
Hari lepas hari berlalu, Carla tetap melakukan aktifitasnya seperti biasa dikafe Rain. Sedangkan Alex kini mulai sering pulang malam, karena mau tak mau ia harus menemui Jessica dan menemaninya makan malam diluar tanpa sepengetahuan Carla.
Namun ada yang berbeda dengan sikap Rain kepada Carla, sejak hari dimana Carla mengungkapkan yang sebenarnya bahwa ia telah memiliki kekasih. Rain lebih sering murung dikantornya, dan ia pun sering menghindari Carla jika tak sengaja berpapasan dengannya.
Tak dapat dipungkiri Carla pun dapat merasakan perubahan sikap Rain terhadapnya. Baginya Rain kini tampak berubah 180 derajat. Apalagi jika biasanya Rain akan mencarinya saat makan siang, sekarang sudah tidak lagi. Jangankan mengajaknya untuk makan siang bersama,bertegur sapa saat berpapasan saja Rain tampaknya sudah tak ingin. Rain seolah bersikap acuh tak acuh terhadapnya.
Di satu sisi, Carla menyadari ada sesuatu yang hilang dalam dirinya. Apakah itu, entahlah Carla sendiri tidak mengerti, namun satu hal yang ia sadari bahwa ia sama sekali tidak perduli akan Alex yang sering pulang malam, tapi mengenai Rain, Carla sendiri ragu, mengenai perasaannya kini.
Jam istirahat tiba, Carla tampak duduk menyendiri di suatu kursi yang berada dirooftop. Matanya memandang lurus kedepan, namun pikirannya melayang entah kemana.
"Hufftt...lelah sekali hari ini," ucap Carla lirih sambil memegangi dadanya.
"Disini...kenapa terasa sakit didalam sini," ucapnya sambil menunjuk kearah dadanya.
"Apa karena aku merasa kehilangan ? tapi apa yang menyebabkan ku merasa seperti ini ?" batinnya bingung.
"Alex ?....mungkin dia sibuk makanya dia sering pulang malam. Rain ?...," Carla kembali terdiam saat menyebut nama Rain.
"Kenapa ? ada apa denganmu Rain ? kenapa seolah kau tak mau melihatku lagi ? bukankah kau menyuruhku untuk bekerja disini ?....Hhh...aku tak mengerti kenapa aku harus perduli dengan sikapmu padaku sekarang." ucapnya lagi sambil menghembuskan nafas lelah.
"Dengar Carla, kau disini demi membayar ganti rugi jas milik si sombong itu, jadi mulai sekarang jangan pernah perduli kan sikapnya lagi kepadamu, mengerti ?...ayo semangat Carla, kau pasti bisa," ucapnya berusaha menyemangati dirinya sendiri, namun entah kenapa dadanya malah semakin terasa sesak diiringi air matanya yang tiba - tiba menetes begitu saja di pipinya.
"Kenapa air mata ini turun tanpa ijin sih ?...duh kenapa aku harus sesak seperti ini jika mengingat tentang Rain...apakah aku merindukannya ?...tidak boleh Carla, kau tidak boleh merindukannya, kau kan sudah punya Alex," ucapnya lagi pada dirinya sendiri.
Carla tetap berada disana hingga waktu istirahat selesai. Carla menghapus air matanya dengan sapu tangan pemberian Rain yang diam - diam selama ini selalu dibawanya kemanapun ia pergi. Setelah perasaannya kembali tenang, ia pun memutuskan untuk meneruskan pekerjaannya kembali di dapur.
Dalam perjalanannya menuju ke ruangan dapur, tiba - tiba tanpa sengaja Carla berpapasan dengan Rain.
Pandangan keduanya pun bertemu, Carla berusaha untuk tersenyum, namun seperti biasa Rain segera melempar pandanganya kearah lain dan berjalan melewati Carla begitu saja.
"Hh...sudah biasa," batin Carla, lalu meneruskan perjalanannya ke dapur.
Di ruangan nya, Rain duduk termenung di kursi.
"Hufft....kenapa aku harus berpapasan terus dengannya sih. Kalau begini bagaimana aku bisa menata hatiku kembali, aku tidak ingin menjadi perusak hubungan orang. Dia itu sudah punya kekasih, jadi aku harus berusaha keras untuk menahan hatiku agar tidak terlalu jauh terhadapnya," gumam Rain.
*
*
Sore telah tiba, jam kerja untuk Carla pun telah berakhir. Dengan lesu Carla melangkahkan kakinya keluar dari dalam kafe tersebut.
Namun saat ia tiba didepan kafe, ia melihat kelangit, dan tampaklah olehnya awan mendung diatas sana.
"Cuaca akhir - akhir ini memang kurang baik, sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Ahh aku harus segera bergegas menuju kehalte agar tidak kehujanan," pikirnya.
Carla pun segera berjalan dengan terburu buru menyusuri trotoar didepan kafe menuju ke sebuah halte yang letaknya tidak terlalu jauh dari kafe tersebut.
Sementara itu tanpa disadari oleh Carla, Rain yang berada didalam ruangannya dilantai dua, diam - diam memperhatikannya dari balik kaca jendela ruangannya.
__ADS_1
"Dia Pasti takut kehujanan," gumam Rain.
Setelah berpikir sejenak, Rain pun memutuskan untuk mengambil kunci mobilnya dan berjalan keluar menuju kelantai bawah.
"Tuan, apakah anda akan pulang sekarang ?" sapa Peniel saat Rain tiba dilantai bawah.
"Eumm...aku mau pulang sekarang, tolong kau bereskan bekas makan ku tadi yang masih ada dimejaku !"
"Baik tuan, akan saya laksanakan" sahut Peniel patuh.
"O ya...gadis itu, dia biasanya pulang naik apa ?" tanya Rain yang membuat Peniel yang baru saja hendak berjalan kearah tangga, menghentikan langkahnya dan kembali membalikkan badan kearah Rain.
"Dia biasanya naik bus dihalte yang didekat sana tuan," jawab Peniel.
"Oh begitu, baiklah. Terimakasih atas informasinya."
"Sama - sama tuan muda," jawab Peniel lagi. "Aneh kenapa tiba - tiba tuan muda menanyakan hal itu ya ? ada apa sebenarnya diantara mereka berdua ?" batin Peniel penasaran.
Rain pun segera mengemudikan mobilnya keluar dari halaman kafenya dan menyusuri jalan yang menuju kearah halte, sambil sesekali matanya menyisir kearah trotoar dipinggir jalan seolah sedang mencari seseorang.
Saat masih dalam perjalanan, tiba - tiba hujan pun turun mengguyur kota itu. Rain pun menjadi cemas dibuatnya.
"Dimana gadis itu ? apakah dia sudah tiba dihalte ?" saat sedang sibuk dengan pikirannya, tiba - tiba ia melihat seorang gadis yang tampak berlari ditrotoar sambil menudungi kepalanya dengan sebuah jas yang tampak tak asing baginya.
"Jas itu...sepertinya aku kenal. Itu kan jas ku ? apa mungkin dia itu Carla ?" Rain segera meminggirkan mobilnya didekat gadis itu.
"Hah...? mobil siapa itu, sepertinya aku kenal," batin Carla heran.
Sang pemilik mobil pun menurunkan kaca jendela mobilnya.
"Hei kau cepatlah masuk kemobilku !" teriak Rain dari dalam mobil.
"T-Tuan muda Rain ?" Carla terkejut tak menyangka.
"Ayo cepat masuk ! malah bengong lagi, memangnya kau mau terus kehujanan diluar sana hah ?" teriak Rain lagi.
"I-Iya tuan, tunggu sebentar," Carla pun segera berlari mendekat ke mobil Rain lalu masuk melalui pintu samping dibagian depan.
"Nih gunakan ini untuk mengeringkan tubuhmu yang basah !" ucap Rain sembari menyodorkan sebuah handuk kecil bersih yang ia simpan di jok bagian belakang mobilnya.
"T-Terimakasih, maaf jok mobilmu jadi basah karena aku," ucap Carla sembari menerima handuk dari tangan Rain, lalu kemudian segera mengeringkan rambut dan tubuhnya yang basah akibat terguyur hujan tadi.
"Eumm...tidak apa," jawab Rain, lalu kemudian terdiam sejenak sambil menunggu Carla selesai mengeringkan tubuhnya.
Setelah selesai, Carla menyerahkan kembali handuk kecil tersebut kepada Rain."Terimakasih," ucapnya lagi.
Rain pun menyimpan kembali handuk tersebut di jok belakang.
"Kau tinggal dimana ?" tanya Rain kemudian.
__ADS_1
"Ohh...aku tinggal di jalan Prada no. 7," jawab Carla.
"Baiklah, akan kuantar kau pulang sekarang," ucap Rain lalu kemudian melajukan mobilnya kembali ditengah derasnya hujan.
Didalam perjalanan, suasana tampak hening, tak ada pembicaraan sama sekali diantara mereka. Mengingat beberapa hari ini mereka saling tak bertegur sapa, membuat keduanya tampak canggung dan tak tahu harus membicarakan hal apa.
Namun tak lama kemudian, Rain melirik kesamping kearah jas yang ada dipangkuan Carla.
"Ehemm...ngomong - ngomong sepertinya aku kenal dengan jas yang kau bawa itu," ucap Rain memecah keheningan.
"Ahh...iya ini memang jas mu tuan muda, maaf aku diam - diam menyimpannya sejak saat kau membuangnya ditempat sampah waktu itu."
"Untuk apa kau menyimpannya ? jas itu kan sudah kotor kena noda kopi yang kau tumpahkan waktu itu."
"Tadinya aku pikir aku bisa menghilangkan nodanya dengan menggunakan jasa laundry, supaya aku bisa mengembalikan jas ini seperti semula dan aku bisa bebas dari hukuman yang kau berikan padaku. Tapi ternyata usahaku sia - sia, nodanya tetap tidak mau hilang, jadi aku putuskan untuk menyimpannya saja. Lagipula ini kan jas yang sangat mahal, sayang jika dibuang begitu saja," jelas Carla panjang lebar.
"Apa hukuman yang kuberikan padamu terlalu berat sehingga membuatmu mencari cara agar cepat - cepat lari dariku ?"
"B-Bukan begitu maksudku, aku bukannya ingin lari darimu atau dari tanggung jawabku. Awalnya aku memang merasa terbebani dengan hukuman yang kau berikan, namun sekarang aku malah merasa senang bekerja ditempatmu, karena semua karyawan disana bersikap baik padaku, jadi sekarang aku jadi punya banyak teman. Dan itu semua berkat hukuman yang kau berikan."
"Benarkah ?...jadi sekarang kau sudah merasa nyaman bekerja di tempat ku ?"
"Eumm...begitulah," jawab Carla yakin.
"Hmm...baguslah, kalau begitu," Rain diam - diam tersenyum senang.
"Ng...kau tidak keberatan kan jika aku menyimpan jas milikmu ini ?"
"Tidak, aku tidak keberatan. Ambillah, itu untukmu. Lagipula aku kan sudah membuangnya, jadi tak masalah jika kau ingin memilikinya."
"Terimakasih," entah kenapa hati Carla merasa senang mendengar jawaban dari Rain barusan.
"Tapi apa kau tidak masalah dengan jas bekas yang sudah kubuang ditempat sampah itu ?"
"Tidak masalah sama sekali, aku menyukainya," jawab Carla polos.
"Aneh, kenapa kau menyukai barang bekas ?"
Carla tak menjawabnya dan hanya tersenyum menanggapinya. "Ya aku menyukainya, karena barang bekas ini adalah milikmu Rain, setiap kali aku mengenakannya, aku merasa kau ada didekatku" ucap Carla dalam hati.
Rain kembali fokus ke jalanan didepannya, sementara Carla diam - diam menatap dan mengagumi wajah tampan Rain.
"Betapa tampannya dia, bahkan lebih tampan dari Alex menurutku. Ahh sudah lama rasanya aku tak melihatmu dari jarak sedekat ini. Rain, maaf aku merindukanmu," ucap Carla dalam hati sambil terus menatap wajah Rain tanpa berkedip.
"Jangan terus menatapku, nanti kau bisa jatuh cinta padaku," ucap Rain tiba - tiba yang membuyarkan lamunan Carla.
"Ehh...ng...s-siapa yang menatapmu ? aku tidak sedang menatapmu kok," elak Carla terbata dan salah tingkah lalu buru - buru mengalihkan pandangannya keluar jendela mobil.
"Heuh...jelas - jelas dari tadi kau menatapku," batin Rain sambil menyunggingkan senyumnya.
__ADS_1