Adakah Cinta Untuk Carla

Adakah Cinta Untuk Carla
Bab 6


__ADS_3

Sesampainya Carla di dapur, pelayan yang membawanya tadi segera memperkenalkan nya dengan beberapa pegawai yang ada disana. Kemudian pelayan tersebut pun memberitahukan tugas apa saja yang harus dilakukan Carla serta mengajarinya bagaimana cara mengerjakan tugas tersebut kepada Carla.


Carla memulai tugas pekerjaannya mulai dari hal - hal yang ringan terlebih dulu seperti mencuci piring dan membersihkan meja dan ruangan di dapur tersebut.


Carla menghela napas lelah sambil mengelap peluh didahinya.


"pukk...!!"


"Ehh...!" Carla tersentak kaget saat seseorang menepuk bahunya dari belakang.


"Hei....nona Carla," ucap seseorang yang ternyata adalah pelayan yang tadi membawanya ke dapur.


"Ahh ternyata kau, Peniel...," ucap Carla pada sipelayan yang ternyata bernama Peniel itu.


"Haha.. kenapa kau terkejut seperti itu ?...kau pasti sedang melamun," Peniel.


"T-tidak kok" elak Carla. "O ya cukup panggil aku Carla saja, tidak usah terlalu formal, kita kan sudah berkenalan tadi."


"Eumm..baiklah..Carla, sekarang apakah kau sudah merasa lelah ?" Peniel.


"Ya lumayan, ternyata bekerja seperti ini cukup menguras keringat ya," Carla.


Peniel tersenyum kecil mendengar ucapan Carla barusan. "Kalau begitu istirahat lah, lagipula sekarang sudah jam 12 siang, waktunya untuk makan siang."


"Memangnya aku boleh beristirahat ?" tanya Carla ragu.


"Tentu saja, kenapa tidak ?...ayo ikut aku, kita pergi keruang makan khusus karyawan sekarang !"


"Hah ?...," Carla malah menganga bingung.


"Ayo cepat ikut aku !" Peniel.


Carla pun mengikuti Peniel dari belakang sampai tiba diruang makan.


Dan kini Carla telah duduk berhadapan dengan Peniel disalah satu meja makan yang ada diruang tersebut.


"O ya kalau boleh aku tahu siapa nama pria sombong yang tadi itu ?" tanya Carla disela santap siangnya.


"Maksudmu tuan muda pemilik kafe ini ?" Peniel.


"Iya si sombong yang katanya jasnya seharga SEBELAS JUTA itu," Carla sengaja menekankan kata pada kalimat sebelas juta karena hatinya masih merasa kesal dengan kejadian tadi.


Peniel tersenyum geli mendengar ucapan Carla barusan. "Kau masih kesal ya karena kejadian tadi ?"


"Ya iyalah siapa yang gak kesal, masa hanya gara - gara aku tidak sengaja menumpahkan kopi dijasnya, dia memaksaku untuk bekerja disini" celoteh Carla kesal sambil mempoutkan bibirnya lucu, membuat Peniel semakin tertawa geli melihatnya.


"Kau lucu sekali," ucap Peniel sambil tertawa.


"Hei kau bukannya menjawab pertanyaan ku, malah menertawaiku," protes Carla.


"Iya maaf, O ya kau tadi tanya siapa nama bos ku itu kan ?" Peniel.


"Iya ihh...," Carla


"Namanya Rain...kami disini biasa memanggilnya dengan sebutan tuan muda Rain."


"Rain ?...hujan ?...," Carla.


"Eum...kudengar ibunya memberinya nama Rain karena ketika tuan muda lahir saat itu sedang turun hujan besar," Peniel.


"Oh begitu, pantas saja namanya Rain. Ng...jadi kafe ini miliknya sendiri atau milik orang tuanya ?" tanya Carla lagi.


"Kafe ini miliknya sendiri, dan diusianya yang masih 24 tahun, tuan muda sudah mampu mengembangkan bisnis kafenya ini hingga menjadi 8 cabang. Selain itu tuan muda juga kelak akan menjadi pewaris tunggal dari perusahaan besar milik ayahnya."

__ADS_1


"Huh...pantas saja dia sombongnya selangit," Carla.


"Hmm...mungkin karena dia anak tunggal dan semua keinginannya sejak kecil sudah biasa dituruti oleh kedua orang tuanya, makanya dia jadi seperti itu. Tapi sebenarnya tuan muda adalah pribadi yang hangat dan baik, jika kau sudah mengenalnya dengan baik," Peniel.


"Ahh..masa ?" Carla mencebikkan bibirnya tak percaya. "Tapi dia itu sepertinya seorang pekerja keras, makanya dia bisa sukses di usianya yang masih muda."


"Eum..kau benar sekali, tuan muda memang seorang pekerja keras dan ulet dalam berbisnis," Peniel.


"Permisi, maaf mengganggu sebentar," tiba - tiba salah seorang bawahan Peniel datang menghampiri meja mereka.


"Ada apa Gery ?" tanya Peniel.


"Maaf kak, saya disuruh tuan muda untuk menyampaikan pesan kepada nona Carla," jelas karyawan bernama Gery tersebut.


Carla dan Peniel menatap Gery dengan rasa penasaran.


"Apa pesannya ?" Peniel.


"Ng...tadi tuan muda meminta agar nona Carla mengantarkan makan siang ke ruangannya," Gery.


"A-Apa ?..." Carla. "Duh si sombong itu seenaknya saja menyuruhku," kesal Carla dalam hati.


"Oh begitu rupanya, ya sudah kalau begitu kau buatkan makanan untuk tuan muda, lalu berikan pada Carla yang akan mengantarkannya keruangannya nanti."


"Baik kak," Gery pun segera pergi ke dapur untuk membuatkan menu hidangan makan siang bagi tuan mudanya.


"Apa iya aku harus mengantarkan makan siang untuknya ?" Carla.


"Tentu saja, kau harus mau menuruti perintahnya selama bekerja disini, kecuali kalau kau mau mengganti rugi jasnya yang tadi sudah dibuangnya karena terkena noda kopi yang kau tumpahkan," jelas Peniel panjang lebar.


"Hhh...iya baiklah, aku mengerti," Carla.


"Huh...seandainya Alex tahu dia pasti akan menggantinya, tapii....ahh tidak... dia pasti akan memarahiku dulu dan mengataiku bodoh dan ceroboh. Bagaimanapun aku tak boleh memberitahukan hal ini kepadanya. Uhh...bodohnya aku, kenapa aku harus mengalami hal seperti ini sih..?" ucap Carla dalam hati dan tanpa sadar ia memukul mukul kepalanya sendiri karena merutuki kebodohannya.


"Ehh..apa ?..a-ahh..aku tidak kenapa - kenapa," Carla yang tersadar segera berhenti memukuli kepalanya.


"Cepat habiskan makananmu, lalu antarkan makan siang untuk tuan muda !" Peniel.


"Hh..iya baiklah," Carla.


*


*


Carla berjalan pelan - pelan hampir setengah mengendap sambil membawa sebuah nampan berisi makanan dan segelas jus lemon menuju ke sebuah pintu ruangan yang terletak dilantai dua yang tadi telah ditunjukan oleh Peniel kepadanya. Ruangan tersebut tidak lain adalah ruangan dari sang pemilik kafe yakni Rain.


Dengan ragu - ragu, ia pun mengetuk perlahan pintu ruangan tersebut dari luar.


"Tokk...tokk..tokk..."


"P-Permisi tuan muda...makan siangnya sudah datang," Carla mengikuti anjuran Peniel sebelum ke ruangan tersebut untuk memanggil Rain dengan sebutan tuan muda.


"Masuk !" sebuah kata terdengar dari dalam ruangan tersebut.


Carla pun membuka pintu ruangan tersebut dengan sebelah tangannya, lalu masuk kedalam.


"Permisi tuan muda...,"Carla berdiri didalam ruangan dengan kedua tangannya yang memegang nampan berisi makanan dan minuman tadi.


"..........," Tak ada jawaban sama sekali dari siempunya ruangan yang kini matanya tertuju kearah laptop dengan jari jarinya yang sibuk mengetik kan sesuatu di laptop.


"Permisi tuan muda....," Carla mengulangi ucapannya lagi karena tak mendapat respon. "Tuan...tuan muda...ini makan siang anda."


"..........."

__ADS_1


"Tuan muda ini makan siang anda. Saya harus meletakkannya dimana ?" Carla mulai kesal.


"...........," Rain masih sibuk mengetik.


"Tuan muda...tuan muda..TUAANNNN MUDAAA...!!!" teriak Carla diakhir kalimat karena kesal.


Rain yang terkejut segera menghentikan kegiatannya dan melihat kearah Carla.


"Berisik sekali kau kopi tumpah," Rain.


"Siapa suruh kau tidak menjawab ku sejak tadi dasar jas kotor sok mahal," sahut Carla yang kini lupa untuk memanggil pria dihadapannya itu dengan sebutan tuan muda.


"KAU....ck...aku kan tadi sudah menjawabmu," Rain.


"Kapan ???..." Carla.


"Tadi..waktu aku bilang 'masuk' " Rain.


"Iya tapi kan sekarang aku sudah masuk dan berada diruangan ini. Apa kau tak bisa melihatku ? atau telingamu itu bermasalah hah ?" Carla.


"Kau tidak lihat aku sedang sibuk ?" Rain.


"Tapi sesibuk itukah sampai kau tidak bisa menjawabku walau hanya sebentar. Makananmu harus kuletakkan dimana ?...lihat mejamu itu penuh dengan berkas, sampai aku bingung harus meletakkannya dimana," kesal Carla.


"Haissshh...kau ini....," Rain melihat kearah mejanya dan memang benar bahwa meja nya sangat berantakan dan penuh dengan berkas pekerjaan.


"Ck...berantakan sekali kau ini, awas minggir biar aku rapikan dulu !" dengan berani Carla menyuruh Rain untuk bangkit dari kursinya agar ia leluasa merapikan meja kerjanya.


"Berani sekali gadis ini menyuruhku minggir," batin Rain yang anehnya ia pun menuruti perkataan Carla untuk bangkit dari kursinya dan berdiri disamping meja kerjanya sendiri.


Carla meletakkan nampan yang dibawanya keatas kursi milik Rain, lalu ia mulai merapikan meja kerja Rain yang penuh dengan berkas itu. Dengan telaten, Carla menyusun dan menumpuk berkas - berkas itu dengan rapi dan menggeser sedikit posisi laptop kesamping dan meletakkan nampan tadi diatas meja tepat didepan kursi yang diduduki Rain tadi.


Sementara Rain memperhatikan Carla hingga mejanya tertata dengan rapi.


"Nah sekarang sudah rapi, silahkan anda duduk kembali dan cepat habiskan makan siang anda," ucap Carla yang kini telah berpindah posisi kearah depan meja kerja tersebut.


Tanpa menjawab, Rain pun segera kembali ketempat duduknya semula.


"Menurutku seharusnya anda menambah sebuah meja dan satu set sofa diruangan ini, agar anda tidak perlu makan diatas meja kerja anda nantinya," tanpa dimintai pendapat, Carla menyampaikan idenya sambil matanya menyisir keseluruh ruangan kantor tersebut.


Rain yang terkejut dengan kelancangan Carla itu, hanya bisa terdiam sambil menatap kearah gadis itu.


"Lagipula didalam ruangan anda ini masih terdapat tempat yang kosong yang sayang jika tidak dimanfaatkan. Anda kan bisa menambah beberapa ornamen atau hiasan untuk menambah keindahan kantor anda agar tidak tampak membosankan seperti ini," Carla masih sibuk mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.


"Apa katamu ? kau bilang kantorku membosankan ?" Rain tak terima.


"Iya sangat membosankan, lihat dindingnya saja tampak polos, tidak ada lukisan atau hiasan yang terpasang. Warna catnya juga hanya putih polos, bukankah lebih baik jika dipasang wallpaper dengan warna yang cerah misalnya," Carla.


"Ck...hei gadis kopi tumpah, kau ini cerewet sekali ya, baru sekali masuk ke ruangan kantorku tapi sudah berani mengaturku," protes Rain.


"Ck..aku kan cuma memberikan ide, kalau tidak suka ya sudah," Carla.


"Ck...berisik, sudah pergi sana !" Rain mengusir Carla.


"Huh dasar jas kotor sok mahal yang tidak tahu terima kasih , diantar makanan dan diberi ide tapi tetap saja bertingkah angkuh," ucap Carla sambil melengos dan berjalan keluar ruangan.


"Aishh...gadis itu," kesal Rain.


Setelah Carla keluar meninggalkan ruangannya, Rain pun mengedarkan pandangannya ke seluruh ruang kantornya itu sambil berpikir.


"Iya juga ya, aku baru sadar ruangan kantorku dikafe ini dan juga dikantorku ditempat usahaku yang lain selama ini memang tampak monoton dan tidak menarik. Kenapa selama ini tidak pernah ada orang yang mengatakan hal ini padaku, tapi kenapa si gadis kopi tumpah itulah yang berani menyampaikan kesannya terhadap ruangan kantorku. Astaga kemana saja aku selama ini sampai tidak memperhatikan ruang kerjaku sendiri," gumam Rain.


Rain pun kini berniat mencari seorang Desainer interior terbaik yang ada dikota tersebut.

__ADS_1


__ADS_2