Adakah Cinta Untuk Carla

Adakah Cinta Untuk Carla
Bab 24


__ADS_3

Carla kini tengah berada di dapur menyiapkan semangkuk bubur dan segelas air putih untuk Alex.


Ditengah kegiatannya itu, ucapan Rain kepada Carla beberapa saat lalu ditelepon kembali ter ngiang di telinga nya.


"Apa benar yang dikatakan Rain tadi, bahwa ia merindukanku dan hampir gila hanya karena tak melihatku seharian kemarin?" gumamnya.


Carla menggigit bibirnya dan berpikir, "Apa mungkin Rain menyukaiku?...Ahh tidak, tidak mungkin dia suka padaku. Kalau dia suka padaku, dia tak mungkin terus menghukumku untuk bekerja dikafenya." Berbagai pertanyaan bergejolak di pikiran nya kini.


"Ahh...untuk apa aku harus memikirkan apakah Rain suka padaku atau tidak, aku kan sudah punya Alex. Lebih baik sekarang aku fokus untuk merawat Alex yang sedang sakit," ucap Carla pada dirinya sendiri. Ia lalu bergegas pergi menuju kekamar Alex sambil membawa nampan berisi semangkuk bubur dan segelas air mineral ditangannya.


Waktu terus berlalu, setelah menyantap bubur yang dibuatkan oleh Carla untuknya, Alex pun kembali tertidur lelap karena tubuhnya yang masih lemah. Sementara Carla memutuskan untuk mandi, lalu kemudian memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah lainnya seperti biasa.


Setelah selesai melakukan tugas rumahannya, Carla yang tak ingin mengganggu waktu istirahat kekasihnya itu, lebih memilih menonton televisi diruang tengah sambil menyantap camilan ringan.


Sesekali Carla menengok Alex di kamar nya, berjaga jaga kalau-kalau Alex terbangun dan memerlukan sesuatu darinya. Namun ternyata Alex masih tertidur dengan sangat pulasnya, Carla pun lega melihatnya.


"Syukurlah, ternyata dibalik sakitmu ada hikmahnya juga, karena akhirnya kau bisa beristirahat lebih lama dari biasanya, setelah sepanjang minggu lalu kau selalu di sibuk kan dengan urusan kantormu," batin Carla.


Carla kembali duduk menonton televisi diruang tengah hingga sore pun tiba.


Tak terasa waktu kini telah menunjukkan pukul 5 sore, Carla hendak bangkit menuju kekamar Alex untuk membangunkannya, namun tiba-tiba langkahnya terhenti karena suara dering dari ponselnya yang sudah diaktifkannya kembali.


Carla meraih ponselnya dari atas meja dan melihat nama Rain disana.


"Rain? mau apa lagi sih dia?" Carla mengernyitkan dahinya.


"Halo tuan muda."


"Apa kau masih ada dirumah?"


"Iya, aku ada dirumah. Ada apa memangnya?"


"Kau lupa ya, tadi pagi aku kan bilang akan kerumahmu sore ini sepulang dari kafe."


"Hah?" Carla terbelalak kaget, ia baru teringat akan ucapan Rain tadi pagi. "Astaga, aku lupa bahwa dia mau kemari menemui ku. Bisa gawat kalau sampai dia datang kerumah, Alex bisa salah paham nanti. Aku harus cari cara kalau begini," Carla berpikir keras.


"Halo Carla, apa kau masih mendengar ku?" Rain memanggil Carla, karena Carla terdiam cukup lama.


"I-Iya tuan muda,"


"Aku cuma mau bilang, kalau aku sekarang sedang dalam perjalanan menuju kerumahmu."


"Apa?? kau sudah dijalan?"


"Iya, aku sudah dijalan."


"T-Tuan, k-kau j-jangan kemari ya please! Kita bertemu diluar saja. Didekat sini ada sebuah taman kecil, kita bertemu disana saja ya."


"Hah? kenapa?"


"Tidak apa-apa, pokoknya kita bertemu di taman saja ya," Carla buru-buru menutup sambungan teleponnya, karena khawatir Alex akan memergokinya lagi seperti tadi pagi pikirnya.


Carla pun bersiap siap untuk keluar rumah, namun sebelum pergi ia memutuskan untuk melihat Alex lebih dulu, untuk memastikan apakah Alex sudah terbangun atau belum.


Dan ternyata saat ia sampai dikamar Alex, tampak Alex telah terbangun dan kini sedang meneguk segelas air mineral yang telah disediakan oleh Carla diatas meja nakas.


"Alex, kau sudah bangun rupanya," Carla berjalan menghampiri Alex ketempat tidur.

__ADS_1


"Iya, aku terbangun karena haus." jawabnya lemah.


"Kau masih demam rupanya," Carla memeriksa suhu badan Alex menggunakan termometer yang dimasukkan kemulut Alex.


Alex mengangguk lemah, "kepalaku juga terasa pusing," jawabnya.


Alex kemudian melihat kearah pakaian yang dikenakan Carla.


"Kau memakai jaket dan celana panjang, apa kau mau pergi?" tanya Alex heran.


"Ahh...iya, aku mau keluar sebentar. Aku mau pergi membelikan obat penurun panas untukmu di apotek." Alasan yang sungguh sempurna pikir Carla.


"Ohh...iya, terimakasih dan maaf merepotkan mu."


"Tidak sayang, ini memang sudah tugasku untuk merawat mu."


"Kau memang kekasih yang baik, aku bersyukur memilikimu," Alex kembali tersenyum kearah Carla dan begitupun sebaliknya.


"Ya sudah, kalau begitu aku pergi dulu ya," pamit Carla, lalu segera bergegas pergi meninggalkan Alex dirumah.


*


*


Tak sulit bagi Rain untuk menemukan taman kecil yang disebutkan oleh Carla ditelepon tadi. Dan kini ia tengah duduk disebuah kursi taman, menanti kedatangan Carla.


Tak lama kemudian, tampak dari kejauhan Carla sedang berlari kecil mengitari taman sambil mencari keberadaan seseorang.


"Hei...aku disini," teriak Rain sambil melambaikan tangannya.


"Ngehh...ngehh...tuan muda ngehh...," napas Carla tampak tersengal sengal karena berlari.


Belum juga Carla tiba ditempat Rain berada, Rain langsung berdiri dan berjalan kearahnya, kemudian menariknya kedalam pelukannya.


"T-Tuan muda," Carla yang terkejut dengan tindakan Rain, berusaha melepaskan diri dari dalam dekapannya. Namun Rain malah semakin mengeratkan pelukannya.


"Aku mohon sebentar saja," Rain memejamkan matanya sambil memeluk Carla.


Carla yang tadinya berontak, lama kelamaan pasrah dan membiarkan dirinya larut dalam pelukan Rain.


"Aku merindukanmu," ucap Rain lirih.


Carla memejamkan matanya saat mendengar ucapan Rain barusan dan berkata dalam hatinya, "Aku juga sebenarnya tak bisa berhenti memikirkan mu terus." Tanpa sadar kedua tangannya pun melingkar dibalik punggung Rain.


Rain tersenyum senang, karena Carla akhirnya membalas pelukan darinya.


Namun beberapa saat kemudian, Carla tiba-tiba teringat akan Alex, hingga ia pun reflex mendorong tubuh Rain dengan sekuat tenaga hingga menjauh darinya.


"Ahkk...Carla!" pekik Rain kaget karena pelukannya terlepas dengan tiba-tiba.


"M-Maaf, tuan muda," Carla menunduk takut dengan perasaan bersalah karena telah mendorong Rain dengan kasar.


"Kau kenapa?"


"Aku...merasa ini salah. Kita tidak seharusnya seperti tadi, diantara kita tidak ada hubungan apa-apa selain karena hukuman pekerjaan yang kau berikan padaku. Dan lagipula...aku kan juga sudah punya kekasih."


"Iya...kau benar, aku yang salah. Maafkan aku," raut wajah Rain berubah sedih, ia pun menarik napas panjang mencoba untuk menenangkan dirinya.

__ADS_1


"Kau mau apa menemui ku?" tanya Carla kemudian.


"Aku hanya ingin melihatmu," jawab Rain jujur.


"Sekarang kau sudah melihatku kan? kalau begitu aku pergi ya."


"Tidak bisakah sebentar lagi kau bersamaku disini?" Rain bertanya dengan mata memohon.


Carla tertegun melihatnya, dalam hati ia masih ingin bersama Rain, tapi ia sadar bahwa ia tak boleh berlama lama karena Alex sedang menunggunya dirumah.


"Sikapmu membuatku bingung," ucap Carla.


"Kau bingung kenapa?"


"Aku tak mengerti dirimu dan maksudmu, kenapa kau berbuat seolah kau suka padaku?" Carla berterus terang dengan apa yang selama ini ia rasakan.


"Jika iya, kenapa?"


"Maksudmu?"


"Maksudku, jika aku ternyata menyukaimu bagaimana?"


Deg...deg...deg..deg...


Waktu terasa berhenti saat Rain mengatakan hal itu. Kedua insan itu kini saling menatap dan suasana pun mendadak hening seketika, hanya detak jantung keduanya yang mengisi kesunyian di taman yang tampak sepi disore itu.


"T-Tuan muda...," bibir Carla bergetar.


"Iya Carla, aku suka padamu," ucap Rain dengan yakin.


"S-Sejak kapan?"


"Aku juga tidak tahu sejak kapan, rasa itu muncul begitu saja dihatiku."


"T-Tapi...,"


"Salahkah aku jika aku memiliki perasaan ini padamu?"


"Tuan muda, kau kan tahu jika aku sudah punya pacar."


Rain menelan ludahnya kasar, "Aku tahu. Karena itulah awalnya aku ragu untuk mengungkapkan ini padamu, tapi aku rasa aku tak sanggup untuk menahan perasaanku ini lebih lama lagi," jawabnya.


"Tapi aku tidak ingin berselingkuh dari pacarku."


"Apakah kau sangat mencintai kekasihmu itu?"


Carla mengangguk.


Rain tersenyum pedih melihat anggukan Carla. "Baiklah aku mengerti. Aku tak memaksamu untuk membalas perasaanku, cukup aku saja yang menyimpan perasaan ini untukmu."


"Tuan muda..., maafkan aku," mata Carla berkaca kaca melihat wajah kecewa Rain.


"Tidak apa-apa, tenanglah. Aku akan baik-baik saja asalkan setiap hari masih bisa melihatmu dan berada dekat denganmu," lagi-lagi Rain memaksakan dirinya untuk tersenyum, meskipun hatinya kecewa karena ia merasa cintanya bertepuk sebelah tangan.


"Aku pergi ya, sampai jumpa besok." Rain pamit lalu berbalik arah meninggalkan Carla yang terdiam terpaku menatap kepergiannya.


Setelah Rain pergi, entah kenapa air mata Carla kini tak berhenti bergulir dipelupuk matanya. Dia pun berjongkok dan sambil bertumpu pada lututnya, Carla menangis tersedu sedu. Untuk apa ia menangis, apakah ia menyesal karena mengabaikan perasaan Rain terhadapnya, atau hanya karena merasa bersalah, entahlah karena sebenarnya Carla pun tak mengerti dengan perasaannya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2