
Setelah 20 menit perjalanan jauhnya, mobil yang dikendarai Rain kini sudah mulai mendekati area jalan Prada.
Namun tiba - tiba...
"Tuan muda, tolong turunkan aku dihalte didepan sana saja !" pinta Carla.
"Loh kenapa ? bukankah ini sudah dekat dengan rumahmu ?"
"Iya aku tahu, justru karena sudah dekat, aku bisa berjalan kaki saja sampai dirumah. Lagipula sekarang hujannya juga sudah reda."
"Aku antar sampai depan rumahmu saja, jadi kau tidak perlu berjalan kaki," bujuk Rain.
"T-Tidak perlu, jangan...sampai didepan sana saja ya, aku mohon !" pinta Carla dengan tatapan memohon.
"Aneh, kenapa sih dia tidak mau aku antar sampai rumahnya ? apa dia tidak mau kalau aku mengetahui rumahnya ?" batin Rain.
Dengan terpaksa Rain pun meminggirkan mobilnya didepan halte yang dimaksud Carla tadi.
"Terimakasih sudah mengantar saya, tuan muda," ucap Carla kali ini dengan nada sopan.
"Eumm..hati - hati dijalan," pesan Rain.
"Iya, tuan muda juga hati - hati ya dijalan. Sampai bertemu lagi dikafe, dah," dengan kaku Carla melambaikan tangannya kearah Rain, lalu dengan cepat ia segera membuka pintu dan turun dari dalam mobil tersebut.
"Tumben pake melambaikan tangan segala, pake acara suruh hati - hati dijalan segala lagi," batin Rain tapi entah kenapa timbul rasa senang dihatinya dengan sedikit perhatian yang diberikan Carla barusan padanya.
Rain kemudian melanjutkan perjalanannya menuju kerumahnya.
Didalam perjalanan menuju kerumah, Carla sesekali membuang napas sambil memegangi dadanya yang berdetak tak karuan. Belum lagi ditambah wajahnya yang kini bersemu merah merona.
"Hufftt...apa apaan tadi itu, kenapa aku harus perhatian segala sih, mana pake acara dadah dadahan segala lagi, uhh...malunya aku," Carla memegangi pipinya yang memanas mengingat kejadian tadi.
*
*
Keesokan harinya
Hari ini adalah hari minggu, dan Carla mendapatkan libur dihari ini, sehingga ia tak perlu pergi kekafe.
Pagi - pagi benar Carla sudah bangun dan melakukan kegiatan mencuci pakaian. Tak lupa ia pun mencuci serta jas milik Rain yang kemarin sore kebasahan akibat hujan dan juga sapu tangan milik Rain yang diberikan kepadanya.
Setelah kegiatan mencucinya selesai, sambil bersenandung riang ia pun menjemur semua pakaian yang telah dicucinya tadi ketempat jemuran yang berada dihalaman samping rumah.
Saat sedang asyik dengan kegiatannya, Carla tak menyadari keberadaan Alex yang ternyata telah berdiri dibelakangnya sejak tadi sambil memperhatikan sesuatu yang berada diatas jemuran.
Saat hendak mengambil kembali pakaian yang akan dijemurnya dari dalam ember yang berada beberapa langkah dibelakangnya, Carla tak sengaja menabrak tubuh Alex saat ia baru saja memutar badannya kebelakang.
"Ahh...Alex...!!" Seru Carla kaget.
Alex yang ikut terkejut pun hanya memundurkan tubuhnya sedikit.
"Carla...hati - hati dong sayang," ucap Alex.
"Iya maaf, habisnya aku tidak tahu kalau kamu ada dibelakangku."
"Ya sudah, tidak apa - apa."
__ADS_1
"Memangnya sejak kapan kau ada di belakang ku ?"
"Sejak tadi," jawab Alex santai dengan kedua tangannya yang dimasukkan didalam saku celananya.
"Kenapa tidak bilang ? mengagetkanku saja," ucap Carla sambil mengambil kembali pakaian dari dalam ember, lalu berbalik kearah jemuran.
"Ng...ngomong - ngomong, itu jas siapa ya ? sepertinya itu bukan milikku ?" tanya Alex tiba - tiba yang membuat mata Carla membulat karena terkejut.
"Y-Yang mana ?" tanya Carla gugup.
"Itu...yang itu, jas yang berwarna biru muda disebelah sana," ucap Alex sambil menunjuk kearah jas yang dimaksud.
Hati Carla pun berdegup ketakutan, ia bingung harus menjawab apa.
"Gawat, Alex melihatnya. Duh bagaimana ini, bagaimana aku harus menjelaskannya," batin Carla cemas.
"Ng...i-itu j-jas milikku," jawab Carla terbata.
"Milikmu ?...sejak kapan kau memiliki jas seperti itu ? lagipula itu kan jas untuk laki - laki ?" tanya Alex penuh selidik.
"I-Iya, itu memang pemberian temanku," Carla menelan ludahnya kasar dengan jantung yang masih berdetak cepat.
"Pemberian temanmu ?...temanmu yang mana hah ? apakah temanmu itu laki - laki ?" tanya Alex lagi dengan nada sedikit tinggi.
"Ng...t-teman kerjaku ditempat aku bekerja dulu," lagi - lagi Carla berbohong pada Alex.
"Temanmu itu laki - laki ?" Alex seolah menyudutkan Carla dengan pertanyaan ini.
"I-Iya, dia atasanku. Waktu itu jasnya kotor dan akan dibuang olehnya, lalu aku minta karena kupikir sayang jika jas nya dibuang," ucap Carla. "Kali ini rasanya ceritaku tidak terlalu mengada ada karena hampir mirip dengan yang sebenarnya kan," pikir Carla.
"M-Maaf," kali ini tubuh Carla gemetar karena takut melihat sorot mata Alex yang penuh emosi.
"Hah...maaf katamu. Aku tak habis pikir denganmu Carla, bagaimana bisa kau meminta jas bekas yang ada nodanya seperti itu pada lelaki lain ? itu memalukan, kau benar - benar tidak punya harga diri. Atau jangan - jangan...," Alex menghentikan kalimatnya dan menyipitkan matanya kearah Carla seolah ada sesuatu yang timbul dibenaknya.
Melihat itu Carla semakin merasa takut, takut kalau Alex tiba - tiba memukulnya.
"Jangan - jangan kau mengarang cerita untuk menutupi bahwa sebenarnya kau sedang berselingkuh di belakang ku ?" tuduh Alex yang membuat mata Carla kembali membulat menatap tak percaya.
"Apa kau bilang ? aku selingkuh ?...bagaimana bisa kau menuduhku seperti itu ?" Carla menggeleng tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya dari mulut Alex.
"Itu buktinya, kau punya jas dari pria lain."
"Itu memang jas dari pria lain, tapi bukan berarti aku selingkuh dengannya."
"Tentu saja kau tidak akan mengakuinya, dasar gadis tukang bohong."
"Alex....!" pekik Carla kesal.
"Apa ?...kau mau bilang apa lagi hah ? kena kau sekarang ya, ternyata selama ini kau selingkuh dibelakang ku kan ?" Alex semakin menyudutkan Carla.
"Tidak ! Itu tidak benar, aku tidak berselingkuh di belakangmu."
"Kau pikir aku percaya dengan ucapanmu, awas kau ya, jika nanti akhirnya kau terbukti selingkuh, maka jangan harap aku akan mengijinkanmu untuk tinggal di rumah ku lagi !" Ancam Alex.
"Kalau begitu buktikan saja, aku tidak takut. Karena aku memang tidak selingkuh darimu."
"O ya ? lihat saja nanti."
__ADS_1
"Drrtt...drrtt...drrtt...." tiba - tiba ponsel Alex pun berdering.
Alex memeriksa ponselnya dan melihat nama orang yang menghubunginya. "Jessica ? mau apa lagi sih dia ?" batin Alex kesal setelah mengetahui siapa yang menghubunginya saat ini.
"Baiklah, urusan kita belum selesai, nanti kita teruskan lagi. Aku mau menjawab teleponku dulu," ucap Alex, lalu bergegas masuk kedalam rumah untuk menjawab panggilan dari Jessica.
Sementara itu Carla kini masih berdiri dengan lemas, tatapan nya penuh dengan kesedihan. "Alex, teganya kau menuduhku seperti itu," ucap Carla lirih, lalu menarik napas panjang.
Kemudian Carla pun melanjutkan kembali kegiatan menjemur bajunya hingga selesai. Dalam hati ia merasa bersyukur karena tadi belum sempat menjemur sapu tangan milik Rain. "Aku akan menjemur sapu tangan ini dibalkon ku saja, agar Alex tak melihatnya," batin Carla.
*
*
Didalam rumah, tepatnya didalam kamarnya, Alex tengah berbincang dengan Jessica melalui ponselnya.
"Jessica, yang benar saja ini kan hari minggu, masakan aku harus menemuimu juga ? bukankah selama seminggu ini aku setiap hari menemui mu untuk makan malam. Hari ini biarkan aku istirahat menemani Carla dirumah ya ?"
"Tidak bisa, pokoknya kau harus datang ke apartemenku sekarang. Atau kalau tidak aku akan menghubungi orang tuamu dan memberitahu tentang rahasia ayah Carla."
"Astaga, kau selalu saja mengancamku seperti itu. Bukankah kau sendiri yang bilang bahwa aku harus bersikap adil dalam membagi waktuku untukmu dan Carla. Kalau begini terus, kasihan Carla, aku jadi tidak punya waktu lagi untuknya."
"Aku tidak perduli. Aku tidak suka jika kau mengacuhkanku, aku ingin kau selalu ada bersamaku setiap aku menginginkannya."
"Ck...Jessica, kau ini egois sekali."
"Kalau kau tidak mau, juga tidak apa - apa. Tapi jangan salahkan aku, jika setelah ini kedua orang tuamu tahu segalanya tentang Carla."
"Hah...iya baiklah, aku akan kesana sekarang juga," Alex segera menutup panggilannya dengan kesal.
"Sial !! Jessica benar - benar memanfaatkan ku sekarang," Alex mengusak rambutnya dengan kasar.
Tak lama kemudian, Alex pun telah berpakaian rapi dan siap untuk berangkat ke apartemen Jessica.
Carla yang kini tengah duduk disofa ruang tamu, merasa heran dibuatnya.
"Kau mau kemana Alex ?" tanya Carla.
"Ng...aku mau menemui klien bisnisku," bohong Alex.
"Menemui klien dihari minggu ? kenapa tidak besok saja dihari kerja ?"
"Tidak bisa, karena ini menyangkut masalah penting di perusahaan, jadi aku harus menemuinya sekarang."
"Begitukah ?"
"Eumm...," jawab Alex singkat sambil terus menghindari tatapan mata Carla.
"Yahh...padahal ini hari minggu, aku pikir kita bisa menghabiskan waktu bersama dirumah setelah seminggu ini kau selalu pulang terlambat. Tapi..ya sudahlah, mau bagaimana lagi," ucap Carla pasrah.
"Kau mengerti kan kalau aku akhir - akhir ini sibuk ?"
"Iya aku mengerti.Ya sudah, kalau begitu kau pergilah.Tapi kalau bisa pulangnya jangan terlalu malam ya," pinta Carla.
"Iya, akan aku usahakan."
Setelah mengecup kening Carla, Alex pun berpamitan pergi.
__ADS_1