Adakah Cinta Untuk Carla

Adakah Cinta Untuk Carla
Bab 21


__ADS_3

Tak berapa lama kemudian Alex kini telah tiba dan berada didalam apartemen Jessica.


"Alex, aku senang kau datang kemari hari ini," Jessica menyambut kedatangan Alex dengan riang.


"Ck...kau mau apa menyuruhku kemari dihari libur begini?" Alex berdecak kesal sambil membantingkan tubuhnya disofa.


"Kau ini kenapa sih datang - datang mukanya muram seperti itu," Jessica mendudukkan dirinya disamping Alex.


"Tentu saja aku kesal, karena kau selalu mengganggu ku."


"Jadi aku ini pengganggu di hidupmu?"


"Iya, apa kau tidak sadar hah?"


"Ck..terserah apa katamu, yang penting kau selalu menuruti kemauanku."


"Dasar egois. Jadi apa maumu sekarang hah?"


"Aku ingin menghabiskan waktu bersamamu dihari libur ini."


"Disini? diapartemenmu?"


"Iya, memangnya mau dimana? apa kau mau aku memesan kamar hotel untuk kita berdua hmm...?" Jessica mengedipkan sebelah matanya kearah Alex dengan senyuman nakalnya.


"Ck...bicara apa kau ini," Alex bukannya tidak mengerti maksud ucapan Jessica barusan, tapi ia lebih memilih untuk tidak membahasnya.


"Begitu saja kau marah, aku kan cuma bercanda. Ya sudah kalau begitu kita makan siang dulu yuk, hari ini aku sudah masak banyak untukmu," Jessica menarik lengan Alex dengan manja.


"Jadi kau menyuruhku kemari hanya untuk makan siang? kalau hanya itu, aku juga bisa makan siang dirumah bersama Carla."


"Kau kan sudah sering makan siang bersama Carla, sekarang giliranku. Ayolah...!!" Jessica menarik paksa tangan Alex agar ia berdiri dari tempat duduknya.


"Haishh....," dengan terpaksa Alex pun bangkit berdiri dan mengikuti Jessica menuju ke ruang makan.


"Tadaa...lihat semua makanan yang sudah ku siap kan untukmu," ucap Jessica dengan bangga sesampainya diruang makan.


"Ohh...," jawab Alex singkat dengan wajah datar, sambil mendudukkan dirinya disalah satu kursi dimeja makan tersebut.


"Kok cuma 'ohh' sih?" protes Jessica yang tak suka dengan respon yang diberikan Alex barusan.


"Ck...iya terimakasih sudah memasak untukku," jawab Alex akhirnya dengan malas.


"Nah gitu dong sayang, itu baru namanya menghargai usaha orang yang sudah susah payah memasak untukmu," Jessica tersenyum, lalu mendudukkan dirinya di kursi berhadapan dengan Alex.


"Siapa suruh kau bersusah payah memasak? aku kan tak pernah menyuruhmu," ucap Alex ketus.


"Kau ini kenapa sih? sikapmu hari ini menyebalkan sekali."


"Sudah jangan berisik, cepat ambilkan aku nasi!" Alex mengulurkan sebuah piring kosong yang ada dihadapannya ke arah Jessica.


"Iya baiklah sayang, tunggu sebentar aku ambilkan ya," Jessica meraih piring dari tangan Alex lalu mengisinya dengan nasi beserta lauk pauk di atas nya.


Kemudian mereka berdua pun mulai menyantap hidangan makan siang tersebut.


"Enak tidak?" tanya Jessica.


"Eumm...lumayan," jawab Alex sambil mengunyah makanan di mulutnya tanpa melihat ke arah Jessica.


Meskipun begitu, Jessica pun tersenyum mendengarnya.


*

__ADS_1


*


Sementara itu dikafe, Rain yang berada didalam ruangannya tampak termenung. Kedua matanya tertuju ke layar laptop dihadapannya, tapi pikirannya melayang entah kemana.


"Sedang apa ya sigadis kopi tumpah sekarang?" tanyanya dalam hati.


"Apa dia sedang berkencan dengan pacarnya? ini kan hari libur, mereka pasti sedang berkencan," gumamnya.


"Apakah mereka pergi menonton film didalam bioskop yang gelap? lalu apakah mereka saat ini sedang berpegangan tangan, lalu....jangan - jangan mereka...berciuman...ahh..tidak..tidak...tidak boleh...jangan sampai itu terjadi...arrghh...!!" tanpa disadari Rain saat ini sedang menggeleng gelengkan kepalanya sendiri sambil membayangkan hal - hal yang tidak - tidak di pikiran nya.


"Tuan...tuan muda, apa yang sedang anda lakukan?" Peniel yang baru saja masuk kedalam ruangan sambil membawa sebuah nampan ditangannya menjadi heran melihat tingkah Rain.


"Hah...apa?" Rain terkejut karena baru menyadari kehadiran Peniel didalam ruangannya.


"M-Maaf tuan muda, apa anda baik - baik saja? tadi saya lihat anda menggoyang goyangkan kepala anda, apakah anda sedang merasa pusing?" tanya Peniel lagi dengan nada khawatir.


"Ehh...ng...aku..aku baik - baik saja kok," jawab Rain kikuk. "Sial dia pasti mengira aku sudah gila," Rain merutuki kebodohannya dalam hati.


"Ahh...syukurlah kalau begitu," jawab Peniel lega.


"Sejak kapan kau ada di ruangan ku? kenapa tidak mengetuk pintu dulu sebelum masuk hah?" Rain yang merasa keki, menjadi sedikit emosi untuk menutupi rasa malunya.


"M-Maaf tuan, sebenarnya tadi saya sudah mengetuk pintu, tapi karena tidak ada jawaban dari anda jadi saya memutuskan untuk masuk kedalam. Oh ya ini kopi yang anda pesan tadi tuan," Peniel meletakkan secangkir kopi yang dibawanya ke atas meja Rain.


"Ohh..begitu," jawab Rain.


"Kalau begitu, saya permisi dulu tuan muda," Peniel berpamitan hendak kembali ke dapur.


"Eumm...terimakasih," jawab Rain.


Namun saat Peniel hendak berpaling keluar pintu, Rain tiba - tiba memanggilnya kembali.


"Iya tuan muda, apa ada lagi yang bisa saya bantu ?" Peniel memutar kembali badannya kearah Rain.


"Ng...itu...anu...maksudku gadis itu...,"


"Maksud anda Carla?" belum selesai Rain mengucapkan kalimatnya, Peniel langsung bisa menebaknya dengan benar.


"Iya dia, ng...Peniel, apakah kau tahu apa yang sedang dilakukan gadis itu sekarang?" tanya Rain ragu.


"Mana kutahu dia sedang apa, memangnya aku bapaknya apa?" batin Peniel.


"Ng...bukankah anda memberinya libur dihari minggu?" Peniel malah balik bertanya.


"Iya aku tahu dia sedang libur, makanya kutanya padamu, dia itu sedang apa sekarang?" tanya Rain lagi dengan nada sedikit kesal.


"Tuan muda kangen apa ya sama Carla sampai segitunya pengen tahu dia lagi ngapain?" batin Peniel lagi.


"Ng...maaf tuan saya tidak tahu dia sedang apa. Kenapa tuan tidak menelponnya dan menanyakannya saja langsung," usul Peniel.


"Ng..iya sih. Ya sudah kau kembali bekerja lagi saja sana," Rain sebenarnya bingung harus mengikuti usul Peniel atau tidak.


Peniel pun segera beranjak pergi dari dalam ruangan bos mudanya tersebut.


Sesampainya diluar ruangan, Peniel mengambil ponselnya dan mengirimkan suatu pesan untuk Carla.


*


*


Carla yang merasa tak bersemangat menjalani hari liburnya dirumah, saat ini hanya menghabiskan waktunya dengan menonton televisi sendirian diruang tengah.

__ADS_1


"Ting!" tiba - tiba sebuah notifikasi di ponsel miliknya mengusik perhatiannya.


"Peniel?" Carla mengerutkan keningnya saat membaca nama sipengirim pesan, kemudian ia pun segera membuka isi pesannya.


"Hei Carla, kau tahu tidak, tuan muda Rain saat ini sedang merindukanmu."


Mata Carla membulat tak percaya membaca isi pesan dari Peniel barusan. "Apa - apaan sih Peniel, bercanda mulu kerjaannya," bibirnya seolah menyangkal pesan yang dituliskan oleh Peniel, namun hatinya tiba - tiba bergetar dan wajahnya pun bersemu merah seketika.


Carla membaca pesan dari Peniel tersebut berulang ulang, tanpa terasa bibirnya pun tersenyum setiap kali ia mencoba untuk membacanya kembali.


"Apa iya sisombong itu merindukanku? Duh...ada apa denganku, kenapa jantungku berdebar?" Carla memegangi dadanya yang berdetak tak karuan.


*


*


Kembali ke ruangan Rain.


"Kenapa tidak melihatnya sehari saja, hatiku jadi gelisah seperti ini hufftt.....," Rain menarik napasnya dalam - dalam.


"Telepon apa jangan ya?" tanya Rain dalam hati.


"Telepon..., jangan..., telepon.., jangan..., telepon...," Rain mulai menimbang nimbang menggunakan perhitungan kancing kemejanya sendiri.


"Ahh..tidak...tidak..bagaimana kalau dia sedang bersama pacarnya?" Rain ragu.


"Jangan..., telepon..., jangan..., telepon..., jangan...," Rain mulai menimbang lagi menggunakan kancing kemejanya, bagaikan seorang anak kecil yang sedang bingung menentukan mainan apa yang akan dipilihnya.


*


*


Di apartemen Jessica


Seusai makan siang, Alex memilih untuk kembali duduk diruang tamu, sementara Jessica membereskan meja makan dan mencuci bekas makan mereka tadi.


Tak lama kemudian, Jessica datang kembali menghampiri Alex.


"Sayang, kita bobo siang yuk!" ajak Jessica dengan nada manjanya.


"Hah...tidur siang? kita baru saja selesai makan, masa langsung tidur sih," protes Alex.


"Ya gak apa - apa, kan kita bisa sambil ngobrol - ngobrol dulu dikasur."


"Ahh...tidak, aku tidak mau," tolak Alex.


Mendengar itu, Jessica pun memasang muka tidak suka, ia merengut dan mulai memikirkan sesuatu.


"Jessica, aku mau pulang ya, kasihan Carla sendirian dirumah," belum selesai Jessica memikirkan sesuatu, tiba - tiba Alex ingin berpamitan pulang.


"Apa kau bilang? pulang?...enak saja, tidak boleh. Kau harus disini seharian denganku," Jessica berucap tegas dan memaksa.


"Ck...kau mau apa lagi sih? aku kan sudah menuruti keinginanmu tadi untuk makan siang bersama, jadi sekarang biarkan aku pulang ya," Alex memohon.


"Tidak, tidak bisa. Aku tidak bisa membiarkan mu pergi begitu saja."


"Lalu apa lagi yang harus kulakukan hah?" tanya Alex yang mulai kesal.


"Temani aku tidur dan puaskan aku diranjang," pinta Jessica dengan tidak tahu malunya.


"APA???" Alex kaget tak menyangka, Jessica berani meminta hal seperti itu padanya.

__ADS_1


__ADS_2