
Wiguna melajukan kendaraan roda empat miliknya dengan kecepatan tinggi. Dia harus pulang, menyapa sang istri tua serta mengambil semua barang kepunyaan Salsa sang istri muda dan juga ibunya. Dia juga harus mengganti pakaiannya yang sudah terlalu kusut nan bau karena sudah 2 hari pakaian itu melekat di tubuhnya bercampur dengan keringat. Baunya sungguh tak sedap.
Wiguna sudah siap menerima kemarahan Arya, dia merasa tidak peduli karena semua sudah terjadi. Tiada satupun orang yang akan mengerti tentang keadaan nya. Tentang dirinya yang memiliki nafsu **** yang berlebih.
Walaupun sudah pernah mencoba, beberapa tahun berpantang untuk tidak bermain dengan wanita lain selain Ratna. Tapi, Wiguna merasa hidupnya begitu hampa dan rasa benci dan kesal itu selalu muncul tiap kali dia melihat wajah sang istri tua. Dia merasa Ratna terlalu menoton dalam melayaninya.
Bosan, ya. Rasa bosan lah yang membuat Wiguna benci sama sang istri tua.
Wiguna tidak akan ikut mengantarkan jenazah Salsa ke kampung halamannya, dia hanya membantu memberikan biaya serta semua kebutuhan untuk pemakaman Salsa dan juga untuk acara tahlilan.
Entah mengapa Wiguna merasa ilfil melihat wajah Salsa yang di penuhi bintik-bintik merah nan menjijikan. Salsa terlihat sangat jelek dan mengerikan.
************
Wiguna tiba di rumah mewah milik sang putra, dia membuka pintu utama lalu berjalan kedalam dengan langkah kaki gontai nya.
Langkah kaki itu sempat terhenti beberapa detik saat dia melihat keberadaan sang istri yang sedang duduk di ruang tamu membaca novel, Ratna tampak begitu anggun dengan gamis serta jilbab panjang yang menutupi tubuhnya.
Lalu dia memilih abai, mengacuhkan Ratna. Meneruskan langkah kakinya ke atas.
''mau, kemana?'' Sapa Ratna yang menyadari kehadiran Wiguna, membuat Wiguna kaget lalu menoleh.
''aku mau ke kamar, mau ganti pakaian ku'' jawab Wiguna malas. Bahkan dia menyebut dirinya dengan kata aku dengan sang istri.
''berhenti! Kamu tidak boleh lagi masuk ke kamar itu'' cegah Ratna santai.
''apa maksud mu?'' ketus Wiguna.
''iya, itu pakaian milikmu. Silahkan angkat kaki dari rumah ini! Ini rumah milik anakku, yang semua hartanya berasal dari harta papa ku!'' ucap Ratna lantang, sambil menunjuk ke arah koper serta tas yang berisi pakaian yang tergeletak di dekat pintu utama.
''hey, wanita tua. Sekarang kamu sudah berani melawan aku? Asal kamu tahu saja wanita bodoh, aku dulu menikahimu hanya untuk mendapatkan semua harta milik ayahmu yang pelit serta arogan itu. Kamu jangan berani-berani mengusir aku karena aku sudah banyak membantu mengembangkan perusahaan milik keluarga mu.'' imbuh Wiguna berjalan, menunjuk wajah Ratna.
''terserah apa katamu Wiguna, aku tidak peduli. Karena di antara kita sebentar lagi akan berakhir!'' timpal Ratna berdiri menatap mata sayu itu.
''aku tidak akan pernah menceraikan kamu, karena kamu adalah sumber ke uanganku''
__ADS_1
''tapi, aku sudah mengurus semuanya Wiguna. Tunggu saja saat itu tiba.''
''sampai kapanpun aku tidak akan terima!'' teriak Wiguna murka. Membuat para pelayan yang ada di rumah itu berkumpul bersembunyi di balik dinding menyaksikan pertengkaran antara Wiguna dan Ratna.
''kamu tidak akan pernah bisa melakukan apapun Wiguna, mau tidak mau kamu harus terima kenyataan nya. Jangan pernah berkelit lagi. Aku benar-benar sudah lelah dan muak dengan hubungan yang tidak sehat ini ...!'' lontar Ratna, dengan dada turun naik.
''dasar istri kurang ajar, istri durhaka kamu ...!'' cetus Wiguna, mengangkat tangan dia hendak menampar wajah sang istri.
''kenapa berhenti? ini, ayo tampar, tampar yang keras. Biar kami puas, mas. Aku capek!'' teriak Ratna sambil terisak, jilbab panjang itu bergoyang-goyang mengikuti gerak sang pemilik nya yang tak teratur.
Tanpa mereka sadari ternyata Arya dan Ayuna sudah berdiri diambang pembatas ruang, Arya yang melihat pemandangan di depan matanya merasakan dadanya begitu sesak, begitu pun Ayuna.
Tangan itu mengepal erat, muka memerah serta dada naik turun menahan amarah. Dia tidak terima melihat air mata menetes dari mata wanita yang sudah melahirkannya puluhan tahun lalu.
''hentikan!'' teriak Arya lantang, saat tangan sang ayah sudah terangkat semakin tinggi siap menjatuhkan ke pipi sang mama.
Tapi, terlambat sudah tangan itu sudah mendarat sempurna di pipi Ratna. Membuat Ratna tersungkur, terjatuh dengan memegang pipinya yang sudut bibirnya sedikit mengeluarkan darah.
Arya yang tidak terima sang mama di perlakukan seperti itu, lalu tanpa ampun dia melangkan kakinya lebar menuju sang ayah.
Wiguna juga merasa sangat kaget akan kehadiran sang putra, dia merasa meyesal karena sudah menampar Ratna di hadapan Arya. Wiguna hendak meminta maaf, tapi serangan Arya begitu cepat, hingga dia juga tersungkur. Pipinya terasa begitu sakit.
''maaf, maafkan papa nak'' mohon Wiguna, mengatup kedua tangan di depan dada, saat Arya hendak memukulnya lagi.
Arya memegang kerah baju sang papa, dengan dada naik turun, gigi gemeletuk sarta mata memerah yang air mata sudah mengenang di dalam nya. Jika Arya menutup mata sedikit saja sudah pasti air mata itu terjatuh.
Sedangkan Ayuna dengan cepat membantu sang mama berdiri serta membersihkan darah di sudut bibir sang mama dengan menggunakan sapu tangan miliknya. Ayuna juga ikut terisak melihat kejadian yang tak di sangka-sangka.
''mama, huhuhuhu ...'' ucap Ayuna terisak, memeluk sang mertua serta mengelus punggung itu.
''pergi dari sini sekarang juga!'' tegas Arya. Dia melihat ke arah lain tidak sudi rasanya dia menatap wajah sang papa yang telah tega menyakiti mama nya. Mama, wanita yang seharusnya di muliakan dan dijaga.
''Arya, kamu! Kamu berani mengusir papa?!'' sahut Wiguna berdiri memegang pipinya.
''iya! Lebih dari itupun bisa aku lakukan. Tapi, aku masih berusaha menahan diriku!''
__ADS_1
''kamu .... Ah, sudah lah. Kalian memang keterlaluan, papa capek pulang dari rumah sakit seharusnya mama kamu melayani papa dengan baik, seharusnya kalian menanyakan keadaan Salsa. Tapi, kalian orang-orang tak punya hati'' ucap Wiguna pelan, playing victim.
''sudah, tidak sudah banyak bicara lagi. Aku tidak peduli, mama juga tidak peduli lagi sama urusan anda!''
''kalian, bawa pria ini keluar sekarang juga. Beserta tas dan koper itu. Aku tidak sudi lagi melihat wajahnya'' sambung Arya, kemudian dia berlalu melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju kamarnya, meninggalkan Ayuna, mamanya serta sang papanya yang berteriak tidak terima karena di tarik paksa oleh dua orang bodyguard berbadan kekar, berotot besar.
***********
Begitu tiba di dalam kamar, Arya menutup pintu dengan cepat. Lalu, menguncinya dari dalam.
Arya terduduk di depan pintu memeluk lutut, menangis terisak. Dia tidak pernah berpikir dan menyangka kalau hubungan mama dan papa nya akan hancur berantakan dan berakhir seperti ini.
Dada itu naik turun, tanpa mengeluarkan suara. Tapi air mata tidak mau berhenti menetes. Ini kali pertama bagi Arya se umur hidupnya dia menangis begitu pilu.
Ternyata dia tidak sekuat dan setabah yang dia pikirkan. Dia juga bisa menangis saat kedua orang tuanya memutuskan berpisah, saling meninggalkan dengan rasa benci yang menguasai diri di usia senja.
*********
"Mas, buka pintunya sayang'' ucap Ayuna cemas, dia sudah berada di depan pintu kamar menyusul sang suami.
Ceklek!
Kemudian pintu terbuka.
Ayuna masuk dengan cepat, dia melihat sang suami yang berdiri tegap dengan mata merah serta bengkak sedang memandang diri nya. Air mata itu sudah tiada lagi.
Ayuna tahu suaminya pasti sangat terluka.
''mas!'' ujar Ayuna, lalu dia memeluk tubuh Arya dengan erat.
''menangislah mas, jangan malu. Aku mengerti kamu tengah terluka, kamu bersedih. Tumpahkan semuanya'' ucap Ayuna pelan.
Lalu mereka berdua berpelukan, dengan air mata yang menetes.
''semoga kita bisa menua bersama sayang. Tanpa saling menyakiti satu sama lain'' sahut Arya dengan suara seraknya.
__ADS_1