
''assalammualaikum, sayang'' ucap Arya saat dia sudah berada dirumah, dia memasuki kamarnya dan Ayuna.
''walaikumsallam, mas'' jawab Ayuna mengambil tangan sang suami lalu mengecupnya dengan lembut.
Setelah itu, Ayuna dengan cepat mengambil tas serta membuka dasi dan jas sang suami.
Arya tersenyum bahagia melihat perhatian kecil dari sang istri, seketika lelahnya karena pekerjaan menguap dengan sendirinya melihat sang istri yang begitu perhatian pada nya.
''eehh, kamu mau kemana, sayang?'' ucap Arya memegang pergelangan Ayuna. Saat Ayuna hendak berlalu.
''aku mau meletakkan ini dulu di tempatnya, mas'' jawab Ayuna, menunjukkan tas serta jas sang suami.
''baik lah, setelah itu kamu kembali lagi ya. Kamu bantuin mas buka kancing kemeja, mas''
''ih, dasar manja'' celetuk Ayuna.
Arya hanya tersenyum melihat tingkah sang istri yang menurutnya begitu menggemaskan.
Arya duduk di ujung kasur, membuka sepatu. Saat sepatunya sudah terlepas Ayuna datang lagi menghampiri.
''mas, kamu kenapa telat pulangnya hari ini? Ini sudah mau magrib lho. Tadi, kenapa aku hubungi juga nggak diangkat-angkat?'' ucap Ayuna memberondong Arya dengan berbagai pertanyaan. Ayuna membuka satu persatu kancing kemeja sang suami dengan wajah cemberut.
''mas tadi sibuk sekali sayang. Mas, nggak sempat pegang ponsel. Karena klien yang datang begitu padat. Maaf kan mas ya, kamu jangan cemberut gitu dong''
''ya sudah, ini kemejanya sudah selesai, sana buruan mandi, habis itu kita sholat bareng-bareng'' ucap Ayuna menatap wajah tampan sang suami. Mata tajam dengan alis tebal itu juga sedang tertuju kearahnya.
''baik lah istriku sayang''
Setelah berkata seperti itu, Arya langsung memeluk tubuh Ayuna dengan erat. Melepaskan rindu yang tadi sempat dia tahan, menghirup aroma tubuh sang istri yang begitu menenangkan baginya dengan begitu dalam.
Ayuna pun hanya diam, karena dia merasakan hal yang sama.
''sayang, besok kita periksa kandungan mu kerumah sakit ya?'' Arya berkata, setelah melonggarkan pelukannya.
''tapi, mas kan mau kerja?''
''mas bisa temani kamu sebentar, habis itu mas baru pergi ke kantor. Mas pengen ngeliat bayi kita''
''Baik lah mas''
*************
Pagi kembali menyapa, setelah sarapan bersama. Ayuna dan Arya bersiap-siap untuk memeriksa kandungannya.
Sedangkan sang mama Ratna, tidak bisa menemani karena harus mengurus beberapa berkas surat perceraiannya.
Wiguna, dari kemaren tidak pulang. Entah dimana keberadaan dia sekarang. Arya dan Ayuna pun tidak berniat untuk menanyakan serta mencari tahu keberadaan dan kondisi Salsa saat ini. Mereka menganggap Salsa pantas mendapatkan itu semua. Bahkan, rasanya itu masih kurang.
********
Ayuna dan Arya sedang dalam perjalanan.
''mas, ini perut aku kamu elusin dong'' ujar Ayuna, manja. Dia bersandar di dada bidang sang suami.
''iya, sini mas elus sayang''
''nah gitu dong, mas.'' sahut Ayuna tersenyum.
''duh, anak papa kok aktif bangat sih. Kasian mama, kamunya nendang-nendang terus'' Arya berkata dengan tangan masih berada diperut sang istri.
Dimas hanya tersenyum melihat pasutri muda yang berada dibelakang nya. Dia jadi kepengen punya pasangan, karena melihat keromantisan Ayuna dan Arya.
Tidak berapa lama akhirnya mereka tiba dirumah sakit ternama yang khusus untuk ibu dan balita, rumah sakit yang khusus memeriksa kandungan serta melahirkan.
__ADS_1
Ayuna turun dari mobil dengan hati-hati dengan di bimbing oleh sang suami.
Mereka berjalan lambat, Arya berusaha mengimbangi langkah sang istri.
''pelan-pelan saja jalannya, sayang''
''Iya, mas''
Saat sudah sampai, Ayuna masuk ke sebuah ruangan. Mereka tidak perlu mengantri lagi, karena Arya sudah mendaftar duluan melalui ponselnya. Karena sang dokter kandungan yang ada di tempat itu merupakan kenalannya.
*******
"Adek nya aktif sekali ya, bayinya sangat sehat. Wah, pak Arya memang suami siaga'' ucap sang dokter terseyum ramah, dengan tangan serta alat pemeriksa kandungan berada diperut Ayuna.
''iya, iya lah Bu Dokter, aku selalu berusaha memastikan kesehatan ibu dan bayinya''
''nyonya Ayuna beruntung sekali''
''kita sama-sama beruntung, Dok''
''oh. Ya benar juga, maaf''
''oh, ya. kira-kira bayi kami laki-laki apa perempuan, dok?'' sambung Ayuna.
''tunggu sebentar ya, dari tadi saya begitu sulit untuk melihat jenis kelamin nya. Karena bayinya selalu menyembunyikan kelaminnya. Bayi ini aktif sekali''
''dokter, kenapa ya, dok. Setiap kita mau melihat kelaminnya selalu disembunyiin sama dedeknya. Bikin kita penasaran saja. Apa dedeknya nggak apa-apa, dok?'' tanya Ayuna lagi.
''nggak apa-apa. bayinya sehat. hahaha, sepertinya adek bayinya memang sengaja, dia mau memberikan kejutan untuk papa dan mamanya'' ungkap sang Dokter dengan sedikit tawa.
Ayuna dan Arya pun tertawa bahagia, tetapi mereka masih merasa begitu penasaran sama jenis kelamin bayi mereka.
Setelah melakukan berbagai pemeriksaan akhirnya Arya dan Ayuna selesai. Mereka keluar dari ruangan.
''kamu yakin, sayang?'' sahut Arya.
''iya, nggak boleh, ya?''
''tentunya boleh dong sayang, mas senang sekali kalau kamu mau ikut. Ayo, hati-hati jalannya sayang''
''iya, mas''
Kemudian mereka berjalan menyusuri lantai keramik tersebut.
Saat sedang berjalan, dari jauh Ayuna tidak sengaja melihat wanita yang begitu mirip sama Tesya dan Sarah.
Saat sudah dekat ternyata benar dugaan Ayuna, wanita itu benaran mantan adik iparnya dan istri mantan suaminya.
Mereka berpas-pasan. Tesya yang juga menyadari kalau itu adalah Ayuna, dia merasa malu sekali, dia berjalan menundukkan wajahnya.
''Tesya, Sarah!'' panggil Ayuna.
''mbak Ayuna'' jawab Tesya sedikit gugup, sedangkan Sarah hanya tersenyum kearah Ayuna dan Arya.
''kalian di sini juga rupanya. Gimana kabarnya?'' tanya Ayuna ramah.
''mbak, huhuhuhu. Maafkan aku mbak. Ternyata kita bertemu disini. Baru kemarin aku dan mas Yudha membicarakan mbak. A--ku, minta maaf mbak. Aku minta maaf.'' racau Tesya, dia langsung memeluk tubuh Ayuna. Membuat Ayuna kaget.
''Tesya, kamu jangan bersikap seperti itu, mbak sudah memaafkan kamu, Tes'' ujar Ayuna membelai punggung Tesya.
''mbak, beneran?''
''iya''
__ADS_1
''terimakasih mbak, mbak emang wanita yang baik''
Kemudian mereka duduk dibangku panjang yang terdapat dirumah sakit. Mereka mengobrol tentang apa saja. Tesya menceritakan semua yang telah terjadi kepadanya dan Yudha. Arya selalu setia berada disamping sang istri.
Ayuna memberikan cek yang tidak sedikit, untuk membantu perekonomian keluar kecil Yudha. Karena Tesya juga sempat bercerita kalau untuk memeriksa kandungannya saat ini dia menggunakan uang Sarah yang dia dapat dari hasil bekerja semalaman, sebagai penyanyi di kafe yang dia lakukan.
Ayuna merasa begitu prihatin. Sedangkan Tesya dan Sarah merasa sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Ayuna atas bantuan yang telah Ayuna berikan. Berulang kali mereka mengucapkan terimakasih. Uang yang diberikan Ayuna kepada mereka merupakan uang hasil penjualan rumah Ayuna dan Yudha dulu, yang jumlahnya tidaklah sedikit, Ayuna iklas memberikan itu semua karena dia tidak membutuhkan itu. Keluarga Yudha jauh lebih membutuhkan nya, karena harta suami Ayuna jauh lebih banyak yang tidak akan habis hingga 7 turunan.
*********
"Sudah, jangan sedih lagi sayang'' bujuk Arya. Saat mereka sudah berada di dalam mobil lagi, menuju kantor.
''aku kasihan mas, sama mereka''
''kamu memang berhati baik istriku. Dengan bantuan yang kamu berikan tadi, semoga saja kehidupan mereka akan kembali berjalan normal dan Yudha juga diberikan kesembuhan''
''amin, mas''
Tidak berapa lama akhirnya mobil yang membawa Arya dan Ayuna sampai di depan sebuah gedung perusahaan, perusahaan yang menjulang tinggi.
Saat akan masuk ke dalam ruangannya. Arya tiba-tiba merasa gelisah, dia teringat akan sesuatu. Tapi, Arya selalu berusaha untuk bersikap tenang dihadapan Ayuna.
Mereka berjalan berdampingan, dengan Dimas dibelakang mereka.
Karyawan menunduk hormat melihat kedatangan sang atasan dan istrinya.
Sedangkan Siska sahabat Ayuna sudah tidak bekerja di kantor Arya lagi, dia resign dari kantor karena dia juga sedang mengandung.
***********
"Sayang, kamu tunggu di sini ya. Ada yang ingin mas bicarakan sama Dimas'' kata Arya saat dia dan Ayuna sudah berada di ruangan nya.
''baik lah mas, aku akan merebahkan tubuhku disini mas. Rasanya aku sangat lelah mas''
''ya sudah, selamat beristirahat istri ku'' ucap Arya lembut, mengelus pucuk kepala sang istri setelah itu dia berlalu.
*********
"Dimas, kamu kenapa tidak mendengarkan perintahku!'' ucap Arya pelan, saat dia sudah berada diruangan Dimas.
''perintah yang mana, bos?'' sahut Dimas bingung dengan mata menyipit.
''bukannya dulu saya pernah bilang kalau saya maunya sekretaris laki-laki. Kenapa kamu terima yang perempuan?''
''bos, bos kenapa baru ngomong sekarang. Bukannya kita sudah menerima perempuan itu kemarin.''
''saya juga lupa Dimas. Saya kemarin begitu pusing sama masalah mama dan papa hingga saya melupakan tentang itu. Lagian saya tidak pernah merasa menerima perempuan itu. Saya hanya menurut, menjalani jadwal yang telah kamu buat kemarin untuk bertemu perempuan itu''
''maaf bos, dari beberapa yang melamar pekerjaan sebagai sekretaris disini hanya perempuan itu yang paling pantas bos, kinerjanya bagus bos dia juga pandai dalam membawa diri dan berbahasa asing dengan lancar ''
''saya tidak peduli. Saya ingin, sekarang juga kamu memecatnya, Dimas''
''tapi, bos?!''
''tidak ada tapi-tapian, cepat lakukan itu. Sebelum istri saya tahu. Saya tidak mau moodnya jelek dan menjadi masalah karena kehadiran perempuan itu. Kamu kasih uang sebagai ganti rugi kepada perempuan itu. Pokoknya sekarang juga perempuan itu harus angkat kaki dari perusahaan saya'' ucap Arya tegas. Yang membuat nyali Dimas menciut.
''b-aik lah bos, akan aku lakukan segera bos''
................
Kuy, menurut kalian, perempuan misterius itu mau tidak dipecat secara tiba-tiba dari perusahaan yang baru sehari dia tempati??
Sudah menuju ending, ya.
__ADS_1