
Pukul 12 siang dikafe milik Rain, Carla yang biasanya akan pergi makan siang bersama Peniel diruang khusus makan karyawan, kali ini ia lebih memilih menyendiri disebuah rooftop diatas gedung kafe tersebut.
Dirooftop itu, Carla berdiri menatap kosong gedung - gedung yang tampak menjulang tinggi dihadapannya. Pikirannya menerawang jauh, ia kembali teringat akan kejadian semalam dan akan perkataan Rain semalam. Hingga tanpa terasa air matanya pun kembali menetes membasahi pipi putihnya itu.
"Hiks...Alex...hiks...maaf...maafkan aku hiks...," Carla mulai terisak hingga pundaknya pun bergetar karena menangis.
Sementara itu diruang makan karyawan, tampak Rain memasuki ruangan dengan matanya yang menyisir seluruh ruangan, seolah sedang mencari seseorang, hingga manik matanya tertuju kepada Peniel yang kini sedang menikmati santapan siangnya bersama dengan Gery.
"Hei kau...pelayan," panggil Rain sambil berjalan menuju ke meja Peniel.
Mendengar itu Peniel pun melihat kearah sumber suara, begitupun dengan Gery.
"Ahh tuan muda, ada apa mencari saya ?" Peniel dan Gery segera bangkit dari kursinya dan sedikit membungkuk memberi hormat pada tuan mudanya tersebut.
"Ng...apa kau melihat gadis itu ?" tanya Rain kemudian.
"Maksud anda Carla ?" Peniel langsung menebaknya dengan tepat.
"Eumm..., dimana dia ? kenapa dia tidak ikut makan siang disini ?"
"Tadi sepertinya saya melihatnya keatas rooftop, tuan muda,"
"Ke rooftop ?...untuk apa dia kesana ?" tanya Rain penasaran.
"Saya juga tidak tahu tuan, hanya yang saya tahu sejak tadi pagi ia tampak murung, bahkan ketika saya mengajaknya untuk makan siang, dia pun menolak dengan alasan sedang tidak nafsu makan katanya," jelas Peniel.
"Benar tuan muda, sepertinya kak Carla sedang ada masalah," Gery ikut menimpali.
"Masalah apa ?" Rain semakin penasaran dibuatnya.
"Ng kalau itu, kami juga kurang tahu, tuan muda," Gery.
"Ya sudah kalau begitu, teruskan makan siang kalian, aku mau pergi dulu."
"Baik, tuan muda," jawab Peniel dan Gery bersamaan.
Rain pun pergi meninggalkan mereka berdua, dan ternyata ia berniat mencari Carla dirooftop.
Tak berapa lama kemudian, kini Rain telah tiba dirooftop gedung kafenya. Sesampainya disana, dilihatnya Carla yang sedang berdiri membelakanginya sambil menatap kearah gedung - gedung tinggi disekitar kafe tersebut.
Untuk beberapa saat, Rain hanya diam memandangi gadis itu dari belakang. Rain menyadari ada sesuatu yang aneh pada Carla saat melihat pundak gadis itu yang tampak bergetar dan terdengar suara sesenggukan darinya.
"Apa gadis itu sedang menangis ?...kenapa ?..apa dia menangis karena aku menghukumnya untuk bekerja disini ?...Ahh kenapa tiba - tiba hatiku terasa sesak melihatnya seperti ini ? suara tangisannya membuat hatiku sakit," gumam Rain dalam hati.
Rain pun berjalan mendekat kearah Carla dari belakang. Namun sesampainya dibelakang Carla, Rain menghentikan langkahnya. Matanya menatap sendu gadis itu.
"Hei gadis kopi tumpah jangan menangis," ucapnya dalam hati. Entah kenapa Rain seolah tak rela melihat gadis itu menangis.
__ADS_1
Perlahan namun pasti, Rain pun menyentuh pundak Carla dari belakang.
"Ehh...!!" Carla yang terkejut segera menoleh kebelakang dan menghentikan tangisannya, saat dilihatnya Rain yang kini ada dihadapannya, ia pun buru - buru menghapus air matanya.
"Nih...pakai ini untuk menghapus air matamu !" ucap Rain sambil menyodorkan sebuah sapu tangan miliknya kepada Carla.
"T-terimakasih...," dengan gugup Carla pun menerima sapu tangan tersebut dari tangan Rain.
Carla sibuk menghapus air matanya menggunakan sapu tangan, sementara Rain segera mensejajarkan dirinya disamping Carla.
Rain menatap gedung tinggi dihadapannya.
"Apa menangis sendirian ditempat ini, bisa menenangkan hatimu ?" tanya Rain kemudian sambil masih menatap kedepan.
Carla telah selesai menghapus air matanya, lalu kemudian menarik napas dalam.
"Hhh...yah lumayan, setidaknya bebanku bisa sedikit berkurang dengan menangis ditempat ini," jawab Carla yang kini matanya juga kembali menatap kedepan.
"Apa hukuman yang kuberikan padamu sangat membebanimu hingga kau menangis seperti itu tadi ?" tanya Rain.
"Bukan....bukan karena itu aku menangis. Aku memang tidak suka dengan hukuman yang kau berikan, tapi aku sama sekali tidak menangis sejak pertama kali kau memberikan hukuman itu padaku," Carla.
"Eumm...., jadi....karena masalah lain kah kau menangis ?"
Carla mengangguk tanpa menjawab. Rain melirik kearah Carla yang baru saja mengangguk.
"Kenapa ?...kenapa aku tak boleh menangis ?"
"Bukan karena kau tak boleh menangis, tetapi seharusnya kau mencari teman untuk berbagi jika kau sedang ada masalah."
Carla menoleh kearah Rain disampingnya, "Tapi aku tak punya teman untuk berbagi," ucapnya lirih.
Rain pun menoleh dan menatap gadis itu. "Kupikir aku satu satunya orang yang tak memiliki teman didunia ini, ternyata kau juga."
Mendengar itu, Carla pun menatap Rain tak percaya. "Mana mungkin orang sepertimu tak punya teman. Kau tampan dan kaya, mana mungkin tidak ada yang mau berteman denganmu," batin Carla.
Rain tersenyum kearahnya, "Kenapa kau menatapku seperti itu hmm..?"
"Ahh...tidak apa - apa, hanya saja sepertinya tidak mungkin jika orang sepertimu tidak memiliki teman."
"Heuhh...kalau teman yang palsu memang banyak, tapi teman yang benar - benar teman sejati, sepertinya aku tidak punya...," entah kenapa tersirat kesedihan mata Rain saat mengucapkan kata itu.
"Ohh..begitu."
"Didunia ini, tidak semua orang bisa dipercaya dan menjadi teman sejati disaat kita kesusahan, tapi disaat kita senang baru banyak yang mau mengaku sebagai teman."
"Ya kau benar."
__ADS_1
"Apa kau butuh teman untuk curhat ?" tanya Rain kemudian.
"Memangnya kenapa ?" Carla balik bertanya.
"Kalau kau mau, aku bisa menjadi teman curhatmu saat ini."
"Aneh, kesambet apa nih orang, kenapa tiba - tiba dia jadi baik padaku ?" batin Carla.
"Kok malah diam ?" tanya Rain heran.
"Ng....k-kenapa kamu tiba - tiba baik sama aku?"
"Ya gak kenapa - kenapa sih, cuma aku gak tega aja kalau melihat ada seorang gadis yang menangis sendirian seperti tadi."
"Wah...ternyata hatinya lembut juga nih si sombong," batin Carla lagi. "Ng...nggak usah, terimakasih. Aku udah baik - baik saja kok," tolak Carla.
"Hmm...ya sudah kalau kamu gak mau curhat sama aku. Buruan makan siang dulu sana, nanti kamu sakit lagi," ucap Rain kemudian.
"Ihh..sok perhatian lagi, aku kan disini lagi kamu hukum."
"Cihh...siapa yang perhatian sama kamu, a-aku ngomong gitu supaya kamu gak sakit, karena kalau kamu sakit, nanti kamu bisa ngerepotin semua orang disini," jawab Rain salah tingkah.
"Iya...iya aku tahu, aku memang harus bekerja disini buat gantiin jas kamu itu," Carla mengerucutkan bibirnya lucu, dan hal itu malah membuat Rain merasa gemas dibuatnya.
"Imut juga dia," batin Rain. "Ya sudah ayo cepat ke ruang makan!" tanpa menunggu persetujuan dari Carla, Rain segera menarik pergelangan tangan kanan Carla dan menggandenganya menuju ke ruang makan.
"Hei tunggu, lepaskan aku!" teriak Carla, namun tak digubris oleh Rain.
Sesampainya diruang makan karyawan, semua mata tertuju kepada mereka berdua, dimana Rain yang kini masuk kedalam ruangan sambil menggandeng pergelangan tangan Carla.
"Pelayan, cepat siapkan makan siang untuk gadis ini!" teriak Rain pada salah satu karyawan diruangan itu.
"B-baik, tuan muda," jawab pelayan tersebut.
"Hei untuk apa kau menyuruhnya, aku kan bisa mengambil makananku sendiri," protes Carla.
"Sudah jangan cerewet, duduk sini !" Rain menarik sebuah kursi dan menyuruh Carla untuk duduk, Carla pun terpaksa duduk menurutinya.
Tak berapa lama kemudian, pelayan tadi datang dengan membawa nampan berisi makanan dan minuman untuk Carla, lalu meletakkannya diatas meja.
"Sekarang cepatlah kau makan, dan kalau sudah selesai temui aku diruanganku !" setelah berkata demikian, Rain pun segera meninggalkan Carla yang melongo menatap kepergiannya.
"Untuk apa dia memanggilku
keruangannya lagi ?" gumam Carla dalam hati.
Sebelum mulai menyantap makanannya, tiba - tiba Carla tersadar bahwa sejak tadi ia masih menggenggam sapu tangan milik Rain yang dipinjamkannya tadi.
__ADS_1
"Hmmm....si sombong itu hatinya baik juga ternyata. Sapu tangan ini akan kubawa pulang dan ku cuci, besok baru akan kukembalikan padanya," Carla tersenyum lalu berucap dalam hati "Terimakasih."