Adakah Cinta Untuk Carla

Adakah Cinta Untuk Carla
Bab 8


__ADS_3

Setelah Alex pergi kekantor pagi ini, barulah Carla berani untuk melangkahkan kakinya keluar rumah untuk kembali bekerja dikafe milik Rain. Namun sebelum tiba dikafe, Carla membawa jas milik Rain yang disimpannya semalam, ke sebuah laundry didekat rumahnya dengan harapan noda pada jas itu nanti akan hilang setelah di laundry pikirnya.


Karena Carla bukanlah karyawan tetap maka ia pun di ijinkan untuk datang pada pukul 9 pagi, lebih telat dari pada karyawan lainnya dan akan pulang seperti waktu kemarin yakni pukul 5 sore. Semua peraturan itu berasal dari Peniel dan atas persetujuan Rain tentunya.


Disela mengerjakan tugasnya, Carla pun mendekati Peniel.


"Hei Peniel...." Carla.


"Ada apa ?" ucap Peniel yang kini sedang sibuk menata sebuah hidangan yang akan disuguhkan kepada pelanggan yang telah memesan menu tersebut.


"Apa si sombong itu sudah datang ?" tanya Carla.


"Belum, mungkin masih ada urusan lain. Memangnya ada apa ?" Peniel.


"Ahh tidak apa - apa, aku hanya heran saja kenapa si sombong itu tidak kelihatan batang hidungnya sejak tadi," Carla.


"Memangnya kenapa kalau kau belum melihatnya ? apa kau merindukannya ?" goda Peniel.


"Ihh yang benar saja, untuk apa aku merindukan si sombong itu ? Lagipula gara - gara si sombong itu aku sekarang jadi harus menjalani hukuman seperti ini Ck..," Carla malah sewot, hal itu malah membuat Peniel jadi tertawa geli melihatnya.


"Iya..iya.., aku kan cuma bercanda. Gitu aja sewot. Ehh..tapi kalau bisa kau jangan sampai membencinya ya," Peniel.


"Memangnya kenapa ? si sombong itu kan memang menyebalkan, aku jadi benci jika mengingatnya," Carla.


"Karena kalau awalnya benci nanti lama - lama kau bisa terpesona padanya," Peniel menggodanya lagi sambil tertawa.


" Ihh...enak saja sembarangan, mana mungkin aku terpesona pada si sombong itu, yang ada malah eneg tahu kalau lihat mukanya uweekk...," Carla.


"Jangan begitu, hati - hati loh sekarang bilang eneg nanti lama - lama bisa jatuh cinta," Peniel.


"Apaan sih Peniel, gak lucu tahu....," Carla merajuk lucu, membuat Peniel tak berhenti tertawa melihatnya.


"Terserah deh..., yang penting sekarang kamu cepat antarkan hidangan ini kemeja pelanggan no. 8 ya," Peniel menyerahkan nampan berisi makanan yang baru selesai ditatanya itu kepada Carla.


"Haa..?..a-apa ?..aku yang harus mengantarkan ini ?" Carla.


"Iya, itu tugasmu berikutnya yakni mengantar makanan yang sudah disiapkan kemeja pelanggan, cepat sana antarkan nanti takut pelanggan kita protes jika terlalu lama menunggu," Peniel.


"I-Iya baiklah," Carla pun segera menerima nampan tersebut dari tangan Peniel dan berjalan keluar dapur menuju kemeja pelanggan yang dimaksud diruangan depan.


Saat sedang meletakkan hidangan dimeja pelanggan, tanpa sengaja Carla melihat ada beberapa tamu yang datang dan menanyakan kepada Gery dimana ruangan Rain berada.


Carla yang merasa penasaran dengan para tamu yang baru datang itu pun mencoba mendekati Gery, setelah ia selesai mengerjakan tugas yang diberikan oleh Peniel tadi.


"Eh Gery, mereka itu siapa ?" tanya Carla pada Gery.


"Yang mana kak ?" tanya Gery yang usianya terlihat lebih muda dari Carla itu.

__ADS_1


"Para tamu yang tadi menanyakan ruangan si sombo....eh maksudku..tuan muda Rain," Carla.


"Ohh itu ....mereka adalah Desainer interior beserta timnya yang akan mendesain ruangan kantor milik tuan muda Rain hari ini," jelas Gery.


"Benarkah ?" Carla membelalakkan matanya tak percaya. "Ternyata si sombong itu mau mendengarkan saranku juga," batin Carla.


"Dasar kepo..!!" tiba - tiba Peniel datang dan mengagetkan Carla. Melihat Peniel datang mendekat, Gery pun segera menyingkir untuk meneruskan kembali pekerjaannya.


"Ihh...siapa yang kepo," elak Carla.


"Itu buktinya tanya - tanya tamu yang ada hubungannya dengan tuan muda Rain," Peniel.


"Aku cuma penasaran para tamu itu siapa ?...kenapa mereka mencari letak ruangan kantor si sombong itu padahal kan si sombong itu juga belum datang kemari," Carla.


"Iya, sepertinya tuan muda memang sengaja memanggil Desainer interior dan timnya itu disaat ia belum datang ke kantor nya agar mereka lebih leluasa dalam mengerjakan tugasnya mungkin," Peniel.


"Mmm...begitu ya," Carla.


"Ayo cepat kembali kerja lagi !" Peniel.


"Ah iya baiklah," Carla.


*


*


"Uhh..kemana sih si sombong itu, kenapa jam segini belum juga datang ? Apa hari ini dia tidak akan datang kemari ? sesibuk itukah dia sampai tidak bisa datang ?...Aishh..kenapa aku jadi memikirkannya sih...aneh, pasti ada yang salah denganku saat ini," tanpa sadar Carla menggeleng gelengkan kepalanya sendiri sambil bergumam dalam hati.


Peniel yang duduk berhadapan dengannya dimeja makan itu pun dibuat heran oleh tingkahnya. "Hei Carla kau kenapa ?"


"Hah apa ??.." Carla yang terkejut dengan pertanyaan Peniel barusan pun seketika tersadar dari lamunannya.


"Kau pasti melamun lagi," tebak Peniel.


"T-Tidak kok. Aku hanya heran kenapa si sombong itu belum juga datang padahal hari sudah siang. Apakah hari ini dia tidak akan datang kemari ya ?" Carla.


"Kau masih terus memikirkan tuan muda sejak tadi pagi rupanya," Peniel.


"B-Bukan begitu," Carla.


"Apa kau khawatir jika dia tidak datang kemari hari ini ?" Peniel.


"S-Siapa yang khawatir dia tidak datang. Lagi pula apa urusannya denganku, dia mau datang atau tidak, aku tidak perduli," Carla.


"Tidak perduli, tapi menanyakannya terus," Peniel.


"Bukan begitu maksudku. Hanya saja saat ini ruangan kantornya kan sedang ditata oleh para tamu tadi, apakah si sombong itu tidak berniat untuk melihatnya begitu ?" Carla.

__ADS_1


"Untuk apa tuan muda melihat prosesnya, yang ia perlukan ialah hasilnya. Lagipula setelah ruangannya selesai ditata, tuan muda pasti akan melihatnya juga entah nanti atau besok," Peniel.


"Iya juga sih," entah kenapa Carla malah tertunduk sedih setelah mendengar jawaban Peniel barusan.


"Jangan sedih begitu, kau pasti akan bertemu dengannya lagi kok," goda Peniel.


"Ihh..siapa yang sedih sihh...sembarangan kalau bicara," protes Carla.


Peniel hanya bisa tersenyum geli melihat mimik wajah Carla yang kini entah kenapa malah bersemu merah meskipun bibirnya terus menyangkal setiap ucapan yang dikatakan Peniel tadi.


Dalam hati Carla juga merasa heran kenapa ia sekarang tiba - tiba mendadak kepo dan malah memikirkan pria sombong bernama Rain itu, padahal baru kemarin mereka bertemu.


"Hei kau...disini rupanya," sebuah suara tiba - tiba mengajutkan Carla dan juga Peniel dari belakang.


"Tuan muda, anda sudah datang rupanya," Peniel segera berdiri dari tempat duduknya dan membungkuk memberi hormat pada bos mudanya itu.


Sementara Carla hanya menatap kedatangan pria tampan itu tanpa berkedip, dan entah kenapa ada perasaan senang yang muncul dihatinya ketika ia akhirnya bisa melihat pria yang dipikirkannya sejak tadi pagi.


"Ya aku baru datang," ucap seseorang yang tak lain adalah Rain itu.


"Silahkan duduk tuan muda," Peniel mempersilahkan Rain untuk duduk ditempat duduknya tadi sembari menyingkirkan piring dan juga minuman miliknya itu dari atas meja. Lalu Peniel pun segera berlalu meninggalkan mereka berdua.


"Apa yang kau lakukan sejak pagi, kenapa jam segini kau baru datang ?" pertanyaan itu terucap begitu saja dari bibir mungil Carla.


Rain yang mendengar itu tertegun sejenak "Kenapa dia berani bertanya seperti itu padaku, seolah dia ini siapaku saja," batin Rain. Itu karena selama ini memang tidak ada satu orang karyawanpun yang berani bertanya seperti itu kepadanya.


"Memangnya kenapa kalau aku baru datang ?...kau pikir aku hanya bersenang senang sejak pagi. Asal kau tahu ya, aku ini sangat sibuk dan banyak urusan yang harus kukerjakan," Rain.


"Iya aku tahu, kau itu memang orang sibuk," Carla.


"Nah itu tahu," lanjut Rain dengan wajah dingin.


"Ng...aku tahu dari Peniel yang mengatakannya padaku," Carla.


"Ohh...," Rain.


"K-Kau sudah makan ?" Tanya Carla kemudian mencoba mencairkan suasana.


"Belum," jawab Rain datar.


"Mau aku ambilkan makan siang untukmu ?" Carla.


"Boleh," jawab Rain singkat.


"Baiklah, kalau begitu tunggu sebentar," Carla segera bangkit dari tempat duduknya hendak mengambilkan makan siang untuk Rain.


Tak berapa lama kemudian, Carla pun telah kembali sembari membawa sebuah nampan berisi makanan dan minuman untuk Rain. Sesudah itu Carla pun meneruskan kembali santap siangnya yang tadi belum selesai itu bersama Rain.

__ADS_1


Sementara itu beberapa karyawan lainnya yang ada diruangan tersebut merasa heran, tak sedikit diantara mereka yang berbisik bisik, karena ini pertama kalinya bagi mereka melihat bos mereka itu mau makan didalam satu ruangan yang sama dengan mereka.


__ADS_2