Adikku Selingkuhan Suamiku

Adikku Selingkuhan Suamiku
Penyesalan Papa


__ADS_3

''mas, terimakasih ya kamu sudah mau menemani aku ke sini lagi.'' ucapku pagi itu saat kami kembali berkunjung melihat Nina.


''iya sayang'' jawab mas Arya singkat, membuat moodku sedikit jelek pagi ini.


''kok jawabnya cuma gitu doang sih, mas?''


''lah iya kan sayang, terus mas harus jawab gimana lagi sayang'' balas suamiku lembut dan pelan, dia menggaruk-garuk keningnya yang aku yakin tidak gatal.


''ah sudah lah, kamu emang tidak romantis'' jawab ku asal, aku sengaja ingin menggoda suamiku.


''maaf, kalau mas tidak bisa bersikap Seperti yang kamu harapkan sayang'' lembut suamiku berucap, aku merasakan desiran di dada. Sikap suamiku masih sama, dia tidak berubah. Dia masih sangat perhatian dan menghargai aku meskipun sekarang tubuh ku sedang gendut-gendut nya.


''ah sudah, lupakan saja mas. Kamu yang terbaik'' jawabku kemudian dengan senyum simpul, aku membelai lembut tangan suamiku tempat aku berpegangan.


Aku dan suamiku lagi berjalan di pelataran rumah sakit jiwa, kami berjalan menyusuri beberapa ruangan, menuju ruang yang paling ujung, guna melihat keadaan Nina. Karena sebentar lagi aku akan segera melahirkan, sebelum melahirkan aku ingin berkunjung melihat adikku itu terlebih dahulu.


Mas Arya mendorong kursi roda ku dengan sangat pelan karena perutku yang rasanya sudah berat, aku kesulitan dalam berjalan, aku kemudian memilih duduk di atas kursi roda yang ada di rumah sakit.


Di rumah sakit masih sama, masih banyak pasien yang menatap genit ke arah suamiku, apalagi para suster nya juga genit-genit. Mereka tersenyum ganjen menatap suamiku. Aku tahu suamiku itu amat lah tampan, tapi seharusnya mereka sadar diri dong kalau mas Arya sudah memiliki istri. Seharusnya mereka bisa menjaga perasaan ku.


Entah kenapa perasaan aku sekarang jadi sangat sensitif. Aku jadi gampang ngambek, mudah tersinggung, serta emosional. Moodku sering kali berubah-ubah.


Mungkin ini efek sebelum menjelang melahirkan mungkin. Aku harap bayi di kandunganku akan sehat dan lahir dengan selamat. Tapi beruntungnya aku memiliki suami yang begitu peduli dan sangat mengerti aku. Yang selalu sabar dalam menghadapi mood aku yang berubah-ubah.


**********


"Mbak!'' panggil Nina, saat aku masuk keruangan nya. Dia sedang duduk santai di sofa yang ada diruangan nya, dia menyisir rambut panjang nya.


''hay nin, gimana kabarnya, dek?'' balasku, menghampiri nya. Mas Arya mendorong kursi roda ku.


''alhamdulillah aku baik mbak, mbak sendiri bagaimana kabarnya? Mbak kelihatan lebih berisi dan gendut sekali sekarang''


''alhamdulillah kalau begitu. Mbak juga baik, cuma ya begitu kamu lihat sendirikan keadaan mbak. Mbak sekarang sering merasa sesak. Mungkin ini efek bayi yang ada di kandungan mbak. Sebentar lagi mbak akan segera melahirkan, kamu doain ya semoga semuanya lancar serta baik-baik saja''


''amin mbak, aku berharap mbak sama ponakan aku sehat selalu. Hanya itu harapan ku mbak''


''amin, terimakasih dek''


''sama-sama mbak, terimakasih juga mbak karena selama ini mbak selalu peduli sama aku.''


''itu sudah menjadi kewajiban mbak, dek''


''sekali lagi terimakasih banyak, mbak.'' ucap Nina, menatap tajam kearah kakak sepupu nya ini.


''kamu jaga diri baik-baik ya. kamu harus banyak-banyak bersabar dan jangan pernah tinggalkan sholat lima waktu, supaya pikiran mu nggak kosong. Cobalah berdamai sama masa lalu. Mbak akan menjemputmu besok, saat kamu sudah bebas, kita bisa liburan bareng.'' pesan ku. Besok Nina akan kembali menjalani hukumannya, dia akan kembali tidur di sel yang dingin dan sempit itu. Karena kondisinya yang kata dokter sudah hampir sembuh total. Mas Yudha sudah mencabut semua tuntutan nya kepada Nina, hanya saja Nina harus menjalani hukuman selama 6 bulan lagi sebagai efek jeranya.


''iya mbak, aku akan selalu ingat pesan-pesan mbak''

__ADS_1


''ya sudah kalau begitu mbak pamit pulang dulu ya. maaf enggak bisa lama-lama''


''iya mbak, kabari aku ya mbak kalau ponakan aku sudah louncing''


''iya, itu pasti dek''


Kemudian kami berlalu lagi, mas Arya mendorong kursi roda ku dengan bagitu sabar. Membawa aku menjauh dari ruangan.


*************


Sekarang aku sedang Di pengadilan, menemani Mama. Meskipun tadi Mama sempat melarang aku untuk ikut datang, tapi aku tidak bisa diam aku ingin menemani mama, menjalani sidang putusan cerainya.


Aku dan mas Arya duduk berdampingan, dengan mama di depan. Mama kelihatan begitu anggun dan cantik dengan jilbab panjangnya. Senyum itu selalu terlukis sempurna di wajah mama.


Bunyi sepatu beradu dengan lantai terdengar cukup jelas sebelum sidang di mulai. Kami menoleh ka arah sumber suara, lalu saat sudah melewati kami, orang itu duduk tidak jauh dari mama.


Papa, papa kelihatan berbeda, papa kelihatan semakin kurus. Rambutnya sedikit panjang, bulu-bulu halus sudah memenuhi rahangnya.


Tatapan matanya tadi sempat menatap mas Arya beberapa saat, begitupun mas Arya. Aku melihat ada rindu yang tertahan di mata suamiku itu, ini sudah hampir 4 bulan lamanya, suamiku tidak bertemu dengan papa. Papa juga sempat melempar senyum ke arah ku.


*********


Setelah melewati beberapa proses, akhirnya Hakim mengetuk palu. Memutuskan sidang. Bahwa sekarang mama dan papa susah resmi bercerai. Papa juga sempat mengucapkan ikrar talak nya di hadapan semua orang.


Untuk semua urusan gono gini, tidak ada yang perlu diributkan. Mama sudah membagi semuanya. Mengambil hak mama, dan sebagian untuk papa, sebagai hasil kerja papa selama ini.


Aku melihat mas Arya menitikkan air matanya, menyaksikan perpisahan orang tuanya secara langsung. Aku tahu itu pasti sangat menyakitkan bagi nya.


Sungguh miris memang, disaat usia senja seperti mereka seharusnya mama dan papa menghabiskan hari tuanya bersama-sama dengan bahagia, tapi, mungkin ini memang sudah menjadi jalan hidup mama dan papa. Semoga saja setelah ini silaturahmi mama dan papa akan tetap berjalan semestinya. Tidak ada dendam yang mendalam dan bersarang di hati, supaya keduanya bisa menjalani hari-hari dengan baik dan bahagia tanpa beban.


*********


"Arya, berhenti nak. Papa mau bicara!'' sapa papa saat kami akan memasuki mobil.


Mas Arya menoleh, lalu berjalan pelan ka arah papa. Mas Arya mengambil pelan tangan tua itu, menyalami nya serta mengecupnya.


Aku dan mama hanya diam memperhatikan interaksi antara anak dan papa nya itu.


''Arya, bagaimana keadaan kamu, nak?'' tanya papa lembut.


''aku baik pa'' jawab mas Arya singkat. Suamiku itu memang irit dalam berbicara.


''syukurlah, papa rindu sekali sama kamu'' ungkap papa, menepuk pundak mas Arya pelan.


''papa gimana kabarnya?''


''p-apa juga baik, kamu bisa lihat sendirikan'' ucap papa sedikit gugup dengan suara serak.

__ADS_1


Papa kemudian memeluk mas Arya, terisak meminta maaf kepada mas Arya berulang kali.


''maaf, maafkan papa nak, papa belum bisa menjadi papa yang baik. Papa terlalu egois, selalu mengikuti nafsu tanpa memikirkan perasaan mama mu dan kamu dulu'' sesenggukan Papa berbicara.


''sudah lah pa, semua sudah terjadi. Tiada lagi yang perlu di sesali'' jawab mas Arya.


Kemudian papa melepaskan pelukannya dari mas Arya, dia melangkan kakinya ke arah aku dan mama.


''Ratna, maafkan mas, ya'' ucap papa menunduk, menyembunyikan netranya yang basah.


''iya mas, aku sudah memaafkan kamu, mas'' jawab mama lembut.


''terimakasih Ratna. Mas merasa malu bila mengingat semua yang telah mas perbuat'' jelas papa.


Sedangkan kami tidak menjawab lagi, kami hanya diam mendengarkan papa berbicara. Aku melihat ada banyak penyesalan di wajah tua itu. Papa seperti sedang menyimpan sesuatu. Aku yakin pasti sudah banyak hal yang terjadi di kehidupan papa selama 4 bulan ini.


''hay Ayuna, menantu papa yang cantik. Gimana kabar kamu, sayang?'' ucap papa menyapaku.


''alhamdulillah aku baik pa'' jawabku lembut.


''alhamdulillah, semoga kamu sehat selalu ya sayang. Sepertinya cucu papa tidak lama lagi akan segera melihat dunia''


''papa benar, sebentar lagi papa dan mama akan menjadi oma dan opa'' jawabku tersenyum ramah kepada papa.


Tapi, sesaat kemudian perut ku terasa begitu sakit. Tadi malam aku memang kesulitan tidur dan aku juga merasa sedikit nyeri di bagian ari-ari ku. Tetapi sekarang rasanya berbeda, ini sungguh sakit sekali.


''mas, perut aku mas. Sakit mas, aku sudah nggak tahan, mas'' ucapku tiba-tiba seraya memegang perutnya.


"Ayuna ... Kamu kenapa sayang?" tanya suamiku menghampiri aku, begitu juga mama dan papa, mereka serentak menyebut namaku.


"Mas,"


''iya sayang, kamu yang kuat sayang, ayo buruan'' sahut suamiku panik, dia menggendong tubuhku, membawa aku masuk kedalam mobil.


Aku melihat mama dan papa juga begitu panik.


''papa, bisa bantu aku menyetir? Aku akan menemani Ayuna di belakang'' perintah mas Arya. Karena bodyguard kami tidak ikut, Dimas pun sibuk di Kantor.


''bisa nak'' ucap papa pasti.


Kemudian papa dan mama masuk ke dalam mobil, mereka duduk di depan. Papa menjalankan kemudi.


Aku marasakan perutku sakit sekali, aku menggenggam erat tangan mas Arya, menahan rasa sakit yang teramat luar biasa.


....


Menuju ending, terimakasih untuk pembaca setia. Salam sayang dari aku. Semoga kalian di mudahkan rizkinya dan diberikan kesehatan.

__ADS_1


Jangan lupa follow akun ku, karena setelah ini tulisan baru ku akan segera louncing.


__ADS_2