Adikku Selingkuhan Suamiku

Adikku Selingkuhan Suamiku
Papa Selingkuh


__ADS_3

Cuaca tiba-tiba mendung dengan di sertai hembusan angin yang tidak terlalu kencang, tetapi cukup membuat daun-daun yang sudah bewarna kekuningan jatuh berguguran, ada yang beterbangan dibawa hembusan angin dan ada juga yang terjatuh tepat dibawah pohon.


Begitu juga takdir manusia, semua sudah di atur dari kita masih berada di dalam kandungan.


Maka bersyukur dan bersabarlah, hidup di dunia Pana tidak hanya tentang kebahagiaan dan kejayaan semata. Ikuti alurnya, nikmati prosesnya. Maka kamu akan tumbuh menjadi pribadi yang kuat menghadapi hari esok.


********


Ayuna duduk di bangku taman disamping sang adik, dengan Arya yang tetap berdiri dibelakang nya, Arya mengelus rambut Ayuna yang sudah mulai tumbuh memanjang lagi.


''Nin, gimana kabarnya?'' Ayuna berkata, bertanya menoleh kearah Nina.


''a-aku baik, mbak.'' jawab Nina menunduk. Ada perasaan malu saat dia berhadapan dengan sang kakak, padahal sebenarnya dia sangat merindukan Ayuna.


''hiks ... hiks ... hiks ...'' tiba-tiba Nina menangis, dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, bersusah payah dia menahan tangisnya agar tidak meledak.


Ayuna hanya diam, dia membiarkan Nina mengeluarkan semua unek-unek yang ada dihatinya.


''mbak, a-ku mintak maaf, mbak. Aku banyak salah sama mbak.''


''huhuhu ....'' setelah mengatakan itu, tangis Nina pecah kembali, bayang-bayang tentang pengkhianat yang dulu dia lakukan kepada Ayuna berputar memenuhi ingatan nya.


Ayuna juga ikut merasakan sesak didadanya, air mata sudah mengenang dipelupuk mata, kemudian setitik air bening itu jatuh membasahi pipinya saat ayuna menutup kedua bola mata indahnya. Ayuna menunduk mengapus sudut matanya dengan sapu tangan pemberian Arya. Ayuna tidak kuasa mendengar tangisan Nina yang terdengar begitu memilukan.


Arya membiarkan wanita dua bersaudara itu terhanyut dalam perasaanya masing-masing. Bahkan, Arya pun merasa sesak mendengar tangisan Nina.


''huhuhu .... mbak! Aku pantas mendapatkan semua ini mbak, a-aku, begitu jahat sama mbak dulu. Aku manusia yang tidak tahu diri dan tidak tahu terimakasih!'' cerocos Nina disela-sela tangisannya.


''jangan berbicara seperti itu, Nin! semua sudah berlalu.


sudah, hapus air matamu. Kamu berhak bahagia. Buang semua rasa bersalah dan penyesalan itu, jadikan semua itu sebagai pelajaran terbaik kedepan nya'' ucap Ayuna menatap wajah Nina lekat.


Nina tidak menjawab, dia hanya menganggukkan kepala nya, Kemudian dia menghambur memeluk Ayuna, mendekap tubuh sang kakak sepupu dengan begitu erat.


Ayuna mengelus-elus punggung Nina lembut.


''kamu cepat sehat, ya Nin. Cepat dibebaskan juga. Supaya kita bisa berkumpul bersama-sama lagi''


''i-iya, iya mbak'' jawab Nina, dengan posisi masih memeluk Ayuna.


Burung-burung berkicau merdu, suara isakan masih terdengar lirih. Ayuna bersyukur, saat ini dia masih bisa memeluk tubuh sang adik yang pernah membersamainya dari masih balita dulu. Hanya satu harapan Ayuna, yaitu bisa melihat Nina bahagia sesuai sama yang telah di pesan-kan oleh kedua orang tuanya. Ayuna sudah mamaafkan Nina atas perbuatannya dimasa lalu. Meskipun rasa nyeri di hati masih di rasakan nya bila mengingat kejadian di masa lalu, pengkhianat Nina masih membekas di hati nya. Tapi, Ayuna bersyukur karena dari kejadian itu dia sekarang mendapat kan seorang pengganti yang lebih baik, orang yang sangat luar biasa menyayangi nya seperti Arya.


Yang menjadi kegalauan Ayuna saat ini adalah bagaimana dan dimana dia akan mencari tahu tentang jati diri Ayah kandung Nina yang menurut Nina masih hidup.


Sebelum pulang dari rumah sakit, Nina sempat berpesan agar Ayuna mencari tahu tentang keberadaan Ayah kandungnya.

__ADS_1


*************


Senja menjelang magrib, Ayuna dan Arya sudah sampai dirumah. Ayuna merasa lapar, dia rasanya ingin sekali ngemil yang manis-manis. Tapi, tubuh Ayuna terasa begitu letih untuk bergerak dan mengambil cemilan kebawah karena perutnya yang sudah terasa sedikit berat. Usia kandungan Ayuna sudah memasuki bulan ke 5.


Ratna sedang tidak berada dirumah, tadi dia sudah memberi tahu Arya dan Ayuna lewat ponsel kalau dia akan keluar hari ini.


Sedangkan Wiguna entah dimana keberadaan nya.


**********


''mas, aku pengen ngemil mas. Tolong kamu panggilkan pelayan ya, mas, suruh mereka mengantarkan makanan keatas'' ucap Ayuna, berbaring disofa. Sedangakan Arya baru selesai menggantikan pakaiannya.


''Baiklah sayang, kamu istirahat dulu ya. Mas akan kebawah sebentar. Mau ambilin makanan buat kamu''


''kamu kok repot-repot mas. Suruh pelayan saja, mas'' ucap Ayuna.


''mas nggak mau kamu dilayani sama orang lain sayang. Suami kamu ini masih sehat, kuat dan sedang berada disamping kamu, jadi biarkan mas saja yang melayani istri mas yang cantik ini''


''ya sudah, makasih mas! Mas, aku mau cake coklat dan stroberi yang ada di kulkas, ya. Aku rasanya mau ngemil yang manis dan dingin gitu''


''iya, siap buk bos'' ucap Arya memencet sedikit hidung mancung Ayuna, lalu berlalu keluar dari kamar. Ayuna hanya tersenyum melihat tingkah sang suami.


Arya berjalan menuju dapur, dia sudah sampai di depan kulkas yang berukuran jumbo tersebut. Saat dia akan membukakan pintu kulkas. Tiba-tiba seseorang juga melakukan hal yang sama dengannya, yang membuat dia kaget.


''iya, nggak apa-apa!'' jawab Arya cuek. Arya merasa risih melihat penampian Salsa yang masih menampilkan tubuh polosnya, hanya bagian intimnya saja yang tertutup. Apalagi penampilan Salsa yang terlihat sedikit berantakan dengan tubuh berkeringat.


Arya mengambil kue yang dipesan Ayuna, sedangkan Salsa hanya mengambil minuman dingin saja.


''den, kalian kapan pulang nya?'' tanya Salsa berbasa-basi seraya membusungkan dadanya.


''barusan!''


''oh, kok aku nggak dengar suara mobil kalian ya''


''kamu lihat tuan Wiguna tidak, Salsa?''


''t-idak den, aku tidak lihat'' jawab Salsa gugup menunjukkan gelagat mencurigakan.


Salsa menelan salivanya, melihat penampilan Arya yang kelihatan begitu tampan. Arya hanya memakai atasan kaos bewarna putih transparan yang menampakan bayang-bayang dada bidang nya. Yang membuat Salsa begitu tergoda. Salsa begitu gatel seperti ulat bulu, dia tidak sadar kalau perutnya sudah mau meletus.


Saat Arya akan kembali ke kamar, dan Salsa mengikuti langkah kaki Arya dari belakang, tiba-tiba kaki Salsa kesandung, dia terjatuh dengan memegang botol minuman.


''aduh den, tolong bantu aku den, kaki aku sakit'' ucap Salsa lirih.


Arya hanya menoleh, lalu berteriak memanggil pelayan meminta pelayan saja yang membantu Salsa. Arya tidak berniat sama sekali untuk membantu Salsa. Arya naik keatas dengan langkah lebar, dia tidak ingin membuat Ayuna terlalu lama menunggu dirinya.

__ADS_1


Sedangkan Salsa merasa begitu kesal, melihat punggung Arya yang sudah mulai menjauh meninggalkan nya. Salsa yang hanya berpura-pura terjatuh untuk mendapatkan perhatian Arya kemudian berdiri, ''dasar, sok jual mahal. Ini belum seberapa'' batin Salsa dengan tatapan sinis. Setelah itu dia meninggalkan tempat itu dengan cepat menuju kamarnya. Seseorang sedang menunggu nya disana.


************


Arya menyuapi cake kemulut Ayuna dengan penuh perhatian. Ayuna hanya mampu memakannya sedikit saja, karena pikirannya yang selalu tertuju entah kemana.


''sayang, kamu kenapa kelihatan seperti sedang banyak pikiran begitu?'' tanya Arya, menatap mata sayu itu.


''nggak kok, mas. Aku nggak banyak pikiran'' jawab Ayuna, sambil membelai wajah sang suami yang begitu tampan.


''nggak apanya, sayang? mas bisa melihat dari mata kamu sayang. Mata itu tidak bisa berbohong''


''aku cuma lagi mikirin siapa ayah kandung Nina dan masalah mama'' ucap Ayuna keceplosan di akhir kalimat. Kerena dia begitu fokus menatap Arya.


''masalah mama?'' tanya Arya heran dengan mata menyipit.


''e-eh, enggak mas, aku tadi cuma salah ngomong'' Ayuna berkata, salah tingkah dia mengalihkan tatapannya ke arah lain.


''mas, nggak percaya kamu salah ngomong.''


''beneran mas''


''sayang, ayo jujur sama, mas. Sebenarnya mama lagi ada masalah apa? Kalau memang mama sedang ada masalah kamu ceritakan semuanya sama, mas. Mas nggak mau kamu memikirkan semua itu sendirian, semua itu bisa menjadi beban untukmu sayang. Kasihan sama bayi kita, kasihan sama kamu dan mama. Mas nggak mau terjadi apa-apa sama kamu, anak kita, dan mama. Mas sangat menyayangi kalian''


''tapi, mas ...'' ragu Ayuna berucap. Dia menimang-nimang di dalam hati, jujur atau tidak. Pikirnya.


'' kamu jangan takut. Mas sangat menyayangi kamu dan mama, mas akan melindungi kamu dan mama dari siapapun yang berani menyakiti kalian''


''bukan itu Masalah nya mas. Aku tidak ingin membuat kamu bersedih, mas''


''apa lagi ini, sayang? Ayo cepat katakan Ayuna. Kamu kenapa sekarang main rahasia-rahasiaan sih sama mas'' ucap Arya kesal tidak sabaran.


''ba-ik lah, mas. Aku akan mengatakan semuanya. Tapi kamu jangan marah sama aku, ya?''


''iya, mas sangat menyayangi kamu. Tidak mungkin mas bisa marah sama kamu sayang''


''mas, jadi begini. Sebenarnya .... Papa ...''


''papa? Papa kenapa, sayang?''


''papa ... sudah mengkhianati mama, mas'' jawab Ayuna menatap Arya lekat.


''nggak mungkin Ayuna. Papa tidak mungkin berbuat hal sehina itu'' ucap Arya lirih. Mata elang itu beralih kearah lain, dia merasa kurang percaya sama ucapan Ayuna.


''ini mas, aku ada buktinya'' kata Ayuna, dia memberikan ponselnya kepada Arya seraya memutar suara rekaman Wiguna dan Salsa yang dia ambil secara diam-diam pada malam itu.

__ADS_1


__ADS_2