Adikku Selingkuhan Suamiku

Adikku Selingkuhan Suamiku
Keputusan Ratna


__ADS_3

Pov Ayuna


Mas Arya mendengarkan suara rekaman yang berasal dari benda pipih milik ku itu dengan diam, kelihatan begitu tenang. Tapi, aku tahu suamiku itu pasti sedang bersusah payah menahan amarahnya. Aku bisa melihat dada bidangnya yang turun naik tak beraturan serta buku tangannya yang mengepal menampakkan urat-urat tangan.


''kapan kamu mengambil rekaman ini, sayang?'' tanya mas Arya dengan suara serak.


''malam kemarin, mas. A-aku kasihan sama mama mas. Aku mengambil vidio itu dengan diam-diam,'' sahutku dengan perasaaan bersalah. Aku takut setelah ini mas Arya akan marah kepadaku.


''Kenapa kamu dan mama tidak memberi tahu kepada, mas? Kenapa kalian menyembunyikan hal sebesar ini dari, mas?'' suamiku berkata dengan suara bergetar. Aku tidak tega melihatnya, itulah yang aku takutkan selama ini. Belum lagi mama, bagaimana respon mama saat dia tahu kalau aku dan mas Arya sudah tahu semua tentang masalah rumah tangganya saat ini.


''Mas, kamu dengarkan aku dulu ya, aku akan menjelaskan semua nya. Lebih baik mas duduk dulu. Ayo ...'' aku berkata dengan lembut berusaha membujuk suamiku itu, aku menatap wajah tampannya, membimbingnya duduk di sofa disebelah ku.


Mas Arya menurut, lalu aku menceritakan semuanya dari awal saat aku tidak sengaja mendengar Papa menelpon Salsa di kolam renang.


Mas Arya mendengar dengan begitu fokus tanpa bertanya lebih banyak. Suamiku itu memang sangat pandai dalam mengendalikan emosinya.


Setelah semua nya selesai aku ceritakan, mas AryaΒ  kemudian menunduk. Menyembunyikan wajahnya dari aku. Aku tahu suamiku itu pasti begitu terpukul mendengar berita yang sangat mustahil baginya. Karena menurut suamiku Papa Wiguna adalah pria yang setia dan sangat menyayangi Mama. Begitulah manusia, semuanya tidak bisa kita nilai hanya dari luarnya saja.


''mama .... Mama kenapa menyembunyikan semuanya dari aku, ma'' gumam mas Arya lirih.


Setelah itu mas Arya menegakkan wajahnya.


"Mas, mas mau kemana?'' tanyaku, saat mas Arya sudah berdiri dari duduknya.


''kamu tunggu disini saja ya, sayang. Mas mau memberikan pelajaran dulu kepada wanita ****** itu dan Papa. Salsa dan ibunya memang manusia tidak tahu terimakasih'' sahut suamiku dengan gigi gemeletuk.


''mas, jangan dulu mas. Biarkan semuanya menjadi urusan mama saja mas, kita sebaiknya jangan ikut campur dulu'' balasku, berusaha mencegah langkah kaki Suamiku. Karena aku mempunyai rencana yang lebih besar untuk menghancurkan dua pengkhianat itu.


''tapi, mas tidak rela mama disakiti secara terus menerus sayang. Ternyata ini alasan Papa membawa Salsa dan ibunya kerumah ini''


''mas, yang aku tahu Papa dan Salsa sudah menikah. Salsa sedang mengandung anak dari Papa mas. Aku tidak mau mas mendapatkan masalah dan bersangkutan dengan hukum kalau sampai terjadi apa-apa sama Salsa''


''kamu tenang saja, sayang. Mas masih bisa berpikir positif dan mengendalikan amarah mas''


''maksud kamu?''


''iya, mas tidak akan main tangan. Mas hanya ingin Menemui Salsa saja. Mengingatkan nya tentang asal-usul dia yang sebenarnya.''


''baiklah kalau begitu mas. Aku ikut ya, mas? Aku tidak suka melihat kamu berduaan sama wanita lain apalagi sama wanita seperti Salsa'' ucapku manja, aku memeluk suamiku dari belakang.


''baiklah sayangku, ayo''Β 


Aku dan mas Arya kemudian berjalan menuruni tangga, menuju kamar Salsa yang ada dibawah.Β 


Saat langkah kaki kami sedikit lagi akan sampai di pintu kamar Salsa. Tiba-tiba bik Asih mamanya Salsa menyapa kami.


''den Arya sama non Ayuna mau kemana?''


''Kami mau mencari bibik, bibik tolong buatkan kami jus jeruk, ya. kalau sudah selesai antar kan ke Gazebo yang ada ditaman'' sahut suamiku. Berbohong, mas Arya berusaha mengalihkan perhatian bik asih.

__ADS_1


''b-aik lah den'' jawab bik Asih tampak gugup dan gelisah.


''bibik ngapain masih berdiri disitu?! sana cepatan kedapur'' ketus mas Arya, karena bik Asih masih berdiri diam ditempat semula.


''i-ya den'' sahut bik Asih lagi masih gugup dengan wajah gelisah. Seperti ada yang dia sembunyikan.


Kemudian bibik berlalu dari hadapan kami, mambawa langkah nya ke dapur. Aku tersenyum melihat tingkah jahil suamiku.


Lalu kami mendekati pintu yang tertutup rapat itu.


Tangan mas Arya sudah diatas udara, mau mengetuk pintu. Tapi sedetik kemudian mas Arya menuruni tangannya.


Karena kami mendengar suara d*s*han yang saling bersahutan dari dalam kamar.


Suara itu semakin lama semakin terdengar saling memburu, aku bergidik mendengarkannya. Aku begitu jijik, aku lihat mas Arya mukanya yang putih bersih itu sudah memerah, seperti menahan amarah. Mereka berdua benar-benar tidak tahu malu, saat waktu mau magrib begini masih sempat-sempatnya mereka menyalurkan hasrat. Apalagi Salsa lagi hamil, apa dia tidak takut terjadi apa-apa sama bayi yang di kandungnya.


Kemudian mas Arya mengeluarkan ponselnya dari saku celananya.


Aku hanya diam memperhatikan gerak gerik mas Arya. Mas Arya menyentuh nomor Papa, ternyata suamiku itu mau menelpon Papa Wiguna.


Tut .... Tut .... Tut!


Benda pipih itu berbunyi lirih mengeluarkan suara, mas Arya sengaja mengecilkan volume ponsel nya. Kemudian mas Arya beranjak dari pintu kamar, berjalanΒ  memberi jarak cukup jauh antara dirinya dan kamar Salsa, aku selalu setia mengikuti langkah kaki suamiku.


''hallo, Arya'' suara Papa terdengar sayup, Papa mengangkat telpon.


Kami hanya diam, lalu mas Arya memutuskan panggilan itu. Mas Arya mendekati lagi pintu itu.


Dan suara menjijikan itu tidak terdengar lagi. Hanya suara ikat pinggang yang berdering tak beraturan yang terdengar.


''dasar ke parat. Aku pastikan, kalian akan merasakan hal yang lebih menyakitkan setelah ini'' gumam suamiku.


Lalu mas Arya membimbing aku menjauh, membawa tubuhku keatas.


''mas, kenapa mas tidak memergoki Papa sama Salsa? kenapa malah kembali ke kamar?'' bisik ku heran ketelinga mas Arya.


''tunggu mama pulang dulu, sayang.'' jawab mas Arya.


''den, jus jeruknya sudah bibik letakkan di gazebo den'' ucap bibik, berjalan terburu-buru kearah kami yang sedang menaiki tangga.


''tidak jadi bik, aku dan istriku sudah tidak berselera lagi sama jus jeruk nya''


''lho, lalu minuman itu bagaimana den?''


''kasih buat yang lebih membutuhkannya saja bik, mungkin di rumah ini ada yang baru selesai berolahraga.'' ketus mas Arya.


Sedangkan bik Asih terlihat bingung.


''bik, aku mau jus nya. Bibik suruh Salsa saja yang antar keatas jus itu ya.'' sahut ku menimpali.

__ADS_1


''bibik dengarkan apa yang dikatakan istri aku? Cepat panggil kan, Salsa!'' sambung mas Arya membentak.


''i-ya den, baiklah''


Setelah bibik mengatakan itu kemudian aku dan mas Arya melangkahkan kaki kami menuju tempat peraduan kami, aku menggandeng tangan suamiku dengan begitu erat. Aku sangat mencintai suamiku.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


POV orang ketiga


Ditempat yang berbeda, di kafe ternama di ibu kota.


''apa sudah selesai?''


''belum nyonya, sedikit lagi selesai. Anda dan suami anda memiliki aset yang tidak sedikit. Sehingga kami membutuhkan waktu yang lebih banyak untuk mengalihkan semua kepemilikan nya''


''baiklah, kasih kabar secepatnya saat semua sudah beres.''


''baiklah nyonya, semuanya anda percaya kan saja kepada saya''


''okey, saya rasa pertemuan kita kali ini cukup sampai disini saja. Terimakasih banyak atas semua bantuannya. Untuk honornya, nanti saya transfer saat semua sudah selesai''


''Anda tenang saja nyonya, Ratna. Senang bisa membantu anda. Semoga anda dan putra anda Arya Wiguna selalu berbahagia''


''terimakasih, kalau begitu saya pamit pulang dulu. Permisi'' ucap Ratna kemudian berlalu dari hadapan pria yang berusia sekitar kepala empat itu, pria yang usianya lebih muda dari Ratna. Dia adalah seorang pengacara sekaligus orang yang berkuasa mengalihkan semua aset berharga milik Ratna.


Ratna berjalan dengan menegakkan kepalanya, karena dia merupakan orang yang terpandang yang dikenali banyak orang. Ratna merasa lelah, karena seharian ini dia habiskan waktu hanya untuk mengurus surat perceraiannya dan pengalihan surat-surat berharga.


''jalan''


''baik, nyonya''


Mobil bergerak maju menembus dinginnya malam, lampu-lampu bersinar menyinari gelapnya malam. Ratna meneteskan air matanya, mengingat pernikahan nya yang sudah dia bina sekitar tiga puluh tahun lamanya itu sebentar lagi akan segera kandas.


''pa-pa tidak akan merestui pernikahan kalian, Ratna!''


''tapi pa? aku sangat mencintai mas Wiguna pa''


''dia itu pria yang tidak benar, Ratna! apa foto yang papa ambil sebagai bukti belum cukup untuk membuka mata kamu? Dia sudah tidur bersama perempuan lain!''


''itu dulu, pa. Aku akan merubahnya. Menjadikan dia pria yang baik dan bertanggung jawab''


''terserah kamu saja, Ratna. Papa pusing''


Ratna menangis tersedu-sedu mengingat perdebatan nya dulu sama sang mendiang papanya.


Ternyata benar adanya, setelah menikah dengan Wiguna beberapa tahun. Wiguna kembali bermain gila dengan seorang wanita. Tetapi karena rayuan Wiguna, Akhirnya Ratna luluh. Lalu mereka memutuskan pindah keluar negeri meninggalkan wanita selingkuhan Wiguna yang sedang mengandung. Saat itu Arya masih berusia sekitar 10 tahun, Arya tidak tahu apa-apa waktu itu.


Lalu sekarang terjadi lagi. Ratna tidak akan memaafkan Wiguna lagi. Keputusan nya sudah bulat. Selama ini Ratna memang begitu pandai menutupi semua perilaku tidak baik Wiguna dari Arya, karena Ratna ingin Arya menganggap kalau Wiguna adalah sosok seorang ayah yang baik dan sempurna di matanya.

__ADS_1


__ADS_2