
Carla berlari kecil menghampiri Alex yang baru saja masuk kedalam ruang tamu rumahnya.
Sambil menampilkan senyuman manisnya, Carla menghamburkan tubuhnya kedalam pelukan Alex yang masih mengenakan pakaian kantornya. Alex pun menyambutnya dengan pelukan hangat. Diusapnya helaian rambut panjang Carla yang dibiarkan tergerai cantik.
"Kau sudah sembuh kan sayang?" tanya Alex dengan lembut sambil masih memeluk tubuh mungil kekasihnya itu.
"Eumm...," jawab Carla sambil memejamkan matanya dalam pelukan Alex.
"Eumm...apa?" goda Alex sambil tersenyum simpul.
Carla melepaskan pelukannya dan menatap wajah Alex dengan raut wajah manjanya.
"Eumm...aku sudah sembuh kok sekarang. Apalagi hari ini kau menepati janjimu untuk pulang cepat, jadi aku merasa sangat senaaannngg sekali," Carla menunjukkan barisan gigi rapinya sambil tersenyum sumringah dihadapan pria yang sangat dicintainya itu.
"Uhh...kenapa kau menggemaskan sekali sih...," Alex mencubit pipi putih chubby Carla dengan gemas.
"Auww...sakiitt...," Carla merajuk imut sambil memegangi pipinya yang tadi dicubit oleh Alex.
"Benar kau sudah sembuh?" tanya Alex lagi mencoba meyakinkan dirinya sambil menyentuh kening Carla.
"Iyaa...benar. Aku sudah merasa baikan kok. Kepalaku sudah tidak pusing dan tubuhku sudah merasa jauh lebih segar sekarang. O ya makasih ya atas makanan yang tadi siang kau kirimkan."
"Eumm...makanannya enak tidak?"
"Iya enak, aku suka," jawab Carla sambil menggoyangkan tubuhnya seperti anak kecil yang membuatnya semakin bertambah imut dimata Alex.
*
*
Malam telah tiba, seusai makan malam kedua sejoli ini memilih duduk bersantai disofa ruang tengah sambil menonton televisi.
Alex merangkul pundak Carla yang kini kepalanya bersandar manja dipundak Alex.
"Sayang...kau sudah tidak marah lagi kan?" tanya Carla sambil memainkan jari jemarinya di dada bidang milik Alex yang malam itu berbalut t-shirt berwarna biru tua.
"Eumm...aku sudah tidak marah, asalkan kau tidak mengulanginya lagi. Aku ingin kau menjadi pacar yang baik, yang selalu menuruti apa kataku dan jangan pernah membantah ku, maka aku akan selalu bersikap baik juga kepadamu. Kau mengerti kan?"
Jari jemari Carla berhenti bermain di dada Alex, ia pun kemudian menegakkan posisi duduknya sambil menundukkan kepalanya sedih.
__ADS_1
"Kau kenapa?" tanya Alex yang tak suka melihat perubahan wajah Carla saat ini.
"Ng...a-aku tidak apa - apa kok. Aku hanya mengantuk, aku mau istirahat dulu ya," Carla beralasan, lalu segera bergegas berjalan masuk kedalam kamarnya.
Sementara Alex memandangi kepergiannya dengan wajah kesal. Alex bukannya tak mengerti bahwa Carla pasti tidak setuju dengan perkataannya barusan.
*
*
Carla masuk kedalam kamarnya dengan hati sedih. Ia mengerti betul dengan maksud perkataan Alex kepadanya tadi. Ia tahu bahwa yang dimaksud Alex adalah menuruti perkataannya untuk tidak lagi menjenguk ayahnya dipenjara. Namun Carla memilih untuk diam daripada akhirnya harus bertengkar dengan Alex, lagipula ia juga tak ingin Alex memukulnya jika ia membantah perkataannya tadi.
Carla menuju kebalkon kamarnya, dan duduk disebuah kursi yang diletakkan dibalkon tersebut. Matanya yang sayu penuh kesedihan menatap ke langit.
"Kenapa Alex tak pernah mau mengerti diriku? kenapa selama ini ia seolah tak perduli dengan kasus yang menimpa ayahku? apakah begitu memalukan kah memiliki kekasih sepertiku yang adalah putri dari seorang narapidana?" berbagai pertanyaan bergejolak dihatinya yang kini diliputi rasa sedih. Dan tanpa terasa air matanya pun kembali berlinang di pipinya setiap kali ia mengingat tentang ayahnya dan juga tentang Alex yang selalu melarangnya untuk menjenguk ayahnya.
*
*
Sementara itu diruang tengah, Alex masih duduk tertegun dengan penuh rasa kesal. Kedua manik matanya menatap kearah televisi namun ia sama sekali tak menikmati acara yang kini sedang ditampilkan di layar televisinya saat ini.
"Drrt...drrtt...drrtt...," tiba - tiba ponsel Alex berdering. Dengan malas Alex pun meraih ponselnya yang diletakkannya diatas meja didepannya.
"Halo," ucap Alex dengan malas.
"Halo Alex, ini aku Jessica," jawab seseorang diseberang telepon yang ternyata adalah teman baiknya sejak kecil.
"Oh...kau Jessica, ada apa malam - malam begini kau meneleponku?"
"Ng...maaf Alex kalau aku mengganggu mu, tapi saat ini aku benar - benar sedang butuh bantuanmu, bisakah kau datang ke apartemenku sekarang?"
"Memangnya apa yang terjadi padamu?"
"Datanglah dulu kemari, nanti akan aku jelaskan. Aku tidak bisa menjelaskannya ditelepon saat ini. Aku mohon datanglah aku sangat membutuhkan mu Alex."
"Ng...baiklah kalau begitu aku akan minta ijin dulu pada kekasihku, baru aku akan segera kesana," ucap Alex kemudian.
"Eumm baiklah, setelah itu kau harus secepatnya Kemari ya," jawab Jessica yang sudah mengetahui bahwa kini Alex tinggal serumah dengan kekasihnya Carla.
__ADS_1
Setelah menutup panggilan teleponnya, Alex segera bergegas berjalan menuju kekamar Carla.
Carla yang terkejut dengan kedatangan Alex yang tiba - tiba menghampirinya dibalkon kamarnya itu pun dengan cepat segera menghapus air matanya agar tidak ketahuan oleh Alex bahwa ia baru saja menangis.
"Carla," panggil Alex.
"Ah...iya Alex, ada apa?" sahut Carla gugup sambil menghindari tatapan mata Alex karena ia tak ingin Alex melihat sembab di mata nya yang baru saja menangis.
"Kau...kenapa?" tanya Alex heran melihat tingkah Carla yang sedikit aneh menurutnya.
"A-Aku t-tidak apa-apa kok. O iya ada apa kau mencariku kemari?" Carla mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Ah iya, itu aku...ng...tadi...ng...Jessica baru saja menghubungi ku. Katanya dia saat ini sangat membutuhkan bantuanku," ucap Alex terbata, karena ia tahu hubungan antara kekasih dan sahabatnya itu selama ini memang sedikit kurang baik dikarenakan adanya kesalah pahaman diantara mereka sebelumnya.
"Lalu?" mendengar nama Jessica tiba - tiba membuat mood Carla menjadi semakin buruk hingga ia berkata dengan nada ketus.
"Ya...dia...ng...dia memintaku untuk datang ke apartemennya sekarang."
"Memangnya ada masalah apa sebenarnya, sampai kau harus pergi keapartemennya malam - malam begini?"
"Aku juga tidak tahu, dia bilang akan menjelaskannya nanti saat aku tiba di apartemennya."
"Memangnya tidak bisa besok saja kau pergi menemuinya?"
"Ayolah sayang jangan bersikap berlebihan seperti ini. Bagaimanapun dia itukan sahabatku sejak kecil, wajar saja jika ia meminta bantuanku jika ia sedang ada masalah."
"Ck...ya sudah terserah kau sajalah. Tapi ingat jangan lama-lama disana, jika urusanmu sudah selesai kau harus segera pulang."
"Iya baiklah, aku pasti akan segera pulang jika urusanku sudah selesai. Dan kau...bukankah tadi kau bilang mau beristirahat?...tapi kenapa kau malah duduk disini sendirian hah?" kini giliran Alex yang malah balik menyudutkannya.
"Ng...a-aku tadi memang mau beristirahat, tapi...mataku belum mau terpejam juga, makanya aku keluar kebalkon untuk mencari udara segar," jawab Carla beralasan.
"Angin malam tidak baik untukmu. Lebih baik kau segera tidur sekarang, jangan tidur terlalu malam, nanti kau bisa sakit lagi."
"Iya baiklah, aku akan segera tidur," jawab Carla akhirnya.
"Ya sudah kalau begitu aku pergi dulu ya, jaga diri baik - baik dirumah."
"Cup!" Alex mengecup kening Carla sebelum akhirnya berjalan keluar dari kamar Carla. Lalu kemudian ia pun segera mengambil jaket dan kunci mobilnya dan bergegas pergi menuju ke apartemen Jessica.
__ADS_1
Carla hanya bisa pasrah melepas kepergian Alex untuk menemui Jessica yang merupakan sahabat sejak kecilnya itu. Carla memang tidak terlalu menyukai Jessica, karena sejak awal ia berkenalan dengan Jessica, ia sudah bisa merasakan ada sesuatu yang aneh dengan Jessica dari caranya menatap dan bersikap dihadapan Alex yang menyiratkan bahwa sesungguhnya diam - diam Jessica sepertinya menyimpan rasa suka terhadap Alex.
Alex memang menganggap Jessica tak lebih dari sekedar sebagai seorang sahabat, namun nyatanya terlihat jelas dimata Carla bahwa Jessica mengharapkan lebih dari sekedar hubungan persahabatan dengan Alex. Bahkan Carla pun pernah mendapatkan informasi dari salah seorang sahabat SMA Alex yang bernama John yang mengatakan bahwa sebenarnya Jessica dulu pernah menyatakan cinta kepada Alex, namun sayangnya ditolak oleh Alex yang hanya menganggapnya sebagai seorang sahabat.