Adikku Selingkuhan Suamiku

Adikku Selingkuhan Suamiku
Papa Mertua


__ADS_3

Pov Ayuna


Hari ini Suamiku membawa aku berkunjung ke Perusahaan miliknya, Perusahaan tempat aku bekerja dulu. Aku sangat merindukan tempat di mana aku mengais puing-puing pundi rupiah dulu. Di Perusahaan inilah aku bertemu dengan cinta sejati ku, pria yang saat ini sudah menjadi suamiku dan juga, tidak lama lagi akan menjadi Ayah dari anakku.


Aku sudah keluar dari rumah sakit sejak beberapa hari yang lalu.


*********


Semua mata tertuju kearah kami, berbagai ucapan selamat aku dapatkan dari rekan kerjaku dulu, mereka menyambut kedatangan aku dan suamiku dengan begitu meriah. Aku tersenyum simpul, aku begitu terharu. Mas Arya dari tadi tidak pernah beranjak dari sisiku. Sedangkan beberapa Bodyguard berjalan dibelakang kami.


********


''Siska dimana, mas?'' tanya ku, aku tidak melihat keberadaan sahabat terbaikku itu.


''mas nggak tahu juga sayang, mungkin dia lagi keluar'' jawab mas Arya, menatapku lekat.


''mas, ayo temani aku keruangan aku dulu, sebentar saja mas, Aku kangen sekali sama ruangan itu, Mas.'' ajakku sedikit memaksa, aku menarik tangan mas Arya, saat ini kami sudah berada diruangan suamiku yang begitu bagus, ruangan yang dulu ketika aku memasuki nya selalu membuat jantungku berpacu. Aku jadi senyum-senyum sendiri mengingat momen itu.


Mas Arya mengangguk setuju, Aku dan mas Arya kemudian berjalan menuju ruangan yang ada disebelah ruangan suamiku. Saat kami sudah sampai di depan pintu, mas Arya membuka pintu pelan.


''taraaaa! kejutan ....'' teriak beberapa orang yang sangat aku kenal dari dalam.


Aku kaget luar biasa, teman-temanku semuanya ada disini, Siska dan yang lainnya, mereka memegang kue yang diatasnya terdapat gambar boneka sepasang pengantin.


''Ayuna, selamat datang kembali sayangkuh. Aku kangen sekali sama kamu, maaf, ya, kemarin aku nggak sempat jenguk kamu Ay, soalnya aku lagi keluar kota'' ucap Siska, dia memeluk tubuhku dengan erat.


''terimakasih Siska, aku juga kangen banget sama kamu. Iya, nggak apa-apa. Aku ngerti kok'' sahut ku. Aku merasa sangat bahagia.


''Ay, ini kue dari kita. Kue hadiah pernikahan kalian''


''selamat ya, Ayuna'' ujar teman-teman ku yang lain, yang merupakan karyawan kantor milik suami. 


Kemudian aku cipika-cipiki dengan satu persatu teman-temanku, tidak lupa aku mengucapkan ribuan terimakasih kepada mereka atas ucapan selamatnya. Mas Arya masih setia mendampingiku, Dia benar-benar suami yang baik. Tapi, wajahnya terlihat begitu angkuh dan dingin, yang membuat teman-teman ku tak betah lama-lama mengobrol denganku. Aku tahu semua karyawan di kantor ini begitu sungkan, segan dan sangat menghormati mas Arya. Karena selama ini mas Arya memang begitu tegas sama karyawan-karyawa nya.


Setelah selesai beramah-tamah, mas Arya meminta karyawan nya untuk kembali bekerja. Kini tinggallah kami berdua diruangan ini. Aku menatap sekeliling, tidak banyak yang berubah, fotoku masih terpajang rapi diatas meja kerja.


 ''mas, apa kamu tidak berniat ingin mencari pengganti aku di ruangan ini?'' tanya ku, karena yang aku tahu mas Arya masih belum mempunyai Sekretaris pengganti aku.


Mas Arya duduk di kursi putar di depan meja kerja dan kemudian dia meminta aku untuk duduk dipangkuan nya aku menurut saja.


''tidak sayang, mas rasa Dimas bisa menghendel semuanya'' jawab mas Arya, tangan nya mengelus perutku.


''kamu nggak kasihan apa sama dia?''


''nggak''


''ih, kamu kok jahat bangat sih mas''


''bukan gitu, sayang. Mas cuma tidak ingin ada yang menggantikan posisi kamu disini. Mas sebentar lagi akan membuka lowongan, mas akan mencari Sekretaris laki-laki saja''


''kenapa?''


''mas nggak mau ada masalah dalam rumah tangga kita sayang, mas akan menjauhi segala hal yang berpotensi bisa membuat hubungan kita retak. Apapun itu, karena masalah besar biasanya dimulai dari hal sepele yang diremehkan'' ucap mas Arya menjelaskan, dia mengecup bagian belakang leherku berulang kali. Membuat aku meremang, menahan geli.


''ah ... So sweet sekali suamiku'' sahutku bersyukur bisa memiliki suami seperti mas Arya.


''harus dong, sayang''

__ADS_1


*******


"Dimas, kamu temani saya untuk membagikan undangan ini'' ucap mas Arya memerintah.


''baik bos''


''sekalian ajak beberapa Bodyguard yang lain juga''


''siap bos''


Aku hanya memperhatikan isteraksi antara mas Arya dan Dimas. Aku melihat Dimas begitu giat dalam bekerja, dia juga baik.


''apa mungkin Dimas mau ya, kalau aku jodoh kan saja dia sama Nina'' batinku, penuh harap. Aku berniat untuk menjodohkan Nina dan Dimas besok, saat Nina sembuh. Sekarang Nina lagi menjalani perawatan. Nina diringankan masa tahanannya, karena mas Yudha sudah mencabut tuntutannya terhadap Nina, mas Yudha tahu ini semua bukan kesalahan Nina sepenuhnya. Nina diketahui sudah memiliki gangguan kejiwaan saat mas Yudha mengkhianati nya.


Oh, ya soal undangan tadi, aku dan mas Arya tidak lama lagi akan mengadakan pesta pernikahan kami. Aku dan mas Arya mengundang semua karyawan di perusahaan.


🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Malam hari, pukul sembilan malam.


''Papa?'' ucap mas Arya. Aku dan mas Arya sedikit kaget melihat kedatangan Mama mertua dan Papa mertua ku yang tiba-tiba. 


Tadi kami lagi bersantai diruang keluarga, tiba-tiba ada pelayanan yang memberi tahu kalau Mama sama Papa lagi ada didepan.


Aku melihat pria yang dipanggil Papa oleh mas Arya. Beliau tidak terlalu tua, Papa mertua ku kelihatan masih sangat tampan diusianya yang sudah mau kepala lima. 


Sedangkan Mama berdiri disampingnya, Mama tersenyum hangat kearah kami berdua. Lalu aku dan mas Arya berjalan menghampiri mereka.


''Mama, kenapa pulang nggak kasih kabar dulu sih, Ma? Tahu begitukan biar kami saja yang jemput Mama dan Papa di Bandara'' ucapku, aku menyalami lalu menciumi tangan Mama mertuaku. 


''mama nggak mau ngerepotin kalian, sayang'' jawab mama, aku melihat wajah mama sedikit pucat, Mama sedikit murung. Dia tidak seceria biasanya.


''Mama kenapa berbicara seperti itu, Ma?'' sambung mas Arya, dia kemudian juga menyalami tangan mamanya.


''jagoan Papa, selamat ya, Arya. Maaf, Papa selama ini terlalu sibuk, hingga melewati momen bahagia mu, Nak'' ucap Papa mertua-ku, dia memeluk mas Arya.


''iya, nggak apa-apa, Pa. Aku tahu Papa pasti sibuk sekali mengurus perusahaan Papa yang ada disana'' balas mas Arya.


Tapi, aku melihat Mama. Mata mama memerah, air mata sedikit mengenangi pelupuk matanya. Saat aku melihat Mama, Mama mengalihkan pandangannya, dia kemudian menyeka sudut matanya dengan tangan.


Aku tahu, Mama pasti begitu terharu melihat kedekatan antara dua orang yang sangat berarti didalam hidupnya.


''ini menantu Papa, 'kan? Wah, kamu cantik sekali sayang.'' sapa Papa ramah dengan senyum mengembang.


''iya Pa, senang bisa bertemu sama papa'' sahutku menyalami tangan Papa.


''Papa juga senang bisa bertemu sama kalian, apalagi katanya Papa dan Mama tidak lama lagi akan memiliki Cucu. Selamat ya untuk kalian.  Kami bahagia sekali mendengar kabar baik ini'' sahut Papa, Papa mengelus pucuk kepalaku lembut.


Mama tidak banyak bicara, aku merasa ada yang Mama sembunyikan. Tapi, apa? Biasanya Mama-lah orang yang paling antusias dan ramah saat kami berbicara.


********


Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, aku dan mas Arya lagi tiduran di kamar.


Sedangkan Mama dan Papa juga sedang beristirahat di kamar mereka.


''mas, Mama kok kelihatan tidak bersemangat begitu, ya?'' tanyaku.

__ADS_1


''iya, mas juga merasa ada yang aneh sama Mama, sayang'' balas mas Arya, mas Arya mengelus-elus punggung ku yang hanya memakai lingerie tipis bewarna merah tua.


''kira-kira mama kenapa ya, mas?"


''mas nggak tahu juga sayang. besok pagi, kamu coba berbicara sama Mama. Mas yakin Mama pasti mau ngomong sama kamu, kalau mama lagi ada masalah mama pasti cerita ke kamu sayang'' ucap mas Arya lagi.


''iya, kamu benar juga sayang'' balas ku.


Tangan ku bergerak liar diatas dada bidang mas Arya, mas Arya malam ini tidak memakai baju. Katanya dia lagi kepanasan.


Entah kenapa dadaku berdesir saat menyentuh dada itu.


''kangen ya, sayang?"


''kangen apa, mas?


''ya kangen itu tu, masak kamu nggak tahu sih, sayang!''


''iiihh apaan sih, mas!''


''kalau mas kangen bangat sayang, ini sudah mau 3 bulan lho mas puasa''


Aku merasa mukaku memerah mendengar perkataan mas Arya, aku tahu apa maksudnya. Karena sebenarnya aku juga sangat merindu.


''mau, ya? Mas akan berhati-hati'' ucap mas Arya pelan.


''iya, mas. Aku mau'' jawabku jujur.


Kemudian malam ini setelah tiga bulan kami berpuasa menahan hasrat sepasang suami istri. Akhirnya malam ini, mas Arya kembali memberikan sentuhan hangat yang begitu melenakan. Aku pasrah, mas Arya melakukan itu dengan sangat hati-hati. Aku begitu menikmati setiap inci sentuhan lembutnya ditubuh polosku. Aku dan mas Arya mendesah dengan nafas memburu, suara ******* mas Arya terdengar begitu merdu ditelingaku.


*********


Dini hari, aku melihat jam diponselku. Waktu sudah menunjukkan pukul 1 dini hari. Tenggorokan ku terasa kering, aku merasa begitu haus. Aku melihat persediaan air dikamar, ternyata sudah habis. Mas Arya sudah tidur begitu lelap, aku tahu suamiku itu pasti sangat capek setelah memimpin permainan tadi.


Aku berjalan keluar membawa botol minuman kosong, diluar terlihat begitu sepi. Para Pelayan pasti sudah tidur, mereka beristirahat mengisi tenaga untuk hari esok. Aku berjalan dengan hati-hati. Aku takut ada yang merasa terganggu mendengar suara langkah kaki ku. 


Saat aku mau membuka kulkas, untuk mengambil air. Aku melihat ada bayangan seseorang sedang berdiri dipinggir kolam renang. Aku mencoba melihat lebih dekat dari balik celah jendela.


''Papa, ya itu Papa. Sedang apa Papa malam-malam diluar'' batinku. 


Aku melihat papa sedang berbicara sama seorang lewat ponsel nya. Papa sedang melakukan video call.


Aku mencoba untuk menguping, dan aku bisa mendengar sedikit pembicaraan Papa sama orang itu.


''mas juga kangen sayang, kamu tunggu mas disana ya. Jangan nakal, jaga calon anak kita dengan baik. Setelah pesta pernikahan Arya selesai, mas akan segera pulang menemuimu sayang. I love you sayangku''


Aku mendengar Papa berbicara begitu romantis dengan orang itu, aku juga bisa mendengar sedikit suara wanita itu. 


Aku tidak menyangka, aku menutup mulutku dengan telapak tangan. 


''Papa selingkuh?'' batinku berkecamuk.


Iya, aku tidak salah dengar. Tingkah Papa begitu mencurigakan, pria mana yang berbicara sama wanita malam-malam begini kalau tidak ada sesuatu. Papa benar-benar telah mengkhianati mama.


Aku berjalan dengan hati-hati ke kamar Mama, aku ingin mengatakan semua yang aku dengar barusan kepada Mama, dadaku ikut sesak saat mengetahui Papa lagi berbicara berdua dengan wanita lain lewat Ponselnya. Aku bisa merasakan sakit nya ketika dikhianati.


Aku tiba dihadapan pintu kamar Mama, saat aku hendak membukanya. Aku, mendengar suara tangisan seseorang dari dalam sana, tangisan itu terdengar begitu pilu. Aku tahu itu suara tangisan Mama. Air mata ku tiba-tiba jatuh ke pipi, aku ikut menangis. Dadaku begitu sesak, mengapa semua ini terjadi sama Mama. Katakan ... Kalau ini hanya mimpi. Aku mencubit lenganku kecil.

__ADS_1


__ADS_2