
Di ruang Sekretaris Perusahaan Arya.
''Pak, Bapak enggak bisa gitu dong, Pak! Saya sangat butuh pekerjaan ini Pak, lagian saya tidak merasa melakukan kesalahan apapun. Bapak kenapa tiba-tiba memecat saya secara sepihak dan tidak terhormat begini?!'' teriak sang sekretaris yang baru kemarin di terima. Dia merasa sangat kesal sama pemecatannya yang tiba-tiba, padahal dia sudah merasa sangat senang di terima bekerja sebagai sekretaris Arya dan dia juga sudah menyusun beberapa rencana untuk menghancurkan Arya dan Ayuna.
''tapi, ini perintah pak Arya. Kamu harus angkat kaki dari sini sekarang juga. Perusahaan akan mengganti rugi semua kerugian mu. Kamu akan kami beri uang yang 10 kali lipat lebih besar dari gaji kamu, semua itu sebagai permintaan maaf kami'' sahut Dimas tegas. Dimas berdiri di depan wanita itu.
''aku nggak mau, Pak!''
''kamu harus mau, kalau tidak aku akan memanggil beberapa bodyguard kami untuk membawa paksa kamu keluar. Lagi pula, kamu belum melakukan pekerjaan apapun di sini. Kamu saya lihat begitu cerdas dan juga sangat berbakat, saya rasa kamu bisa melamar pekerjaan di tempat lain dengan mudah''
''aku nggak terima, aku maunya kerja di perusahaan ini! aku akan bicara sama pak Arya secara langsung'' pungkas sang sekretaris, dia berjalan menuju pintu, melewati Dimas, dia hendak keluar.
''hey, jangan ngeyel kamu, pak Arya sedang tidak bisa di ganggu'' protes Dimas geram.
Dimas menghalangi langkah kaki wanita misterius tersebut, kemudian dia menutup pintu cepat hingga mengeluarkan bunyi yang keras.
''jangan macam-macam, Nona, atau anda mau saya jatuhkan harga diri anda disini sekarang juga'' ucap Dimas pelan mengancam, seraya memegang kedua tangan sang wanita misterius, menekan kedua tangan itu Kedinding, hingga wanita itu tidak dapat melawan. Kini mereka berdua saling berhadapan, gundukan menantang itu terlihat begitu jelas oleh mata Dimas.
Dimas menatap wajah wanita itu lekat. Wajah yang begitu cantik. Rambut bewarna hitam pekat, seperti habis di kasih semir. Serta wajah putih mulus, hidung mancung kecil serta bibir merah merona. Wanita itu begitu menggoda dan seksi, membuat jiwa nakal Dimas meronta-ronta.
''hey, lelaki brengsek mau kamu apakan aku?'' celetuk wanita itu pias. Dia ketakutan melihat tatapan tajam Dimas, yang begitu agresif menyusuri seluruh area tubuhnya.
''diam Nona, saya akan memberikan satu kenang-kenangan untuk anda. Supaya anda merasa jera untuk kembali lagi ke perusahaan ini'' imbuh Dimas, dengan senyum menyeringai.
Kemudian.
Cupp!
Dimas mengecup bibir merah merona itu, sesaat. Hingga sang pemilik bibir merasa sangat terhina karena perbuatan Dimas.
Dia mengamuk, mencoba melepaskan tangannya dari dekapan Dimas. Hingga, dia berhasil lari. Membuat Dimas cemas.
**********
"Mas, itu ada apaan sih disebelah seperti ada suara wanita yang berteriak?'' tanya Ayuna yang lagi duduk santai di kursi kerja sang Suami. Dia sudah bangun, mereka berniat untuk makan siang di kantin kantor, Ayuna merasa rindu sama makanan di kantin itu. Sedangkan Arya duduk di ujung meja.
''mas nggak tahu juga sayang, kamu lebih baik diam saja di sini, ya'' jawab Arya sedikit gugup. Arya merasa gelisah.
''lho kok diam sih, mas? Bukannya kita mau makan siang di kantin. Aku sudah lapar banget, mas'' ujar Ayuna sambil mengelus perut buncitnya.
''iya sudah, sayang. Tapi, kamu tunggu di sini sebentar ya. Mas mau menemui Dimas sebentar di ruangan nya'' bujuk Arya, memegang kedua tangan sang istri.
__ADS_1
''aku ikut''
''nggak usah sayang, kamu diam saja di sini''
''tapi, mas?''
Arya tidak dapat menjawab perkataan Ayuna lagi, dia sangat lemah untuk urusan ini, dia tidak akan tega menolak permintaan sang istri. Arya kelihatan makin gelisah.
''mas, kamu kenapa kelihatan gelisah dan aneh begitu?''
''mas, nggak apa-apa, sayang. Ya sudah, kamu tunggu di sini sebentar dulu ya. Mas mau ....''
belum selesai Arya berbicara, seseorang menggedor pintu dengan keras dan berulang-ulang.
Membuat Ayuna kaget, begitu pun Arya. Mereka menolah ke arah pintu secara bersamaan.
Ayuna melangkah kakinya menuju pintu, dia merasa penasaran. Sedangkan Arya mengikuti dibelakang Ayuna dengan perasaan was-was. Arya sudah tahu itu perbuatan siapa. Arya merasa sangat kesal sama Dimas yang dia anggap tidak becus. Berulang kali dia mengutuk ke tidak berdayaan Dimas menyingkirkan wanita itu dari kantor.
''sayang, sini biar mas saja'' tawar Arya saat tangan Ayuna sudah menggantung di udara, dia hendak membuka pintu.
Sedangkan di luar, di depan pintu ruangan Arya. 2 orang bodyguard mengangkat tubuh wanita misterius itu dengan enteng, membawanya keluar. Dimas mengikuti, Dengan muka Dimas yang memerah menahan amarah, dia sangat takut sang bos akan memarahi nya setelah ini.
Ceklek ... Pintu terbuka.
''iya ya, sayang. Mas tadi juga dengar. Tapi, ya sudah lah nggak penting juga. Palingan itu cuma orang iseng yang kurang kerjaan. Lebih baik kita makan saja yuk'' ajak Arya, dengan senyuman menghiasi wajah tampannya. Dia sudah merasa sangat lega.
''ya sudah, ayo mas'' sambut Ayuna.
Arya dan Ayuna kemudian berjalan berdampingan menuju kantin. Ayuna menggandeng tangan sang suami dengan erat.
''syukurlah'' batin Arya bernafas lega.
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
''dasar, perusahaan aneh. Awas saja kalian, aku tidak terima di perlakukan seperti ini!'' teriak wanita itu berang. Saat dirinya sudah tiba di atas kendaraan roda empatnya. Bodyguard memasukkan nya ke mobil itu dengan paksa, dengan Dimas yang tersenyum lega. Orang-orang di kantor melihat dengan tanda tanya di benak mereka.
''gagal deh, misi aku untuk mendapatkan hati Arya wiguna. Sisil, maafkan aku. Tapi, aku akan melakukan cara lain untuk membalaskan rasa sakit mu'' batin Rere, sang sepupu Sisil yang berasal dari luar negeri. Dia datang ke Indonesia untuk menjenguk Sisil di penjara serta untuk membantu Sisil membalaskan rasa sakit hatinya. Rere merupakan anak pengusaha terkenal juga, yang memiliki kekayaan yang sama besarnya dengan Arya. Sehingga dia merasa sangat terhina diperlakukan semena-mena.
''ini, apalagi ini. Aku sungguh merasa jijik'' gumam Rere lagi, yang hendak melajukan kendaraannya, dia menghapus beberapa kali bibirnya dengan menggunakan tissue, karena merasa jijik sama kecupan sesaat Dimas tadi.
''awas saja kau asisten terkutuk. Aku bahkan tidak pernah merasa sehina ini sebelumnya. Dasar perusahaan aneh.''
__ADS_1
Ucap Rere berang, sebelum dia meninggalkan perusahaan milik Arya.
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
Di rumah sakit, di ruang tunggu.
''apa? Nggak, ini semua tidak mungkin kan, dokter?'' lontar bik Asih dengan tangis yang mendera.
''maaf ibu, kami sudah melakukan semaksimal mungkin. Tapi, nyonya Salsa sudah kehilangan darah cukup banyak. Kalian begitu terlambat membawanya ke rumah sakit'' jelas sang Dokter prihatin.
''anakku Salsa.'' teriak bik Asih histeris.
Salsa menghembus nafas terakhirnya, setelah sehari samalam melawan masa kritisnya.
Sedangkan Wiguna merasakan tubuhnya begitu lemah setelah mendengar berita duka tersebut. Dia sudah kehilangan wanita yang beberapa waktu kemarin masih menjadi pemuas nafsu rakus nya. Wanita yang begitu pandai dalam melayani. Semua harapan seketika sirna. Dua orang yang dia harapkan akan menemani hari-hari kedepannya sekarang telah pergi untuk selamanya. Wiguna mengutuk dirinya yang begitu ceroboh.
Penampilan Wiguna begitu berantakan, pakaian yang di pakai nya sudah 2 hari melekat di tubuh itu. Karena dari kamarin dia tidak pulang, dia tidur di rumah sakit dan makan pun dia beli disana. Wiguna selalu menutupi wajahnya menggunakan masker, karena dia merasa malu kalau ada yang sampai mengenali wajahnya. Apalagi keluarnya merupakan keluarga yang terpandang. Wiguna tidak barani pulang karena merasa sungkan sama Arya, atas semua perbuatannya.
''urus semua keperluan jasad istri saya suster, saya akan membayar semua biayanya'' ucap Wiguna kepada suster yang berdiri di samping dokter. Dengan air mata nya yang mengenang.
''baik lah tuan, kalau begitu kami permisi dulu. Semoga kalian di berikan kesabaran dalam menghadapi ini'' balas suster lembut, dengan senyum yang tersungging. Lalu suster serta dokter pamit dari hadapan mereka.
*******
''semua ini gara-gara kamu, Wiguna! Padahal saya begitu mempercayai Salsa sama kamu'' tegur bik Asih kepada sang menantu sekaligus sang majikannya. Setelah kepergian sang dokter.
Setelah berkata seperti itu, ibunya Salsa berlalu kedalam ruangan, guna melihat putrinya yang sudah tak bernyawa. Di ikuti oleh Wiguna dibelakangnya.
Tubuh Salsa terlihat begitu pucat, dengan wajah yang nampak mengerikan. Bintik-bintik merah memenuhi wajahnya. Membuat Wiguna serta sang ibu yang melihat merasa heran.
Tapi, sang ibu sudah tahu apa penyebab sang putri jadi seperti itu. Karena di kampung halaman asalnya, kejadian seperti itu sudah sering kali terjadi.
''ibu akan membawa jasad Salsa ke kampung'' celetuk bik Asih, dengan wajah begitu sedih, air mata membasahi pipi.
''ibu, yakin?'' timpal Wiguna.
''iya, sebagai suaminya kamu urus semuanya, Wiguna''
''tapi, kenapa wajah Salsa jadi aneh seperti itu, bu?
''ibu juga tidak tahu'' jawab bik Asih berbohong.
__ADS_1
''ya ampun, padahal Salsa cuma memakai satu susuk saja di wajahnya. Kenapa wajah Salsa jadi aneh begitu? Gimana jadinya kalau Salsa pakai susuknya lebih dari satu, sudah pasti Salsa akan kesulitan dalam menghadapi sakaratul mautnya. Lagian Salsa kenapa kepikiran buat pasang susuk sih. Sekarang bukannya kaya raya, tapi dia malah menemui ajalnya karena kelalaiannya'' batin ibu nya Salsa, sambil memandang lekat wajah sang putri yang terdiam kaku, dengan air mata yang tidak mau berhenti menetes.
Dia menangisi sang putri serta Manangisi nasib nya yang begitu meyedihkan. Semua harapan dan cita-cita nya untuk menjadi orang kaya kini musnah lah sudah. Apalagi sang nyonya yang begitu baik dan peduli kepadanya dulu sekarang sudah sangat murka karena dia sudah menusuk sang nyonya Ratna dari belakang, berbuat curang hingga dia sendiri kini yang kena getahnya.