
Pagi yang cerah.
Ayuna duduk termenung di atas kursi di depan cermin meja rias berukuran sedang yang ada di kamar dia dan suaminya. Ayuna sudah begitu cantik dengan sedikit polesan di wajahnya. Ayuna menatap pantulan dirinya di cermin dengan pikiran yang traveling kemana-mana. Ayuna tiba-tiba teringat dengan kenangan indahnya bersama sang adik sepupu nya Nina dulu.
Dulu, dulu sekali, Nina adalah orang yang paling Ayuna utama kan di hidupnya, sehingga apapun akan Ayuna lakukan untuk membuat adiknya itu bahagia. Tapi, Ayuna merasa bersalah atas apa yang terjadi kepada Nina sekarang. Ayuna masih menyalahkan dirinya, dia merasa Nina menjadi seperti ini karena dirinya dulu terlalu memanjakan Nina, dan dia merasa karena dirinya tidak becus merawat dan mengarahkan sang adik.
Setitik, rasa dihatinya juga merasa kalau ini semua memang murni kesalahan Nina sendiri, Nina yang begitu tega dan jahat, tidak tahu terimakasih. Ayuna, gamang. Memang benar adanya, jangan pernah berharap dan percaya sepenuhnya kepada manusia, karena manusia tempatnya salah. ''sekarang aku harus bangkit, aku akan menjalani hari-hari yang bahagia bersama suamiku tanpa bayang-bayang masa lalu yang menyakitkan lagi, biarlah semua menjadi kenangan dan pelajaran'' batin Ayuna, setetes air mata jatuh meluncur membasahi pipinya, dia teringat akan wajah-wajah orang yang begitu dia rindukan yang telah tiada di dunia, Ibu, Ayah, dan juga bude Lastri.
*******
"Sayang, kamu sudah siap?'' tanya Arya, sang suami yang tiba tiba datang. Arya memeluk tubuh Ayuna dari belakang, tangannya meraba perut sang istri yang sudah sedikit membuncit. Tadi Arya pergi sebentar mengantarkan sang mama ke bendara, Ratna akan kembali keluar negeri menyusul sang suami yang tak jadi pulang waktu itu.
Pesta pernikahan Arya dan Ayuna terpaksa di tunda untuk sementara waktu karena ada suatu hal, Ratna terlihat tidak baik-baik saja pagi ini.
''aku sudah siap, mas. Bagaimana mama mas? kenapa wajah mama pagi ini terlihat murung?'' sahut Ayuna, menanyakan keadaan sang mama mertua tercinta.
''mama baik-baik saja, tadi mas sudah bicara sama mama. Tidak ada yang perlu di khwatirkan, kamu jangan terlalu banyak pikiran ya, sayang.'' sambung Arya, dia melihat pantulan dirinya dan sang istri dicermin, mereka tampak sangat serasi.
''iya, mas. Terimakasih mas atas semua yang telah mas lakukan untuk aku selama ini. Aku merasa begitu beruntung bisa di cintai oleh pria seperti mas. Kenapa takdir begitu lambat menyatukan kita, kenapa dulu aku harus bertemu dengan orang yang tidak tepat untukku terlebih dahulu'' ungkap Ayuna, bersandar diperut sang suami.
''sudah lah, sayang, yang terpenting sekarang kita berdua sudah bersama-sama. Kejadian masa lalu cukup di jadikan pelajaran saja, ya, sayang. Dimana, para pengkhianat dan tukang bohong tidak akan pernah merasakan kebahagian yang abadi.
seharusnya mas yang berterimakasih kepada kamu sayang, karena kamu sudah membuat mas merasa menjadi pria sejati.
Istri mas kenapa jadi mellow begini sih? Sudah, ayo, kita berangkat ke kantor Polisi. Nanti mas juga akan mengajak kamu ke perusahaan kita, mas akan memperkenalkan kamu secara langsung kepada semua karyawan yang ada disana.'' tutur Arya, mengajak istrinya pergi.
''mereka kan sudah mengenali aku mas. Mas lupa ya kalau aku ini dulu kan sekretaris nya kamu, mas.''
''iya, sekretaris. Tapi, sekarang, Ayuna Berlianti adalah istri dari seorang Arya Wiguna sang CEO di perusahaan.''
''mas bisa saja''
''ayo, berangkat sayang. Atau kamu mau mas gendong saja''
''tidak usah, lebay banget sih''
__ADS_1
''lebay karena sayang, lebay karena cinta!'' jawab Arya enteng. Yang berhasil membuat wajah Ayuna merona.
Setelah itu Arya dan Ayuna berangkat ke tempat yang menjadi tujuan mereka hari ini.
πππππππ
Ayuna duduk di dalam mobil, di kursi belakang, disamping sang suami. sedangkan Dimas didepan, menyetir.
Ayuna masih terus bertanya kepada Arya, tentang siapa sebenarnya orang yang ingin mencelakai nya waktu itu, tapi, Arya tetap kekeh tidak mau menjawab.
''mas, siapa sih? Ayo katakan Sekarang juga!'' tanya Ayuna lagi.
''nanti saja sayang, ini sebentar lagi kita akan sampai'' jawab Arya lembut.
**********
Ayuna dan Arya duduk berdampingan di kursi, ruang tunggu. Arya mengenggam tangan Ayuna, dia bisa melihat kalau istri itu sedikit grogi. Mereka sudah meminta izin kepada petugas untuk bertemu Sisil.
Di dalam jeruji besi, Sisil duduk memeluk lutut, dia terus menangis dari semalam, dia terus mengutuk Ayuna. Karena dia menganggap semua ini terjadi karena Ayuna, karena kehadiran Ayuna di dalam hidup Arya. Orang tua Sisil belum mengetahui kejadian ini, karena mereka sedang berada di luar negeri. Saat sedang menangisi nasibnya, seorang petugas memanggil namanya.
''Nona, Sisil. Ada yang ingin bertemu dengan anda'' ucap petugas, memanggil Sisil, membuka gembok jeruji besi.
''silahkan anda lihat sendiri'' jawab petugas, lalu membimbing Sisil kedepan.
π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯
Sisil berhenti, dia diam mematung dengan posisi tangan di borgol. Dia melihat Arya dan Ayuna duduk menunggu nya.
Sedangkan Ayuna yang belum menyadari kehadiran Sisil, merebahkan kepalanya kebahu sang suami, akhir-akhir ini semenjak masa kehamilannya, tubuhnya memang gampang sekali letih. Arya mengelus kepala sang istri, dengan tangan yang satu tetap menggenggam tangan Ayuna. Sisil yang melihat itu, merasa ada yang sakit di dalam dadanya. ''bisa-bisanya mereka berbahagia, sedangkan aku di sini begitu menderita'' batin Sisil geram.
''ayo nona, Sisil'' ajak petugas wanita, dia kembali membimbing tubuh Sisil yang sempat termenung, mereka lalu menghampiri Arya dan Ayuna.
Sisil kembali membawa langkah nya menuju dua orang berbeda jenis itu. Yang pria amat dia cintai dan yang wanita begitu dia benci.
*******
__ADS_1
"Si-sil?'' kaget Ayuna, matanya sedikit melotot. Sedangkan Arya hanya memandang dengan perasaan sedikit pilu, dia merasa sedih melihat kondisi Sisil yang begitu berantakan tak terurus saat ini.
Sisil duduk di depan mereka berdua, dengan wajah menantang.
''mau ngapain kalian kesini? Kalian ingin menertawakan aku?'' ujar Sisil sinis tanpa rasa bersalah, seharusnya dia malu atas apa yang telah dia lakukan terhadap Ayuna.
''jadi, selama ini kamu yang sudah berusaha mencelakai aku? A-ku tidak menyangka! Kenapa kamu tega? kamu seorang pembunuh Sisil, karena kamu bude aku meninggal. Kamu yang menjadi penyebab nya!'' racau Ayuna berteriak, Arya tidak menyangka akan reaksi sang istri. Arya mencoba menenangkan Ayuna.
''Iya, aku. Kenapa? Seharusnya kamu yang mati Ayuna, kamu itu perempuan pembawa sial. Kamu sudah menjadi jarak pemisah antara aku dan Arya, Arya itu milikku, wanita sialan'' balas Sisil, berteriak tidak kalah keras. Membuat semua perhatian tertuju kepadanya. Arya ikut terpancing emosinya.
''Sisil! jaga ucapanmu. Seharusnya kamu merasa bersalah, seharusnya kamu meminta maaf sama Ayuna. Kamu benar-benar keterlaluan. Sekarang terserah kamu, aku sudah tidak peduli lagi, tadinya aku berniat ingin sedikit meringankan hukuman mu, tapi, sekarang aku sungguh tidak peduli'' ungkap Arya, kemudian dia berdiri, membimbing Ayuna, membawanya berlalu dari hadapan Sisil.
Sisil melihat kepergian Arya dan Ayuna dengan perasaan begitu hancur, dia tidak bisa berbuat apa-apa, karena keterbatasannya. Sedangkan tadi saat perdebatan singkat yang terjadi, tanpa mereka sadari ada seorang wartawan yang menyamar, wartawan itu merekam semua kejadian. ''asyik, berita bagus. Sebentar lagi, berita tentang Sisil si model yang begitu terkenal dan sangat sombong yang saat ini berada di penjara akan tersebar kemana-mana. Aku yakin, semua orang akan berlomba mencari berita tentangnya. Berita ini akan menjadi trending topik, aku bakalan kaya raya'' batin Wartawan tersebut dengan senyum liciknya.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
''mas, kamu kenapa tidak mengatakan dari tadi malam saja kalau Sisil lah pelaku yang sebenarnya! Kalau kamu mengatakan dari semalam, aku tidak akan sekaget ini mas. Aku benci sama kamu mas'' ketus Ayuna, saat mereka berdua sudah berada di parkiran kantor polisi. Ayuna pergi berlalu meninggalkan Arya sendirian di parkiran, Ayuna berlari dengan tangis nya yang berderai. Ayuna merasa bersalah, dia merasa karena dirinya lah semua masalah ini terjadi. ''semua ini salahku, aku dari awal sudah menyadari kalau Sisil menyukai mas Arya. Seharusnya aku pergi dari kehidupan mas Arya, kenapa aku begitu mudah untuk jatuh cinta kepada mas Arya, aku tidak menyadari kalau aku sudah mematahkan hati orang lain, ada hati wanita lain yang hancur karena aku. Lantas apa bedanya aku sama Nina. Aku, tidak jauh berbeda dari Nina'' gumam Ayuna, semenjak hamil perasaan Ayuna begitu sensitif. Ayuna terus berlari menyusuri jalan raya. Dengan Arya di belakangnya mengejar dengan perasaan takut, dia takut terjadi apa-apa sama Ayuna dan calon bayi mereka yang ada dikandungan Ayuna.
''sayang, berhenti! Mas minta maaf. Kamu jangan begini. Mas mohon berhentilah, Sayang'' teriak Arya panik, sedikit lagi dia akan mensejajarkan langkahnya dengan sang istri. Sedangkan Dimas, dia hanya diam, melihat dari dalam mobil. Dimas tidak ingin ikut campur urusan suami istri tersebut.
''perut aku, aw ... perut aku kenapa sakit begini?'' batin Ayuna, Ayuna berhenti dengan memegang perutnya, peluh membasahi keningnya.
''sayang, mas minta maaf, ya. Kamu jangan marah sama mas. Mas tidak bisa hidup tanpa kamu'' ucap Arya, dia memeluk Ayuna dari belakang, dia belum menyadari kalau sang istri lagi kesakitan.
''mas, perut aku sakit sekali, mas'' ujar Ayuna lirih, Arya yang mendengar perkataan sang Istri merasa amat kaget, dengan cepat dia menggendong tubuh Ayuna, membawa sang istri ke dalam mobil, mobil yang sudah berada di samping mereka, Dimas dengan siap siaga menyusul Arya dan Ayuna saat dia melihat Ayuna berhenti berlari tadi.
πππππππ
Ditempat yang berbeda, Yudha sedang berbahagia. Karena dia baru selesai mengucapkan ijab qobul. Yudha sudah resmi menikahi Sarah. Sedangkan dari belakang terdengar bisik-bisik tetangga yang membicarakan mereka.
''kok bisa-bisa nya dia menikah begitu cepat ya, padahal mamanya baru saja meninggal''
''saya yakin, istrinya dulu bisa tega membunuh mamanya pasti karena stres, karena ulah si Yudha.''
''iya, aku bahkan sering sekali melihat Yudha dan Sarah pergi berdua saat status si Yudha masih suami Nina.''
__ADS_1
''ternyata mereka telah berbuat zina di kampung kita''
Dan banyak lagi ocehan lainnya, yang membuat kuping Yudha dan Sarah merasa panas.