
"T-tuan muda R-Rain ?" lidah Carla tercekat melihat seorang pria dihadapannya yang baru saja mencekal pergelangan tangan kanannya.
"Eumm...ini aku. Aku mencarimu dan menunggumu didepan toilet wanita, tapi kau tak kunjung keluar dari sana. Jadi aku berkeliling dan menemukan mu disini," ucap Rain menatap lekat kearah Carla.
"M-maaf, aku pasti lama ya ?" Carla kikuk.
"Banget....lama pake banget, sampai aku harus keluar mencarimu."
"M-maaf," sekali lagi Carla hanya bisa mengucapkan kata maaf.
"Oya tadi kau bilang perutmu bermasalah dan ingin pulang. Tapi kenapa baru saja kulihat kau mau masuk kedalam ruangan ini ?" tanya Rain heran sambil menunjuk ruangan yang ada dihadapannya itu.
"Hah ?...ng...a-anu...itu..aku..ng..," Carla bingung harus menjawab apa. "Aduh bagaimana ini, aku harus bilang apa padanya ?..aduh mana siAlex didalam ruangan lagi duhh...," batin Carla gelisah.
"Drrtt...drrttt...drrtt...," tiba - tiba ponsel Rain berdering.
"Tunggu sebentar, aku mau jawab telepon dulu," ucap Rain lalu berjalan sedikit menjauh dari Carla.
"Hufftt...," untuk sejenak Carla dapat bernafas lega, namun meskipun begitu hatinya tetap saja tidak merasa tenang, karena setelah menjawab teleponnya, Rain pasti akan menanyakan hal yang sama lagi kepadanya.
Carla pun berpikir keras, mencoba mencari alasan yang tepat untuk memberikan jawaban kepada Rain nanti.
Dan benar saja, setelah selesai menerima panggilan telepon, Rain pun kembali menghampiri Carla yang kini masih setia menunggu didepan ruangan Alex.
"Carla...."
"I-Iya tuan muda."
"Mmm...aku pulang duluan ya, soalnya tiba - tiba aku ada urusan mendadak dengan klien bisnis di perusahaan ayahku," ucap Rain seolah lupa dengan pertanyaannya tadi kepada Carla.
"Oh begitu, ya sudah kalau begitu kau harus cepat pergi untuk menyelesaikan urusanmu, karena urusanmu itu pasti sangat penting," tiba - tiba mata Carla jadi berbinar senang.
"Eumm...maaf ya, aku tidak bisa mengantarmu pulang."
"Iya tidak apa - apa, lagipula aku bisa pulang sendiri kok."
"Ya sudah kalau begitu aku pergi dulu ya, sampai bertemu besok," Rain segera pergi meninggalkan Carla.
"Yess...akhirnya dia pergi juga. Hmm...sepertinya dia lupa dengan pertanyaannya tadi...hihihi...," Carla malah nyengir senang, sebelum akhirnya ia pun kembali masuk kedalam ruangan dimana Alex berada.
"Cuma pesan air mineral saja, kok lama banget sih sayang ?" protes Alex yang sudah bosan menunggu sejak tadi.
"Iya sayang maaf, tadinya memang mau pesan air mineral tapi gak jadi, soalnya pelayannya pada sibuk semua mondar mandir kesana kemari nganterin pesanan buat para pelanggan," bohong Carla yang entah keberapa kalinya hari ini.
"Masa sih seramai itu ?" Alex seolah tak percaya dengan penuturan Carla barusan.
__ADS_1
"Iya sayang, benar kok."
"Seharusnya kalau kamu gak jadi pesan air mineral, kamu langsung kembali kesini lagi saja, tidak usah menunggu diluar sana terlalu lama," omel Alex.
"Iya, maaf," Carla menunduk takut.
"Ya sudah, ayo cepat habiskan makannya, lalu kita pulang."
"Iya baiklah," dengan terpaksa Carla pun kembali menyantap sisa makanan yang belum dihabiskannya tadi.
Sementara itu didalam hati Alex, tersirat suatu tanda tanya, ia merasa ada yang aneh dari sikap Carla malam itu. Namun begitu, Alex memilih untuk menyimpannya dalam hati, ia enggan membuat suasana malam itu menjadi tidak baik.
*
*
Malam telah larut, Carla dan Alex pun kini telah kembali kerumah.
Carla yang kini terbaring diatas ranjang tempat tidurnya, termenung menatap ke langit langit atap kamarnya.
"Hhh....hari ini benar - benar melelahkan...aku terpaksa membohongi kedua pria itu. Maafkan aku Alex....Rain...., sebenarnya aku tak bermaksud berbuat seperti itu pada kalian," ucap Carla dalam hati dengan perasaan bersalah.
"Tokk...tokk..tokkk...," terdengar suara ketukan diluar pintu kamar Carla.
"Siapa ?" teriak Carla.
"Belum, masuklah jika kau ingin masuk."
Tak lama kemudian, Alex pun masuk kedalam kamar Carla lalu mendudukan dirinya ditepi ranjang tempat tidur Carla.
"Kau kenapa ? tidak bisa tidur lagi ?" tanya Carla dengan posisinya yang masih berbaring ditempat tidur.
"Eumm...aku susah tidur."
"Kenapa ?...apa kau sedang gelisah ?"
"Entahlah...., aku sendiri juga tidak tahu. Ng...apa aku boleh tidur disini lagi seperti waktu itu ?"
"Tuh kan jadi kebiasaan deh. Kalau gak bisa tidur, kamu pasti kesini minta tidur bareng aku. Dengar ya, kita ini belum sah sebagai suami istri, gak baik kalau keseringan tidur bareng, nanti kalau terjadi hal yang tidak diinginkan bagaimana ?" cerocos Carla panjang lebar, namun Alex hanya tersenyum menanggapinya.
"Enggak sayang, tenang aja. Aku gak bakalan macam - macam, seperti malam itu aku hanya ingin memelukmu sampai pagi," Alex mencoba meyakinkan Carla.
"Emm...," Carla tampak berpikir sejenak. "Ya udah deh iya, boleh," lanjutnya kemudian.
Alex tersenyum senang mendengar jawaban dari Carla. Lalu ia segera membaringkan tubuhnya disamping Carla.
__ADS_1
"Aku peluk ya," ucap Alex.
"Eumm..," jawab Carla sembari mengangguk.
Alex pun kemudian memiringkan tubuhnya kesamping kearah Carla dan melingkarkan tangannya di pinggang Carla yang kini masih dalam posisi telentang.
"Yang...," Alex mendekatkan wajahnya kearah pipi Carla.
"Eumm...apa ?" tanya Carla sembari melirik kewajah Alex yang kini hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya.
"CUP...!!" tiba - tiba Alex langsung mengecup pipi Carla.
"Ihh...Alex...," Carla mempoutkan bibirnya lucu.
"Kenapa ?...mau dicium dibibir juga ?" Alex tersenyum nakal.
"Ihh..bukan begitu, tadi kan bilangnya gak akan macam - macam," protes Carla.
"Lah ini kan juga gak macam - macam, cuma satu macam, cuma cium pipi kamu aja kok."
"Ya itu namanya udah macam - macam," protes Carla lagi.
"Kalau macam - macam tuh kayak gini...," ucap Alex lalu kemudian...
"Mmmpphhh...mmpphh..ahh..mmhh..," tanpa seizin Carla, Alex langsung mencium bibir Carla dengan penuh hasrat.
"Alex..ahh..mmpphh..ahh..mmmhh...," Carla pun tak berdaya menahan Alex dan akhirnya keduanya pun larut dalam ciuman mesra malam itu. Tangan Carla meremas kemeja piyama milik Alex, sementara Alex dengan lihainya mulai memainkan lidahnya didalam mulut Carla.
Setelah beberapa menit berlalu, Alex pun melepaskan tautan bibirnya dengan Carla. Keduanya saling menatap dengan napas yang terengah ngengah.
"Alex...," Carla.
"Apa ?" Alex.
"Aku takut," Carla.
"Takut kenapa ?"
"Takut kalau kita tidak dapat menahan hasrat kita berdua dan akhirnya hubungan kita melebihi batas."
Alex tersenyum mendengar penuturan Carla barusan. Lalu kemudian ia pun mengecup kening Carla dengan lembut.
"Tidak sayang, itu tidak akan terjadi. Maaf aku sudah membuatmu takut," ucap Alex sambil mengusap lembut rambut Carla. "Lagipula aku juga tidak akan memaksamu untuk 'melakukan hal itu' tanpa seijinmu. Kau tahu aku sangat menyayangimu, karena itu aku tidak akan melakukan hal semacam itu sebelum waktunya tiba. Kau mengerti kan ?"
"Eumm...aku mengerti. Ya sudah sekarang kita tidur saja ya, jangan macam - macam lagi," pinta Carla.
__ADS_1
"Iya sayang, kali ini kita akan tidur saja, tidak akan berbuat yang lain selain tidur, percayalah padaku."
"Eumm...," Carla pun segera membalikkan badannya kesamping membelakangi Alex. Sementara Alex memeluknya dari belakang.