Adikku Selingkuhan Suamiku

Adikku Selingkuhan Suamiku
Kepalaku Sakit


__ADS_3

POV Ayuna


Suasana pagi ini terasa sedikit berbeda. Kami sarapan bersama, ini kali pertamanya aku sarapan satu meja sama Papa. Seharusnya aku merasa bahagia, tapi tidak. Rahasia besar Papa sudah aku ketahui begitu cepat, hingga aku tidak bisa berpura-pura bersikap ramah terhadap nya.


aku melihat Mama, senyum hangat yang biasa aku lihat seakan sirna. Akhir-akhir ini senyum itu sudah tidak pernah lagi terlukis di wajah anggun nan keibuannya. Kalau pun ada, aku yakin itu hanya senyum kepura-puraan untuk menutupi rasa sakit serta untuk menutupi aib sang suami, yang menurutku begitu Mama cinta.


Disela-sela sarapan, mas Arya dan Papa asyik saling melempar guyonan, yang bagi ku terdengar biasa saja. Tapi tidak bagi mas Arya. Mas Arya terlihat begitu bersemangat dan bahagia, Aku yakin mas Arya belum tahu tentang kelakuan bejat sang Papa. Kasihan sekali suamiku.


Apa kurangnya, Mama? mama wanita yang sempurna menurut aku. Mama cantik, dengan wajah keibuan, dia juga sangat baik. Mama sudah berhijrah, Mama sudah menutup auratnya dengan baik. Lalu, apa lagi? Sebenarnya apa yang di cari oleh kaum adam seperti Papa? Kalau dituruti, nafsu tidak akan pernah ada akhirnya, sampai berpuluh kalipun mengganti pasangan, aku yakin rasanya pasti akan tetap sama.


Aku berharap mas Arya ku tidak begitu, karena aku benar-benar sangat trauma mengingat kisah masa lalu ku yang menyakitkan, yang masih meninggalkan bekas luka goresan.


**********


"Sayang, kamu kenapa? Makanannya kenapa cuma diaduk-aduk begitu?'' sapa mas Arya. Aku sedikit kaget karenanya.


''e-eh iya mas. Aku nggak kenapa-napa mas. Ini aku makan mas'' sahut ku, aku memasukkan makanan kemulutku. Aku tidak mau mas Arya sampai curiga melihat sikap ku.


''mama, itu matanya kenapa bengkak dan merah begitu, Ma?" tanya mas Arya, tatapan tajamnya tertuju kearah Mama.


''i-ini, mata Mama kelilipan tadi malam Arya. Mama garuk, makanya jadi merah dan bengkak begini'' jawab Mama sedikit gugup, aku tahu Mama sedang berbohong.


''benaran, pa?'' tanya mas Arya lagi kepada Papa. Untuk memastikannya.


''benar, Arya. kamu tahu sendirikan, Mama kamu itu dari dulu tidak pernah berhati-hati melakukan sesuatu'' balas Papa, tersenyum simpul. Rasanya ingin aku bejek-bejek wajah sok manis Papa.


Aku merasa muak melihat senyum papa, kenapa juga Papa ikut berbohong.


Mas Arya juga ikut tersenyum, aku melihat Mama menunduk saat Papa melihat kearahnya.


''mama, nggak apa-apa kan, ma?'' tanyaku. Aku tidak tahan melihat sikap lemah Mama.


"Mama nggak kenapa-napa sayang, kamu kenapa bertanya seperti itu? ayo, makan yang banyak Ayuna, supaya janin didalam kandungan mu itu tumbuh dengan sehat'' ucap Mama, Mama mengalihkan topik pembicaraan kami.


''iya, ma'' jawabku, seadanya.


Kemudian hanya suara dentingan sendok beradu dengan piring yang terdengar, kami selanjutnya makan dalam diam. Mas Arya menyuapi ku pada akhirnya, karena aku makan dengan tidak berselera, pikiran ku selalu tertuju kepada permasalahan Papa dan Mama.

__ADS_1


**********


Selesai sarapan, aku dan mas Arya kembali ke kamar kami, kami bersiap-siap untuk berangkat. Hari ini aku akan pergi berdua bersama mama, sedangkan mas Arya bersama Papa.


''mas, aku ke kamar Mama dulu ya. Mau lihat Mama sudah siap apa belum'' kataku kepada mas Arya. Mas Arya sedang berada didepan leptop miliknya, mas Arya mengecek beberapa laporan dari Perusahaan sebentar.


''iya sayang, kamu hati-hati ya jalannya'' sahut mar Arya, dia mengelus perutku lembut.


Aku kemudian berjalan menuju kamar Mama, saat telah tiba dihadapan kamar Mama, aku hendak mengetuk pintu, tapi tunggu, aku mendengar suara Mama dan Papa sedang berbicara di dalam.


''Ratna, seharusnya kamu bisa menjaga sikap kamu didepan Arya dan Ayuna. Wajah kamu jangan dibuat sedih begitu, kamu yang happy dong. Ini mata kamu kenapa bengkak begini? Emang kamu nggak bosan menangis terus''


''iya, mas. Maaf''


''iya, iya terus. Kamu nggak usah lebay Ratna. Salsa sekarang juga sudah menjadi istri mas, dia adik madu mu, dia sekarang lagi mengandung anak aku. Kamu jangan pernah lagi cemburu buta sama dia, karena mas sama-sama mencintai kalian berdua''


Aku mendengar suara Papa sedikit membentak kepada mama. Sedangkan mama hanya berbicara seperlunya, suaranya terdengar lirih dan bergetar.


Aku tidak tahan rasanya mendengar Mama di perlakukan seperti itu. Dada ku rasanya ikut sesak.


Aku memilih pergi dari hadapan pintu kamar mama dengan langkah gontai. Kamar kami berada di lantai atas, jadi aku rasa pelayan tidak akan mendengar suara kemarahan Papa barusan.


🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Aku dan mama saat ini lagi berada didalam mobil, kami sedang dalam perjalanan. kami akan mengunjungi sebuah Butik ternama di pusat kota untuk membeli beberapa gaun pengantin ku. Sedangkan mas Arya dan Papa saat ini lagi mengunjungi Perusahaan dan beberapa anak cabang perusahaannya. Kata mas Arya nanti dia akan menyusul aku dan Mama ke Butik.


Selama di perjalanan, Mama lebih banyak diam, Mama hanya sesekali saja berbicara saat aku memulainya.


''mama kenapa diam saja? Mama tidak seperti mama yang aku kenal dulu'' ucapku. Aku merebahkan kepalaku dibahu mama yang tertutup jilbab panjang, Mama kemudian mengelus kepalaku dengan begitu lembut.


''kamu kenapa bicara seperti itu, sayang? Mama lagi malas bicara saja, kamu jangan banyak pikiran ya, nanti berpengaruh sama bayi yang ada dikandunganmu'' jawab mama, lagi-lagi Mama selalu menghindar dari partanyaanku.


''mama, mama kalau lagi ada masalah cerita saja ke aku, Ma. Aku siap mendengarkan semua keluh kesah Mama. Mama jangan pernah sungkan ya, karena sekarang aku sudah jadi anak Mama. Aku akan selalu ada di samping Mama, berbagi suka-duka sama Mama. Mama jangan pernah merasa sendiri karena Mama punya aku dan mas Arya'' ucapku lembut. Mama kemudian mengalihkan pandangannya keluar jendela mobil. Mama seperti menyeka sudut matanya.


''sudah, kamu kenapa ngomong gitu sih sayang? Mama benaran nggak kenapa-napa'' jawab Mama dengan suara serak, posisi nya masih melihat kearah luar, aku mendengar tarikan nafas Mama yang tidak teratur.


Aku kemudian memilih diam, mungkin Mama memang belum mau berbagi dukanya dengannku. Aku akan tunggu saat itu tiba, aku akan selalu menemani mama, karena saat ini hanya mama lah yang aku punya. Ibu dan bude sudah pergi meninggalkan aku untuk selama-lamanya.

__ADS_1


🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Aku mencoba beberapa gaun pengantin yang begitu bagus dan mewah dengan harga yang fantastis, Aku melihat pantulan diriku di cermin, terlihat begitu cantik. Mama tetap setia berdiri disampingku, Mama menyarankan beberapa gaun pengantin yang begitu mewah untukku.


''sayang, coba yang ini lagi. Yang itu begitu ketat, perut mu yang sudah membuncit sedikit terlihat, Mama kasian sama cucu mama nanti dia merasa sesak didalam sana'' saran Mama dengan senyum anggunnya, Mama mengelus perutku. Aku bahagia melihat Mama tersenyum.


Aku kemudian mengganti gaun ku dengan gaun pengantin yang lebih longgar yang ada di tangan Mama. Mas Arya dan Papa katanya sebentar lagi akan sampai.


''yang ini bagaimana, ma? Bagus nggak, Ma?'' tanyaku, saat aku sudah keluar dari ruang ganti.


''yang ini baru pas sayang, kamu cantik sekali. Kita ambil yang ini saja ya, sama yang ini juga'' ucap Mama antusias menunjukkan gaun bewarna putih dan merah muda.


Aku berputar-putar di depan cermin, didalam sana aku melihat seorang wanita dengan gaun bewarna putih, wanita itu terlihat begitu cantik. Aku begitu bahagia. Aku seperti seorang putri. Tapi, dari dalam sana tiba-tiba aku juga melihat seorang wanita paruh baya berjalan dengan cepat kearah aku. Kemudian,


''aw!'' jeritku kaget. Aku merasakan kulit kepalaku terasa begitu sakit.


''dasar wanita sialan, gara-gara kamu anak saya sekarang di Penjara. Dasar pelakor, janda menjijikan'' ucap wanita itu, tangannya masih berada dikepala ku, mencengkram rambutku kuat.


Aku berusaha untuk melawan, namun tenaga ku kalah kuat.


''ini ada apa sebenarnya, Tante? Tante lepasin rambutku. Sakit Tante!'' kataku, sedikit memohon.


''Sopia, lepaskan tangan mu dari rambut Ayuna. Kasihan menantuku. Kamu keterlaluan Sopia. Semuanya bisa kita bicarakan baik-baik'' teriak Mama, Mama berusaha untuk membantu ku.


Tapi wanita seusia Mama ini terlihat seperti kesetanan, dia menarik rambutku dengan begitu kuat tanpa peduli sama tatapan heran orang-orang yang sudah mengerumuni kami.


''rasain kamu, ini tidak seberapa dibandingkan rasa sakit yang kamu torehkan kepada anak saya, Sisil'' teriak wanita yang bernama, Sopia dengan dada naik turun.


Orang-orang berkumpul melihat kami dengan heran, mereka hanya melihat saja, kenapa mereka tidak berniat untuk membantu ku. Aku tidak bisa melakukan perlawanan, Mama pun sama.


''Mas Arya, kamu kenapa lama sekali.'' batinku berharap.


Setelah itu tiba-tiba aku melihat mas Arya ku berjalan begitu cepat ke arah kami dengan wajah merah padam dan kedua tangan mengepal.


Bersambung.


Yang mampir jangan lupa kasih like sama komentar nya ya, supaya author makin semangat.

__ADS_1


__ADS_2