
Alex terbangun, dengan tubuh lengket karena peluh disekujur tubuhnya. Tubuhnya terasa lemas setelah seharian tenaganya terkuras demi memuaskan hasrat birahi Jessica.
Alex melihat kesamping, dilihatnya Jessica masih tertidur pulas tanpa sehelai benang pun ditubuhnya. Tapi bukannya merasa bergairah melihat tubuh polos Jessica, Alex malah merasa jijik melihat gadis disampingnya tersebut.
Alex pun mendudukkan dirinya, ia termenung dan hatinya terasa mencelos saat teringat akan Carla.
"Carla, aku sudah terlalu dalam mengkhianatimu. Kau pasti akan kecewa padaku jika kau tahu semuanya ini, maafkan aku Carla. Aku mencintaimu," air mata pun tiba - tiba menetes disudut matanya.
Alex menarik napasnya dalam-dalam dan menyeka air matanya sendiri. Sebelum bangkit dari atas tempat tidur, Alex kembali menoleh kearah Jessica untuk memastikan bahwa gadis itu benar-benar masih tertidur pulas.
"Mumpung dia masih tertidur pulas, aku harus menggunakan kesempatan ini untuk segera pergi dari sini, kalau tidak dia akan memintaku untuk memuaskannya lagi," pikir Alex, lalu dengan tergesa gesa ia pun segera mengenakan seluruh pakaiannya kembali yang berserakan dilantai.
Setelah itu, ia pun segera mengambil kunci mobilnya dan berlari menuju keluar pintu meninggalkan apartemen tersebut dan menuju kerumahnya.
*
*
Pukul 11malam, Alex telah tiba dirumahnya.
Saat ia masuk kedalam ruang tengah, lagi-lagi ia mendapati Carla yang ketiduran disofa seperti biasanya karena menunggu kepulangannya.
"Maafkan aku sayang," ucap Alex lalu mengecup kening Carla dengan sayang.
Ia membopong tubuh Carla dan memindahkannya kekamar. Setelah ia membaringkan tubuh Carla dan menyelimutinya ditempat tidur, ia memandangi wajah damai kekasihnya itu.
"Cup..cup..cup..," dengan lembut Alex mulai mengecupi seluruh wajah Carla, mulai dari kening, pipi, hidung, dagu hingga bibir. Air mata pun menetes disela sela kecupannya pada Carla.
"Maaf...maafkan aku...maaf..hiks..," Alex mulai tak kuasa menahan tangisnya. Karena tak ingin membangunkan Carla, ia pun bergegas pergi meninggalkan kamar Carla dan berlari kedalam kamar pribadinya, lalu menangis tersedu sedu disana.
"Aku memang brengsek!...hiks..aku tak pantas untukmu Carla, aku mencintaimu hiks.. tapi aku hanya menyakitimu terus." Diruangan kamarnya yang gelap, karena ia sengaja tak menyalakan lampunya, Alex terus merutuki kesalahannya.
"PLAKK..PLAKK..PUKK..PLAKK..PUKK...!!" dengan penuh penyesalan, Alex memukuli wajah dan tubuhnya sendiri.
*
*
Pagi menjelang, Carla yang menyadari kini tubuhnya telah berada diatas ranjang tempat tidurnya itu pun langsung mengerti bahwa pasti Alex lah yang telah memindahkannya kesana.
Ia segera bangkit dari tempat tidurnya dan berlari keluar ruangan. Ia mencari Alex diruang tamu hingga kedapur, namun Alex tak ada disana.
"Apakah Alex masih tertidur?" pikirnya, lalu segera beranjak menuju kekamar Alex.
Sesampainya didalam kamar Alex, Carla mendapati Alex yang masih tertidur diatas ranjang tempat tidurnya. Carla pun naik keatas tempat tidur Alex, dan duduk bersila disebelahnya sambil memandangi wajah Alex.
"Alex, kenapa wajahmu tampak lelah? apakah kemarin begitu banyak pekerjaan yang harus kau urus?" Carla tertegun melihat wajah Alex yang terlihat pucat.
Carla pun menyentuh kening Alex menggunakan punggung tangannya."Astaga, apa kau demam?" pikir Carla setelah menyentuh kening Alex.
Gadis itu pun segera berlari ke dapur, dan kembali dengan membawa baskom berisi air hangat dan handuk kecil ditangannya. Ia lalu mengompres kening Alex menggunakan handuk itu.
"Aduh bagaimana ini? Alex sakit, aku jadi tidak bisa pergi kekafe kalau begini. Jika aku pergi, Alex akan tahu bahwa selama ini diam-diam aku bekerja dikafe milik Rain.Tapi jika aku tidak berangkat pergi ke kafe, aku takut Rain akan memarahiku," Carla bergumul dengan pikirannya.
Setelah lama menimbang-nimbang, Carla pun memutuskan untuk mengirim sebuah pesan pada Peniel.
"Peniel, tolong sampaikan permohonan ijinku pada tuan muda Rain untuk tidak masuk hari ini, karena aku sedang ada urusan penting," isi pesan Carla.
Setelah mengirimkan pesan tersebut, Carla pun menarik napas dalam-dalam. "Ahh...semoga saja Rain tidak marah dan bisa mengerti, tapi....jika dia besok marah ya sudah apa boleh buat," seketika Carla terbayang akan wajah Rain ketika sedang memarahinya tempo hari, namun tetap terlihat tampan di mata nya.
__ADS_1
"Uuhh..apa apaan sih aku ini, kenapa malah terbayang wajahnya," Carla menggeleng gelengkan kepalanya berusaha menghilangkan bayangan wajah Rain dari pikirannya.
"Ahh...sudahlah, dari pada memikirkan sisombong itu, lebih baik sekarang aku kedapur membuat bubur untuk Alex," ucapnya lalu segera bergegas ke dapur.
*
*
Dikafe
Pagi ini Rain sengaja datang lebih awal dari biasanya, karena tak sabar ingin melihat wajah gadis yang sangat dirindukannya sejak kemarin, ya siapa lagi jika bukan Carla.
Dengan semangat, ia melangkahkan kaki menuju ke dapur kafe untuk menemui Carla, namun sesampainya disana ia tak mendapati Carla diruangan itu.
Peniel yang melihat tuan mudanya tampak celingak celinguk kebingungan seperti anak ayam kehilangan induknya itu pun segera menghampirinya.
"Selamat pagi tuan muda, apa anda mencari seseorang?" sapa Peniel.
"Iya, aku mencari si kopi tumpah. Dimana dia? apa dia belum datang?" tanya Rain yang matanya masih sibuk menyisir ke seluruh ruangan dapur yang cukup besar itu.
"Maat tuan muda, hari ini Carla ijin tidak masuk kerja," ucap Peniel.
"Apa?? tidak masuk?" Rain kaget mendengar ucapan Peniel.
"Iya tuan, katanya dia sedang ada urusan penting," jelas Peniel.
"Ada urusan apa memangnya dia, sampai tidak masuk segala?" Rain merasa kesal.
"Kalau itu, saya juga kurang tahu tuan."
"Dasar gadis itu, arrgghh..!!" dengan kesal Rain pun pergi meninggalkan ruangan dapur.
*
*
Ia lalu mengambil ponselnya dan mencoba untuk menghubungi Carla.
Awalnya panggilan Rain tidak mendapat jawaban dari Carla, namun setelah ia mencobanya hingga kelima kalinya, barulah Carla menjawab telepon darinya.
"Halo, gadis kopi tumpah. Kenapa kau baru menjawab panggilanku hah?" kesal Rain.
"M-Maaf, tuan muda. Tadi aku tidak dengar, karena aku sedang di dapur, sedangkan ponselku kuletakkan di kamar ku."
"Hari ini kenapa kau tidak masuk?"
"Ng...aku sedang ada urusan penting tuan muda, jadi maaf...aku tidak bisa masuk."
"Urusan apa hah?"
"Urusan...ng..urusan penting dengan keluargaku," bohong Carla.
"Iya urusan keluarga apa? apa keluargamu sedang tertimpa masalah?"
"T-Tidak bukan begitu, ini rahasia, aku tidak boleh memberitahukannya pada siapapun, pokoknya ini urusan penting," Carla terpaksa mengarang cerita.
"Aneh, memangnya urusan keluarga apa yang dirahasiakan?" batin Rain. "Ya sudah kalau begitu cepat bereskan urusan keluargamu, nanti sore sepulang dari kafe aku akan datang kerumahmu," lanjut Rain.
"Hah...untuk apa kau datang kemari?" Carla mulai khawatir.
__ADS_1
"Untuk menemui dan melihat wajahmu," jawab Rain yang membuat waktu serasa berhenti dan jantung Carla pun berdebar.
".......memangnya kenapa kau ingin melihatku?"
"Kau membuatku gila seharian kemarin karena tak melihatmu, aku tidak mau hari ini jadi semakin gila karenamu," ucap Rain berterus terang yang semakin membuat jantung Carla semakin berdebar tak karuan.
"Apa maksudmu?" tanya Carla seolah tak mengerti.
"Kau tak mengerti juga, aku merindukanmu Carla," tanpa basa basi lagi Rain mengungkapkan yang sejujurnya.
Carla terdiam terpaku tak tahu harus menjawab apa, tiba-tiba dari balik pintu terdengar suara parau seseorang.
"Carla, kau sedang bicara dengan siapa?"
"Tuutt...tuutt...tuuuttt...."
Dan sambungan telepon pun terputus secara sepihak oleh Carla.
Rain terkejut, karena Carla tiba-tiba memutus panggilannya. Rain berusaha menghubunginya kembali, namun sayangnya ponsel milik Carla sudah tidak aktif.
Rain tertegun dan mengingat kembali kejadian barusan, dimana ia pun bisa mendengar suara seorang laki-laki diseberang telepon tadi.
"Carla, apakah kau sedang bersama pacarmu saat ini?" Rain terduduk lemas di kursi nya dengan raut wajah sedih.
*
*
Sementara itu dirumah Alex.
Carla yang terkejut dengan suara Alex yang tiba-tiba muncul dari balik pintu, dengan reflek segera mematikan ponselnya dengan cepat.
"Sayang, kenapa kau kemari? kau kan sedang sakit, sebaiknya kau beristirahat saja di kamarmu," ucap Carla gugup sambil menghampiri Alex.
Alex yang berjalan pelan karena tubuhnya yang terasa lemas itu pun segera mendudukkan dirinya ditepi ranjang Carla dan tak menghiraukan ucapan Carla barusan.
"Kau tadi sedang bicara dengan siapa ditelepon?" Alex mengulangi pertanyaannya lagi.
"Ohh...itu tadi tetangga didepan sana, dia cuma menanyakan berapa harga daging sapi yang biasa aku beli di supermarket diseberang jalan yang menuju kehalte," Carla berbohong.
"Oh apakah Ny. Hans yang kau maksud ?"
"Iya betul, Ny. Hans yang menghubungi ku tadi."
"Aneh, kenapa dia harus bertanya padamu soal itu?"
"Entahlah, mungkin karena dia sering melihatku berbelanja disana, makanya dia menanyakannya padaku."
"Ohh, begitu."
"Alex, apa kau sudah mendingan? tadi kau tampak demam, makanya aku mengompres keningmu, dan sengaja tidak membangunkan mu agar kau bisa beristirahat," Carla mendudukkan dirinya disamping Alex, kemudian menyentuh kening Alex untuk memastikan apakah demamnya sudah turun.
"Ahh..iya terimakasih sayang. Aku memang agak kurang enak badan, jadi kuputuskan untuk tidak masuk kekantor hari ini."
"Iya, lagi pula demammu juga belum turun, kembalilah ke kamarmu lagi dan beristirahatlah. Aku akan merawatmu hari ini," Carla tersenyum kearah Alex.
"Eumm...terimakasih sayang," Alex balas tersenyum kearah Carla, lalu membelai rambut Carla dengan lembut.
"O ya, aku tadi sudah membuatkan bubur untukmu. Setelah kau kembali ke kamarmu, aku akan mengantarkannya kesana."
__ADS_1
"Iya sayang, aku akan ke kamar ku lagi sekarang, aku tunggu disana ya."
Alex pun kembali ke kamar nya, sementara Carla segera menuju ke dapur untuk mengambilkan bubur yang telah dibuatnya tadi.