Adakah Cinta Untuk Carla

Adakah Cinta Untuk Carla
Bab 25


__ADS_3

Sebelum kembali ke rumah, Carla mampir ke apotek untuk membelikan obat penurun panas bagi Alex. Setelah itu, ia pun berjalan pulang dengan langkah gontai, hatinya masih diliputi kesedihan dan rasa bersalah karena kejadian ditaman tadi.


Sesampainya dihalaman rumah, Carla heran karena melihat mobil Jessica yang terparkir disana.


"Jessica? Apakah dia ada didalam sekarang?" batin Carla bertanya-tanya. Lalu ia segera bergegas masuk ke dalam rumah.


Carla tak mendapati Jessica diruang tamu maupun diruang tengah. Carla yang curiga jika saat ini Jessica sedang berada dikamar Alex pun segera menuju ke sana.


Dan benar saja, sesuai dugaan saat Carla tiba dikamar Alex, ternyata memang Jessica ada disana sedang duduk diatas ranjang tempat tidur Alex.


"Sedang apa kau disini?" tanya Carla dengan tatapan dingin.


"Tentu saja menjaga Alex," jawab Jessica dengan tampang senganya. "Kau sendiri kemana saja, hah? kekasih sedang sakit bukannya dijagain, malah kau tinggal pergi!" Jessica malah mengomeli Carla.


"Ck! Diamlah, kalau kau tidak tahu apa-apa!" Tegur Alex pada Jessica.


"Aku keluar untuk membelikan obat penurun panas untuk Alex," jawab Carla kemudian.


"Oohh...kirain...kau habis pergi menjenguk Ayahmu yang dipenjara itu lagi!" sindir Jessica.


"Jessica, cukup! Hentikan!" Alex yang emosi kembali menegur Jessica.


Carla hanya diam, meski kesal namun ia berusaha untuk tetap bersikap tenang. "Ekhem...ngomong-ngomong, bisakah kau turun dari tempat tidur kekasihku sekarang juga?" ucap Carla pada Jessica.


"Heuh...memangnya kenapa kalau aku duduk disini? Kau keberatan?" timpal Jessica.


"Iya, aku keberatan. Itu adalah tempat tidur kekasihku dan aku tak suka melihat gadis lain berada diatas kasur yang sama dengannya," jawab Carla lantang.


"Cepatlah kau turun!" perintah Alex pada Jessica.


"Pacarmu itu terlalu lebay, padahal kan kita berdua sudah pernah melakukan 'itu' diatas kasur yang sama di apartemen ku, hihi...," bisik Jessica ditelinga Alex.


Alex pun segera memberikan peringatan melalui matanya agar Jessica tidak banyak bicara. Jessica yang mengerti pun akhirnya terpaksa turun dari atas tempat tidur Alex.


Melihat itu Carla pun merasa lega. Ia lalu mengeluarkan obat yang dibelinya tadi dari dalam bungkusan yang ia bawa.


"Sayang, sekarang diminum dulu obatnya ya, biar panasmu cepat turun," ucap Carla sambil meraih segelas air mineral dari atas meja nakas disamping tempat tidur Alex.


"Iya sayang, terimakasih." Alex segera meminum obat yang diberikan oleh Carla.


Melihat pemandangan dihadapannya, Jessica memutar bola matanya jengah. "Cih, sok romantis! Pakai acara nyuruh minum obat segala. Belum tahu saja kau, kalau kekasihmu kini juga adalah kekasihku. Bahkan kami sudah melakukan hal yang jauh lebih dari sekedar romantis. Carla...Carla...bodohnya kau itu!' cibir Jessica dalam hati.


Carla melirik kearah Jessica yang masih berdiri disana. "Kau mau apa lagi disini? Kalau tidak ada urusan lagi, lebih baik kau cepatlah pulang sana!" Carla mengusir Jessica secara terang-terangan.


"Ck, beraninya kau mengusirku. Apa kau tidak tahu kalau aku ini juga kekas...eh, maksudku aku adalah sahabat dekatnya Alex sejak kecil?" Jessica hampir saja keceplosan.

__ADS_1


Jantung Alex hampir saja mau copot rasanya saat mendengar ucapan Jessica yang hampir keceplosan tadi.


"Iya, aku tahu kalau kalian sudah bersahabat sejak kecil. Kau kan sudah sering mengatakannya berulang kali sampai aku bosan mendengarnya. Tapi aku ini pacarnya, jadi aku berhak mengusirmu dari sini, agar tidak mengganggu istirahat pacarku yang sedang sakit ini. Sekarang pergilah!" ucap Carla ketus.


"Iya, Jessica pulanglah sana! Aku ingin beristirahat," Alex pun ikut mengusir Jessica.


"Ck, Alex! Awas ya kau nanti kalau sudah sembuh, kau harus membayar sikap buruk mu ini padaku!" Batin Jessica kesal.


"Oke, baiklah aku akan pulang sekarang. Bye Alex, semoga cepat sembuh," ucap Jessica genit, lalu segera pergi dari ruangan itu.


"Sudah berapa lama dia ada disini?" tanya Carla setelah kepergian Jessica.


"Ng...belum lama kok. Hanya sekitar beberapa menit sebelum kau pulang tadi," jawab Alex gugup.


"Oohh...hmm...ya sudahlah, kalau begitu sekarang kau istirahatlah. Semoga besok pagi panasmu sudah turun dan kau pun lekas sembuh."


"Iya, Carla sayang. Terimakasih untuk obat yang kau berikan tadi."


"Iya, sama-sama, sayang. Sekarang aku mau ke kamarku dulu ya," pamit Carla, dan diangguki oleh Alex.


Lalu Carla pun segera keluar dari kamar Alex.


***


Rain yang merasa patah hati karena penolakan dari Carla terhadapnya tadi, kini tampak termenung dikamarnya.


"Mulai sekarang aku harus benar-benar bisa melupakannya. Aku harus mencari cara agar tidak selalu dekat-dekat dengannya terus," pikirnya.


***


Carla pun kini termenung dikamarnya, ia kembali teringat akan kejadian di taman tadi sore bersama Rain.


"Ternyata benar, si sombong itu merindukan ku dan juga menyukaiku. Hh...tapi aku harus bagaimana? Aku kan sudah punya Alex. Masa aku harus menerima cintanya begitu saja, tanpa memperdulikan perasaan Alex? Aku tidak ingin mengkhianati kekasihku, tapi...aku juga sedih melihat Tuan Muda pergi dengan perasaan kecewa seperti itu. Tuan Muda, kenapa kita bertemu disaat yang tidak tepat? Seandainya saat ini aku tak memiliki kekasih, aku pasti akan...ah sudahlah, semua sudah terlambat," gumamnya sedih sambil mengusap air matanya yang kembali menetes.


"Tuan Muda, entah kenapa saat ini rasanya aku ingin sekali berada bersamamu. Karena saat bersamamu, hatiku bisa merasakan bahagia, meskipun kita sering bertengkar saat bertemu," gumam Carla lagi.


Hingga malam semakin larut, Carla tetap memikirkan Rain sampai akhirnya ia mengantuk dan tertidur.


***


Keesokkan paginya, Alex tampak telah berpakaian rapi hendak pergi ke kantor.


"Apa kau sudah merasa baikan, sehingga kau mau berangkat ke kantor hari ini?" tanya Carla.


"Iya, sayang. Berkat obat yang kau berikan semalam, kini panas ku sudah turun, dan aku sudah merasa mendingan," jawab Alex.

__ADS_1


"Syukurlah kalau begitu, tapi tetap saja hari ini kau jangan dulu terlalu lelah dikantor. Jika badanmu terasa tidak enak lagi, kau harus berhenti dulu sejenak dan beristirahat, oke?"


"Oke, aku mengerti sayang. Terimakasih."


Setelah sarapan bersama, Alex berpamitan pergi ke kantor. Lalu setelah itu, giliran Carla yang kemudian berangkat ke kafe milik Rain.


***


Saat Carla baru saja memasuki ruangan dapur dikafe, untuk memulai pekerjaannya hari ini, tiba-tiba saja Peniel menghampirinya untuk menyampaikan kabar penting padanya.


"Peniel, memangnya ada kabar penting apa yang ingin kau sampaikan padaku?" tanya Carla penasaran.


"Selamat Carla! Hari ini kau dibebaskan dari hukumanmu di kafe ini!"


Namun bukannya senang mendengar kabar tersebut, Carla malah terdiam tertegun. Raut wajahnya berubah jadi sedih.


"Loh, kok wajahmu sedih begitu sih, bukankah seharusnya kau senang ya?" tanya Peniel heran.


"Kenapa tiba-tiba aku dibebaskan dari hukuman? Upahku kan belum cukup untuk membayar ganti rugi jas milik Tuan Muda?" bukannya menjawab pertanyaan Peniel, Carla malah balik bertanya.


"Ng...aku juga tidak tahu kenapa. Tapi yang jelas tadi pagi Tuan Muda memintaku untuk menyampaikan pesan ini padamu. Bagaimana, kau senang kan?"


"Senang apanya, aku malah curiga kalau si sombong itu ingin membuat ulah lagi denganku. Atau jangan-jangan dia cuma ngeprank?"


"Hahaha...kau ini ada-ada saja. Untuk apa Tuan Muda ngeprank segala? Kalau aku dengar dari suaranya sih, sepertinya Tuan Muda sangat serius kok."


"Masa sih? hmm...kalau begitu aku ingin bertemu dan menanyakannya langsung padanya," ucap Carla, lalu hendak melangkah pergi namun dicegah oleh Peniel.


"Eh, kau mau kemana?"


"Mau ke ruangan si sombong itu."


"Kau mau menemuinya disana? Ck, hari ini dia tidak datang kemari."


"Loh, kenapa?'


"Dia bilang, hari ini dia akan meninjau cabang yang lainnya."


"Aneh, kenapa tiba-tiba sekali?"


"Ya sudah, sekarang lebih baik kau pulang saja sana. Kau tak perlu lagi capek-capek bekerja disini mulai hari ini. Sekali lagi selamat ya!"


"Aku tidak mau berhenti hari ini. Aku mau tetap disini sampai aku mendapat penjelasan langsung darinya."


"Ha? Kau yakin, masih mau bekerja disini?"

__ADS_1


"Iya, aku yakin."


"Hmm...baiklah, terserah kau saja kalau begitu," Peniel yang merasa heran pun akhirnya hanya bisa mengalah dengan keputusan Carla.


__ADS_2