
Setelah selesai menyantap makan siangnya, Carla pun terpaksa menuruti permintaan Rain untuk segera datang ke ruangan ya.
Sesampainya didalam ruangan Rain,
"Aku sudah kemari, kau mau apa hah ?" tanya Carla.
"Mau menunjukkan sesuatu," ucap Rain sambil duduk santai dikursinya, sementara Carla kini masih dalam posisi berdiri didepan meja kerjanya.
"Mau menunjukkan apa ?"
"Tuh lihat ke sekelilingmu," ucap Rain.
Carla pun mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan kantor milik Rain, dan seketika ia pun baru sadar bahwa ruangan itu kini telah tertata dengan sangat apik.
"Wuahhh...ini baru keren, tidak membosankan sama sekali," Carla memandang takjub melihat perubahan yang terjadi didalam ruangan tersebut.
Mendengar itu Rain pun diam - diam tersenyum bangga.
"Wah lihat lukisan pemandangan dengan air terjun itu sangat bagus, dan sofa nya....ahh empuk sekali," tanpa dipersilahkan Carla segera berlari ke sebuah sofa panjang diruangan itu dan mencoba duduk diatasnya.
"Warna wall papernya juga bagus, warna coklat cream dengan corak yang elegan dan tidak norak, ehh disini juga ada tanaman hiasnya....ada guci juga rupanya..," Carla terus berceloteh sambil berjalan mengelilingi ruangan dan menyentuh setiap benda yang menurutnya sangat bagus.
Rain hanya diam memperhatikan gadis itu, sambil sesekali tersenyum sendiri melihat tingkah gadis itu yang menurutnya sangat lucu dan imut.
Setelah puas berkeliling, Carla pun kembali berjalan menuju ke arah Rain berada, dan kini perhatiannya tertuju keatas meja Rain.
"Ini fotomu ?" tanya Carla sambil menunjuk ke sebuah bingkai foto yang dipajang diatas meja.
"Eumm...," jawab Rain singkat.
"Wah....kau terlihat tampan sekali difoto ini," puji Carla tiba - tiba.
"Memangnya aslinya tidak tampan ?"
Carla berhenti melihat foto itu dan mengalihkan pandangannya kearah Rain, membuat Rain sedikit gugup karena dipandangi seperti itu.
"eummm...gimana ya..?" Carla menaruh tangan kanannya didagu seolah berpikir.
"Tampan sih...tapi...,"
__ADS_1
"Tapi apa ?" tanya Rain penasaran.
"Tapi....NYEBELIN, Weekkk...!!" Carla memeletkan lidahnya meledek kearah Rain.
"Apa kau bilang ?" Rain tak terima.
"NYEBELIN...DASAR KAU NYEBELINN...!!" Carla malah semakin sengaja meledek Rain.
"Awas kau ya, sini kau....hei...jangan lari...!!" Rain pun bangkit dari tempat duduknya, lalu berusaha mengejar Carla yang kini berlari menghindarinya.
Dan terjadilah kejar kejaran diruangan itu diantara kedua insan tersebut.
Hingga akhirnya 15 menit kemudian, Carla yang merasa kelelahan memilih untuk berhenti berlari dan merebahkan tubuhnya disalah satu sofa panjang diruangan itu, namun sayangnya disaat bersamaan Rain yang sedang berlari dengan semangatnya tak dapat mengendalikan tubuhnya saat ia tiba didepan sofa hingga terjatuh akibat tersandung pinggiran sofa dan tubuhnya pun jatuh menimpa Carla yang kini dalam posisi terlentang itu.
Dan kini kedua insan itu pun hanya mampu terdiam terpaku dengan posisi Rain diatas tubuh Carla dengan jarak wajah mereka yang hanya lima senti itu. Keduanya saling memandang tanpa berkedip satu sama lain.
Suasana diruangan itu tampak hening, hanya terdengar suara detak jantung keduanya yang berdegup kencang saat itu.
"Gadis ini benar - benar sangat cantik," batin Rain.
"Astaga dia tampan sekali, bagaikan seorang pangeran," batin Carla.
Rain menelan ludahnya kasar saat pandangannya turun kearah bibir cherry milik Carla. Seketika muncul pikiran nakal dibenak Rain.
"Tokk...tokk...tokk..!!" Suara ketukan di pintu kantornya seketika menyadarkan keduanya dari lamunan mereka.
"Ahhkk....," Carla yang terkejut segera mendorong Rain dari atas tubuhnya, hingga Rain terjatuh kebawah sofa.
"Aduhh...Auwww..!!" Rain tampak meringis kesakitan.
"M-maaf...tuh ada yang ngetuk pintu, aku bukain dulu ya...," tanpa persetujuan Rain Carla yang kini tampak salah tingkah, segera berlari menuju pintu untuk membukakannya.
Setelah pintu dibuka, tampaklah seorang pelayan membawa sebuah nampan berisikan secangkir kopi di atas nya. Carla pun mempersilahkan pelayan tersebut untuk masuk kedalam ruangan.
Sesampainya didalam, sang pelayan tersebut merasa heran melihat kedua insan tersebut yang wajahnya tampak bersemu merah.
"M-maaf tuan muda, ini saya bawakan kopi pesanan tuan muda tadi," ucap pelayan tersebut.
"Eumm...taruh saja disitu !" ucap Rain yang kini sudah dalam posisi berdiri didekat mejanya.
__ADS_1
Pelayan tersebut pun segera meletakkan kopi yang dibawanya ke atas meja kerja Rain. Lalu kemudian ia pun segera berpamitan keluar dari ruangan tersebut.
Dan kini tinggallah kedua sejoli itu yang kini wajahnya masih sama - sama bersemu merah. Keduanya tampak salah tingkah dan tak berani menatap satu sama lain.
"Ng...k-kalau begitu, aku ijin kembali ke dapur ya, aku...mau...ng...meneruskan pekerjaanku lagi," ucap Carla kikuk.
"I-iya...b-baiklah...," jawab Rain gugup sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Sesampainya diluar pintu kantor Rain, Carla berhenti sejenak dan menarik napas panjang.
"Hufftt...astaga apa yang baru saja terjadi, hampir saja dia...ahh..tidak...tidak boleh, jangan sampai terjadi hal seperti itu....aku kan sudah punya Alex..," Carla menggeleng gelengkan kepalanya mengingat kejadian tadi sambil memegangi dadanya yang masih berdegup kencang. Lalu kemudian ia pun segera beranjak pergi kelantai satu menuju ke ruangan dapur.
Sementara didalam ruangannya, Rain juga masih sibuk mengatur napasnya kembali sambil mengingat kejadian tadi.
"Hampir saja aku tadi menciumnya kalau saja sipelayan tadi tidak mengganggu,...Aahhh...sayang sekali....," gerutu Rain.
"Tapii...apa yang sebenarnya terjadi padaku, kenapa aku ingin menciumnya ?...apa yang salah denganku...Ck...," kini Rain bingung dengan perasaannya sendiri.
*
*
Sore telah tiba, dalam perjalanan pulang, Carla menyempatkan diri untuk mampir ke laundry didekat rumahnya hendak mengambil jas milik Rain yang kemarin dibawanya kesana.
"Mohon maaf nona, noda kopi dijas ini tidak bisa hilang dengan sempurna, nodanya masih sedikit terlihat disini," salah seorang karyawan ditempat laundry tersebut sedang menjelaskan sambil menunjukkan jas yang dimaksud.
Carla menunjukkan raut wajah kecewa mendengar penjelasan tersebut, "Apa tidak bisa diulang kembali proses pencuciannya, siapa tahu nodanya akan benar - benar hilang," pinta Carla.
"Maaf nona, kami sebenarnya juga sudah mengulang prosesnya sampai tiga kali, namun nodanya tetap tidak bisa hilang dengan sempurna. Jika kami memaksakan untuk menyikatnya atau menggunakan cara lain lagi, kami takut akan merusak serat kainnya, apalagi kalau kami lihat sepertinya ini jas yang sangat mahal," jelas karyawan itu lagi.
"Yaahh...bagaimana ini," Carla tertunduk lesu.
Setelah membayar biaya jasa laundry untuk jas itu, dengan terpaksa Carla pun membawa pulang kembali jas milik Rain tersebut kerumah.
Sesampainya dirumah, Carla merasa bersyukur karena ternyata Alex belum tiba dirumah sama seperti kemarin, namun ia juga merasa khawatir kalau Alex akan pulang telat lagi seperti semalam, apalagi mengingat saat ini Alex sedang marah kepada dirinya.
Sesampainya dikamar, Carla mengambil kembali jas yang dibawanya tadi, dan sambil duduk ditepi ranjangnya, ia kembali memandangi jas tersebut.
"Apa yang harus kulakukan pada jas ini ya ?...ahh...harapanku sia - sia sudah. Tadinya kupikir nodanya bisa hilang setelah di laundry, tapi...ternyata tidak. Kalau begini, mau tidak mau aku harus terus bekerja ditempat Rain deh...hufft...," Carla menghembuskan nafasnya kasar.
__ADS_1
Kemudian Carla pun mengambil sapu tangan Rain dari dalam tasnya.
"Hmm...aku harus segera mencuci sapu tangan ini sekarang dan mengeringkannya, agar besok dapat kukembalikan padanya," ucap Carla dalam hati sambil tersenyum memandang tulisan 'Rain' yang terukir diujung tepi sapu tangan tersebut.