Adikku Selingkuhan Suamiku

Adikku Selingkuhan Suamiku
Surat cerai


__ADS_3

Ratna sudah tiba dirumah. Gegas dia menuju kamar miliknya, karena Ratna tidak mau ketinggalan ibadah 3 rakaat itu. Ratna memutar kenop pintu, begitu pintu terbuka tatapan mata Ratna langsung tertuju kearah sang suami yang sedang berdiri menghadap jendela mengeringkan rambutnya. rambut itu tampak basah serta handuk putih yang melilit sempurna dipinggang sang suami.


''dari mana saja?'' tanya Wiguna ketus.


''mama tadi ada arisan sama teman-teman, mama, pa'' balas Ratna santai dengan senyum simpul.


''seharian ini? Lama sekali''


''namanya juga jarang ketemu, sekali bertemu ya begini''


''oh'' sahut Wiguna cuek.


''keramas lagi?'' tanya Ratna.


''begitulah. Kamu bisa lihat sendirikan''


''hati-hati, Salsa lagi hamil. Nanti terjadi pendarahan sama kandungan nya''


''kami tahu, kami melakukan itu dengan sangat hati-hati''


''ya sudah, kalau begitu mama mau mandi dulu'' sahut Ratna santai.


Ratna berlalu ke kamar mandi. Sebelum berlalu, Ratna menatap sekilas tubuh sang suami yang polos itu, tubuh itu di bagian dada nya terdapat beberapa tanda merah, bekas gigitan wanita ******. Yang membuat Ratna bergidik melihat nya.


Ratna mengguyurkan air ketubuhnya, menikmati sensasi dingin yang menyegarkan. Air mata itu sudah tidak mau lagi keluar, air mata itu sudah kering karena terlalu sering menangis.


''sebentar lagi, aku akan terbebas'' gumam Ratna seraya memejam kan matanya.


************


menu makan malam sudah siap seluruh nya. Ayuna membantu beberapa pelayan menyajikan masakan yang terlihat begitu menggunggah selera itu ke atas meja makan. Sedangkan Arya masih diatas memeriksa beberapa berkas perusahaan terlebih dahulu, karena besok dia akan kembali masuk keperusahaan nya, memimpin perusahaan tersebut.


''non, biar kami saja yang mengerjakan ini semua, non'' ucap seorang pembantu tertua dirumah itu menunduk. Dia merasa tidak enak dan sungkan.


''biarkan aku ikut membantu kalian ya, bik. Aku merasa bosan nggak ada kerjaan'' sahut Ayuna ramah dengan senyumannya.


''baiklah non, non Ayuna hati-hati ya, membawa piringnya''


''oke, siap bik'' jawab Ayuna riang.


Senyum para pelayan yang berbaur bersama Ayuna terlukis indah di wajah mereka masing-masing. Para pelayan di rumah itu begitu bahagia mendapatkan majikan yang teramat baik dan peduli seperti Ayuna. Ayuna tidak pernah sekalipun berkata kasar kepada mereka. Ayuna begitu menghargai status mereka.


Dari atas, Arya yang berdiri didekat pagar tangga melihat istrinya itu sibuk memindahkan masakan yang telah siap ke atas meja makan, senyum itu tersungging sempurna dari bibir tipis Arya. Arya merasa begitu beruntung bisa memiliki istri seperti Ayuna.


''jaga dia dengan baik ya sayang, dia wanita yang istimewa, sangat sulit menemukan wanita berhati lembut seperti Ayuna di zaman ini'' ucap Ratna dari belakang yang membuat Arya sedikit kaget.


''itu pasti ma. Arya sangat mencintai Ayuna, ma''


''betul kata mama mu, Arya. pria sejati seharusnya memang hanya mencintai satu wanita saja di dalam hidupnya'' sambung sang papa yang tiba-tiba ikut bergabung.


Arya yang mendengar tidak merespon sama sekali ucapan Wiguna. Arya merasa muak. Ia melihat ke arah sang Papa, menatap manik mata bewarna hitam tersebut, mencoba menyelam kedalam nya. Arya tidak menyangkan ternyata sang papa begitu pandai bersandiwara, menyembunyikan kebusukannya.


''kamu kenapa melihat papa seperti itu, Arya?'' tanya Wiguna, dia menyadari tatapan Arya yang begitu tajam tertuju kearahnya.


''aku tidak apa-apa, pa. Aku merasa bangga mempunyai sosok seorang papa seperti papa. karena papa yang hanya mencintai mama saja di dalam hidup papa, papa yang sangat mencintai mama. Arya harap selamanya papa akan tetap begitu'' ungkap Arya, yang membuat Wiguna dan Ratna salah tingkah.


''uhuk ... uhukk ... uhukk!'' Wiguna terbatuk-batuk mendengar ucapan sang anak.


Sedangkan Ratna menghampiri sang suami, mengelus dada bidang Wiguna, dia menggandeng tangan Wiguna dengan erat.

__ADS_1


''papa kenapa? Ayo turun, papa harus segera minum, supaya batuknya reda'' Ratna berkata, berusaha mengalihkan topik pembicaraan, karena dia merasa suasana yang sudah tidak nyaman lagi. Ratna merasa bersalah kepada Arya karena tidak pernah jujur tentang apa yang telah terjadi sebenarnya, tentang Wiguna yang telah menikah lagi.


Kemudian mereka bertiga berjalan beriringan menuruni tangga. Mereka nampak seperti keluarga yang sangat harmonis, apalagi Ratna yang sengaja menggandeng tangan Wiguna dengan erat. Dia sengaja melakukan itu, untuk membuat Salsa cemburu, dan untuk memberikan pelajaran kepada Wiguna. Sebelum Ratna benar-benar berpisah dari Wiguna, Ratna ingin memberi kesan yang baik terhadap Wiguna, dia mau membuat Wiguna merasa menyesal seumur hidupnya, karena sudah berani menduakannya dan menyakitinya secara terus menerus.


Salsa dan ibu nya sudah duduk di kursi lebih dulu. Sedangkan Ayuna berdiri menuangkan minuman satu persatu kedalam gelas yang ada dimeja makan.


''sayang, sudah duduk saja yuk. Biar pelayanan saja yang melakukannya.'' ucap Arya, mengelus punggung sang istri.


''mas duduk saja duluan. ini tanggung lho, sudah mau selesai''


''baiklah istriku sayang''


Ratna tersenyum bahagia melihat Arya dan Ayuna.


Sedangkan Salsa menatap Wiguna dengan tatap menusuk, pandangan sinis Salsa membuat Wiguna menciut.


Salsa merasa cemburu melihat Ratna yang menggandeng tangan Wiguna cukup erat.


**********


''heh wanita tua! Minggir sana, aku mau duduk'' ucap Salsa siang itu, saat Ratna sedang duduk santai di Gazebo membaca novel kesukaan nya.


''Salsa, kamu kan bisa mencari tempat lain'' sahut Ratna tidak terima.


''tapi aku mau nya disini!''


''kamu kira aku takut apa sama kamu, hah? Tidak, aku tidak akan pernah takut sama pembantu tidak tahu diri seperti kamu!''


''Mas!'' teriak Salsa memanggil Wiguna, dia ingin mengadu. Wiguna ada didalam, sedangkan Arya dan Ayuna lagi keluar memeriksa kandungan Ayuna.


Kemudian Wiguna datang dengan langkah lebarnya, dia menghampiri ke dua istri nya yang berbeda usia itu.


''mas, aku mau duduk di sini, tapi mbak Ratna tidak mengizinkan, dia malah mendorong tubuhku hingga aku terjatuh, perut aku sakit mas!'' ucap Salsa manja, dia berbohong. Sambil memegang perut buncitnya.


Ratna hanya menggeleng-geleng kan kepalanya mendengar ucapan Salsa.


Wiguna yang begitu mudah percaya sama ucapan sang istri muda nya itu, seketika mendekati Ratna, lalu melayangkan satu tamparan ke wajah anggun Ratna.


Plakkkk!


Ratna begitu kaget mendapatkan serangan mendadak yang tidak sempat dia tangkis, dia memegang pipinya. Menikmati rasa sakitnya, yang rasanya sangat sakit sekali. Air mata itu mengenang menutupi mata, Ratna tidak mengenali lagi pria didepannya, yang dia sebut sebagai suami.


Lalu Ratna berlari meninggalkan mereka, sedangkan Salsa tersenyum puas menyaksikan pemandangan yang baru saja terjadi.


🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Minggu berganti.


''sayang, ini kamu baca''


''apa ini, ma?''


''buka dulu, Arya''


Arya kemudian membuka amplop putih yang dikasih mamanya.


''surat cerai?''


''i-ya, sayang. Kamu jangan marah ya sama mama. Mama tidak bisa meneruskan lagi pernikahan mama dan papa, nak. Papa kamu ...'' ucap Ratna menggantung, dia merasa sedih, dia akan menjelaskan semuanya kepada Arya, namun tiba-tiba Arya memotong ucapan nya.

__ADS_1


''stop ma!''


Ratna kaget mendengar nada suara Arya yang cukup keras. Ratna takut kalau Arya tidak setuju sama keputusan nya.


''Arya, kamu marah sama mama, nak?''


Tanya Ratna heran. Sekarang mereka lagi berada di kantor Arya, Ayuna juga. Ayuna hanya duduk diam menyaksikan.


Lalu sedetik kemudian Arya memeluk tubuh sang mama, membelai punggung yang tertutup gamis dan jilbab panjang itu.


"Arya sudah mengetahui semuanya ma. Semuanya.''


''mama tidak perlu mengatakan apapun, Arya terima ma semua keputusan mama. Arya juga tidak sudi lagi mempunyai seorang papa pengkhianat seperti dia"


Arya dan Ratna kemudian menangis tergugu, melepaskan semua beban yang mengganjal di hati mereka selama ini. Ayuna yang menyaksikan nya pun ikut meneteskan air mata.


Setelah merasa lega, Arya lalu melepaskan pelukannya dari sang mama. Kemudian berucap.


''mama, ayo kita pulang!''


''pulang?''


''iya, ma. Kita kasih surat ini ke papa. Aku benar-benar sudah muak melihat wajah papa dan gundiknya. Arya ingin mereka segera angkat kaki dari rumah Arya, ma''


''baiklah, ayo sayang.''


Kemudian mereka bertiga keluar dari ruangan sang pemimpin perusahaan tersebut. Mereka melangkahkan kaki, beberapa karyawan menunduk hormat menyaksikan sang atasan beserta keluarganya yang lewat.


🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥


''buka!'' teriak Arya seraya menggedor pintu kamar Salsa dengan kuat.


''kalian mau apa, den? Anak saya Salsa sedang tidak enak badan. Dia tidak bisa di ganggu!'' bik Asih yang muncul tiba-tiba kemudian berkata berusaha mencegah Arya.


Arya tidak mengindahkan ucapan sang pembantu.


Arya terus menggedor karena tidak ada sahutan dari dalam dengan sang mama di samping nya.


''buka!'' teriak Arya lagi lebih keras karena tidak ada sahutan dari dalam.


Ayuna yang kandungan sudah semakin membesar memilih duduk di ruang keluarga, dia tidak mau melihat perdebatan yang terjadi antara suaminya dan sang papa. Ayuna takut mengganggu kesehatan dia dan bayi nya.


''minggir!'' tegas Arya, mendorong bik Asih, karena bik Asih dari tadi selalu berusaha untuk mencegahnya.


Kemudian Arya menghubungi bodyguard nya yang berada di depan, meminta bantuan kepada mereka untuk mendobrak pintu.


Tidak berapa lama, akhirnya bodyguard datang.


''dobrak pintunya'' ucap Arya tegas, memberi perintah.


''baik bos''


Lalu 2 orang bodyguard berbadan kekar itu mendobrak pintu dengan kuat, seketika pintu terbuka lebar.


Begitu pintu terbuka, yang pertama kali menjadi fokus perhatian semua orang adalah, genangan darah yang membasahi lantai keramik berwarna putih itu nampak cukup jelas.


Lalu.


''tolong, tolong aku''

__ADS_1


............


__ADS_2