itu menimpa ayahmu, bagaimana bisa kau tidak mengunjunginya walau hanya sekali saja hiks...," Carla mulai terisak sambil menahan sakit.
"Apa kau bilang ?...jika terjadi padaku ?..hheuhh...yang benar saja, ayahku itu orang terpandang dari keluarga baik - baik, mana mungkin bisa terlibat masalah kriminal seperti yang dialami oleh ayahmu itu."
"Tapi ayahku juga berasal dari keluarga baik - baik, dan ayahku itu orang jujur. Dia sama sekali tidak bersalah, kau tahu itu kan ?"
"Bukan urusanku, ayahmu itu bersalah atau tidak, yang jelas ayahmu itu kini berstatus sebagai NARAPIDANA," Alex menekankan kata narapidana membuat hati Carla terluka.
"CUKUP! HENTIKAN!!" Carla berteriak sambil menutup kedua telinganya.
"Hahaha...kenapa ? kau malu ya ? apalagi aku, aku sangat malu dengan status ayahmu itu."
__ADS_1
"Kalau kau malu, kenapa kau masih mau berpacaran denganku hah ?" ucap Carla dengan nada tinggi.
"Itu karena aku masih menyayangimu. Seharusnya kau berterima kasih padaku, karena aku masih mau menerimamu untuk tinggal dirumahku ini, kalau tidak, mungkin kini kau sudah jadi gelandangan diluar sana."
"Alex....," hati Carla perih mendengarnya, ia merasa seolah sedang direndahkan oleh pria yang dicintainya itu.
"Kenapa ?..kau tidak terima hah ?"
"Kau tidak mencintaiku Alex. Seandainya kau mencintaiku, kau pasti bisa menerima keadaan ayahku juga saat ini."
"Ck...jangan mengguruiku, aku memang mencintaimu, tapi hanya kau yang bisa kuterima, sampai kapan pun aku tidak bisa menerima status ayahmu itu, karena itu sangat memalukan bagiku, kau mengerti ?"
"Alex, kau jahat hiks...,"
"Terserah apa katamu, yang jelas jika kau masih mau bersamaku dan tinggal disini, maka turutilah perkataanku dan jangan membantah."
Carla hanya bisa terisak mendengar ucapan Alex, ia sudah kehabisan kata - kata untuk menjawab Alex. Karena bagaimana pun Carla menyadari bahwa dirinya kini memang hanya menumpang dirumah Alex, ia sudah tak punya tempat lagi untuk berteduh.
"Sekarang cepat keluar dari kamarku ! Aku mau beristirahat," Alex mengusir Carla dari kamarnya.
Dengan langkah gontai, Carla pun menuruti perintah Alex untuk segera meninggalkan kamarnya.
Carla pun memilih untuk masuk kedalam kamarnya sendiri. Dan didalam kamarnya, Carla menumpahkan semua kesedihannya yang tak terbendung itu, ia pun menangis tersedu sedu hingga larut malam tiba. Sementara Alex sama sekali tak perduli meskipun tangisan pilu Carla terdengar sampai kedalam kamarnya.
*
*
Pagi telah tiba, Alex yang telah rapi dengan pakaian kantornya tampak bersiap hendak berangkat kekantor.
Carla dengan mata sembabnya akibat menangis semalam berusaha tersenyum seraya menghampiri kekasihnya itu.
"Alex, ayo kita sarapan dulu!" ajak Carla berusaha setenang mungkin seolah tak terjadi apa - apa diantara mereka semalam.
"Kau sarapan sendiri saja, aku mau sarapan dikantor," jawab Alex dingin.
Mendengar itu, hati Carla menjadi semakin sedih. Namun sayangnya ia tak bisa berkata apapun untuk memaksa Alex agar mau sarapan dengannya. "Alex pasti masih marah denganku," batin Carla.
"Baiklah, kalau begitu hati - hati dijalan," ucap Carla pasrah.
"Eumm...," jawab Alex singkat tanpa melihat kearah Carla dan langsung pergi begitu saja tanpa berpamitan dulu dengan Carla seperti biasanya.
Lagi - lagi air mata Carla menetes dari pelupuk matanya sambil memandang kepergian Alex pagi ini.
"Alex, maafkan aku," ucap Carla lirih.
__ADS_1
Tak lama kemudian Carla pun bergegas bersiap untuk berangkat bekerja dikafe milik Rain.