
''sayang'' panggil Arya pelan.
Ayuna tidak manyahut.
''sayang, bangun!'' panggil Arya cemas. Dengan sang anak masih berada di dekapannya.
Ayuna tetap tidak menyahut, membuat Arya semakin dilanda kepanikan, begitu juga mama Ratna.
''sayang, kamu kenapa? Apa yang terjadi?!'' ucap Arya bergetar, dia menyentuh pelan tangan sang istri.
Arya memperhatikan Ayuna lekat, dia duduk di ujung kasur dibagian pucuk kepala sang istri, dia membelai wajah sang istri yang nampak masih sedikit pucat. Arya ingin memastikan keadaan Ayuna.
Suhu tubuh Ayuna terasa normal, begitupun detak jantungnya.
''sayang ... kamu jangan becanda dong'' ujar Arya lagi.
Lalu setelah itu.
''hahaha ... hahaha ... maaf mas'' ucap Ayuna tergelak, dengan senyum sedikit tertahan, karena menahan perutnya yang sakit.
''Ayuna, enggak lucu tahu'' tegur Arya, sambil mencubit hidung mancung Ayuna.
''maaf mas, ma! Tadi aku hanya memejamkan mata ku sejenak menunggu kedatangan kalian, tapi tiba-tiba ide jahil ku muncul seketika. Sekali lagi maaf ya mas. Aku cuma ingin memastikan saja, seberapa takutnya kamu kehilangan aku'' jawab Ayuna menunduk.
''lain kali jangan di ulangi lagi ya, sayang, jangan di tanya lagi soal itu. Mas sangat-sangat mencintai dan menyayangi kamu sayang'' jelas Arya, lalu mengecup kening sang istri.
Setelah selesai, Ayuna menatap kedua bayi mungil yang ada di dekapan sang suami dan mertuanya.
''duh anak mama, sini sayang. Maafkan mama ya karena tadi mama mengabaikan kalian sebentar'' sambut Ayuna.
Ayuna menatap lekat kedua bayi mungil yang ada dihadapannya mereka sedang terlelap. Lalu, saat Ayuna mengecup mereka satu persatu, mereka terbangun kerena sentuhan bibir Ayuna di pipi lembut mereka.
''kalian sangat menggemaskan sayang, terimakasih kerena kalian sudah hadir di hidup Pama, Papa dan Oma. Kalian anugrah terindah bagi kami, akan mama jaga kalian dengan sebaik mungkin. Jadi anak Sholeh dan sholehah ya sayang.
Mama masih tidak percaya ternyata Allah begitu baik, dia memberikan nikmat yang bertubi-tubi setelah di uji dengan sedikit rasa sakit.'' Ayuna berkata haru, dia meneteskan air mata nya.
Arya dan Ratna pun ikut terharu melihat kedekatan Ayuna dan sang bayi.
''mas, sini aku mau coba memberikan ASI untuk anak kita yang perempuan dulu ya, habis itu baru jagoan kita lagi''
''iya sayang''
Sementara Ayuna menyusui bayi perempuannya dulu, sang mertua menggendong bayi yang satu.
__ADS_1
Bayi perempuan Ayuna dan Arya menyusui dengan lahap walaupun hanya mampu menyusu sedikit saja, Begitu pun dengan yang laki-laki.
''ini, cucu-cucu oma mau di kasih nama siapa, sayang?'' tanya mama Ratna.
''bagusnya siapa, mas, ma?'' tanya Ayuna kembali.
''mmm siapa, ya?'' jawab Arya seraya memegang bagian kepalanya.
''duh kalian ini telmi bangat sih, biar mama saja yang kasih nama buat cucu-cucu oma ini.
Ini yang ganteng mama kasih nama Azzam, sedangkan yang cantik mama kasih nama Azzura. Bagaimana? Bagus tidak?'' jelas mama Ratna.
''wah, bagus juga tuh ma. Bagaimana sayang''
''iya bagus, aku setuju aja'' jawab Ayuna.
Biar aku yang tambahin nama belakang nya ya. Untuk si ganteng papa kasih nama Azzam Putra Aryana dan untuk yang cantik ini papa kasih nama Azzura Putri Aryana. Semoga dengan nama yang oma dan papa sematkan untuk kalian, kalian bisa jadi anak yang berguna, saling menyayangi dan menghargai saat sudah besar nanti.'' jelas Arya dengan senyum mengembang serta dengan harapan yang tertanam di hati.
Arya memilih menyembunyikan dulu tentang status sang buah hati nya dari publik, bukan karena apa-apa. Tapi, Karena dia ingin melindungi sang anak dari orang-orang yang berniat jahat. Mungkin minggu depan Arya akan mengumumkan secara langsung tentang kelahiran sang buah hatinya. Saat semua nya sudah dia rasa aman.
*********
Tidak berapa lama, Wiguna masuk ikut bergabung sama Arya, Ayuna dan mama Ratna.
Azzam dan Azzura sudah kembali tertidur di samping Ayuna.
Begitupun Ayuna, Ayuna juga ikut tertidur, karena merasa begitu lelah habis berjuang menyelamatkan dua nyawa.
Ratna dan Arya duduk di kursi didekat ranjang Ayuna.
''papa habis dari mana, pa?'' tanya Arya ramah.
''papa tadi ada sedikit urusan Arya'' jawab Wiguna.
''oh. Papa kalau mau gendong cucu-cucu papa silahkan, pa'' tawar Arya.
''tidak usah Arya, papa menatap mereka dari jauh saja sudah senang. Semoga kalian jadi anak yang berguna ya sayang, sama seperti papa kalian'' ucap Wiguna pelan, netra-nya berkaca-kaca.
Arya menghampiri sang papa, hendak menyentuh bahu Wiguna. Tetapi,
''jangan sentuh papa, Arya!'' ucap Wiguna tertahan.
''kenapa, pa?'' tanya Arya heran dengan kening berkerut.
__ADS_1
Wiguna tidak menjawab, dia berlalu keluar dengan terburu-buru. Meninggalkan Arya dan Ratna yang dilanda rasa penasaran dan berbagai tanda tanya sama sikap aneh Wiguna.
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
beberapa minggu yang lalu di Apartemen.
Sudah seminggu ini tubuh Wiguna terasa begitu letih, padahal dia tidak sedang mengerjakan pekerjaan berat.
Apalagi **** ***** nya yang sesekali terasa gatal dan mengeluarkan cairan kental yang sangat bauk.
Wiguna begitu cemas memikirkan kondisi kesehatan nya saat ini, dia belum berani memeriksa kerumah sakit karena malu. Karena menurut pandangan orang-orang Wiguna bukan lah orang sembarangan.
Wiguna menatap pantulan bayangan dirinya dari cermin. Dia terlihat sangat menyedihkan. Tubuh kurus, wajah kusam dengan garis-garis kerutan yang sudah terdapat di beberapa titik serta bulu-bulu halus yang sudah memenuhi rahangnya.
''berantakan, kenapa semuanya jadi berantakan seperti ini! Hidup ku sudah tidak punya tujuan, padahal aku sudah menikmati semua yang aku mau selama ini.
Aku sudah meniduri lebih dari 5 wanita selama 4 bulan ini. Mereka sudah memuaskan aku. Tapi, kenapa hidupku masih terasa hampa!
Mereka melayaniku dengan sangat baik, tapi kenapa terasa masih ada yang kurang?
Ratna, bagaimana kabar dia sekarang? Aku merasa rindu.'' racau Wiguna di kamar Apartemen miliknya malam itu.
''seminggu lagi adalah sidang putusan cerai aku dan Ratna, aku akan datang. Aku ingin melihat wajah putra serta mantan istriku itu. Setelah itu aku akan pergi keluar negeri.
Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa sama kesehatan ku. Aku sungguh takut.
Aku belum menemukan putri ku yang hilang, aku tidak mau mati sebelum menemukan keberadaan nya'' gumam Wiguna lagi terduduk lesu di sofa.
********
Dan disini lah Wiguna sekarang, menangis tersedu-sedu di toilet rumah sakit setelah mengetahui kenyataan yang menyangkut kesehatan nya.
Tadi, setelah berpikir panjang, akhirnya Wiguna memutuskan untuk memeriksa kelaminnya yang terasa sangat gatal tak berkesudahan. Dia meminta kepada sang Dokter yang memeriksa untuk menyembunyikan identitasnya sebagai Papa dari seorang Arya.
Setelah melakukan berbagai macam tahap pemeriksaan, ternyata benar dugaannya, ternyata Wiguna terkena penyakit yang bernama penyakit Sifilis yang dikenal juga dengan raja singa yang di sebabkan oleh bakteri Treponema Pallidum. Penyakit ini juga sangat berbahaya jika tidak cepat di obati, penyakit yang timbul akibat hubungan **** bebas.
Wiguna merasa sangat frustasi akhir-akhir ini, sehingga tubuhnya semakin hari semakin kurus.
Setelah membasuh wajahnya tua nya di toilet, Wiguna akhirnya keluar dari toilet. Dia melangkahkan kakinya, meninggalkan area rumah sakit, meninggalkan sang putra dan cucu nya. Karena dia merasa tidak percaya diri.
Dia hanya menemui cucu nya sebentar saja.
2 part lagi menuju ending.
__ADS_1