
“Jangan terburu-buru, Pah, biarkan Sarah menggapai cita-citanya dulu,” ujar Devan.
Pak Bagas tidak tau bahwa anaknya sudah ditolak secara halus oleh anak dari sahabatnya itu.
“Kalo belum mau nikah, ya, tunangan aja dulu,” imbuh pria paruh baya itu, bersikeras dengan perjodohan yang dibuat bersama Ayahnya Sarah.
Devan menghela nafas dalam, percuma dia ngomong sama lelaki tua yang super keras kepala itu, nggak bakalan menang.
“Papah kesini, tumben, ada apa?” tanya Devan mengalihkan bahasan.
“Nggak ada apa-apa, cuma mampir. Papah tadi pulang dari resto yang di daerah dekat sini,” terang Pak Bagas seraya menyesap sebatang rokok yang suah disulutnya.
“Gimana sidangmu hari ini? Menang lagi?” pria berwatak keras itu balik bertanya pada anaknya.
“Alhamdulillah, lancar Pah, sesuai harapan,” terang Devan dengan wajah ceria.
Pak Bagas tersenyum bangga, “kamu memang berbakat dipekerjaanmu ini,” puji Sang Ayah pada anak tunggalnya.
“Kalo gitu, Papah pulang, yah,” pamit Pak Bagas.
Devan mengangguk, dia mengantarkan Ayahnya ke depan pintu ruangannya.
Pak Bagas melangkah pergi setelah menerima ciuman di punggung tangannya.
Sepeninggal Ayahnya, Devan kembali menatap layar laptop yang masih terbuka, dia memeriksa jadwal persidangan para kliennya.
Tok … tok … suara ketukan pada pintu jelas terdengar. Devan menatap ke arah suara, “masuk,” sambutnya.
Mila datang, di tangannya sudah berada tumpukan berkas-berkas yang masuk ke lembaga hukum milik Devan.
“Waduh, nggak kurang banyak, tuh,” canda pengacara muda itu, dengan expresi wajah yang telihat kaget bercampur senang.
Kaget, karena tidak menyangka bakal sebanyak itu kasus yang masuk ke kantornya, senang, karena lembaganya mendapatkan banyak kepercayaan dari banyak orang.
Sepertinya itu adalah efek dari kemenangan di persidangan tadi.
“Hehe, kita lembur hari ini, Pak Boss,” balas Mila dengan senyum andalannya.
Mila adalah sekretaris Devan, dia bekerja pada Devan setelah lulus kuliah, beruntung dia seorang gadis pintar, jadi tak terlalu sulit untuknya melewati tes yang digelar oleh Devan saat penerimaan staf untuk membangun lembaga hukumnya.
Mila menyimpan rasa pada Big Boss-nya itu, namun dia menyadari tak layak baginya untuk bermimpi terlalu jauh dengan ekspektasi yang tinggi.
__ADS_1
Gadis berambut ikal dan panjang itu memilih menyimpan rasa sukanya jauh di lubuk hatinya yang paling dalam.
“Saya permisi, Pak,” pamit Mila setelah menyerahkan seluruh berkas pengajuan dari klien yang sudah dirapihkannya terlebih dahulu.
Devan menatap tumpukan map-map itu, dia menghela nafas dalam-dalam.
“Lembur nih,” gumamnya perlahan.
*****
Geo sampai di apartemennya, setelah membuka pintunya Geo melepas sepatu dan menaruhnya asal.
Badannya terasa kurang nyaman, sepertinya dia butuh penyegaran badan.
Setelah membersihkan tubuh kekarnya itu, Geo memesan seorang tukang pijit pada pihak pengelola apartemen.
Dadanya yang bidang sengaja dipamerkan, dokter itu hanya mengenakan celana pendek.
Dia fikir biar tidak usah ribet lagi buka baju kalo nanti tukang urut pesanannya datang.
Selang beberapa jam, tukang urut pesanannya itu datang.
Geo merebahkan badannya di atas sebuah alas tidur yang berbulu, setelah sebelumnya memberikan tips pada pegawai apartemen yang sudah membawakannya tukang urut.
Selesai diurut Geo memberikan tips pada pria tua berpeci itu.
“Terimakasih, ya, Pak,” ucap Geo.
“Sama-sama, saya juga terimakasih sudah dikasih upah,” sahut tukang urut itu sambil memasukan sejumlah uang yang diberikan Geo ke dalam tas pinggangnya.
Pria tua itu pamit, dan meninggalkan apartemen Geo.
Sebuah notifikasi whatsapp terlihat di layar ponselnya, Geo mengambil benda pipih berbentuk persegi panjang itu di atas nakas.
Sambil merebahkan badannya, dia membuka isi chat yang masuk.
‘Mas, sudah tidur?’ dari gadis bermata bulat, chat yang datang itu ternyata.
Geo tersenyum, ‘belum, baru habis diurut, badannya nggak enak,’ balasnya lengkap dengan emoticon kesakitan.
‘Kasian, capek, ya, Mas?’ kembali gadis itu mengirimkan pertanyaan romantisnya.
__ADS_1
‘hehe,’ balas Geo singkat. Pandangannya mulai kabur, dokter itu tertidur dengan handphone yang masih dipegangnya.
Sarah mencoba melakukan VC, namun tak ada respon penerimaan, lalu gadis itu mengirimkan chat pamungkasnya, ‘selamat malam, selamat beristirahat harapanku,’ tulisnya lengkap dengan emoticon senyum tersipu.
Sayangnya yang punya handphone sudah memasuki alam mimpinya karena kelelahan.
*****
Sarah sebenarnya ingin memberitahukan tentang rencana pejodohan yang diupayakan oleh orang tuanya dengan orang tua Devan, namun lagi-lagi usahanya kandas.
Dalam batin Sarah terdapat harapan yang besar pada dokter itu, dia ingin dokter itu segera menemui orang tuanya dan melamarnya sebelum keduluan oleh orang tua Devan.
Dua tahun bukan waktu yang singkat menurutnya, Sarah dan Geo sudah menjalin hubungan dekatnya selama itu, walaupun mereka lebih sering menjalaninya dengan virtual.
Bertemu dengan Geo hanya bisa dilakukan Sarah dalam satu bulan sekali, selain karena alasan kesibukan pekerjaan Geo, juga karena Sarah ingin mengejar target kelulusannya dalam kurun waktu tiga tahun.
Kedua netra Sarah seakan sulit terpejam, dia memandang setiap inci ruangan tempatnya beristirahat.
“Apakah kamu benar-benar mencintaiku, Mas?”
“Jika kamu serius, kenapa tak pernah terucap kalimat cinta dari mulutmu?”
“Kamu sudah mendapatkan hatiku seutuhnya, dan aku harap kamu mengambil hati orang tuaku juga.”
“Aku teramat sangat mencintaimu, Mas.”
Sarah terus mengoceh dalam batinnya, dia mulai dilanda kegalauan yang hebat efek dari harapan-harapannya yang besar pada dokter tampan itu.
Entah jam berapa dia mulai menutup matanya dan terlelap dibuai mimpi dan angan-angan tentang masa depan bersama pujaan hatinya.
*****
Kokok ayam jantan bersahutan, pertanda hari sudah mulai pagi.
Geo mengucek matanya sambil duduk di pinggir ranjang, pemuda yang masih terlihat tampan walaupun dalam keadaan bangun tidur itu mencari-cari ponselnya.
“Nah, ini dia rupanya,” dokter itu berbicara sendiri.
“Gadis ini udah cinta mati sama aku rupanya.”
Dokter muda itu menyeringai, seperti seekor serigala yang telah berhasil mendapatkan korban dalam perangkapnya.
__ADS_1
Pria muda yang sangat tertutup itu bersiap untuk berangkat kembali ke tempatnya bekerja.
Ia memasuki kamar mandi, membersihkan tubuhnya yang masih terasa lengket bekas minyak yang dipakai tukang urut tadi malam.