Adakah Cinta Untuk Carla

Adakah Cinta Untuk Carla
Bab 22


__ADS_3

"APA???" Alex terbelalak kaget mendengar permintaan Jessica.


"Kenapa? bukankah kita sudah pernah melakukannya sebelumnya, jadi kenapa kau harus memasang wajah kaget seperti itu?" Jessica menyilangkan kedua tangannya di dada.


"Tapi waktu itu kan aku sedang mabuk, aku melakukannya dalam keadaan tidak sadar, dan bukan karena kemauanku."


"Kalau begitu, sekarang lakukan lagi dalam keadaan sadar," Jessica masih terus memaksa.


"Astaga Jessica, kau benar - benar tidak punya harga diri ya. Bagaimana bisa kau meminta hal seperti itu pada seorang laki - laki hah?"


"Tidak masalah bagiku, asalkan itu kau yang melakukannya padaku. Ayolah aku mohon jangan banyak berdiskusi, aku hanya ingin bercinta denganmu sekarang," kali ini tanpa permisi Jessica langsung duduk mengangkang dipangkuan Alex dan wajahnya menghadap ke arah Alex. Ia sengaja membiarkan rok yang dipakainya sedikit tersingkap keatas, lalu mulai membuka satu persatu kancing baju bagian atasnya sendiri.


"Sial...dasar gadis murahan!" Alex memundurkan tubuhnya dan bersandar pada kepala sofa, lalu memalingkan wajahnya kearah lain.


Sementara Jessica kini telah melucuti pakaian bagian atasnya sendiri dan membuangnya ke sembarang arah. Ia hanya menyisakan bra yang menutupi buah dadanya saja, lalu kemudian tangan kanannya mulai membelai wajah Alex.


Alex memejamkan matanya sambil menahan rasa jijik dihatinya. Ia membiarkan Jessica yang kini mulai bermain main di bibirnya, sementara sebelah tangan kirinya mulai meremas gundukan dibalik celana panjang Alex.


"Maafkan aku Carla," Alex berucap pedih didalam hatinya.


Dan terjadilah hal yang diinginkan oleh Jessica, sekuat tenaga Alex menahan diri untuk tidak tergoda namun pada akhirnya pertahanan nya pun runtuh juga.


Jessica tersenyum penuh kemenangan, dengan terpaksa Alex pun melayani keinginan hasratnya. Mereka melakukannya disofa dan berlanjut didalam kamar Jessica.


*


*


Carla yang sejak tadi masih berkutat didepan televisi hanya demi menghabiskan waktu jenuh nya, seketika merasakan sesuatu yang tidak enak dihatinya.


"Aneh, kenapa tiba - tiba aku merasakan sesuatu yang tidak enak dihatiku. Perasaan ini sama seperti saat Alex tidak pulang beberapa waktu yang lalu. Apakah terjadi sesuatu pada Alex?" kekhawatiran pun muncul dibenak Carla.


"Ahh...apa ku telepon Alex saja ya?" pikir Carla lalu meraih ponselnya, kemudian mendial nomor Alex.


"Drrtt...drrtt..drrtt...," ponsel Alex yang berada diatas meja nakas disamping tempat tidur Jessica pun berdering.


Alex ditengah permainan panasnya dengan Jessica, seketika melirik kearah ponselnya dan melihat nama Carla disana.


Alex hendak meraihnya, namun tiba - tiba Jessica yang kini berada di atasnya segera mengambil ponsel itu dan melemparkannya kesofa yang tak jauh dari ranjang tempat tidurnya.


"Ck...mengganggu saja...ahh..ahh..," ucap Jessica tanpa menghentikan permainannya.


"Jessica, kau memang brengsek!" umpat Alex.


"Sudahlah jangan banyak bicara, kita nikmati saja permainan ini ahh..ahh...ahh," mata Jessica merem melek menikmati permainannya, sementara Alex yang berada dibawahnya hanya bisa pasrah dan membiarkan Jessica yang bermain diatasnya hingga hasratnya terpuaskan.


"Dasar wanita jalang, aku menyesal memilihmu sebagai sahabatku sejak kecil," batin Alex.


*

__ADS_1


*


Sementara itu Carla merasa sangat kesal karena panggilannya tak mendapat jawaban dari Alex, ia mencoba menghubunginya berulang ulang namun tak kunjung mendapat jawaban.


"Ck..Alex sedang apa sih? kenapa panggilanku tidak dijawab," Carla meletakkan kembali ponselnya dimeja dengan kesal.


Carla pun melihat kearah jam dinding, "Sudah jam 3 sore, tapi Alex belum pulang juga," ucapnya sambil mempoutkan bibirnya kesal.


"Apa yang harus kulakukan lagi sekarang? nyuci baju sudah, masak sudah, nonton televisi udah bosan dari tadi, mana acaranya jelek semua lagi, uhh...bosaannn...bosaann...," Carla menggerutu sambil mengusak rambutnya kasar.


"Drrtt...drrtt...drrtt...," perhatian Carla tiba-tiba teralihkan pada bunyi ponselnya yang berdering.


"Apakah itu Alex?" pikirnya, lalu segera melihat siapa yang menghubunginya, "Yah bukan, tapi..ada apa Rain menghubungi ku, apa benar dia merindukan ku seperti yang dikatakan Peniel?"


Ya, ternyata yang menghubunginya adalah Rain. Karena setelah Rain bergumul dengan pikirannya selama berjam jam dikantornya, akhirnya ia pun mengambil keputusan untuk menghubungi Carla.


"H-Halo tuan muda," Carla menjawab panggilan telepon dari Rain.


"Ng...Carla kau...s-sedang apa sekarang?" Rain tampak gugup diseberang telepon.


"Aku...ng...aku sedang libur."


"Iya aku juga tahu kalau kau sedang libur, maksudku apa yang sedang kau lakukan sekarang? dimana dan dengan siapa?"


"Hah panjang amat pertanyaannya," batin Carla. "Ng...aku sedang menonton televisi dirumah sendirian," jawabnya kemudian dengan sangat detailnya.


"Ohh...apa?" tanya Carla tak mengerti.


"Tidak maksudku...ng...kupikir kau sedang berkencan dengan pacarmu."


"Tidak kok, aku sedang tidak berkencan."


"Kenapa tidak berkencan? ini kan hari libur, biasanya pasangan lain akan menikmati kencan dihari libur seperti ini," pertanyaan basi basi yang dilontarkan Rain. Padahal dalam hatinya, Rain sebenarnya tak rela jika seandainya hari ini Carla berkencan dengan pacarnya.


"Tidak, pacarku sibuk, jadi kami tidak bisa berkencan hari ini," jawab Carla dengan nada yang terdengar sedih.


"Oh...begitu ya. Ya sudah jangan sedih, bagaimana kalau aku menghiburmu."


"Bagaimana caramu menghiburku?"


"Ayo kita bertemu, aku akan mengisi hari suntukmu dan menghiburmu, bolehkan?"


"Bertemu?"


"Iya, ayo kita bertemu di taman kota."


Carla tampak berpikir sejenak, "Duh..bagaimana jika nanti disaat aku pergi dengannya, Alex tiba - tiba pulang kerumah."


"Ng...s-sepertinya aku tidak bisa pergi untuk bertemu denganmu hari ini."

__ADS_1


"Loh kenapa? bukankah kau juga tidak ada acara hari ini?" tersirat kekecewaan dalam ucapan Rain.


"Iya sih, tapi ini kan sudah sore, kalau kita pergi sekarang, nanti bisa - bisa pulangnya malam lagi," Carla beralasan.


"Tidak perlu takut, meskipun pulang malam, aku akan mengantarmu sampai depan rumah," Rain berusaha membujuk.


"Ahh...tidak, pokoknya aku tidak bisa pergi. Aku takut nanti malam pacarku datang dan mengajakku untuk kencan bersamanya," ucap Carla spontan tanpa memikirkan perasaan Rain.


".......," Rain terdiam tak menjawab.


"Rain..?" panggil Carla karena tak mendengar jawaban dari Rain.


Dan tak lama kemudian,


"Tuutt...tuutt...tuutt..," panggilan terputus secara sepihak.


"Aneh, kenapa sambungannya terputus? apa dia yang mematikan panggilannya? astaga..apa dia marah padaku sekarang?" Carla baru menyadari apa yang diucapkannya tadi pada Rain ditelepon.


"Duh..harusnya aku tidak memakai alasan itu tadi, uhh bodohnya aku..," Carla merutuki kebodohannya sambil memukul mukul kepalanya sendiri.


*


*


Didalam ruangannya Rain kembali murung, wajahnya tampak kesal setelah menutup panggilannya tadi.


"Jadi dia mau berkencan dengan pacarnya nanti malam? kenapa tidak bilang dari awal, jadi aku kan tidak perlu repot-repot menawarinya jalan-jalan denganku. Ck..menyebalkan!"


"Ahh...sudahlah Rain, sebaiknya kau berhenti mengganggu pacar orang. Memangnya tidak bisa apa kau mencari gadis lain selain Carla?" ucapnya pada dirinya sendiri.


Rain mengambil ponselnya kembali dan melihat lihat nama para gadis yang ada didalam daftar panggilannya.


Kemudian setelah lama berpikir, ia pun menentukan siapa yang akan dihubunginya sekarang.


"Halo, Jane. Apa kau sedang sibuk?"


Akhirnya demi menghilangkan rasa kesal dan sedihnya karena Carla, Rain memilih untuk menghabiskan waktunya bersama gadis lain yang bernama Jane.


*


*


Malam pun tiba, Carla duduk termenung didepan meja makan, matanya menatap seluruh hidangan yang telah di siap kan nya untuk Alex sejak tadi siang.


Suntuk, sedih dan sendirian, itulah yang dirasakan Carla saat ini. Bahkan saat ini ia pun tak berselera untuk menyantap hidangan yang ada dihadapannya itu.


Dengan langkah gontai, Carla memilih untuk kembali ke ruang tengah menunggu kedatangan Alex yang tak kunjung tiba, sementara waktu kini telah menunjukkan pukul 9 malam.


"Huh..tahu begini, tadi aku turuti saja permintaan Rain untuk bertemu di taman kota, dari pada dirumah sendirian," ucapnya dengan rasa sesal.

__ADS_1


__ADS_2