
Setelah kepergian Wiguna, Arya pun pamit. Meminta izin kepada Ayuna dan mamanya untuk kembali ke kantor. Kerena masih banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan.
Meskipun moodnya sedang tidak baik-baik saja, tetapi pekerjaan sedang menunggunya. Karena sekarang Arya lah satu-satunya pemimpin perusahaan.Β
selama di perjalanan Arya masih kepikiran tentang ulah sang papa yang sungguh keterlaluan.
Arya duduk dibelakang kemudi, Dimas sang asisten yang menyetir.
''maaf bos, hari ini agenda kita cukup padat. Ada banyak klien yang ingin bertemu sama anda dan juga sekretaris baru yang sudah aku terima kemarin juga ingin bertemu bos'' Dimas berkata saat sedang dalam perjalanan menuju kantor.
''iya, terimakasih Dimas. Kamu atur saja semuanya'' jawab Arya apa adanya.
''saya perkirakan jadwal bertemu klien akan selesai hingga magrib bos, saya terpaksa mengiyakan janji mereka karena semua sudah menumpuk bos, mereka sudah menunggu terlalu lama.''
''hanya untuk hari ini saja, kan?'' tanya Arya.
''iya, bos''
''syukurlah. Aku sungguh tidak bisa untuk jauh-jauh dari Ayuna terlalu lama, istriku itu selalu membuatku merindu'' ucap Arya, tersenyum.
''bos terlalu bucin deh kayaknya'' sahut Dimas, dengan fokus melihat ke depan.
''terserah, yang penting aku dan Ayuna sama-sama saling membutuhkan setiap saat. Kamu jangan iri begitu. Makanya cepetan cari pasangan'' celetuk Arya, yang berhasil membuat Dimas terdiam sambil menggaruk-garuk tengkuknya.
Tidak berapa lama, akhirnya mereka tiba di pelantaran kantor.
Seorang wanita cantik, dengan rok hitam selutut dan kemeja putih sedang menunggu Arya, dia duduk di ruang tunggu.
''bos, itu sepertinya sekretaris baru yang sudah aku terima kemarin bos. Dia ingin menemui anda'' ucap Dimas menjelaskan.
''oh, baik lah, suruh dia masuk'' perintah Arya.
**********
''senang bisa bekerja sama dengan anda tuan, Arya Wiguna'' ucap seorang wanita mengulurkan tangan kepada Arya.
__ADS_1
''iya. Semoga anda bisa bekerja dengan baik, Nona. Karena diluar sana banyak sekali yang mengantri ingin berada diposisi anda'' sahut Arya datar, menerima uluran tangan wanita muda itu.
Lalu kemudian wanita itu berlalu dari ruangan Arya, dengan senyum yang tersungging.Β
''Sisil, aku akan membalas semua rasa sakit mu. Akibat ulah mereka'' batin wanita misterius itu tersenyum penuh dendam.
**********
''mama, mama kuat banget sih. Ayuna kagum sama kesabaran mama.'' ucap Ayuna.
''tidak juga sayang, selama ini mama sering melamun dan menangis sendirian. Mama hanya berusaha agar terlihat tegar didepan kalian. Karena mama tidak mau kamu dan Arya kepikiran. Mama sayang sama kalian, sama calon cucu mama. Maafkan mama ya, karena mama sudah merahasiakan semua ini. Mama merasa malu, ternyata kamu sudah mengetahui semua ini dari lama'' Ungkap Ratna. Ratna dan Ayuna sekarang sedang duduk di taman belakang.
''mama, Ayuna sayang sama mama. Terimakasih karena mama sudah menjadi contoh yang baik buat aku ma, terimakasih karena selama ini mama sudah begitu peduli sama aku. Aku dan mas Arya akan selalu ada buat mama'' ujar ayuna. Dia merebahkan kepalanya di pundak sang mama mertua, sedangkan Ratna mengelus perut Ayuna.
''iya sayang. Terimakasih kembali. Duhh, cucunya oma, sudah besar rupanya. Sehat-sehat di dalam sana ya sayang, jangan nakal kasian sama mama, oma sudah tidakΒ sabar lagi pengen ketemu kamu'' ucap Ratna tersenyum penuh arti, dia merasakan tendangan sang cucu.
''iya oma, aku nggak nakal kok. Aku sekarang lagi aktif-aktifnya oma'' jawab Ayuna, menirukan suara khas anak kecil.
''kira-kira cucu oma ini cewek apa cowok sih?''
''besok oma akan tahu sendiri, kejutan dong oma.'' jawab Ayuna lagi, dengan suara yang dibuat-buat.
Ratna sudah merasa lega karena sebentar lagi dia akan terlepas dari jerat cinta yang menyakitkan baginya.
***********
Rumah sakit ternama, di Jakarta.
Semua petugas yang melakukan tindakan merasa panik melihat keadaan pasien, pasien nampak begitu lemah dan pucat seperti sudah tak bernyawa.
Salsa masih tidak sadarkan diri, karena banyaknya kehilangan darah. Para dokter sedang melakukan tindakan operasi sesar kecil untuk menyelamatkan nyawa Salsa, membersihkan rahim Salsa, sedangkan bayi di dalam kandungan nya diketahui sudah meninggal, detak jantung bayi tak berdosa itu sudah tidak terdeteksi lagi. Karena terlambat mendapatkan pertolongan.
Wiguna merasa begitu syok mendengar kabar buruk ini, dia baru saja selesai menandatangi surat perjanjian penanganan pasien. Wiguna duduk diruang tunggu dengan sang mertua duduk disampingnya.
Wiguna menunduk lesu meneteskan air matanya.
__ADS_1
''semua ini gara-gara kamu Wiguna, Kenapa kamu tidak berhati-hati melakukan itu! Sudah tahu Salsa sedang mengandung'' cetus ibunya Salsa, dia merasa sangat kesal sama ulah Wiguna.
''sudah bu, ini sudah terjadi. Aku juga merasa begitu kehilangan. Lagian Salsa juga hanya menurut saja saat aku melakukan itu'' sahut Wiguna, dia tidak mau di salahkan.
''ibu tidak terima ya, kalau sampai terjadi apa-apa sama Salsa, sudah cukup nyawa cucu ibu saja yang melayang. Kalau sampai terjadi apa-apa sama Salsa kamu akan ibu tuntut''
''ibu tenang saja, Salsa akan baik-baik saja aku sudah membayar mahal dokter terbaik di rumah sakit ini untuk menangani Salsa.'' jawab Wiguna.
Bik Asih tidak menjawab lagi, mereka diam dengan pikiran masing-masing. Dua manusia yang terpaut perbedaan usia hanya beberapa tahun itu merasakan perasaan kesal yang sama.
''kenapa ini semua bisa terjadi, aku begitu ceroboh. Padahal aku sudah lama sekali menginginkan anak perempuan, sekarang anak perempuan yang aku harap-harap kan sudah tiada lagi. Mana Arya juga sudah tahu tentang Salsa. Hancur, semuanya berantakan. Semua ini gara-gara Ratna. Sekarang aku harus mencari anak perempuan aku bersama Arumi dulu. Tapi, bagaimana caranya? Arumi sudah tidak ada lagi dan keluarganya juga tidak ada satupun yang aku tahu di mana. Aku sangat-sangat menginginkan anak perempuan.'' batin Wiguna seraya memijat-mijat kepalanya.
ππππππππππ
Di tempat lain.
Seseorang sedang termenung diatas kursi roda, melamun, memikirkan kehidupan kedepannya. Sekarang dia lemah tak berdaya.
Ternyata hasil pemeriksaan dokter waktu itu mengalami kesalahan, kaki Yudha sebenarnya sangat sulit untuk disembuhkan kembali.
Sang istri entah dimana, biasanya Sarah selalu setia mendampinginya. Tapi, akhir-akhir ini Sarah berubah. Dia selalu keluar malam pulang pagi hari. Siang hari pun Sarah habiskan waktu dikamar, tidur sepanjang hari.
Yudha tidak berani berbuat apa-apa sama Sarah, karena kondisinya yang sungguh lemah dan karena alasan Sarah yang selalu mengatakan kalau dia sedang bekerja malam-malam, mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan Yudha dan juga Tesya. Toko sembako milik Yudha pun telah dijual,Β untuk membiayai pengobatan dan terapi kaki Yudha yang biaya tidak lah murah.
''mas, ayo makan'' ucap Tesya menyodorkan sendok yang berisi makanan.
Yudha membuka mulut, menerima suapan dari sang adik, Tesya.
Tesya duduk dikursi yang berbeda yang berhadapan dengan Yudha.
Perut Tesya sudah mulai kelihatan membuncit, kondisi nya sudah mulai stabil. Setelah beberapa kali dia berusaha untuk menggugurkan kandungannya dulu. Karena tidak ada satupun laki-laki yang mau bertanggung jawab atas kehamilannya, karena semua laki-laki itu merupakan pria beristri. Bahkan ada juga yang Istrinya datang langsung menemui Tesya, melabrak Tesya.
Yudha dan keluarganya sudah tidak punya muka lagi di tempat itu, semua warga begitu gencar menggunjing mereka membicarakan kehamilan Tesya, mengatakan Tesya sedang mengandung anak haram.
''mas, kenapa nasib kita gini amat sih, mas?!'' ujar Tesya, setelah dia selesai menyuapi Yudha.
__ADS_1
''mas nggak tahu juga dek. Kamu tahu, mas merasa sangat menyesal atas apa yang telah mas lakukan sama mbak Ayuna dulu. Semua musibah ini bermula setelah mas menyakitinya. Semua menjauh, harta mas habis, dan sekarang kondisi mas sungguh memperhatikan. Hidup kita tidak pernah tenang lagi setelah itu.'' sahut Yudha, dengan tatapan lurus kedepan.
''iya, mas benar juga. Aku menyesal mas. Aku kepengen ketemu sama mbak Ayuna, aku mau meminta maaf sama dia, mas. Tapi, aku merasa malu mas'' oceh Tesya. Ucapan menyakitkan yang pernah dia lontarkan kepada Ayuna dulu selalu menggema di ingatannya.