Adakah Cinta Untuk Carla

Adakah Cinta Untuk Carla
Bab 5


__ADS_3

Pukul 2 dinihari, Alex baru tiba kembali dirumahnya. Alex baru bisa pulang setelah Jessica benar - benar tertidur pulas dan tidak menyadari kepergiannya.


Alex memasuki ruang tengah rumahnya dan mendapati Carla yang tampak tertidur pulas dengan posisi duduk disofa. Rupanya tadi Carla ketiduran saat menunggu Alex pulang kerumah.


Dengan langkah pelan karena tak ingin membangunkan Carla, Alex pun berjalan menghampirinya.


"Ck...kau pasti menungguku, sampai ketiduran disini," gumam Alex.


Dengan hati - hati Alex pun membopong tubuh Carla ala bridal dan memindahkannya kekamar Carla.


Sesampainya dikamar, Alex merebahkan tubuh Carla di ranjang tempat tidur dan menyelimutinya.


Alex memandangi wajah damai Carla dengan perasaan bersalah. "Maafkan aku karena tak menepati janjiku untuk pulang cepat. Maaf membuatmu menunggu hingga ketiduran seperti ini," ucap Alex pelan. Setelah itu Alex pun segera bergegas pergi kekamar pribadinya untuk beristirahat.


*


*


Pagi telah tiba, Carla yang terbangun dari tidurnya dan menyadari bahwa dirinya kini sudah tidak berada disofa melainkan di kamar nya itu pun segera bangkit dari tempat tidurnya dan berlari keluar kamarnya.


"Alex...Alex...kau dimana ? apa kau sudah pulang ?.." teriak gadis itu sambil berlari menuju ke ruang tengah.


"Ck..berisik sekali, ini masih pagi," sahut seseorang dari arah dapur.


Mendengar suara Alex, gadis itu pun segera berlari menuju dapur.


"Alex...kau sudah pulang ?" tanya Carla sesampainya ia di dapur dan mendapati Alex yang kini tengah sibuk menyiapkan sarapan.


"Tentu saja. Kalau belum, lalu siapa yang memindahkan tubuhmu ketempat tidurmu," jawab Alex santai sambil terus fokus pada menu sarapan yang tengah dibuatnya.


"Iya aku tahu, pasti kau yang memindahkanku kekamar," jawab Carla sambil berjalan mendekat kearah kekasihnya itu.


"Nah itu tau," Alex.


"Semalam kau pulang jam berapa ?" tanya Carla.


"Ng...jam 2 kalau tidak salah," jawab Alex tanpa melihat kearah Carla yang kini berdiri disampingnya.


"Astaga, kenapa sampai pagi kau baru pulang ?...memangnya apa yang kau lakukan disana bersama Jessica hah ?" kesal Carla.


"Ck..aku hanya mendengarkan curhatannya karena ia baru saja putus dari pacarnya Sean. Memangnya kau pikir apa yang akan kulakukan dengan Jessica ?" kali ini Alex pun menoleh kearah Carla.


"Curhat ?...jadi semalam ia memintamu untuk datang ke apartemennya hanya untuk mendengarkan curhatannya ?" Carla.


"I-Iya...memangnya kenapa ?" Alex malah balik bertanya.


"Dan kau mendengarkan curhatannya hingga lewat tengah malam begitu ?" Carla nampak sangat kesal.


"Y-Ya...memangnya kenapa ?..dia itu kan sahabatku. Wajarlah kalau dia membutuhkan ku disaat hatinya sedang sedih" Alex.


"Apa kau tau semalam aku sangat khawatir dan menunggumu hingga larut malam ? Kau bahkan tidak bisa dihubungi karena ponselmu tidak kau bawa, dan ponsel Jessica pun tidak aktif saat aku menghubunginya," Carla.


"......Aku minta maaf karena lupa tidak membawa ponsel dan maaf...karena membuatmu menungguku hingga larut malam hingga kau ketiduran," ucap Alex dengan nada menyesal.


".........." Carla terdiam dengan wajah hampir ingin menangis karena kesal.


"Dan...mengenai Jessica...aku sama sekali tidak tahu kalau semalam ia tidak mengaktifkan ponselnya saat aku ada disana bersamanya," lanjut Alex.


"Mungkin dia sengaja mematikan ponselnya, agar aku tidak bisa menghubunginya," Carla.

__ADS_1


"Ck...sudahlah jangan selalu berprasangka buruk terhadapnya. Lagipula semalam dia itu tampak sangat sedih, jadi aku mohon agar kau sedikit memahami dirinya. Astaga....masakanku...!!" Alex terkejut melihat kearah masakannya yang hampir gosong karena sibuk berbicara dengan Carla.


Carla hanya bisa terdiam kesal sambil memandangi Alex yang kini kembali fokus pada masakan yang sedang dibuatnya. Sambil menghela napas lelah, Carla pun akhirnya memutuskan untuk membantu Alex menyiapkan sarapan.


Satu jam kemudian hidangan sarapan sudah tertata dimeja makan. Kedua sejoli itu pun kini tengah menyantap hidangan sarapan yang ada di atas meja. Tidak ada pembicaraan sedikitpun diantara mereka berdua, keduanya sibuk dengan pikiran masing - masing.


Tak lama kemudian Alex yang kini telah rapi dengan pakaian kantornya, tengah bersiap untuk berangkat kekantor.


"Aku berangkat kekantor dulu ya, kau jaga diri baik - baik dirumah," Alex.


"Eumm...," Carla mengangguk.


"Cup.." Alex mengecup kening Carla sambil memejamkan matanya, begitupun Carla.


"Aku pergi dulu, dah...," Alex pun segera pergi meninggalkan Carla dan bergegas ke kantornya.


Pukul 10 pagi, Carla tampak bersiap siap untuk pergi ke suatu tempat. Ia tampak membawa sebuah tas berisi makanan yang telah disiapkannya sejak Alex berangkat kekantor tadi pagi.


"Hmm..ayah pasti suka dengan makanan yang kubawa hari ini, karena ini adalah makanan kesukaan ayah," ucap Carla sambil tersenyum.


Rupanya Carla hari ini berniat mengunjungi ayahnya lagi. Seperti biasa meskipun telah dilarang oleh Alex, ia selalu pergi mengunjungi ayahnya secara diam - diam, begitupun hari ini, dengan semangat ia bahkan telah membuat kan makanan kesukaan ayahnya untuk diberikannya pada ayahnya nanti saat bertemu dipenjara.


*


*


Saat ini Carla telah bertemu dengan ayahnya, namun pertemuan mereka terpaksa harus dihalangi oleh sebuah bilik kaca yang menjadi pembatas antara pengunjung yang menjenguk dengan sang narapidana yang dijenguk, karena memang demikianlah peraturan yang ditetapkan oleh sipir penjara ditempat tersebut.


"Apa kabarmu hari ini ayah ?" tanya Carla.


"Ayah baik - baik saja nak. Bagaimana denganmu ?" tanya Tn. Jeff ayah Carla.


"Aku juga baik - baik saja, ayah. Seperti yang kau lihat, putrimu ini tak kekurangan apapun sejak tinggal bersama Alex," Carla.


"Iya ayah, Alex selalu baik padaku," bohong Carla.


"Ayah senang mendengarnya. Maafkan ayah yang saat ini sudah tidak bisa menjagamu seperti dulu lagi," Tn. Jeff menunduk sedih.


"Tidak ayah, itu tidak benar. Meskipun saat ini kita tidak tinggal bersama, tapi aku tahu ayah selalu mendoakan ku, hingga aku selalu dalam keadaan baik seperti saat ini semua berkat doa dari ayah," Carla mencoba menghibur hati ayahnya.


"Lagi pula ayah adalah orang yang baik, ayah tidak pantas berada disini. Suatu saat nanti kebenaran pasti akan terungkap, dan ayah pasti akan bisa bebas dari tempat ini secepatnya," lanjut Carla menguatkan ayahnya.


"Hhh.....kau sungguh anak yang baik Carla. Terimakasih sudah mempercayai ayah, meskipun ayahmu ini ada ditempat seperti ini sekarang," Tn. Jeff menatap putrinya.


"Jangan pernah berhenti berdoa dan berharap ayah, Tuhan pasti akan buka jalan bagi permasalahan yang menimpa ayah saat ini. Aku juga sebenarnya tidak rela ayah ada ditempat seperti ini, dan aku berharap suatu saat nanti akan datang keadilan untuk ayah," Carla.


"Terimakasih Carla," Tn. Jeff.


Carla mengangguk tersenyum mendengar ucapan ayahnya.


"Dan sampaikan ucapan terimakasih ku pada Alex yang telah menggantikan ku untuk menjaga dan merawatmu," Tn. Jeff.


"Iya ayah akan kusampaikan nanti," Jawab Carla yang sebenarnya tidak pernah menyampaikan setiap pesan apapun yang diucapkan ayahnya untuk Alex, karena itu memang tidak mungkin dilakukannya karena mengingat Alex yang tak pernah suka jika ia mengunjungi ayahnya dipenjara.


"O ya ayah, ini aku bawakan sedikit makanan untukmu. Ini adalah makanan kesukaanmu ayah, aku membuatkannya untukmu tadi pagi," Carla menyodorkan sebuah tas berisi makanan yang telah disiapkannya melalui celah lubang yang ada pada pembatas bilik kaca tersebut.


"Terimakasih putriku, kau seharusnya tak perlu repot - repot membawakan ayah makanan setiap datang kemari. Bisa melihatmu saja, ayah sudah merasa sangat senang," Tn. Jeff.


"Tdak apa - apa ayah, lagipula aku khawatir ayah tidak bisa makan dengan baik dipenjara, karena itu aku bawakan makanan kesukaanmu," Carla.

__ADS_1


Karena waktu kunjungan sudah selesai, Carla terpaksa harus berpisah kembali dengan ayahnya dipenjara.


Sepulang dari menjenguk ayahnya dipenjara, Carla memutuskan untuk mampir ke sebuah kafe dan memesan satu cup ice coffee Americano.


Sambil membawa minuman ditangannya, Carla berjalan keluar hendak meninggalkan kafe tersebut, namun ditengah perjalanan tiba - tiba...


"Bugh...!!"


"Ohh..astaga....!" Carla terkejut karena ia tak sengaja menabrak seorang pria yang baru saja masuk kedalam kafe tersebut.


Pria tampan berkulit putih dan berperawakan tinggi itu pun terkejut melihat kearah jas berwarna biru muda yang dikenakannya saat ini kini basah dan berwarna coklat kehitaman dibagian depan, akibat terkena tumpahan dari minuman yang dibawa oleh Carla.


Dengan sedikit menggeram kesal, pria itu pun menatap tajam kearah Carla dengan penuh amarah.


"KAU....!!!" pria itu mengepalkan kedua tangannya kesal.


"M-Maaf..s-saya tidak sengaja tuan," ucap Carla ketakutan sambil mengambil sebuah sapu tangan dari dalam tasnya hendak membersihkan jas pria itu, namun buru - buru ditepis oleh pria tersebut.


"JANGAN SEMBARANGAN MENYENTUHKU...!!" bentak pria itu kasar hingga membuat seluruh pengunjung diruangan cafe tersebut melihat kearah mereka berdua.


"T-Tuan muda...apa kau tidak apa - apa ?" tiba -tiba seorang pelayan pria dikafe itu menghampiri pria tersebut.


"Minggir...!!" pria itu malah mendorong pelayan itu hingga bergeser menjauh darinya.


"Dan kau...beraninya kau melakukan ini padaku. Apa kau tahu berapa harga jas yang kupakai ini hah ?...aku rasa seluruh outfit yang kau pakai ditubuhmu dari atas hingga bawah bahkan isi tabunganmu pun belum tentu setara dengan harga jas yang kupakai," ucap pria itu pada Carla.


"Huh sombong sekali dia. Memangnya berapa sih harga jas yang dipakainya ?" kesal Carla dalam hati.


"M-maaf tuan s-saya kan sudah bilang kalau saya tidak sengaja," Carla.


"Ck...gara - gara kau aku harus membuang jasku ini. Sekarang bagaimana kau akan menggantinya hah ?"


"Ng...m-memang berapa harga jas yang anda kenakan tuan ?"


"Sekitar sebelas jutaan," jawab pria itu santai sambil menegakkan kepalanya angkuh.


"Astaga dia benar, isi tabunganku dan harga bajuku memang jumlahnya tidak setara dengan harga jas yang dikenakannya. Tapi...ya ampun, kenapa harga jasnya mahal sekali sih...," ucap Carla dalam hati.


"Ng...m-mahal sekali ya...s-saya tidak punya uang sebanyak itu tuan," Carla.


"Huhh...benarkan dugaan ku. Gadis sepertimu mana punya uang sebanyak itu. Pelayan...kemari kau !" tiba - tiba pria itu memanggil pelayan yang tadi menghampirinya.


"Iya tuan muda..," sahut sipelayan.


"Bawa gadis ini ke dapur, ajari dia dan suruh dia untuk bekerja dikafe ini sampai upah kerjanya sesuai dengan harga jas yang kukenakan saat ini," ucap pria itu sambil menunjukkan smriknya pada Carla.


"A-Apa...b-bagaimana bisa anda menentukan hal seperti itu terhadap saya, lagi pula kenapa saya harus bekerja dikafe ini ? Memangnya anda itu siapa berani - beraninya menyuruh saya untuk bekerja disini ?" Carla tak terima.


" Sstt..sudah, turuti saja kemauannya, kecuali jika kau bisa menggantinya. Lagipula dia itu adalah pemilik dari kafe ini," bisik pelayan tersebut kepada Carla.


"A-apa ?.." mata Carla terbelalak kaget.


"Eum...," pelayan tersebut memberi kode dengan matanya sambil mengangguk.


"Astaga hari ini kenapa sial sekali sih, ahh sudahlah aku mau ke atas dulu, aku mau istirahat," ucap pria tersebut sambil berjalan kearah tangga yang menuju kelantai dua dikafe tersebut. Sementara itu orang - orang yang berada diruangan kafe tersebut, lambat laun sudah tak memperhatikan mereka lagi dan sibuk melanjutkan urusannya masing - masing.


"Nona...ayo ikut aku ke dapur !" ucap sipelayan tersebut.


"T-tapi...," Carla.

__ADS_1


"Ah sudahlah nona, tidak usah pakai tapi - tapi segala. Ikuti saja aku, ayo!"


Dengan terpaksa Carla pun mengikuti pelayan tersebut berjalan kearah dapur. "Uhh..sial !" batin Carla kesal.


__ADS_2