Adikku Selingkuhan Suamiku

Adikku Selingkuhan Suamiku
Sembilan Bulan


__ADS_3

''kurang ajar kalian! berani-beraninya kalian memperlakukan saya seperti ini.'' berang Wiguna dengan wajah memerah, saat tubuhnya terhempas ke tanah, karena ulah bodyguard sang putra.


''Maaf tuan, kami hanya menjalankan perintah. lebih baik tuan segera pergi. Sebelum bos kami menghajar tuan lebih dari ini'' kata salah satu bodyguard sambil menunjuk ke arah Wiguna seraya berkacak pinggang. Membuat Wiguna semakin murka.


''kalian, awas saja! Setelah saya mendapatkan segalanya. Kalian bersiap saja saya pecat'' ancam Wiguna.


''silahkan saja tuan.'' ucap salah satu bodyguard terkekeh kemudian berlalu dari hadapan Wiguna.


Wiguna berdiri, lalu berjalan gontai menuju kendaraan roda empat miliknya seraya menarik koper, sedangkan tangannya yang satu lagi membawa tas yang berisi pakaiannya.


**********


Wiguna melajukan kendaraan roda empat miliknya dengan ugal-ugalan, dia merasa amat kesal.


Pipinya terasa begitu perih, tanda merah bekas tangan Arya terlihat jelas di pipi yang sudah mulai keriput itu.


''dasar anak dan istri tidak berguna. Aku yakin, Ratna pasti sudah meracuni otak Arya supaya Arya membenci aku, papa nya sendiri.


Ah, sudah lah lebih baik aku ke rumah sakit saja dulu. Menyelesaikan urusan ku sama Salsa. Habis itu aku akan ke Apartemen. Aku sepertinya harus tinggal di Apartemen untuk sementara waktu. Dan Ini juga kesempatan bagi aku untuk mencari pemuas nafsuku yang sudah tidak tersalurkan beberapa hari ini. Aku bebas, dengan uang yang aku punya, segalanya akan semakin mudah untuk aku dapatkan, termasuk wanita. Aku akan mencari wanita yang masih segar, wanita yang ori. Duh, rasanya aku sudah tidak tahan lagi'' gumam Wiguna, dengan senyum yang tersungging. Pikiran kotornya berkelana hingga mendapatkan ide gila.


***********


''Wiguna! kenapa kamu lama sekali?'' ucap ibunya Salsa, dia sudah berada di depan pintu ambulan.


''maaf, aku tidak bisa mengambil barang-barang ibu dan Salsa di rumah, tadi ada sedikit insiden yang terjadi di rumah.'' jawab Wiguna. Dia menutup wajahnya menggunakan masker, sehingga bekas memar diwajahnya tidak terlihat seluruh nya.


''terus bagaimana ini Wiguna? Semua barang-barang berharga milik kami ada di sana'' protes ibunya Salsa.


''tenang saja, besok aku akan menyuruh seorang pelayan di sana untuk mengambil barang-barang kalian. Barang kalian akan aku suruh pihak ekspedisi untuk mengantar kan nya. Ini aku ada uang buat tambahan, sebagai ganti ruginya'' sahut Wiguna sambil menyerahkan segepok uang bewarna merah.


''ya sudah, terimakasih Wiguna. Kalau begitu ibu pergi dulu. Apa kamu tidak ingin melihat jenazah Salsa dan anak kamu untuk terakhir kalinya?''


''boleh juga, aku akan melihat nya sebentar''


Kemudian Wiguna sedikit memanjangkan lehernya, menajamkan penglihatan nya ke dalam jendela ambulan. Dia melihat Salsa. Salsa sudah di kapani, hanya tinggal mukanya saja yang terlihat. Sedangkan sang anak yang masih sedikit belum sempurna bentuknya itu sudah di bungkus kafan seluruhnya.


''jijik sekali, kenapa wajah Salsa jadi begitu seram'' batin Wiguna dengan wajah masam.


Setelah itu bik Asih masuk ke dalam ambulans, ambulan melaju dengan cepat meninggalkan Wiguna yang masih berdiri di pelantaran rumah sakit, menatap mobil yang membawa jenazah sang Istri. Setelah itu dia meludah berulang kali, "mual sekali aku melihat wajah Salsa. uueek ... uueek" gumamnya.


*****

__ADS_1


Setibanya bik Asih di kampung halamannya, para warga dan anggota keluarganya sudah menunggu di depan rumahnya yang merupakan rumah paling mewah dan besar di kampung itu, rumah yang di bangun menggunakan uang dari Ratna dan Wiguna. karena mereka sudah mendapatkan kabar tentang kematian Salsa.


Petugas rumah sakit mengeluarkan jenazah Salsa di bantu oleh beberapa warga, para warga berkerumunan penasaran ingin melihat jenazah Salsa, begitu jenazah Salsa sudah keluar sempurna dari ambulan, bisik-bisik tetangga mulai terdengar.


"astaghfirullah halazim ... seram sekali"


"benarkan dugaan ku selama ini, si Salsa bisa cantik dengan wajah glowing dalam waktu sekejap pasti karena susuk"


"ya ampun, aku kira setelah sekian tahun dia bekerja di luar negeri dia akan menjalani hidup yang modern seperti yang aku lihat di tv tv, dia akan menggunakan skincare malah atau apalah, eh taunya ternyata dia masih pakai ilmu aslinya kampung kita. Kasihan sekali ya, semasa hidup dia cantik dan bergelimang harta, eh sudah mati dia jadi menjijikan seperti ini. Mana anaknya juga ikutan mati. Suami yang selalu dia ceritakan kepada kita mana ya? kok nggak kelihatan batang hidungnya!"


"ya sudah pasti suaminya kabur lah, hahahaha ..." kekehan kecil terdengar samar-samar oleh telinga bik Asih, para warga yang merupakan tetangganya sekaligus teman Salsa sewaktu masih hidup asyik menggunjing jenazah Salsa yang terbaring kaku dengan wajah menggenaskan. Setelah itu mereka beramai-ramai meninggal pelantaran rumah Salsa. Kini tinggallah bik Asih dan beberapa orang anggota keluarganya dengan wajah pilu.


"bagaimana ini? kenapa para warga pulang semua, bagaimana dengan jasad Salsa dan bayinya" gumam Asih resah


🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Di tempat yang berbeda, Ayuna sedang menyuapi sang mama mertua. Yang lagi duduk diatas tempat tidur.


Ratna merasakan kepalanya cukup pusing hingga dia tidak bisa makan malam bersama di meja makan. Di tambah lagi pipi nya yang memar karena tamparan sang suami.


''sayang, Arya mana?'' tanya Ratna lembut kepada Ayuna. Setelah menghabiskan sepiring kecil makanan.


''oh, baik lah. Sepertinya Arya lagi marah sama mama'' ujar Ratna, tatapan nya fokus kedepan.


''mama kenapa ngomong gitu? Mas Arya nggak mungkin marah sama mama. Mas Arya sayang bangat sama mama,''


''mama tahu Ayuna, tapi, sepertinya Arya sengaja menjaga jarak sama mama. Mama sudah tahu betul sama sifat Arya.''


''kalau begitu, Ayuna keluar dulu ya ma. Ayuna mau menemui mas Arya''


''nggak usah sayang, kamu duduk di sini saja. Temani mama. Arya akan menemui mama dengan sendirinya setelah dia berdamai dengan dirinya. Mama tahu saat ini Arya pasti merasa kasihan sama mama, tidak hanya itu dia pasti juga sangat terluka dan hancur melihat kenyataan ini. Dia harus menerima kenyataan kalau kedua orang tuanya tidak bisa bersama-sama lagi'' jelas Ratna pilu.


''baik lah ma. Mama yang sabar ya. Setelah ini Ayuna yakin, kebahagiaan dan kedamaian akan menjumpai mama. Ayuna sayang bangat sama mama'' ucap Ayuna, dia kemudian memeluk sang mama mertua.


Arya berdiri di depan pintu yang tertutup itu. Mendengar obrolan sang mama dan juga sang istrinya.


Sudut hatinya menghangat, dia bersyukur meskipun sang papa sudah tidak berada di dekat mereka lagi. Tapi, Ayuna sang istri selalu mengerti dengan keadaannya dan sang mama.


Ayuna bagaikan oase di tengah padang, yang menenangkan serta menyejukkan.


🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂

__ADS_1


Hari berganti, Minggu pun terlewati, dan bulan pun ikut berganti ke bulan yang lainnya. Sekarang genap sudah 9 bulan usia kandungan Ayuna, Ayuna nampak bahagia menyambut kelahiran sang buah hati tercinta. Begitu pun Arya serta sang mama mertua.


Setelah melewati berbagai serangkaian acara 7 bulan dan sebagainya, kini tidak lama lagi makhluk kecil di dalam kandungan Ayuna akan melihat bumi, melihat dunia yang pana ini.


Hubungan Arya dan sang mama pun sudah kembali normal. Mereka melakukan aktifitas seperti biasa.


Hanya saja sang papa, Wiguna yang tidak pernah muncul lagi sejak hari itu. Wiguna tidak pernah memperlihatkan batang hidungnya. meskipun terkadang sesekali Wiguna menanyakan kabarnya lewat ponsel tapi Arya abai, karena kejadian saat itu masih sering membayanginya. Tidak bisa dipungkiri, Arya merasa sedikit rindu sama sang ayah.


Sedangkan sang mama, Ratna.


Dia menjalani kesibukan nya sekarang dengan membuka sebuah butik. Ratna setiap hari akan mengunjungi butik mewah tersebut, untuk mengisi kekosongan nya.


Besok lusa adalah sidang putusan cerai mama dan papa Arya, Arya harap sang papa akan datang. Dia ingin melihat keadaan pria yang di dalam darahnya juga mengalir darah pria itu.


********


"Sayang, aku sholat nya duduk saja ya. Aku rasanya nggak kuat berdiri. Perut aku kok berat bangat ya!'' ujar Ayuna malam itu, ketika dia dan Arya akan melaksanakan sholat Isya bersama. Mereka duduk di ujung kasur.


''baiklah sayang, mas rasa sebentar lagi dedeknya akan segera launching.'' sahut Arya, mengelus perut buncit Ayuna sambil tersenyum bahagia.


Entah mengapa di dalam sana Arya merasa tidak hanya satu kaki yang dia rasa, tapi lebih. Arya bisa merasakan dengan sangat jelas tendangan mahkluk kecil di dalam kandungan sang istri saat dia mengelus perut itu tidak hanya 2 tendangan, tetapi lebih.


''mas, besok setelah dedeknya lahir. Mas bawa aku dan anak kita liburan ke London ya. Aku pengen bangat liburan mas'' celetuk Ayuna.


''iya, kamu tenang saja sayang. Apapun keinginan mu akan mas penuhi. Asalkan kamu dan anak kita sehat selalu.''


''terimakasih sayang'' ucap Ayuna memeluk Arya.


''iya, sama-sama sayang. Eh, lepasin sayang, bukannya kita mau sholat. Ini kita ngpain malah peluk-pelukan seperti ini'' ungkap Arya terseyum.


''ihh kamu sih''


''kok malah nyalahin mas,''


''iya, mas yang salah. Aku kan jadi capek, kalau harus bolak-balik lagi buat berwudhu'' jawab Ayuna manyun.


''kalau begitu biar mas yang gendong''


''nggak usah'' ketus Ayuna sambil berjalan ke kamar mandi, dengan langkah kaki pelan, dia memegang perut dan pinggul nya.


Sedangkan Arya hanya tersenyum, menggeleng melihat tingkah sang istri, yang akhir-akhir ini sangat sensitif menurut nya, salah bicara sedikit saja wajah Ayuna akan manyun.

__ADS_1


__ADS_2