Air Mata Sarah

Air Mata Sarah
Kekasih Hati


__ADS_3

Sarah menatap sendu ponsel yang berada di atas nakas, tak ada kabar ataupun tanya dari Geo seharian ini, entah sibuk apa dokter tampan itu.


"Dia sibuk banget kali, ya," gumam Sarah, yang sedang duduk di pinggir tempat tidurnya saat itu.


Gadis bermata bulat itu beranjak dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, guyuran air dingin mulai membasahi tubuh polosnya.


Terasa lebih segar dan menyejukkan saat aliran air dingin itu membasahi ujung kepala hingga kakinya.


Sesaat dia dapat menenangkan hatinya yang dipenuhi kegalauan.


Selesai mandi gadis bertubuh tinggi semampai itu memilih pakaian dari dalam lemari, lalu mengenakannya.


Ketika sedang berkaca dan mengikat rambutnya, tiba-tiba dia mendengar suara banyak orang di luar. Sepertinya ada tamu yang datang berkunjung ke rumah Pak Prayoga, Ayah Sarah.


Gegas Sarah menyelesaikan ikatan rambutnya dan merapihkan pakaiannya.


Gadis itupun keluar kamar dengan hati yang bertanya-tanya, siapakah gerangan tamu yang datang.


"Mari silahkan masuk, Pak, Bu. Silahkan, silahkan."


Sambut Bu Marni dengan ramah.


Pak Prayoga menyambut kedatangan sahabatnya beserta istri dan anak tunggalnya.


"Waaah, ada tamu istimewa rupanya, ayo mari silahkan duduk," ajak Pak Prayoga tak kalah ramah dengan istrinya.


"Ajeng, Sri, tolong buatkan minuman dan bawakan makanannya ke sini," pinta Bu Marni pada kedua pelayannya.


Dengan cepat Ajeng dan Sri mengerjakan titah majikannya itu.


"Devan, apa kabar? Waah sudah jadi pengacara muda sekarang, pasti banyak fansnya," goda Bu Marni pada anak sulung keluarga Bagaskara.


Devan tersenyum, "ah, Tante bisa aja," ucapnya malu-malu.


"Sri, panggilkan Neng Sarah, suruh dia kesini."


Pelayan wanita itu mengangguk lalu berjalan menuju kamar Sarah.


Baru juga Sri mengangkat tangannya hendak mengetuk pintu kamar anak majikannya, Sarah menepuk punggung Sri dari belakang.


"Astaghfirullah," teriak Sri, kaget.


"Aku udah disini," ucap Sarah yang sudah keluar kamar sedari tadi, namun ia enggan menghampiri tamu istimewa orang tuanya.


"Neng, ngagetin Mbak aja, deh," kata Sri sambil memegang dadanya, jantungnya serasa bergelantungan kesana-kemari.


"Iya, Mbak, maafkan," ucapnya sambil menahan tawa melihat kelakar pelayannya.


"Disuruh ke depan sama Nyonya, Neng."


Sarah hanya mengangguk, dia masuk kembali ke dalam kamarnya.


Sri kebingungan, pelayan itu masih berdiri di depan pintu kamar Sarah.

__ADS_1


"Bilang sama Ibu, saya nggak enak badan," teriak Sarah dari dalam kamar.


Pelayan itu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, dia tak habis fikir dengan kelakuan anak majikannya itu yang selalu menghindar saat orang tuanya hendak mendekatkannya dengan calon besannya itu.


"Bu, Neng Sarah lagi kurang enak badan katanya," bisik Sri ke telinga majikannya.


"Sebentar ya Bu, saya ke belakang dulu, yah," pamit Bu Marni pada Bu Maria ibunya Devan.


"Sarah ... Sarah ..." panggil Bu Marni setelah berada di depan pintu kamar putri tunggalnya itu.


"Iya, Bu," jawab Sarah dari dalam.


Gadis itu membukakan pintu kamar untuk ibunya.


Tangan Bu Marni memegang kening anak gadisnya, keningnya berkerut.


"Nggak panas, ko, kamu kenapa nggak mau ke depan?" tanya Bu Marni.


"Sarah lagi dapet mah, lemes, nggak enak perutnya," Sarah beralasan.


Bu Marni tau betul sifat anak gadisnya.


"Jangan begitu, mereka hanya ingin bersilaturahmi dengan kita, ke depan sebentar, yah, Ibu tunggu!"


Sarah tak lagi dapat mengelak, apapun alasannya dia tidak akan pernah bisa berbohong pada wanita yang telah melahirkannya.


Dengan langkah malas Sarah mengekori ibunya menghampiri para tamu istimewa orang tuanya itu.


"Apa kabar Om, Tante?" tanya Sarah seraya mencium punggung tangan kedua orang tua Devan.


"Sehat, Om," jawab Sarah.


"Devan ada di taman belakang, sana temui dia, sepertinya dia kangen sama kamu," ungkap Pak Bagas sambil tersenyum.


Sarah mengangguk, dia melangkahkan kakinya menuju taman di belakang rumahnya.


"Hai," sapa Devan saat melihat gadis bermata bulat itu datang menghampirinya.


Sarah hanya melemparkan senyum alakadarnya, lalu duduk di samping Devan, keduanya hanya terhalang meja kecil yang terletak di tengah-tengah tempat duduk mereka.


Hening suasana saat itu. Sepertinya mereka memiliki prolog masing-masing dalam fikirannya.


"Gimana kuliahnya?" tanya Devan mencoba mencairkan suasana.


"Lancar, InshaAllah tinggal satu semester lagi, aku jadi sarjana," jawab Sarah dengan wajah datar.


Devan tersenyum, dia tau Sarah tidak terlalu suka padanya. Entah apa yang kurang pada dirinya di mata gadis bermata bulat itu.


"Kalo mau istirahat, sok aja, aku sendiri juga nggak apa-apa, sambil nunggu mereka selesai ngobrol," lanjut Devan seraya mengalihkan pandangannya pada para orang tua mereka yang tengah asyik bercengkrama.


Sarah tersenyum sinis, "kalo aku ninggalin kamu, ayah aku pasti langsung kasih aku surat peringatan pertama," ledeknya dengan memutar mata malas.


Devan tertawa, dia memang selalu mendapatkan pembelaan dari ayahnya Sarah.

__ADS_1


"Maafkan," ucap pemuda baik hati itu sambil menahan tawanya.


"Kamu belum bercerita sama Om dan Tante, kalo kita cuma bisa temenan doang?" Sarah kembali bertanya.


Devan menjawab dengan gelengan kepala, wajahnya berubah.


"Aku beneran sayang sama kamu, Sar," ucap Devan dengan menatap lekat wajah gadis pujaannya sejak dulu.


Sarah memalingkan wajahnya, dia tak ingin pandangan mereka bertemu.


"Aku udah punya Mas Geo, Van," tutur Sarah.


Ada yang menonjok bagian hati pengacara muda itu, tampak jelas dari raut wajahnya dia patah hati untuk yang kedua kalinya.


Dulu Sarah menolaknya karena ingin fokus kuliah dan sekarang dia kembali mendapatkan jawaban yang sama karena pujaan hatinya telah memilih pria lain.


"Van, ayo kita pulang, kasian Karina, pasti dia nyariin kita," suara ajakan Pak Bagas dari dalam.


Devan berdiri dari tempat duduknya.


"Ya sudah nggak apa-apa, semoga kalian bisa lanjut sampai nikah, yah," pungkas Devan dengan senyum kekalahan untuk yang kedua kalinya.


*****


Geo keluar dari kamar mandi hotel, hari itu dia habiskan bersama Frans.


Ponselnya dimatikan sejak dia cek in tadi pagi.


Dokter muda itu tengah memantaskan diri di depan cermin yang tersedia di sana.


Frans mendekatinya dan memeluk tubuh kekar Geo dari belakang.


"Tolong jangan pernah tinggalkan aku, sayang," pinta Frans dengan mempererat pelukannya.


Geo berbalik perlahan, dia membenamkan kepala Frans di dadanya yang bidang.


"Nggak akan pernah," ucap Geo seraya mengecup kening mahluk berjenis kelamin yang sama dengannya.


Setelah merasa puas dengan semua aktivitas yang mereka lakukan di kamar hotel itu, Geo dan Frans bergegas meninggalkan kamar hotel.


Keduanya pergi dengan kendaraan mereka masing-masing, Geo menaiki mobilnya, sedangkan Frans dijemput oleh supirnya.


Hanya Tuhan yang tau apa yang mereka lakukan.


Hubungan keduanya sudah berjalan sejak Geo masih berada di bangku kuliah kedokterannya.


Frans adalah teman satu kelas Geo dulu saat kuliah.


Kelainan yang diidap oleh Geo, menjadikannya seorang yang tertutup dan tidak berhasrat pada wanita.


Menurutnya wanita itu adalah mahluk lemah yang hanya akan membebani hidupnya dan membatasi ruang geraknya.


Tak ada yang aneh dengan perilakunya jika dilihat dari luar, namun ketika dia berada di samping wanita, tak ada gelora asmara sedikitpun dalam dadanya seperti halnya laki-laki dewasa yang lain.

__ADS_1


Oleh karena itulah, sampai detik ini dia tak mau beristri, hasratnya sudah terpuaskan oleh Frans, kekasih hatinya.


__ADS_2