
Wiguna pulang larut malam, dia langsung menuju kamar sang istri muda dengan diam-diam. Begitu sudah sampai di dalam kamar Salsa, Salsa langsung memeluk tubuh pria yang tidak lagi muda itu, sembari mengadu.
''mas, aku sebel banget tauk sama mbak Ratna'' Kata Salsa dengan nada di buat manja.
''sebel kenapa, sayang?'' tanya Wiguna sambil mengelus punggung Salsa. Mereka lalu duduk berdampingan di atas tempat tidur.
''iya, masak tadi dia nyakitin pipi aku yang mulus ini. kamu lihat ini, mas!'' ujar Salsa dengan wajah manyun, seraya memperlihatkan bagian wajahnya yang sedikit gores.
''mana, sini mas lihat, sayang'' sahut Wiguna dengan memperhatikan wajah Salsa lekat.
Setelah itu dia melihat ada 2 titik bekas goresan kuku terdapat di pipi sang istri muda.
''Ratna kenapa bisa berbuat begini sama kamu, sayang?'' tanya Wiguna, sambil mengelus pipi Salsa.
''tauk tuh, mungkin dia masih belum bisa menerima kehadiran aku sebagai madunya, mas!''
''Ratna benar-benar keterlaluan'' ucap Wiguna murka dengan mengepalkan kedua telapak tangannya.
Sedangkan Salsa, semakin menjadi-jadi membuat wajah sedih dan manyun. Dia ingin mendapatkan perhatian Wiguna sepenuhnya.
Wiguna yang melihat Salsa seperti itu merasa bersalah, dia juga begitu tergoda melihat mimik muka Salsa yang menurutnya begitu menggemaskan, apalagi lingerie bewarna merah marun yang dipakai Salsa, yang begitu seksi semakin menambah kemolekan tubuh sang istri muda, Wiguna begitu bernafsu melihat nya.
Wiguna mendekatkan wajahnya, dia hendak mengecup bibir ranum Salsa.
''eitsss, tunggu dulu mas! mana cincin yang aku mintak tadi?'' ujar Salsa, menaguk tangan.
''oh, ya mas lupa. Ini sayang'' balas Wiguna, sambil mengeluarkan kotak beludru bewarna silver. Dia meletakkan kotak itu ditangan sang istri.
Wajah Salsa begitu berseri-seri menatap kotak yang berada ditangannya, kemudian dia membukanya. Muka Salsa semakin terlihat bahagia dengan senyum mengembang saat melihat benda berbentuk lingkaran di dalam kotak.
Didalam kotak itu, terdapat cincin berlian yang lebih mewah dan indah dari punya Ratna, Salsa tidak sabaran, dia langsung meminta Wiguna untuk memasang cincin itu dijari manisnya.
''mas, pakaikan dong ditangan aku'' perintah Salsa.
''iya, sini sayang'' sambut Wiguna.
Saat Wiguna hendak memasang cincin, tiba-tiba pintu kamar Salsa ada yang mengetuk dengan kuat dari luar.
Mereka berdua kaget dibuatnya, hingga cincin itu terjatuh.
''siapa sih? ganggu saja'' ucap Salsa kesal dengan nada pelan.
''iya, siapa, ya. Malam-malam begini?'' balas Wiguna lebih pelan lagi.
''siapa?'' teriak Salsa.
Namun tidak ada jawaban dari luar. Salsa dan Wiguna merasa penasaran dibuat nya.
''mas, kamu sembunyi dulu ya, disana. Biar aku yang bukain pintunya'' perintah Salsa, sambil menunjuk kearah lemari.
Wiguna mengangguk dan segera bersembunyi.
Saat Salsa membuka pintu, dia tidak melihat keberadaan siapa-siapa diluar. Saat Salsa melihat kebawah, dia menemukan amplop berwarna putih yang tergeletak dilantai. Salsa mengambil amplop tersebut membawanya kedalam dan kemudian menutup pintu.
''siapa, sayang?'' tanya Wiguna keluar dari persembunyiannya.
''nggak tahu mas, nggak ada siapa-siapa diluar. Aku cuma nemuin ini dilantai'' jawab Salsa, sambil memperlihatkan amplop yang dia temukan tadi.
''Amplop? coba kamu buka''
Salsa kemudian membuka amplop itu, dia dan Wiguna kaget karena didalam amplop ada sepucuk surat serta ada foto dirinya dan Wiguna sedang bermesraan tanpa sehelai benang.
Salsa lalu membaca surat yang terselip didalamnya.
[Kalian, biadab! Sebentar lagi tamat riwayat kalian berdua. Dasar menjijikan.]
Isi tulisan yang terdapat didalam surat tersebut.
__ADS_1
Salsa tidak merasa takut, dia begitu geram hingga dia meremas surat yang ada ditangannya.
Wiguna yang melihat merasa penasaran, lalu mengambil surat yang ada digenggaman Salsa.
''kurang ajar! siapa yang berani mengancam kita?''
''aku tahu, mas. Ini semua pasti kerjaan istri tua mu itu!''
''Ratna?''
''iya, iya lah. Siapa lagi? Nggak mungkin Arya sama istrinya itu. Kerena mereka nggak tahu apa-apa''
''Ratna semakin dibiarin semakin ngelunjak''
''kamu sih mas, cemen banget jadi suami. Mendingan buruan kamu ambil semua harta yang ada padanya, mas.'' bujuk Salsa.
''nggak bisa Salsa, itu semua milik Arya.''
''Arya lagi, Arya lagi. Kamu emang nggak pernah mikirin aku dan anak yang ada dikandungan aku ini, mas''
''kamu sabar dulu, ya sayang. mas sekarang sedang berusaha untuk mengambil alih sebagian harta Arya untuk anak kita'' ucap Wiguna mengelus perut buncit Salsa.
Salsa hanya diam, tidak menyahut ucapan Wiguna.
''iya, iyalah kamu harus berusaha keras mas untuk anak kita, aku sudah rela kamu hamilin hanya demi untuk mendapatkan harta itu'' batin Salsa.
πππππππππ
''papa tadi malam pulang jam berapa, pa?''
''sekitar jam 11 lewat Arya, papa telat karena ketemuan dulu sama tema-teman lama papa''
''oh, pantasan mama hubungi papa tadi malam nggak diangkat-angkat. Papa jadi pulang ke London, besok?''
''nggak jadi kayak nya, Arya. Soalnya masih banyak pekerjaan disini yang belum terselesaikan''
''iya Arya, pasti betah lah''
Arya dan Wiguna mengobrol diruang keluarga, mereka tidak kemana-mana hari ini, karena weekend.
Saat mereka sedang asyik mengobrol masalah pekerjaan dan lainnya, tiba-tiba Salsa muncul dari belakang membawa minuman.
Salsa memakai dress selutut dengan bagian atas tanpa lengan, bagian dadanya begitu ketat dan terbuka.
Hingga saat Salsa meletakkan minuman diatas meja, terlihat dengan jelas dua gundukan kenyal milik nya yang begitu menantang. Wiguna yang melihat langsung naik nafsu ke lelakiannya. Sedangkan Arya merasa risih, dia mengalihkan pandangannya kearah lain.
''ini minumannya tuan Wiguna dan den Arya.'' ucap Salsa dengan suara mendayu-dayu.
''iya, terimakasih banyak, Salsa'' jawab Wiguna, yang masih terpana melihat kemolekan tubuh sang istri muda.
''Salsa! lain kali cara berpakaian kamu tolong dijaga. Ganti sama pakaian yang lebih tertutup dan sopan yang enak di pandang!'' celetuk Arya, dengan tegas.
''iya, den'' ucap Salsa menunduk.
Kemudian dia berlalu kebelakang dengan perasaan jengkel. Sedangkan Wiguna masih fokus melihat kearah pantat Salsa yang begitu montok.
Arya yang memperhatikan papanya sedang melihat bagian intim tubuh Salsa merasa sedikit kesal, bisa-bisanya sang papa memperhatikan wanita lain selain mamanya dengan sebegitu lekatnya. pikirnya
''papa?'' celetuk Arya.
''e--eh iya, Arya'' jawab Wiguna gelagapan.
Arya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah sang Papa. Perasaan Arya mulai tidak enak karena melihat sikap sang papa yang aneh.
Kebisuan mendominasi antara Arya dan papa nya setelah kepergian Salsa tadi.
Tidak lama kemudian, Ratna datang duduk bergabung sama Arya dan wiguna. Sedangkan Ayuna masih diatas menelpon suster yang menangani Nina. Karena nanti siang mereka akan mengunjungi Nina.
__ADS_1
''Arya, kalian jadi mau jenguk Nina hari ini?'' tanya Ratna memulai obrolan.
''jadi ma, Ayuna lagi diatas mengabari sang suster. Mama mau ikut?'' balas Arya tersenyum simpul ke arah sang Mama.
''tidak, mama mau istirahat di rumah saja hari ini, sayang''
''oh, baiklah ma. Mama dan papa lebih baik menghabiskan waktu berdua saja di rumah'' celetuk Arya dengan senyum manisnya.
''iya, kamu benar juga Arya'' sambung Wiguna, berpura-pura.
''kasian ya, Nina. Mama harap dia akan segera sembuh. Perselingkuhan dan pengkhianatan menghancurkan segalanya termasuk masa depan dia. Beruntung Ayuna wanita yang berhati baik yang mau memaafkan semua kesalahan orang-orang yang telah menyakiti nya'' ucap Ratna dengan tatapan fokus ke depan.
''iya, ma. Kita doakan saja semoga Nina segera sembuh. Itulah resikonya ma. Pada akhirnya kebaikan dan kesabaran lah yang menjadi pemenang nya. Yang tersakiti akan menemukan kabahagian yang berkali-kali lipat pada akhirnya. Sedangkan Nina dan Yudha sekarang sudah menadapatkan balasan yang setimpal atas segala perbuatan keji yang mereka perbuat ke pada Ayuna. Aku harap tidak akan ada lagi orang yang seperti mereka di dunia ini'' sahut Arya begitu berwibawa, yang membuat Wiguna merasa tertampar mendengar ucapan Arya. Wiguna tersedak minuman yang sedang diminumnya.
''papa, kenapa? Makanya hati-hati pa'' ucap Arya.
''papa nggak apa-apa Arya'' jawab Wiguna sambil membersihkan bajunya yang sedikit kotor terkena minuman.
Sedangkan Ratna hanya tersenyum sinis melihat kearah sang suami.
ππππππππ
Ayuna dan Arya berjalan berdampingan dipelantaran rumah sakit jiwa, Ayuna menggandeng tangan sang suami. mereka akan menuju ketaman belakang yang ada dirumah sakit. Nina memang sudah dipidahkan kerumah sakit karena kondisinya yang tidak memungkinkan untuk tetap dipenjara.
Nina dan susternya sudah menunggu kedatangan Ayuna di Taman.
Ayuna menyapa beberapa pasien yang dia temui, yang berpas-pasan sama mereka saat mereka berjalan.
Ayuna merasa begitu prihatin melihat banyaknya orang yang terkena gangguan kejiwaan.
Ayuna merasa bersyukur dengan kehidupannya, karena kekuatannya menghadapi semua cobaan hingga saat ini dia masih tetap waras.
Beberapa pasien dan suster disana sebagian ada yang memandang Arya dengan pandangan kekaguman, bahkan ada juga yang tidak segan menyapa Arya. Yang membuat mood Ayuna sedikit terganggu.
''tuan, ganteng sekali''
''hay, ganteng'' sapa para suster yang sedikit genit.
''itu suamiku, itu suamiku'' teriak pasien gangguan jiwa seraya menunjuk ke arah Arya.
"sabar sayang, ini cobaan. Kita tetap nomor satu kok di hati Papa'' batin Ayuna seraya mengelus perut buncitnya.
Sedangkan Arya sama sekali tidak terpengaruh, dengan sapaan yang tertuju kepadanya. Dia tetap fokus dengan sang istri. Tiba-tiba Ayuna bersuara.
''mas!'' ucap Ayuna sedikit keras.
''iya, sayang'' sahut Arya lembut.
Ayuna hanya diam setelah Arya menjawab.
''kok, diam. Kamu mau ngomong apa, sayang?''
''kamu jangan caper gitu dong jadi orang!'' celetuk Ayuna. Yang membuat Arya tersenyum sambil menggaruk-garukkan kepalanya melihat tingkah aneh sang istri.
********
Ayuna dan Arya sampai di taman. Mata Ayuna dan Nina saling memandang lekat dari jarak yang masih jauh, sekitar 30 meter.
Nina duduk diatas bangku panjang sendirian dibawah pohon yang daunnya begitu rimbun, dengan penampilan nya yang sedikit lebih baik dari kemarin, sedangkan sang suster entah dimana.
Air mata Nina mengenang menutupi penglihatan nya, kemudian terjatuh membasahi pipinya.
''mbak, Ayuna'' gumamnya.
Ayuna berjalan pelan menuju sang adik yang telah tega mengkhianati nya dulu, dengan sang suami yang selalu setia mendampingi nya.
hari ini update 2 episodeπ. Komen nya yang sopan ya pembaca setia ku yang baik hati. Karena kebejatan Wiguna lambat laun akan ketahuan sama Arya.
__ADS_1