Adakah Cinta Untuk Carla

Adakah Cinta Untuk Carla
Bab 18


__ADS_3

Keesokkan harinya dikantor, Alex yang tengah sibuk mengerjakan tugas kantornya tiba - tiba dikejutkan dengan kehadiran Jessica yang tiba - tiba di ruangan nya.


"Ckk...siapa suruh kau masuk begitu saja ? Sekretaris...!" teriak Alex dengan nada tak suka melihat Jessica yang tiba - tiba saja muncul dihadapannya kini setelah sekian lama tak bertemu dengannya.


"Iya pak..," sahut sang sekretaris yang dengan terburu buru masuk kedalam ruangan kantornya.


"Kenapa kau ijinkan dia masuk kedalam ruangan ku hah ?...kau tidak seharusnya mengijinkan masuk tamu yang tidak mempunyai janji temu denganku !" bentak Alex kepada sekretarisnya.


Mendengar itu Jessica pun memutar bola matanya malas sambil mengnyilangkan tangannya didada. "Ck...," decaknya.


"M-Maaf pak, tadi saya juga sudah melarang nona Jessica untuk masuk kedalam, tapi...nona tetap memaksa untuk masuk pak," jelas sang sekretaris dengan terbata karena takut.


"Hh..sudahlah Alex, tak ada gunanya kau memarahi sekretarismu itu. Bagaimana pun aku ini sahabatmu dan berhak menemuimu kapan saja aku mau," ucap Jessica sembari mendudukan dirinya di kursi didepan meja Alex.


Alex menghela nafas kasar, matanya menatap tajam Jessica dengan penuh emosi.


"K-Kau...benar - benar tidak tahu malu....," kesal Alex.


Melihat itu, sang sekretaris yang merasa tidak enak berada ditengah ketegangan mereka pun memilih untuk undur diri dari ruangan tersebut.


"M-Maaf pak, kalau begitu saya kembali ke ruangan saya dulu," pamit sang sekretaris.


Dan kini hanya tinggal Alex dan Jessica, berdua didalam ruangan tersebut.


Jessica tersenyum miring sambil memandang Alex yang masih menatapnya dengan emosi.


"Apa kabar Alex, sudah beberapa hari kita tidak bertemu sejak kejadian malam itu."


"Cukup jangan bahas hal itu lagi, aku tidak mau mengingatnya lagi."


"Kau mungkin bisa melupakannya, tapi aku sama sekali tidak bisa. Apalagi malam itu kau sangat pandai bermain, membuatku tak berdaya dalam pelukanmu. Aku bahkan menginginkan agar malam itu tidak cepat berakhir. Entah kapan kita bisa melakukannya lagi ?" Jessica menggigit bibirnya dengan tatapan menggoda kearah Alex.


"Ck...omong kosong. Aku bahkan tak mengingat sedikit pun apa yang kulakukan malam itu padamu."


"Oh ya...lalu bagaimana dengan semua hal tentang Carla yang telah kau ceritakan padaku malam itu, apa kau mengingatnya ?"


Tiba - tiba Alex terbelalak kaget, ia merasa was - was dengan apa yang baru saja diucapkan Jessica.


"Apa maksudmu ?....rahasia tentang Carla apa yang ku cerita kan padamu hah ?"


"Tentang ayahnya," jawab Jessica dengan santainya.


"A-Apa ?...,"


"Heuhh..kau lupa ya ?"


Alex pun terdiam dan mencoba mengingat kembali kejadian malam itu. Sekuat tenaga ia mencoba mengingatnya dan akhirnya...


"Astaga...bodohnya aku, bagaimana bisa menceritakan tentang ayah Carla yang dipenjara pada Jessica," batin Alex cemas karena kenyataannya kini ia pun sudah mampu mengingatnya kembali dengan jelas semua perkataannya tentang Carla pada Jessica malam itu.


"Masih tidak ingat juga hmm...?" Jessica memajukan tubuhnya kearah Alex diatas meja.


"Ahh...sudahlah aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan. Lebih baik kau pergi sana, aku muak melihatmu !" Alex berusaha mengusirnya karena ia tak ingin membahas soal itu dengan Jessica.


"Hmm... kau berusaha menghindari ku rupanya. Dengar ya, saat ini aku sudah mengetahui rahasia mengenai ayah Carla yang berada dipenjara. Jadi jika kau tidak ingin kedua orang tuamu tahu yang sebenarnya, kau harus mau bersikap baik denganku."


"Sial !!...jadi kau mengancam ku hah..?"


"Bukan mengancam mu, hanya memberimu peringatan saja," ucap Jessica sambil tersenyum licik.


"Lalu sekarang apa maumu hah ?"


"Aku mau agar kau selingkuh denganku."


"Apa ?...kau gila ya. Dasar wanita tidak punya harga diri, bagaimana bisa kau menawarkan dirimu untuk menjadi simpananku ?"


" Bagiku tidak masalah walau hanya jadi simpananmu saja saat ini, aku juga ingin merasakan dicintai olehmu Alex. Aku mohon bagilah sedikit cintamu kepada Carla untukku !"


"Aku sudah mengenalmu sejak kecil Jessica, tapi aku tak menyangka kalau kau semurah ini. Aku menyesal mempercayaimu selama ini."


"Ini semua kulakukan karena aku mencintaimu Alex."

__ADS_1


"Tidak, aku tidak mau. Aku tidak bisa mengkhianati Carla dengan berselingkuh denganmu," tolak Alex.


"Jadi kau tidak mau hmm ?"


"Iya, aku tidak mau," ucap Alex yakin.


"Baiklah kalau begitu, aku akan memberitahu semuanya pada kedua orang tuamu sekarang juga," Carla mengangkat ponselnya dan berbuat seolah hendak menghubungi orang tua Alex.


"Jangan !...hentikan! aku tak ingin orang tuaku merendahkan Carla dan menyakiti hatinya jika mereka tahu yang sebenarnya," Alex mencoba mencegahnya dan memohon.


"Baiklah kalau begitu, turutilah permintaanku!"


"Arrggghhh..brengsek !...kau benar - benar wanita licik Jessica."


"Jadi kau mau atau tidak hah ?"


"Baiklah aku mau," ucap Alex kemudian dengan terpaksa.


Jessica pun tersenyum puas penuh kemenangan.


"Bagus..., kalau begitu mulai hari ini aku akan jadi simpanan mu. Ingat kau harus bisa membagi waktumu dengan baik antara aku dan Carla. Kau juga harus selalu ada di sisi ku disaat aku membutuhkan mu. Jika kau tidak menuruti semua perkataanku, maka aku akan membocorkan rahasia Carla pada orang tuamu."


"Iya baiklah, terserah kau saja," kesal Alex.


Jessica pun bangkit berdiri dan menghampiri Alex, lalu kemudian ia pun mengecup Alex dengan tiba - tiba.


"Shitt...apa yang kau lakukan," Alex terkejut dan berusaha menghindarinya.


"Tenang sayang, ini baru permulaan hubungan diantara kita. Selanjutnya pasti akan lebih dari ini...," Jessica tersenyum nakal sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Cihh...cepat pergi sana!" Alex merasa muak dengan perlakuan Jessica barusan.


Dengan tenang Jessica pun melangkah menuju kepintu dan sebelum menutup pintunya ia pun memberikan fly kiss kepada Alex. "Sampai ketemu lagi sayang, mmuahh..bye..," lalu kemudian ia pun menutup pintunya dengan senyum kemenangan.


"Dasar menjijikan," Alex bergidik jijik setelah kepergian Jessica.


*


*


Rain tampak berjalan memasuki dapur, melihat hal itu para karyawan yang ada di dapur tersebut segera membungkuk memberi hormat, kecuali Carla yang malah melongo menatapnya.


"Mau ngapain tuh si sombong kemari ?" batin Carla.


"Sstt..Carla, nunduk iihh..kasih hormat pada tuan muda, bukannya malah bengong !" bisik Peniel yang berdiri disamping Carla.


"Ehh...iya," Carla pun terpaksa membungkuk memberi hormat mengikuti yang lain.


"Tuan muda, apa ada yang bisa saya bantu ?" tanya Peniel sopan.


"Eumm...aku mau bicara dengan gadis itu," ucap Rain sambil menunjuk kearah Carla.


"Aku ?" tanya Carla sambil menunjuk pada dirinya sendiri.


"Iya, kau. Siapa lagi memangnya ?"


"Mau bicara apa memangnya ?" tanya Carla.


"Sstt..jangan begitu pada tuan muda, tidak sopan tahu," lagi - lagi Peniel berbisik pada Carla.


"Ehh...iya, maaf. Memang tuan muda hendak berbicara apa pada saya ?" Carla pun tiba - tiba merubah intonasi dan ucapannya menjadi lebih sopan terhadap Rain.


Mendengar itu, Rain pun tersenyum senang, "Tidak sia - sia kau mendidiknya Peniel," ucap Rain memuji Peniel.


"Ahh..terimakasih tuan muda, saya hanya melakukan sebisa saya saja kok tuan," Peniel merasa senang mendapat pujian dari bos mudanya tersebut.


Mendengar itu Carla malah memutar bola matanya malas. "Hmm..aku begini juga karena terpaksa," batinnya.


"Kau ikut aku sekarang, kita bicara ditempat lain saja!" perintah Rain lalu berbalik dan berjalan mendahului Carla.


"Duh mau apalagi sih dia ?" batin Carla.

__ADS_1


Melihat Carla yang hanya diam saja, Peniel pun menyenggol bahunya. "Hei Carla, kenapa kau diam saja ? cepat sana kau ikuti tuan muda !" perintah Peniel.


"I-Iya, ini aku juga baru mau jalan," ucap Carla lalu segera berjalan terburu buru mengikuti Rain yang sudah mulai menjauh dari hadapannya.


Peniel pun hanya bisa geleng - geleng kepala melihat tingkah Carla.


*


*


Carla berjalan mengikuti Rain hingga tiba dirooftop gedung kafe.


"Kenapa harus disini sih bicaranya ?" protes Carla sesampainya dirooftop.


"Memangnya kenapa ?" Rain menoleh kearah Carla.


"Capek tahu naiknya," gerutu Carla.


"Ck...ngeluh terus kerjaannya."


"Kakiku pegal beneran tahu gara - gara menaiki anak tangga beberapa kali."


"Ck..mana sini kakimu yang pegal," tanpa babibu tiba - tiba Rain berjongkok dan langsung memijat lutut hingga ketumit Carla.


"Ehh..apa - apaan kamu," Carla yang saat itu menggunakan rok ketat selutut pun segera mundur kebelakang karena kaget dengan perlakuan Rain barusan.


"Katanya kakimu pegal, makanya aku pijati. Tapi kau malah tidak mau."


"Jelas tidak mau, itu kan tidak sopan tahu."


"Makanya jangan suka mengeluh kalau tidak ingin kakimu itu kusentuh," Rain pun kembali bangkit berdiri.


"Apa yang ingin kau bicarakan kepadaku hah ?" tanya Carla kemudian.


"Mengenai tadi malam. Kau ingat kan kalau semalam kau belum menjawab pertanyaanku ?"


"Waduh gawat, dia mengingatnya lagi," batin Carla cemas. "Ng...pertanyaan yang mana ya ? aku kok tidak ingat," ucap Carla pura - pura lupa.


"Pertanyaan ku tentang ruangan yang ingin kau masuki semalam, memang itu ruangan siapa ? kenapa kau mau masuk kedalam sana ?"


"Ohh...itu...ng...k-kalau itu sih sebenarnya, aku salah mau masuk ruangan, aku pikir itu pintu menuju ke toilet." Carla membuat alasan yang tak masuk akal.


"Apa ?...kau mengira itu toilet ??...yang benar saja, jelas - jelas disitu tertulis ruangan khusus tamu vip, sama persis dengan ruangan yang ku pesan. Bisa - bisanya kau mengira itu toilet, kau ini bodoh atau apa hah ?"


"Ya..kan namanya juga aku salah mengira."


"Alasanmu itu benar - benar tidak masuk akal. Ayo katakan yang sejujurnya padaku, kau pasti menemui orang lain selain aku ya ?"


"Duh kok tebakannya bisa tepat ya sisombong ini, bagaimana ini ? apa aku jujur saja ya ?" batin Carla.


"Ng...maaf, sebenarnya semalam aku memang ada janji dengan orang lain juga."


"Apa kau bilang ?...kau ada janji dengan siapa selain denganku ? jangan bilang kalau dia itu laki - laki."


"I-Iya, dia memang lelaki. D-Dia pacarku," akhirnya Carla pun berkata jujur.


"A-Apa ?...k-kau sudah punya pacar ?" entah kenapa hati Rain terasa sakit mendengar hal itu.


"Iya, aku sudah punya pacar. Memangnya kenapa ?"


"Kenapa kau tidak bilang padaku sejak awal," Rain merasa kecewa.


"Kau kan tidak pernah bertanya, lagi pula untuk apa aku harus menceritakan hal pribadiku padamu."


"Jadi kau mempermainkanku semalam ?"


"Maaf, aku tidak bermaksud untuk mempermainkanmu. Hanya saja kau membuat janji makan malam secara sepihak tanpa meminta persetujuanku terlebih dulu, dan sialnya tempat yang kau pesan sama dengan yang dipesan oleh pacarku."


"Ahh..sudahlah. Jangan banyak bicara lagi, aku malas mendengar alasanmu," Rain pun melangkah pergi meninggalkan Carla dengan perasaan sedih yang tak dapat dimengerti bahkan oleh dirinya sendiri.


Carla menatap punggung Rain yang semakin menjauh dengan perasaan bersalah.

__ADS_1


"Aneh, kenapa aku merasa bersalah seperti ini ya. Padahal dia kan bukan siapa - siapa ku, tapi aku malah merasa telah menyakiti hatinya," Carla pun tak mengerti dengan perasaannya sendiri.


__ADS_2