
Yudha menikmati malam pengantin nya bersama Sarah dengan penuh gairah, jangan katakan ini malam pertama, karena mereka sudah sering melakukan hubungan suami-istri, dari jauh-jauh hari sebelum pernikahan mereka.
Yudha sudah memutuskan untuk tinggal bersama Sarah, rumah Sarah jauh lebih besar dan mewah di bandingkan rumah nya. Sedangkan Tesya hanya tinggal sendiri di rumah yang menjadi saksi tewasnya sang Mama.
Keluarga Sarah, baik dari pihak Sarah maupun dari pihak mantan suaminya tidak ada yang setuju atas pernikahan Sarah dengan Yudha, karena sebagian dari mereka sudah tahu tentang masa lalu Yudha yang begitu memalukan, tukang selingkuh dan zina. Tapi, Sarah sudah terlanjur mencintai Yudha, dia sudah menjadi budak cinta Yudha, dia tidak bisa lagi berpaling dari Yudha.
*****
''sayang, ayo kita lakukan lagi. Mas ingin sekali memiliki keturunan dari kamu, sepertinya kita harus berusaha lebih keras lagi'' ucap Yudha memeluk Sarah dari belakang, dia dan Sarah baru selesai membersihkan diri, tapi, Yudha kembali bergairah melihat penampilan sang istri yang begitu menggoda. Sarah hanya melilitkan handuk bewarna putih di tubuh montoknya.
''iihh mas, mas nggak capek apa? Sekarang sudah pukul 2 dini hari mas. Kita butuh istirahat, besok pagi aja kita lanjutin, ya?'' jawab Sarah, Sarah berucap manja dengan meliuk-liuk kan tubuhnya.
Yudha tidak tahan lagi melihat tingkah sang istri, dia kemudian mengunci tubuh Sarah, membawanya ke atas kasur. Lalu terjadilah penyatuan dua insan untuk yang kesekian kalinya, Sarah juga melakukan dengan bersemangat dan penuh sensasi.
''katanya tadi tidak mau'' bisik Yudha disela-sela ******* kenikmatannya.
''aku mana bisa nolak mas, kalau kamu sudah beraksi'' sahut Sarah, dengan deru nafas yang tak teratur.
Kemudian kedua insan tersebut mengeluarkan ******* panjang, mereka sudah mencapai puncak kenikmatan.
*****
''mas, bagaimana kalau aku membawa anak aku untuk tinggal bersama kita, anggap saja sebagai pancingan. Agar kita bisa cepat memiliki bayi'' ucap Sarah, dia berbaring di dada bidang sang suami tanpa busana, hanya selimut yang menutupi tubuh polosnya.
''maaf ya, sayang, mas bukannya nggak mau. Tapi, mas ingin menikmati masa-masa indah ini hanya berdua bersama kamu saja, sayang.'' ungkap Yudha, mengelus punggung polos sang istri serta mengecup pucuk kepala sang istri dengan penuh cinta. ''aku tidak ingin di repot kan sama anak orang lain, yang aku inginkan anak dari benih aku sendiri'' batin Yudha.
''kalau begitu kata mu, ya sudah deh. Mas ada benarnya juga, aku juga tidak mau kerepotan dulu mengurus anak kecil. I love you sayang.'' kata Sarah, mengelus dada bidang Yudha, tangannya bermain-main di sana.
''i love u to sayang. Ya sudah, sekarang kita tidur ya, supaya besok kita punya stamina lagi untuk membuat dedek bayi nya,''
Sesaat kemudian mereka sudah terlelap dengan saling mendekap erat.
π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯
"Kebakaran, kebakaran ... ada kebaran'' dari luar terdengar teriakan orang beramai-ramai.
Yudha dan Sarah yang baru terlelap tanpa busana, tiba-tiba terbangun mendengar teriakkan itu. Mereka merasakan sesak, mereka membuka mata, lalu mereka melihat asap sudah memenuhi kamar.
''mas, ada apa ini mas?!'' tanya Sarah, Sarah begitu panik. Dia mengambil pakaiannya satu persatu yang tergeletak di lantai lalu memakai nya cepat.
''sepertinya rumah kita kebakaran sayang, ayo, cepat pakaikan pakaian mu sayang, kita harus cepat-cepat keluar, menyelamatkan diri kita'' ucap Yudha terbatuk-batuk, mereka melihat cahaya di luar yang begitu terang. Api sudah menyebar kemana-mana.
__ADS_1
''mas, aku takut. Tunggu sebentar mas, aku mau menyelamatkan perhiasan aku dulu,'' ucap Sarah, dia membuka pintu lemari dengan cepat, kemudian membawa sekotak perhiasan.
''ayo, buruan Sarah, apinya sudah semakin besar'' teriak Yudha, Yudha memapah tubuh sang istri. Sarah terlihat sudah hampir kehabisan nafas. Karena tidak memungkinkan lagi, Yudha akhirnya menggendong tubuh sang istri. Di luar sudah terdengar sirene mobil Pemadam Kebakaran dan Ambulans.
Yudha sudah hampir sampai di luar, dia membuka Jendela kamar, Yudha membantu Sarah terlebih dahulu, dia menunggu sang istri keluar. Tidak berapa lama Akhirnya Sarah berhasil keluar lewat jendela, kini giliran Yudha lagi, Saat Yudha selangkah lagi akan menginjakkan kakinya ke tanah, tiba-tiba sebongkah kayu yang sudah menjadi arang dengan bara api yang masih menyala menimpa betis kakinya. Yudha berteriak kasakitan. Petugas yang melihat yang ada di luar langsung menghampiri, menyelamatkan Yudha, membawa tubuh Yudha ke dalam mobil Ambulan. Sedangkan Sarah, menangis histeris melihat rumah nya yang hampir habis di lahap si jago merah, ditambah lagi sang suami yang mengalami kecelakaan. Yudha di bawa kerumah sakit dengan sang istri berada di sampingnya.
Warga begitu banyak berkumpul di tempat kejadian, ada yang berusaha membantu memadamkan api, ada juga yang hanya melihat saja. Sebagian mereka tertawa jahat di dalam hati, mereka menganggap ini sebagai balasan atas perbuatan hina Sarah dan Yudha selama ini.
''rasain, kalian tukang zina''
''mungkin ini hukuman atas dosa-dosa mereka''
Gumam mereka di dalam hati dengan senyum sinis.
Ternyata seseorang memang sengaja menyalakan api, membakar rumah Sarah. Karena dia tidak suka atas kelakuan Sarah, orang itu salah satu anggota dari keluarga mantan suami Sarah.
''rasain, kamu Sarah. Dasar wanita tidak tahu diri'' gumam orang tersebut, melihat dari jauh rumah yang hampir habis itu.
*******
''bagaimana suami saya, Dokter?'' tanya Sarah, yang saat ini sudah berada di sebuah rumah sakit, dia berada di dalam ruangan tempat Yudha di tangani.
''baiklah Dok, Terimakasih banyak, Dokter'' balas Sarah.
Sang dokter sudah keluar, kini tinggallah Sarah dan Yudha. Sarah menatap sang suami yang terbaring tidak sadarkan diri dengan perasaan pilu, kaki Yudha di balut menggunakan Perban.
''mas, bangun.''
''maafkan aku mas'' ucap Sarah, dia membelai wajah sang suami. Dan menciumi tangan sang suami berulang kali.
Tidak lama kemudian Tesya datang, dia menghampiri sang kakak dengan tergesa-gesa.
''mbak, bagaimana keadaan mas Yudha, mbak?'' tanya Tesya, dia sudah duduk ujung brankar, Tesya memandangi wajah sang kakak dengan begitu prihatin.
''mas Yudha baik-baik saja Tes, hanya saja untuk sementara waktu mas mu tidak bisa berjalan, tulang kakinya ada yang retak. Tapi, kata Dokter kita tidak perlu merasa khuwatir, karena kaki mas Yudha bisa sembuh dan kembali seperti biasa kalau rutin terapi'' jelas Sarah.
Saat Tesya dan Sarah lagi berbincang, tiba-tiba Yudha merintih, menyebut nama Ayuna.
''Ayuna ...''
''Ayuna''
__ADS_1
''Ay''
''Ayuna''
Ucap Yudha dengan suara seraknya, Yudha belum sadarkan diri.
Sarah yang mendengar sang suami menyebut nama wanita lain, merasakan hatinya begitu sakit. Dia tidak menyangka, di alam bawah sadarnya, ternyata nama Ayuna lah yang Yudha ingat.
''apakah Ayuna begitu istimewa bagi mas Yudha?'' batin Sarah pilu, dengan dada terasa sesak.
Tesya melihat wajah Sarah yang berubah, dia kemudian menghampiri sang kakak Ipar dan berkata.
''mbak, mbak jangan salah paham dulu, ya. Mungkin mas Yudha merasa bersalah sama mbak Ayuna, atas apa yang dia lakukan di masa lalunya.'' ucap Tesya, menenangkan Sarah. Dia mengelus punggung sang kakak Ipar.
Sedangka Sarah hanya diam, dengan perasaan yang sulit untuk di jabarkan.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊ
''sayang, ayo makan yang banyak'' ucap Arya, dia menyuapi Ayuna. Sekarang Ayuna sedang di rawat di rumah sakit yang sama dengan Yudha.
''iya, mas'' jawab Ayuna, membuka mulutnya.
Keadaan Ayuna tidak terlalu buruk, dia hanya perlu perawatan yang lebih baik. Kemarin saat dia berlari di jalan raya, janinnya yang masih kecil hampir saja jatuh dari rahimnya, tapi, beruntung nya Arya membawa Ayuna ke rumah sakit tepat waktu.
''maafkan mas ya, sayang'' kata Arya, berulang kali.
''kamu kenapa sih, mas? Ini bukan salah kamu mas, ini salah aku yang terlalu egois, aku tidak memikirkan calon anak kita. Seharusnya aku yang minta maaf mas'' jawab Ayuna.
''baiklah, sekarang kita lupakan saja semuanya. Mari kita mulai hidup yang lebih baik sayang, mas akan menjaga kamu dan anak kita dengan baik. Kamu jangan marah lagi ya sama mas, mas tidak mau melihat kamu begitu lagi'' sahut Arya menatap lekat wajah ayu sang istri, dia mengelus pipi Ayuna dengan lembut.
''mas, aku pengen jalan-jalan ke Taman belakang. Kamu mau kan menemani aku keluar? Aku bosan tiduran terus'' ucap Ayuna memohon.
''baik lah, tunggu sebentar ya, sayang? Mas mau mengambilkan kursi roda terlebih dahalu'' ucap Arya dengan lembut.
*********
Di Media sosial, di Televisi, dan di Surat kabar, sedang di hebohkan dengan berita tentang penangkapan Sisil, foto Sisil yang memakai seragam orange tersebar di mana-mana, Semua orang sibuk membicarakan nya. Orang tua Sisil yang berada di luar Negeri begitu syok saat mendapatkan kabar tersebut, mereka bergegas pulang kembali ke Indonesia. Mereka tidak percaya atas apa yang telah di lakukan oleh Sang Putri yang begitu mereka bangga-banggakan.
Yang mampir, jangan lupa tinggalkan jejak ya, kasih like dan komentar nya. kalau kalian suka kasih vote dan hadiah jugaπ π€. Supaya author makin bersemangat untuk melanjutkan kisah Arya dan Ayuna.
Salam kenal dan sayang, dari Author yang baru menetas ini untuk pembaca setia.
__ADS_1