
Arya berjalan tergesa-gesa dengan sang Ayah berada disampingnya. Dia melihat Ayuna sedang tidak baik-baik saja, Arya merasa begitu cemas dan khawatir, bercampur dengan amarah yang begitu besar. Dia tidak terima sang istri tercinta diperlakukan seperti itu.
''lepaskan istri aku Tante'' teriak Arya geram, dia melewati orang-orang yang hanya berdiri, menjadikan Ayuna dan Sofia sebagai tontonan. Apalagi Papanya Sisil yang juga berdiri tidak jauh dari mereka, mendukung perbuatan sang istri. Sedangkan Ratna tidak bisa berbuat banyak untuk membantu sang menantu kesayangan, Ratna merasa amat bersalah.
Sofia sedikit terkejut mendengar suara teriakan Arya. Dia begitu kenal dengan Arya, Arya orangnya sedikit tempramental, jika ada yang berani mengganggu apa saja miliknya, maka Arya tidak akan segan-segan untuk melenyapkan dan menyingkirkan orang itu.
Tangan Sofia masih setia berada dirambut Ayuna, dia tidak mengindahkan perkataan Arya. Arya yang merasa sangat emosi kemudian mencoba menyingkirkan tangan sialan sofia dari rambut sang istri. Arya menarik tangan Sofia dengan cukup kuat, hingga tangan itu terlepas, membawa sedikit rambut Ayuna yang rontok karena tarikan tangan Sofia yang kuat. Arya lalu mendorong Sofia, Sofia terjatuh terjengkang, suami nya langsung menyambut tubuh sang istri. Sofia nampak begitu murka karena diperlakukan seperti itu oleh Arya.
''oh, jadi sekarang kamu sudah berani bersikap kasar sama Tante, Arya? Hanya karena wanita itu, sekarang hubungan kita jadi berantakan begini'' ucap ibunya Sisil yang tidak terima. Dia menunjuk-nunjuk ke arah Ayuna.
Sedangkan Arya memeluk Ayuna, membawa sang istri kedalam dekapannya. Ayuna menangis karena merasa malu, merasa harga dirinya diinjak-injak oleh Sofia, mamanya Sisil. Arya membelai rambut sang istri yang nampak begitu berantakan.
''bubar kalian semua'' ucap Arya, Arya tidak suka orang-orang melihat mereka.
''apa, Tante?! Apa yang tante inginkan? Tante sudah bersikap kasar sama istri aku, apa salah kalau aku juga melakukan hal yang sama? Bagaimana rasanya Tante, Enak?'' tanya Arya penuh penekanan, dengan ekspresi datar.
''kamu, kamu sekarang sudah berubah Arya. Kemana sikap hormat dan sopan santunmu yang selalu kau lakukan dulu saat berhadapan dengan Tante!'' teriak Sofia, dia sudah berdiri dengan berpegangan pada tubuh papanya Sisil.
''aku tidak bisa diam dan pura-pura baik, atas apa yang telah tante lakukan. Asal tante tahu, Sisil pantas mendapatkan itu. Bahkan itu tidak sebanding sama apa yang telah dia lakukan. Sisil susah menghabiskan nyawa seseorang, kemudian dia juga sudah berusaha untuk menembak Ayuna dengan menggunakan pistolnya. Tapi beruntungnya Allah masih melindungi istri aku Tante, aku tidak dapat membayangkan kalau Ayuna sampai kenapa-napa''.
''kamu sadar tidak Arya? Sisil melakukan semua itu karena ada sebabnya. Sisil cemburu, dia merasa terasingkan. Sisil sudah lama mencintai mu Arya, jauh-jauh hari sebelum kamu mengenal wanita sialan itu'' teriak sofia lagi.
''diam Tante, tante mengganggu waktu kami saja, sebenarnya aku tidak mau ada masalah diantar kita, tapi tante yang memulai duluan, seharusnya tante itu meminta maaf sama istri aku, atas apa yang telah dilakukan Sisil, anak kesayangan tante itu'' balas Arya.
Sedangkan Sofia terdiam, dia tidak bisa harus berkata apa lagi.
''sayang, mari mas lepaskan gaunnya sebentar. Habis itu kita pulang'' ucap Arya membimbing Ayuna, Arya begitu mudah untuk mengendalikan emosinya.
''iya mas'' jawab Ayuna menurut.
__ADS_1
''mama sama papa tunggu sebentar ya'' ucap Arya kepada kedua orang tua nya.
Kemudian Arya dan Ayuna berlalu masuk keruang ganti.
Sofia berlari kearah Ayuna, dia mau menyerang Ayuna lagi dari belakang. Sofia merasa tidak puas. Tapi Arya dengan cepat berbalik tubuhnya, menghentikan niat jahat Sofia.
''tidak heran kalau Sisil mempunyai sifat begitu angkuh, ternyata sifat keras kepala Sisil menurun dari Tante. Oh, ya tan, ini ada undangan untuk tante. Jangan lupa ya, tante dan om datang ke Pesta pernikahan kami besok'' ucap Arya santai. Dia memberikan undangan pesta pernikahan nya, undangan tersebut sebenarnya bukan untuk Sofia, Arya hanya menjadikan itu sebagai senjata untuk membuat Sofia pergi dari butik.
Sofia berdiri mematung, menatap undangan tanpa nama, dengan emosi yang susah payah dia tahan. Tiba-tiba ke kemudian Sofia terjatuh kelantai, Sofia tidak sadarkan diri. Arya tidak peduli, dia tetap masuk keruang ganti.
''mas'' sahut Ayuna, mengingatkan tatapan mata tertuju ke arah Sofia.
''sudah, nggak apa-apa sayang. Itu bukan urusan kita. Dia yang duluan mulai'' ucap Arya menenangkan sang istri.
Papa Sisil merasa sangat cemas melihat keadaan sang istri, lalu dia memanggil beberapa orang suruhannya untuk membawa tubuh lemah tak berdaya Sofia kedalam mobil.
''awas saja kau Arya, dan kalian semua tidak berguna!'' ucap Papa-nya Sisil. Dia menunjuk Ratna dan Wiguna papanya Arya. Ratna dan Wiguna hanya berdiri diam, mereka bingung harus bersikap bagaimana, karena dulu hubungan antara keluarga mereka sangat dekat dan akrab.
*********
Diruang ganti, Arya bersujud di kaki sang istri. Arya berulang kali meminta maaf kepada Ayuna.
''sayang, maafkan mas Ya. Maaf sekali, mas tidak berguna. Mas tidak bisa melindungi kamu dan calon anak kita. masih sakit, kah? ucap Arya, merasa begitu bersalah.
''mas, sudah, ayo berdiri. Kamu jangan begitu mas, aku nggak kenapa-napa'' jawab Ayuna berbohong, sebenarnya kepalanya masih terasa sakit nyut-nyutan.
''seharusnya tadi mas memerintahkan beberapa bodyguard untuk menjaga dan mengawasi kamu dan mama'' sahut Arya lagi.
''sudah mas, semua nya sudah terjadi. Aku benar-benar nggak apa-apa mas, Ayo berdiri'' jawab Ayuna dengan senyum simpul.
__ADS_1
Kemudian Arya berdiri, mensejajarkan tubuhnya dengan sang istri. Arya menatap mata indah itu, mata indah yang dihiasi dengan bulu mata lentik alami. Arya memandang Ayuna dengan begitu dalam, lalu arya mengecup bibir Ayuna, sekilas, lalu semakin dalam. Arya ingin memberikan ketenangan kepada sang istri. Ayuna menikmati sentuhan lembut dibibir nya. Mereka sama-sama terhanyut dalam kenikmatan. Lalu tidak lama kemudian mereka melepaskan pagutan itu, karena mereka sadar posisi mereka masih di dalam ruang ganti butik.
Sedangkan Ratna dan sang suami hanya diam duduk berjarak diruang tunggu, Wiguna asyik menatap ponselnya, dia berbalas pesan dengan sang istri muda. Ratna yang melihat merasa hatinya kembali tergores, dia mengingat kenangan indah dulu saat papanya Arya begitu peduli dan perhatian dengannya, tapi sekarang semua itu hanya tinggal kenangan.
''tunggu saja pembalasan aku, Wiguna. aku bukan wanita lemah dan bodoh. aku akan bermain cantik untuk menghancurkan kamu dan gundik mu itu'' batin Ratna.
Semua Perselingkuhan Papa nya Arya berawal saat Ratna pulang ke Indonesia sendiri beberapa bulan yang lalu. Ratna meninggalkan suaminya sendirian. Dengan beberapa orang pembantu dirumahnya yang berada diluar negeri. Wiguna yang tidak bisa menahan nafsu ketika ditinggalkan sang istri kemudian tergoda oleh seorang gadis belia, yang usianya mungkin sepantaran dengan Nina adiknya Ayuna. Gadis itu merupakan anak dari pembantu yang begitu dipercaya oleh Ratna, pembantu yang berasal dari Indonesia.
Gadis itu dan ibunya begitu pandai membuat rencana, diusianya yang masih belia dia rela menjadi yang kedua hanya kerena harta.
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
di tempat yang berbeda.
''mas, bagaimana?''
''belum juga sayang, mas masih belum bisa berdiri'' jawab Yudha, terlihat putus asa.
''kamu yang sabar ya, mas'' ucap Sarah menenangkan, menarik nafas panjang.
Yudha mencoba berdiri sendiri, tapi kakinya masih terasa sakit dan tidak mampu untuk menopang tubuhnya.
Sekarang Sarah dan Yudha sudah keluar dari rumah sakit, mereka tinggal dirumah Yudha yang begitu sederhana bersamaTesya.
Sedangkan Tesya dari tadi perutnya terasa begitu mual, dia memuntahkan isi perutnya, dengan bolak balik kekamar mandi.
''mas, itu Tesya kenapa?'' tanya Sarah yang sedikit cemas, mereka sakarang lagi duduk ditepian ranjang. Sarah dan Yudha mendengar suara Tesya yang berasal dari kamar Tesya dengan begitu jelas.
''mas, nggak tahu juga sayang'' jawab Yudha, berbohong.
__ADS_1
Sebenarnya Yudha merasa aneh dengan keadaan dan tingkah sang adik, tapi Yudha berusaha menyangkal. Dia tidak ingin terjadi apa-apa sama kehidupan nya yang sudah mulai tenang.